Istri Reinkarnasi, CEO Kejam

Istri Reinkarnasi, CEO Kejam
Bab 102 : Masih Waras


__ADS_3

Tak terduka, Manda bertemu dengan mantan sekretaris Rafa. Jhosua, yang sudah lama bekerja dengan suaminya hanya dipecat karena dia bekerjasama dengan Nerin. Walau sekarang di depannya adalah mantan istri atasannya, Jhosua tidak sedikitpun memperlihatkan kekesalan di wajahnya. Dia malah senang dapat bertemu dengan Sheila alias Manda.


"Selamat datang, Nona Sheila," ucapnya sangat ramah dengan senyuman.


"Eh ya," cengir Manda agak kikuk.


"Oh ya, ada perlu apa Nona Sheila datang ke toko kami?" tanya Jhosua.


"Emh, itu...." Manda agak ragu untuk mengatakan tujuannya. Dia takut Jhosua tidak dapat dipercaya untuk ceritanya nanti. Jhosua tertawa kecil, dia tahu apa yang dicemaskan wanita yang berdiri diam di depannya itu.


"Tidak perlu khwatir, saya tidak akan mengulangi kesalahan yang lalu. Saya sudah tidak berbuhubungan dengan siapa-pun semenjak berhenti dari perusahaan suami Nona. Saya sudah tidak punya niat untuk bekerja pada siapa pun kecuali di toko buku paman saya," tutur Jhosua sambil menatap buku dan membuka satu demi satu lembaran buku di tangannya itu.


Manda yang melihat mimik Jhosua yang serius, dia pun mulai belajar untuk memberi kepercayaan pada Jhosua.


"Maaf," lirih Manda mengagetkan Jhosua.


"Hm, maaf untuk apa Nona?" tanya Jhosua bingung.


"Kau terlihat baik, tapi karena Rafa memecatmu, kau jadi tidak dapat lagi bekerja di perusahaan lain," jawab Manda sedikit kasihan dan takut Jhosua punya dendam pada Rafa.


"Oh itu, hahaha... saya sudah tidak masalah dengan itu, Nona. Lagian juga ini salah saya sudah diam-diam mematai-matainya. Saya memang patut dipecat," ucap Jhosua tersenyum ramah.


"Ta-tapi sebenarnya, kenapa kau rela lakukan itu demi Nerin?" tanya Manda sedikit kepo. Jhosua menghembuskan nafas, lalu dia kembali membuka lembaran buku.


"Saya hanya merasa iba pada Nona Nerin," jawab Jhosua tanpa ekspresi.


"Iba karena apa?" tanya Manda lagi.


Jhosua pun meletakkan bukunya di atas lemari, dia pun menatap sebuah meja di sudut tokonya.


"Bagaimana kalau kita duduk minum teh? Nona Sheila adalah tamu yang istimewa sudah mau datang ke toko kami, bagaimana?" ajak Jhosua ingin mengobrol lebih lama.


"Ah, baiklah." Manda setuju, dia juga penasaran.


Keduanya pun duduk berhadapan, disertai dua gelas teh hangat.


"Nona Sheila, saya memang tidak punya hubungan dengan Nona Nerin. Tapi awal saya mengenalnya saat dia menghubungi nomor yang salah," jelas Jhosua mulai bercerita.


"Nomor salah? Maksudnya?" tanya Manda tidak paham.


"Enam tahun yang lalu saat Presdir Rafa tengah sibuk mencari anda, Nona Nerin yang telah lulus dari pendidikannya saat itu juga, dia mencari nomor Presdir Rafa di situs penjualan kami, tapi rupanya dia hanya mendapat satu nomor, sehingga Nona Nerin pun dengan berani menghubungi ke ponsel saya. Tapi saya saat itu tidak sengaja meninggalkan ponsel di atas meja, jadi Presdir Rafa yang masih ada di ruangan kala itu, dialah yang mengangkatnya,"

__ADS_1


"Saat itulah, Nerin mengira nomor yang dia hubungi adalah nomor Presdir Rafa," tutur Jhosua sedikit tertawa.


"Lantas apa mereka saling bicara?" tanya Manda serius penasaran.


"Yah tidak lama sih, cuma saat Presdir Rafa bicara, Nerin langsung memotong ucapannya, disitulah panggilan terputus. Presdir Rafa tahu itu suara mantannya, Nerin."


Manda pun mangut-mangut, dia kini mengerti awal Jhosua kenal Nerin.


"Pasti setelah itu, Rafa menyuruhmu untuk memblokir nomor Nerin, kan?" tebak Manda.


"Hahaha, benar. Tapi saya tidak langsung memblokirnya," ucap Jhosua agak malu.


"Hmm, kenapa?" tanya Manda mengernyit.


