Istri Reinkarnasi, CEO Kejam

Istri Reinkarnasi, CEO Kejam
Bab 44 : Oke, siapa takut!


__ADS_3

Malam ini sangat sejuk menerpa kulit Manda yang sekarang sedang berjalan masuk ke pekarangan mansion. Rafa yang di belakangnya tiba-tiba menerima satu panggilan. Rafa pun mengangkatnya sambil berjalan, ternyata itu anak buahnya yang tadi disuruh untuk mengambil hasil tes DNA di rumah sakit dan kini sudah berada di dalam mansion.


"Baiklah, bawa tes DNA itu padaku. Aku sekarang berada di luar," ucap Rafa pada panggilan itu.


"Baik Tuan." Panggilan berakhir bersamaan Manda berbalik padanya.


"Siapa yang kamu hubungi?" tanya Manda berhenti jalan dan menghampiri Rafa. Menatap pria di depannya yang habis menelpon.


"Hm, kamu pasti menghubungi perempuan lain kan?" tebak Manda kemudian menyipitkan mata merasa curiga. "Oh atau jangan-jangan kamu menghubungi selingkuhanmu?" lanjut Manda melipat kedua tangan di depan dada sambil menunggu jawaban Rafa.


Rafa yang mendengarnya memajukan sedikit wajahnya lalu berkata : "Selingkuhan? Untuk apa aku harus selingkuh?" tanya Rafa ingin tahu reaksi Manda.


"Ya kamu ini seorang CEO dan kamu menikahi wanita yang sudah melahirkan tiga anak. Itu artinya, bisa saja kamu punya wanita lain yang lebih seksi dan cantik terus menawan di luar sana." Manda mulai mengoceh.


Rafa tertawa kecil mendengarnya membuat Manda mengangkat sebelah alisnya. "Apa yang kamu tertawakan?" tanya Manda merasa aneh.


Rafa cuma tersenyum tipis mendengarnya lalu berkata : "Tentu saja kamu yang lucu ini, jika aku ingin wanita lain mungkin aku tidak akan menikahi kamu hari ini," Rafa mencentil kening Manda.


Tuk!


"Aduh, bisakah kamu hilangkan kebiasaanmu ini! Lama-lama keningku jadi hitam gara-gara kamu centil tiap hari!"


"Dan juga, kita kan menikah karena anak-anak, jadi bisa saja kamu diam-diam punya selingkuhan!"


Rafa yang mendengar ocehan Manda segera menutup kedua telinganya. Manda makin jengkel dengan tingkah Rafa yang mengikutinya bicara. Seakan mulutnya ingin sekali Manda tepuk.


"Sudah! Jangan ikuti cara bicaraku! Sekarang aku mau masuk, tidak mau bicara padamu!" cetus Manda berbalik. Rafa tertawa kecil dan segera menahannya.


"Eits, bentar dulu,"


"Ada apa lagi?" Manda memutar bola mata malas.


"Em... aku rasa ada yang kurang," gumam Rafa melihat bibir Manda. Sontak Manda menutup mulutnya dengan tangan. "Kamu mau apa melihat bibirku?" desis Manda mundur perlahan.

__ADS_1


"Pfft... ahaha... segitunya kamu ilfil padaku?" tawa Rafa gemas ingin mencium mulut yang cemberut itu.


"Ilfil? Siapa yang ilfil? Aku tidak ilfil kok," elak Manda melihat ke arah lain.


"Oh ya, kalau begitu coba kamu tatap mataku." Rafa menunjuk kedua matanya.


"Untuk apa?" tanya Manda curiga.


"Ya untuk membenarkan perkataanmu. Kalau kamu tidak mau berarti kamu takut melihat mataku ini." Rafa menajamkan matanya menatap Manda.


"Oke, siapa takut!" Manda pun serius memandang kedua mata Rafa. Satu detik, tiga puluh lima detik berlalu Manda masih menatap tanpa berkedip. Ini membuat Rafa kagum, benar-benar mata Manda tidak merah sama sekali.


Namun karena asik menatap, Manda tidak sadar ini kesempatan untuk Rafa menciumnya hingga akhirnya Rafa dengan cepat mengecup pipi kanan Manda. Deg! Rafa sangat beruntung, dapat membodohi Manda yang mudah dikabuli.


"Ahhhhh... dasar berandalan! Beraninya kamu mengecupku!" pekik Manda mendorongnya.


"Pftt... apa masalahnya? Kamu kan sudah jadi istriku, jadi aku bisa melakukan lebih dari ini, hehehe...." Rafa memainkan dua tangannya ingin meremas dua oppai Manda. Tatapan jahilnya mulai aktif ingin mengerjai Manda.


"Kyaaaa! Dasar otak kecil! Taunya cuma begituan!" teriak Manda lari ke arah pintu masuk. Ia merinding melihat mata jahil Rafa yang memandangnya seakan ingin menerkam tubuhnya.


