
Dengan kedatangan Valen yang tiba-tiba berdiri di depan matanya, Manda memberi isyarat tangan pada pelayan untuk menjaga tiga anaknya. Hadirnya Valen ini sangat mencurigakan. Tanpa rasa takut pun, Manda mulai berjalan menghampirinya dengan hati-hati. Namun Rain, segera menahan tangan Ibunya.
"Mommy,"
"Tidak apa-apa, Rain tunggu di sini ya sama Kakakmu," ucap Manda menenangkan anak bungsunya itu.
"Baik, Mommy." Rain pun melepaskan Manda, dia berdiri di belakang pelayan. Manda pun lanjut mendekati Valen.
"Oh Valen, rupanya kau masih berani datang ke sini ya. Apa kau sudah bebas atau sedang kabur dari kantor polisi?"
Manda berdiri dengan angkuhnya sambil melontarkan pertanyaan. Dalam pikirannya, mungkin ayah Valen telah berhasil menebus kesalahan Valen. Memang Manda belum tahu kasus Valen yang dibebaskan berkat surat dari atas namanya.
Valen menunduk, menggenggam kuat ujung bajunya. Dia dengan raut sedih dan suara lirih berkata, "Maafkan aku, Sheila. Aku salah telah memanfaatkan anakmu, Rain. Aku minta maaf."
Valen membungkuk setengah badan membuat Manda dan Triple R cukup terkejut. Tindakan Valen diluar dugaan mereka.
"Heh, apa ini? Kau sedang berakting di depan anak-anakku ya?" tanya Manda makin curiga. Valen menatapnya dengan matanya yang basah, dia menerjang ke arah Manda dan langsung meraih kedua tangan Manda.
"Sheila, aku datang kemari sungguh untuk minta maaf," isaknya di hadapan Manda.
"Lepaskan!" tepis Manda mundur selangkah.
"Dengan perbuatanmu ini, kau sudah memisahkan aku dengan putraku selama lima tahun, dan kau dengan malunya datang untuk minta maaf saja? Kau pikir maaf sudah cukup bagiku? Tidak, kau ini wanita keji!" cemoh Manda menunjuknya.
"Aku tahu kau pasti marah atas perbuatanku, tapi sekarang aku sungguh minta maaf. Aku menyesal, Sheila," tangis Valen membungkuk kembali dan menangis.
"Dan terima kasih atas kebaikanmu," tambahnya menggenggam tangan Manda lagi.
"Kebaikan aku? Apa maksudmu?" tanya Manda menarik tangannya lepas dari Valen.
Valen mengusap matanya, dan kemudian memeluk Manda. Dua mata si kembar membola begitu pula si pelayan.
"Sheila, aku tahu kau telah memaafkan aku, kau wanita baik-baik, harusnya aku dari awal tidak jahat padamu. Terima kasih kau telah datang bebaskan aku lima hari yang lalu, hiks."
Manda tersentak, dia mendorong Valen.
"Sejak kapan aku datang ke kantor polisi?" tanya Manda sedikit terkejut.
Valen terisak-isak. "Kau memang tidak datang, tapi orang dari perusahaanmu yang mengirim surat pembebasan itu. Apa kamu tidak ingat?"
Manda terdiam lalu menengok ke anak-anaknya. "Sepertinya ada yang sudah terjadi selama aku dirawat sampai aku tidak mengetahui ini. Tapi apa Rafa juga tahu masalah ini?" pikir Manda kembali melihat Valen. Terlihat wanita itu sangat pintar berakting menyedihkan di depan Manda.
"Apa kau sedang berbohong? Mana mungkin aku lakukan itu, aku selama ini dirawat dan tidak pernah berpikir untuk bebaskanmu," jawab Manda pasti.
Valen terkejut. "Sepertinya yang dikatakan Delsi itu benar, Sheila sedang sakit. Bukan kah ini waktu yang pas bagiku?" batin Valen sedikit ragu-ragu.
