Istri Reinkarnasi, CEO Kejam

Istri Reinkarnasi, CEO Kejam
Bab 16 : Mencium Manda


__ADS_3

Sudah enam tahun Manda tidak bertemu dengannya dan sekarang hari ini bertemu dengan pria yang sudah merenggut kehormatan Sheila dulu. Perlahan Manda mundur dan cepat berbalik ingin kabur. Namun satu langkah saja, kerah lehernya berhasil diraih oleh Rafa hingga Manda tak bisa bergerak kemana-mana.


"Cih, beraninya mengabaikanku," decak Rafa sedikit geram.


Manda berbalik dan cengengesan langsung bicara.


"Ma-maafkan saya, Pak. Saya di sini tidak bermaksud apa-apa, saya cuma pelayan di sini." Terpaksa Manda berbohong. Rafa sedikit kaget melihat wanita itu membungkuk setengah badan kepadanya.


Rafa tersenyum miring dan meraih kartu identitas milik Manda di dekat saku bajunya. Mata hitam Manda melebar setelah Rafa mengucapkan identitasnya.


"Oh, namamu Manda Aresta. Seorang pelayan atau reporter magang?" tebaknya langsung berkacak pinggang, menatap sinis ke arah Manda.


"Hehehe... aku rasa, aku salah masuk ruangan. Kaaaabur...!" pekik Manda segera lari. Baru juga mau melewati pintu, rambutnya dicengkram dari belakang membuatnya menjerit kencang.


"Auuuuuh! SAKIT AMPUN!"


Rafa melepaskannya dan tersenyum miring. Puas mendengar Manda menjerit kesakitan.


"Ish, kejam banget, untung saja tidak copot nih rambutku!" celetuk Manda dalam hati dan menatapnya benci.


"Cih, ada apa denganmu? Kenapa melototiku begitu?" tanya Rafa melipatkan tangannya, berdiri tepat di depan Manda.


Manda berdelik lalu membuang muka.


"Hmp, untuk apa aku harus jawab? Anda pasti sudah tahu tatapanku ini. Sekarang, aku mau pergi. Anda jangan halangi aku!" tegas Manda tidak takut sama sekali dan berbalik lagi.


"Oh ya? Baiklah kalau begitu kamu pergi saja dan jangan harap kameramu ini akan kembali dengan utuh,"

__ADS_1


Spontan Manda terdiam segera berbalik lagi setelah mendengar ucapan Rafa.


Deg!


Tidak disangka kameranya ada di tangan Rafa. Manda pun mendesis ingin merebutnya.


"Berikan itu padaku!" pinta Manda kesal.


"Berikan padamu? Untuk apa aku harus turuti dirimu? Kamu ini siapa, ha!" bentak Rafa mulai emosi karena berpikir di dalam kamera itu sudah ada potret kencan buta dirinya.


"Apa kamu amnesia? Aku kan reporter dan kamera itu punyaku untuk memotret! Sekarang berikan padaku!" balas Manda membentak. Rafa terdiam dibentak balik. Kamera itu pun langsung dihempaskan ke lantai hingga rusak.


Prang!


"Tidaaaaak!" teriak Manda terbelalak melihat kaca kameranya pecah.


"Kamu, beraninya merusak punyaku! Ganti rugi, dasar jahat!" racau Manda mengamuk langsung memukulnya. Tapi Rafa dengan tenang menghindarinya.


"Padahal ini satu-satunya kamera yang aku punya, kamu sangat kejam! Aku tahu kamu ini punya segalanya, tapi kamu juga jangan seenaknya bertingkah begini pada orang sepertiku, dasar lelaki kejam! Aku membencimu!" pekik Manda keluar dengan tangisannya. Sangat sakit tahu kalau Rafa masih kejam. Ini membuat Manda tidak berani mendekatinya, apalagi mengungkap jati dirinya.


Rafa terdiam melihatnya pergi, ada rasa aneh yang tiba-tiba membuatnya merasa bersalah. Rafa menunduk melihat kamera itu pecah. Dia pun memungut lalu memperhatikannya.


"Dia... cih!" Rafa berdecak sedikit kesal dan kemudian keluar. Ternyata Rafa tidak sadar jika Sheila adalah Manda yang menyamar sebagai wanita lugu.


Sedangkan Manda masuk ke ruangan lain, dia duduk di sofa dan meremas rambutnya. Setelah tenang, Manda membuka kacamatanya dan mengusap sisa air matanya.


"Hiks... dasar lelaki brensek! Dia itu manusia apa bukan sih, padahal aku belum memotret apa pun di kamera itu. Dasar brensek, kamvret!" umpat Manda meluapkan emosinya.

__ADS_1


BRAK!


Manda sontak berdiri, sungguh amat terkejut pintu ruangan itu didobrak keras. Manda bergegas memasang kacamatanya dan menoleh ke arah pintu.


"Kamu! Ke-kenapa kamu ke sini?"


Manda terbata-bata melihat orang itu ternyata Rafa yang datang menyusulnya. Tak ada suara, melainkan Rafa makin mendekatinya dengan tangan mengepal.


"Hei! Kamu mau apa ke sini!" bentak Manda terpojok ke dinding.


PAK!


Rafa mengunci dirinya, menatap saksama bola mata dibalik kacamata hitam itu. Manda meneguk ludah berhadapan dengan jarak yang sangat dekat.


"Menyingkir dari hadapanku!" dorong Manda pada dada bidang Rafa. Namun tenaganya tidak bisa menyimbangi tenaga Rafa yang kuat.


"Aku-" ucap Rafa berhenti, tiba-tiba darah di dalam tubuhnya berdesir setelah mencium aroma yang sangat familiar. Aroma tubuh Manda membuat ***** birahi yang tertahan selama lima tahu langsung bangkit.


"Ka-kamu mau apa, ha! Lepaskan aku!" ronta Manda mendorongnya lagi.


Percuma! Rafa segera meraih leher Manda dan mencium bibir wanita di depannya. Gairah itu makin meningkat setelah bibir mereka bertemu. Manda membola dirinya dicium oleh CEO.


Aaahhh...


______


Terima kasih buat teman teman yang telah memberi LIKE dan VOTE nya serta memberikan RATING Bintang Lima, juga buat teman-teman yang telah berkomentar positif. Karena itu semua akan membuat Author lebih bersemangat dalam menulis novel ini.

__ADS_1


Terima kasih juga buat teman-teman yang telah menghargai karya Author dengan cara memberikan Tip. Author juga doakan semoga sehat selalu buat semua pembaca, baik itu yang suka maupun yang tidak suka dengan Novel ini.


Jika ada Typo dalam setiap chapter di Novel ini, mohon untuk diberitahukan kepada Author agar segera merevisinya. Terima kasih~


__ADS_2