"Iiih, cinta palamu! Aku tidak mau tidur dengan kadal sepertimu malam ini!" ledek Manda lari menghindar. Melihat tingkah kedua orang tuanya yang lucu membuat Rara dan Rain yang keluar jadi tertawa. Begitupun anak buah Rafa yang di tangannya terdapat hasil tes DNA.


"Mommy... Daddy!" teriak Rara berlari ke arah mereka. Rafa dan Manda segera berhenti, keduanya bersamaan melihat Rara dan Rain yang masih menyamar sebagai Rein berjalan ke arahnya.


"Ekhm, Rara sama Rein sudah makan?" tanya Manda menormalkan tubuhnya di samping Rafa.


"Belum Mommy, kami menunggu Mommy sama Daddy." Yang menjawab malah Rain diikuti anggukan Rara.


"Ya sudah, kita masuk makan sekarang." Manda menuntun dua anaknya masuk ke dalam meninggalkan Rafa dan anak buah Rafa.


"Bagaimana? Di mana hasil tes DNA yang kamu ambil di rumah sakit?" tanya Rafa pada anak buahnya.


"Ini Tuan, saya belum melihat hasilnya. Sepertinya anda sendiri yang lebih baik tahu hasilnya." Anak buah itu memberikan kertas berisi hasil tes DNA. Rafa dengan cepat segera membacanya dengan saksama. Rafa menelan ludah, benar selama ini Valen bukanlah Ibu kandung Rain.

__ADS_1


"99% cocok. Itu artinya, Valen telah berbohong padaku! Beraninya dia jadikan Rain sebagai alat! Untung saja aku belum menikahinya!" decak Rafa hampir meremas kertas DNA itu. Rafa pun menyuruh anak buahnya pergi.


"Kamu pergilah,"


"Baik Tuan."


Sekarang Rafa pun masuk ingin berikan pada Manda. Namun tiba-tiba panggilan masuk ke ponselnya. Rafa pun mengangkatnya.


"Ada apa menghubungi ku, Noah?" tanya Rafa sambil berjalan masuk.


"Hais, kenapa baru mengangkat panggilanku!" kesal Noah yang mondar-mandir di rumahnya.


"Memang ada apa? Kenapa kamu panik?" tanya Rafa lagi.


"Gawat, Raf! Rain dibawa pergi oleh suruhan Valen, dia sendiri yang mau ikut. Sekarang... apa Rain bersamamu?"


"Astaga, kenapa baru bilang bodoh!" bentak Rafa berbalik ingin ke mobilnya.


"Bodoh? Hei, aku ini tadi berusaha menahan putramu itu. Tapi dia sendiri yang mau ikut! Dasar, kamu benar-benar menyebalkan! Lebih baik, kamu pergi ke rumah Valen." Noah mematikan panggilannya dengan terpaksa. Dia kesal dikatain bodoh.


"Cih, baru juga diejek satu kali marahnya seperti Ibu-ibu!" decak Rafa membuka pintu mobil namun tiba-tiba mobil sekretaris Jho berhenti di depannya hingga Rafa tidak jadi masuk ke dalam mobil. Namun ia kembali terkejut setelah pintu mobil sekretaris Jho terbuka dan seorang bocah keluar dari dalam mobil.


"Loh Rain? Bagaimana kamu bisa bersama sekretaris Jho?" Rafa menunjuk Rein yang turun bersama Sekretaris Jho.


"Presdir, saya tidak sengaja bertemu dengannya di jalan. Saya pikir dia Tuan muda Rain tapi ternyata bukan. Sekarang saya sudah tahu, bahwa Presdir punya tiga anak dari Nona Sheila. Dialah yang menceritakan semuanya," jelas Sekretaris Jho menunjuk Rein.


"Tunggu dulu? Dia bukan Rain? Jadi kamu, Rein?" tebak Rafa tidak bisa mengenali anaknya sendiri.


"Ya Daddy, aku Rein yang menyamar jadi Rain dari tadi pagi dan sekarang Rein baru pulang. Orang-orang yang membawaku, mereka sangat kasar dan menyakiti tanganku. Lihatlah Daddy, lenganku merah dicengkaram oleh mereka. Untung saja aku kabur dari mereka dan bertemu sama paman ini," jelas Rein sangat tenang sambil memperlihatkan lengannya yang sedikit lebam.


"Ck, beraninya mereka! Sekarang untukmu sekretaris Jho, pulanglah dan siapkan semua anak buah untuk temani aku besok ke rumah Valen! Aku harus beri perhitungan dengannya! Dan terima kasih sudah mengantar Rein," ucap Rafa pada sekretaris Jho.


"Baiklah, Presdir." Sekretaris Jho pun pamit dan pergi dari sana. Rafa pun berjongkok di depan Rein kemudian berkata : "Apa lenganmu masih sakit?" tanya Rafa perhatian.

__ADS_1


"Tidak Daddy, kata Mommy... anak laki-laki itu harus kuat!"


"Pfft, kamu sangat berbeda dengan Rain. Sekarang kita masuk dan berikan kabar gembira pada Ibumu." Rafa menuntun Rein masuk ke mansion untuk makan malam. Keduanya makin akrab malam ini.


__ADS_2