__ADS_1
"Ja-jadi surat itu bukan darimu?" ucap Valen terbata-bata. Manda ingin menjawab, tapi dengan cepat didahului oleh Rafa.
"Tentu saja bukan, dia selalu berada di rumah sakit dan tentunya tidak sudi bebaskan kau dari penjara!" sahut Rafa datang menuruni tangga.
Valen mundur selangkah, dia agak takut dengan kehadiran Rafa di rumah ini. Triple R merasa lega ayahnya turun melihat mereka.
"Heh, tanpa dicari-cari rupanya kau datang juga kemari. Apa kau capek kabur dan bersembunyi dari kejaran polisi?" tambah Rafa berdiri dengan dinginnya di samping Manda. Ekspresi sinis itu diberi untuknya.
Valen menggelengkan kepala. "Tidak, aku tidak kabur dari polisi tapi dari ayahku, hiks," isak Valen menunduk. Manda menoleh ke Rafa, kemudian berbisik.
"Apa yang terjadi sebenarnya?"
Rafa balik berbisik, dia mengatakan jika Valen kabur dari kantor polisi setelah bebas dari penyelidikan. Tapi lima hari ini, dia dinyatakan hilang dan dicari-cari oleh polisi dan ayahnya. Manda kini mengerti.
"Sepertinya ada yang telah sengaja, tapi untuk apa?" batin Manda mulai was-was.
"Lebih baik kau kembali ke kantor polisi, aku juga akan beritahu ayahmu jika putri yang kabur itu telah datang untuk menyerahkan diri," jelas Rafa mulai ingin menelpon.
"Jangan!" tahan Valen sedikit teriak.
"Tolong jangan beritahu ayahku, dia pasti akan menyiksaku. Tolong maafkan aku, Sheila!" tambahnya berlutut di kaki Manda dan memeluknya.
"Mohon maafkan kesalahanku, aku janji tidak akan mengulanginya. Aku benar-benar menyesal, tolong beri aku kesempatan untuk memperbaikinya, hikss." Tangisnya membuat Rain merasa iba.
Manda mundur, dia agak ragu. Tapi ekspresi Valen terlihat sangat menyesal. Rafa di sana menyuruh pelayan untuk membawanya sebelum istri dan anaknya terpengaruh.
"Valen, kau masih punya waktu untuk menyesalinya di penjara. Sekarang pergilah dari sini!" pinta Rafa menunjuk pintu. Valen menangis dan meronta kecil. Tiba-tiba semuanya terkejut dengan ucapan dari Rain.
"Berhenti! Jangan bawa dia ke sana lagi," tahan Rain berlari memeluk Manda.
"Mommy, sepertinya kita tidak usah marah lagi. Kita maafkan saja, Rain juga tidak marah lagi padanya, Mommy," lanjut Rain memohon. Dua kakaknya maju mendekati mereka.
"Nak, wanita ini sudah salah besar padamu dan kau masih sanggup maafkan dia?" Tunjuk Rafa ke Valen. Rain pindah memeluk ayahnya.
"Daddy, Tuhan saja maha memaafkan, kenapa kita tidak ikut maafkan juga?" mohon Rain menunjuk Valen. Rein dan Rara tidak dapat berkata, perkataan adiknya memang benar. Mereka cuma mendesis melihat Rain yang terlalu baik hati dan polos.
Valen di sana tentu tercengang dibela oleh Rain. Dia pun kembali menangis, ini bukan air mata palsu, tapi dia cukup terharu. "Tidak apa-apa, aku akan kembali ke penjara. Maaf sudah mengusik kalian." Valen berbalik, namun seketika berhenti setelah Rain memeluknya dari belakang dan menangis.
"Jangan pergi ke sana lagi, Mama."
Valen tersentak, seluruh tubuhnya gemetar dipanggil oleh Rain. Tangisnya pecah hingga jatuh berlutut.
"Mommy... Daddy... maafkan, hiks..." isak Rain menoleh ke Rafa dan Manda. Manda pun menghembuskan nafas ringan, dia pun tersenyum.
