
Satu mobil tak asing berhenti di depan restoran. Pintu mobil terbuka dan perlahan seorang wanita muda keluar dari mobil itu. Ia berjalan sangat angkuh melawati orang di sekitarnya. Ia adalah Delsi, saudara Sheila beda ibu. Penampilannya sangat berubah drastis semenjak Sheila pergi dari rumah enam tahun lalu.
...|| Visual Delsi ||...
Cklek! Delsi masuk ke dalam restoran. Dia mengamati isi restoran dan akhirnya melihat orang yang dia cari-cari. Delsi tersenyum tipis segera ke arah orang itu yang duduk sendirian nampak menunduk terus-menerus. Delsi tahu dia adalah Valen yang diam-diam mengajak bertemu sore ini. Delsi pun duduk di depan Valen yang memakai switer hitam dan masker.
"Wah, tak sangka artis Valen mau juga bertemu dengan ku. Apa ada sesuatu yang mendadak hingga diam-diam ingin menemuiku?" tanya Delsi menatapnya.
"Ck, aku sebenarnya ogah bertemu denganmu. Tapi sekarang aku ingin kamu jujur padaku," ucap Valen sedikit greget.
"Jujur apa?" tanya Delsi lagi.
"Jujurlah, apa Sheila sudah kembali dari luar negeri?" Valen bertanya sambil melirik sekitarnya, Valen takut ada yang mengenalinya, atau anak buah Rafa yang bisa saja melaporkan pertemuan ini ke Rafa.
"Sheila? Kenapa kamu bilang seperti ini?" balas Delsi tanya balik.
"Hais, tadi pagi Rafa datang ingin melakukan tes DNA ulang padaku dan Rain. Dia juga bilang akan melakukan itu pada Ibu kandung Rain. Jadi kemungkinan, Rafa sudah sudah menemukan Sheila, dan artinya itu pasti dua anak yang bersama Sheila ada di mansionnya. Aku kuatir, impian yang aku pertahankan ini akan berakhir." Valen bicara panjang lebar, ia takut akan menjauh dari sisi Rafa. Sedangkan posisi ini menguntungkan bagi Valen menaikkan popularitasnya.
"Jujur, aku tidak tahu dia sudah kembali atau tidak, tapi sepertinya kita harus mengeceknya sendiri, jadi-" ucap Delsi berhenti.
"Jadi apa yang akan kita lakukan?" tanya Valen sedikit takut dengan ekspresi Delsi yang serius.
"Kita diam-diam menyingkirkannya dari dunia ini!"
Deg!
Jantung Valen berderak keras, ia shock mendengarnya. Delsi tersenyum licik melihat reaksi Valen.
"Kamu sudah gila ya? Menyingkirkan Sheila itu termasuk tindakan kriminal! Aku tidak mau masuk penjara!" decit Valen sedikit emosi dengan usulan bodoh Delsi yang mau membunuh Sheila.
"Ahaha ... kenapa kamu ketakutan? Bukan kah enam tahun lalu kamu juga melakukan kejahatan?" tawa Delsi terlihat tenang.
"Lagipula, kita cuma perlu mencari waktu yang tepat dan diam-diam menariknya, setelah itu kita habisi dia. Jadi posisimu tak ada yang akan merebutnya," lanjut Delsi melipat tangan di dadanya.
__ADS_1
"Dan juga, kalau dia mati... semua harta keluarga William akan jatuh padaku. Jadi kita dapat keuntungan masing-masing. Mulai sekarang kamu harus mengamati Rafa. Ketika kita punya waktu, maka perintahkan anak buah ayahmu untuk membunuhnya." Delsi lanjut bicara. Valen pun paham, ia mengepal tangan tak sabar singkirkan Sheila.
"Meski kamu ibu kandungnya, Rain. Kamu tetap harus disingkirkan, aku tak mau kamu merebut Rafa dan Rain dariku, Sheila." Gumam Valen berdecak. Setelah mengobrol, keduanya keluar dari restoran dan pergi ke arah berlawan. Seketika, seorang pria berbaju putih yang dari tadi duduk menguping nampak tersenyum picik. Ia pun keluar dari restoran itu lalu melihat ke arah perginya dua wanita tadi. Ia adalah Noah yang tak sengaja ada di restoran dan melihat Delsi bicara dengan Valen.
"Wah, sepertinya tak lama lagi bakal ada adegan yang menyenangkan nih dan ternyata dugaan Rafa benar kalau Valen bukanlah ibu kandung Rain. Tapi ya sudahlah, ini bukan urusanku. Aku tidak mau berurusan dengan mafia." Noah pergi dari tempatnya. Ia masuk ke mobil lalu melaju pulang ke mansion Alkazein.
Malam telah tiba, Rain masih berada di mansion Rafandra. Tawa Rain dan Rara menggema di mansion itu, kecuali Rein yang duduk datar di dekat mereka yang lagi nonton film kartun lucu.
"Ahahaha... kak Rein kok diam saja? Ayo dong ikut tawa juga," Rara menarik-narik tangan Rein yang sedang sibuk memakan popcorn.
"Iih, untuk apa aku harus tertawa kalau kartunya tidak lucu. Melihat kalian tertawa begini, aku jadi merasa kalian ini terlalu meresahkan! Berisik!" kata Rein berdiri lalu pindah duduk.