"Saya awalnya berpikir mungkin Nerin adalah karyawan manajemen yang ingin bekerja sama, tapi Rafa menolak dan memalsukan itu mantannya. Jadi saya iseng menghubungi nomor itu dan rupanya yang dikatakan Presdir Rafa sangatlah benar, dia adalah mantannya," jawab Jhosua menyeduh tehnya duluan.


"Dan pastinya Nerin curhat kan setelah tahu siapa pemilik nomor yang dia hubungi?" tanya Manda menebak yakin.


"Hehe, begitulah. Dia curhat sampai empat jam padaku, dia bahkan menangis ingin menjelaskan ke Presdir Rafa atas kesalahannya telah memutuskan hubungan mereka," jawab Jhosua meletakkan tehnya kembali.


"Ahh kasihan sekali," desis Manda merasa iba.


"Ya itulah, kenapa saya membantunya memata-matai Presdir Rafa. Saya juga katakan padanya jika Valen telah berhasil melahirkan anak dari Rafa, tapi rupanya Tuan muda Rain adalah putra kandung Nona Sheila," ucap Jhosua tersenyum. Dia merasa lega sudah tahu Ibu kandung Rain adalah Sheila bukan Valen.


"Hahha, tidak perlu. Saya lebih menyukai pekerjaan saya sekarang, Nona tidak usah repot-repot," tolak Jhosua cengengesan. Dia sangat terkejut dapat kebaikan Sheila.


"Ta-tapi kau-"


"Tidak masalah, Nona."


Jhosua tetap menolak lalu berdiri.


"Oh ya, ngomong-ngomong Nona Sheila ke sini untuk apa ya?" tanya Jhosua dari tadi penasaran. Manda pun berdiri lalu merogoh tas miliknya, dia memberi plashdisk yang ada PDF cerita yang telah dia susun kemarin malam dari catatan ponselnya.


"Ini, di dalam sana ada karangan ceritaku, aku ingin mencetaknya menjadi buku. Apa kau bisa membantuku?" Manda agak gugup untuk memberikannya ke Jhosua.


"Bentar, saya periksa dulu Nona."


Jhosua mengambil flashdisk itu, dia pun mencoloknya di laptopnya sambil memperlihatkan kepada Manda juga.


"Nah ini, semua ini aku ingin cetak, apa kau bisa menyelesaikannya bulan ini?" tanya Manda menunjuk file di laptop itu.

__ADS_1


"Hm, akan saya usahakan Nona. Tapi ngomong-ngomong apa penanya atas nama Nona Sheila atau Manda Aresta?" tanya Jhosua sambil menunjuk sebuah nama di laptop itu.


"Emh, sebaiknya Manda Aresta saja. Itu nama penaku saat bekerja di luar negeri," jawab Manda gugup.


"Baiklah, akan saya cetak nanti," ucap Jhosua menyimpan PDF itu, lalu dia memberi flashdisk milik Manda.


"Kalau begitu terima kasih kau sudah mau membantu," senyum Manda merasa lega tidak akan lama lagi dapat cetekan bukunya. Dia tahu pekerjaan Jhosua memang tidak pernah mengecewakan.


"Bagaimana kalau saya antar ke depan?" tawar Jhosua menunjuk keluar.


"Oh boleh,"


"Eh, sekalian panggilkan taksi untukku ya," tambah Manda tersenyum.


"Baik, Nona."


Keduanya pun keluar dari toko, lalu Jhosua dengan cepat menghentikan salah satu taksi.


"Jhosua, mungkin saya akan sesekali datang kemari, jadi apa toko kamu selalu terbuka tiap hari?" tanya Manda yang kini duduk di dalam taksi.


"Toko kami selalu terbuka tiap hari, Nona."


"Syukurlah, terima kasih Jhosua."


Jhosua mengangguk, dia pun berbalik kembali menuju ke tokonya. Sedangkan Manda melaju pergi pulang ke rumah. Jhosua pun membuka laptopnya, dia mulai mengecek isi PDF Manda. Seketika Jhosua mengerutkan kening.


"Reinkarnasi?"


"Nona Sheila mengapa menulis tentang dirinya yang seakan sudah-"


Jhosua bingung dengan isi PDF milik Manda hingga ucapannya terhenti.


"Apa Nona Sheila masih waras?"


Jhosua garuk-garuk kepala sendiri merasa aneh dapat sesuatu yang tidak masuk akal.


...______...


...Hiss Jhosua jahat sekali sudah kira aku gila🤧hmm tapi emang nggak masuk akal juga sih🤣🤣namanya juga fiksi awokawok...


...Tapi kalau sampai kau bilang lagi aku gila😑...

__ADS_1


...Aku coreng kau dari daftar tokoh novel ini😂...


...Camkan itu Jhosua!!!🤣...


__ADS_2