"Baiklah, Mommy maafkan dia."
__ADS_1
Rafa dan dua anaknya membola sudah mendengarnya. Tidak seperti Rain yang tersenyum lega.
"Sayang, kamu serius?" tanya Rafa mewakili dua anaknya juga.
"Ya, tidak ada salahnya kan memberi maaf dan kesempatan kedua untuk berubah?" jawab Manda mendekati Valen dan membantunya berdiri. Valen tidak tahu bagaimana mengartikan perasaannya sekarang, yang jelas dia senang dapat kesempatan bebas dari penjara sepenuhnya.
"Mommy, terima kasih." Rain memeluk Ibunya.
"Sama-sama, sayang." Manda membelai rambut Rain, dia sebagai Ibu tidak tega putranya menangis.
"Te-terima kasih, kau sangat baik, Sheila." Valen terisak, dan langsung terkejut dipeluk oleh Manda.
"Ya, aku juga terima kasih kau selama lima tahun ini telah membawa putraku kepada ayahnya. Aku rasa mungkin kita bisa memulai hubungan baik, bukan?" kata Manda tersenyum. Walau begitu, dalam hatinya, Manda punya rencana tersendiri.
Valen mengangguk, dia sangat setuju. Melihat Manda dan Valen, Rafa jadi jengkel, dia naik ke lantai atas dengan kesal. Sedangkan Rein dan Rara masih curiga siapa yang telah bebaskan Valen.
"Mommy, apa Rain bisa panggil dia, Mama?"
Rein dan Rara terkejut dengan ucapan adiknya. "Apa Rain memang bodoh?" Itulah dibenak dua kembar itu.
"Hahaha, jangan panggil Mama, panggil Tante saja. Ibunya Rain kan cuma satu, bukan dua." Valen tertawa kecil melihat kepolosan Rain yang belum berubah.
"Hm, baiklah dan terima kasih, Tante," ucap Rain tersenyum manis.
"Hm, terima kasih buat apa, sayang?" tanya Manda heran.
"Terima kasih karena Tante Valen sudah mau berubah, Mommy," jawab Rain melihat Valen. Valen sedikit terguncang melihat Rain sangat percaya padanya. Rasa tidak tega itu langsung terbesit ke hatinya, bahkan seakan ingin memenuhi ruang dendamnya.
"Hm, Tante akan berusaha." Valen tersenyum sangat manis. Rein dan Rara cuma memutar bola mata malas. Tiba-tiba saja, mereka terkejut dengan kedatangan ayahnya Valen.
"VALEN!" geramnya marah besar. Valen meneguk ludah, dia tahu ini pasti perbuatan Rafa yang telah menghubungi ayahnya.
"Dad, tolong maafkan aku."
Aahhhh...
Valen menjerit ditarik paksa olehnya, membuat Triple R berdiri di belakang Manda. Anak-anak tidak takut, cuma saja mereka tidak mau jauh-jauh dari Ibunya jika ada bos mafia itu.
"Anak sialan, kau ini memang tidak berguna! Hanya membuat hidupku kesusahan, sekarang pulang bersama Dad, kau patut dihukum olehku!" Valen diseret pulang. Manda cuma diam melihatnya meronta-ronta. Cengkraman itu sangat kuat dan agak ngeri. Manda mulai sedikit percaya jika Valen kabur karena takut pada ayahnya yang bengis/sangar.
"Mommy, kenapa kau maafkan dia?" tanya Rein dan Rara tanpa melihat adiknya karena masih jengkel.
"Tidak masalah, kok. Sekarang kalian pergi mandi sore, nanti Mommy datang ke kamar kalian."
"Baik, Mommy."
__ADS_1
Walau jawaban Manda tidak memuaskan, anak-anak itu pun berlari ke kamar mereka. Rain juga tidak lupa untuk berterima kasih lagi. Setelah menyuruh pelayan untuk menyiapkan makan. Manda pun menaiki tangga menuju ke kamarnya dengan ekspresi senyum menyeringai.
"Tidak semudah itu, Valen."