"Ish, kak Rein ngeselin!" cetus Rara manyun tak suka diejek. Rain yang di sampingnya Rara, cuma tertawa kecil lalu berkata : "Apa dia memang begitu? Sifatnya datar sekali, dingin seperti Daddy dulu padaku," ucap Rain berbisik.
"Hm, kak Rein memang begitu. Dia anak Mommy yang menyebalkan. Aku kesal, dia tak bisa diajak main. Mukanya juga ngeselin banget," celetuk Rara duduk sila menatap ke TV.
"Pfft, kalau begitu sekarang kita temanan saja." Rain memberi jari kelingkingnya. Rara tersenyum sumringah, ia malah memeluk Rain dari pada membalas jari kelingkingnya membuat Rein tersentak melihat adiknya memeluk Rain.
"Yes, akhirnya punya teman juga. Terima kasih, Rain." Rara sangat girang, tidak seperti Rain yang tersipu habis dipeluk oleh Rara.
Rara dan Rain terkejut melihat Rein merobek paksa kemasan snack di tangannya, terdengar sangat kejam seperti suara sayatan. Nampaknya Rein kesal merasa diabaikan.
"Ahahaha... ada yang marah tuh," tawa Rara meledeknya. Rein berdiri duduk ke tempat lain. Rain ikut tertawa melihat reaksi Rein. Begitupun Manda yang geleng-geleng kepala di lantai dua melihat anak-anak berada di lantai bawah masih nonton TV. Manda juga mengelus cincin di jari tangannya.
"Kapan ya Rafa bisa membawaku ke rumah orang tuanya, aku jadi merasa tak sabaran mengenal dan bertemu dengan tokoh lainnya. Pasti anak-anak Devan dan Ella sudah besar-besar." Manda mengingat pada tokoh favoritnya, terutama Devan, Ella, Tuan Raka, Ny. Mira, dan baby twins yang ada di cerita novelnya yang lain.
Namun tiba-tiba saja, seseorang merangkul perutnya dari belakang hingga Manda menjerit kaget.
"Ahh, astaga sudah kebiasaan!" cetus Manda mencoba lepas. Namun Rafa makin kuat merangkulnya.
"Uuh, lepaskan aku, Rafa. Aku tak bisa bergerak," lanjut Manda mendesis.
"Tenanglah, aku ingin memelukmu saja. Siapa tahu rasa lelahku bekerja bisa hilang setelah memelukmu, Shei." Manda menunduk, ia mencoba menerima Rafa yang terus menerus memanggilnya, Shei.
"Maaf, pasti mengurus bisnis besar membuatmu sangat capek," ucap Manda akhirnya membiarkan Rafa memeluknya. Namun tiba-tiba Rafa turun mengecup leher Manda.
__ADS_1
"Hais, lepaskan aku. Jangan menggangguku, Rafa."
Karena Manda memberontak lagi, Rafa pun melepaskannya dan kemudian tersenyum.
"Eh, ada apa dengan mu?" tanya Manda heran.
Tuk!
Aduh! Manda meringis sebab keningnya dicentil oleh Rafa.
"Bisakah kamu jangan terlalu galak padaku, kamu ini hampir melebihi nenek di luar sana." Kata Rafa meledeknya dan tertawa.
"Hish, tau ah. Aku mau ke bawah," kesal Manda melewati Rafa. Namun Rafa menahannya cepat dan memeluknya lagi.
"Shei, kamu mau ikut denganku besok?" tanya Rafa melepaskan Manda.
"Kemana?"
"Ke rumah sakit untuk lakukan tes DNA, setelah itu kita ke rumah orang tuaku. Aku mau menikahimu segera mungkin agar kamu jadi milikku seutuhnya," jawab Rafa meraih beberapa helai rambut Manda lalu menghirup aroma rambut itu yang wangi.
"Benarkah? Kamu serius?" tanya Manda belum yakin.
"Serius, Shei. Jadi sekarang ikut denganku," jawab Rafa memasangkan syal ke leher Manda laku menarik Manda turun ke bawah.
"Kita mau ke mana?" tanya Manda menoleh sejenak melihat anak-anaknya yang sibuk menonton.
"Shht, aku ingin mengajakmu kencan malam ini."
Deg! Manda tersipu mendengarnya. Ia merasa sedang pacaran dengan Rafa sebelum mereka menikah. Keduanya pun pamit ke Pak Toby dan menyuruh pak Toby ketat mengawasi anak-anak. Setelah memasuki mobil, Rafa membawa Manda jalan-jalan malam ini. Manda tak bisa berhenti menunduk, hatinya berdebar-debar. Namun seketika teralih ke Noah. Tiba-tiba rasa sakit itu muncul, ia benci pada Rangga yang mirip dengan Noah, tapi Manda juga rindu pada mantannya itu.
Cinta yang pernah tumbuh di dalam hatinya, tak bisa melupakan sepenuhnya Rangga, meski sudah berkhianat.
"Apakah, Rangga reinkarnasi menjadi Noah ke dunia ini?" pikir Manda.
Terima kasih sudah setia mengikuti kehaluan author😆hehehe. Jangan lupa like dan komen ya kakak dan Mommy cantik😍😘salam sayang dari author...
__ADS_1