
⚠️⚠️Warning!!
Manda membola hebat setelah menerima benda tajam itu langsung menembus kulitnya.
"Mandaaa!" pekik Rangga menarik tubuh Manda terlepas dari tikaman pisau Delsi. Manda jatuh bersimbah darah yang mulai mengalir dari pundaknya setelah menghalangi pisau, yang mau menusuk kepala Noah, sehingga Manda pun berhasil ditusuk oleh Delsi.
"Manda, manda!" Noah mengguncang tubuh Manda yang langsung terkulai lemas. Jas pengantin putih Noah langsung berlumuran darah.
"Hahahhaha, akhirnya aku berhasil juga." Delsi tertawa puas lalu menatap Noah yang mencoba menahan luka Manda.
"Ohh iya, tadi kau menendang perutku, kan? Baiklah, sekarang ... giliranmu!" teriak Delsi kembali menggila.
Namun tiba-tiba dia tergelincir membuatnya jatuh ke belakang dan langsung terbentur ke lantai dan mengakibatkan pisau terlempar ke atas dan tanpa sengaja jatuh tertancap ke dada Delsi.
Jleeebb!
Delsi shock menerima tusukan dari pisaunya. Dia pun menjerit kesakitan dan kemudian meninggal setelah ujung pisau menusuk ke dalam jantungnya.
Noah terguncang, melihat sekelilingnya dibanjiri darah. Dia pun mengangkat Manda sebelum Manda kehilangan banyak darah. Namun, liontin Manda malah tergelatak di dekat mayat Delsi. Noah pun berpikir jika liontin itulah penyebab Delsi tergelincir karena tidak sengaja menginjaknya.
Tapi itu tidak penting, Noah bergegas membawa Manda keluar dari toilet. Akan tetapi, Rafa datang bersama Nerin dan yang lainnya. Semua mata membola melihat pakaian Noah penuh darah dan juga Manda.
"Sheilaaaaaa!" Rafa segera merebut Manda dari Noah.
"Noah, apa yang telah kau lakukan, padanya!" geram Rafa membentaknya. Manda yang setengah sadar pun menggenggam tangan Rafa, dia berkata dengan lirih.
"Ra-rafa, aku tidak sanggup lagi," lirih Manda tidak dapat menstabilkan perasaannya lagi. Dia sakit, sesak, sedih, dan kecewa. Rafa pun menggelengkan kepala, dia bergegas menyuruh orang menyediakan mobil untuk segera membawa Manda ke rumah sakit.
Triple R yang bermain dengan sepupu mereka sekilas melihat ayah mereka membawa Manda dengan terburu-buru.
"Mommy!" teriak Rara melambai, mengira ayahnya sedang iseng membawa Ibu mereka. Manda yang mendengarnya tidak dapat menoleh, dia malah menjerit kesakitan ketika lukanya makin parah. Rafa pun penjaga untuk mengawasi Triple R di mansion ini.
Sedangkan Noah masih berdiri di hadapan semua keluarga besarnya. Nerin ketakutan melihat mayat perempuan terkapar kaku di lantai.
"Noah katakan dengan jujur, apa yang telah terjadi di sini?" tanya Ibunya serius, seakan tatapan mereka menganggap Noah telah membunuh.
__ADS_1
Noah jatuh bertekuk lutut, dia menangis. Bukan karena dituduh, tapi dia gagal melindungi Manda.
"Noah! Katakan apa yang telah terjadi?" tanya Opa Alka meneriakinya.
"Ini salahku, akulah yang harusnya ditusuk, bukan dia. Dia tidak boleh mati, dia tidak boleh meninggalkan aku di sini!" racau Noah menangis lalu melihat dua tangannya yang penuh darah milik Manda. Nerin duduk di depan Noah, dia memeluk suaminya yang tampak ketakutan.
"Noah tenanglah, ini bukan salahmu, aku yakin itu."
"Tidak Nerin, ini adalah salahku, dia terluka gara-gara melindungiku, harusnya aku lebih cepat menghentikan Delsi yang mau membunuhnya!" jelas Noah memeluk Nerin, dia sangat ketakutan, ditambah dua matanya jelas-jelas melihat pisau itu menembus masuk ke pundak Manda hingga darah menyembur keluar. Ditambah lagi dia melihat Delsi mati di depannya. Semua orang terkejut tidak sangka mayat yang terkapar itu adalah Delsi, kakak tiri yang sungguh datang ingin membunuh Sheila.
"Noah, katakan, siapa yang telah menusuk Delsi?" tanya Nerin mengelus punggung Noah yang terisak ketakutan.
"A-aku ti-"
"Noaah!"
Semuanya histeris melihat Noah pingsan. Mereka bergegas membawa Noah dari sana. Sedangkan Opa Alka menyuruh anak buahnya untuk mengurus mayat Delsi. Orang tua Nerin yang sedang ditemani oleh Marsya dan Triple R menjadi heran mengapa ada banyak orang keluar dari arah toilet. Mereka pun mendekat ke sana, kecuali Triple R yang sibuk menghubungi Manda.
"Duh, kok Mommy tidak angkat sih," sedih Rara.
"Haisss, Daddy kalau sudah sama Mommy pasti lupa sama kita," desis Rain mulai sesal.
"Kakak Rein, coba kau cari lokasi Mommy," usul Rara.
"Baiklah," ucap Rein lalu membuka aplikasi pelacaknya di dalam ponsel. Dia mencari kemana Ibunya menggunakan lokasi yang terpasang di ponsel Ibunya.
"Eh, kok dekat sini? Harusnya kan Mommy dan Daddy ada di jalan?" pikir Rein merasa ada yang aneh.
"Kenapa, Kak?" tanya Rara.
"Ini aneh, Ra, beberapa menit yang lalu kita lihat Daddy pergi sama Mommy, tapi lokasi yang aku dapatkan ada di sekitar sini," jawab Rein melihat ulang pelacaknya.
"Mungkin saja ponsel Mommy terjatuh," sahut Rain positif thinking.
"Ya sudah, kita cari yok!" seru Rara menarik dua tangan adiknya. Penjaga pun juga diam-diam mengikutinya atas perintah Rafa. Ketiga anak kembar berhenti di depan ruangan toilet. Mereka agak ragu untuk masuk, apalagi barusan banyak orang yang keluar ke sini.
__ADS_1
"Ayo kita masuk!" tarik Rara menuntun dua saudaranya. Tiba-tiba ketiganya berhenti setelah mencium bau amis darah. Mereka pun ragu untuk melusuri lorong di depannya. Seketika beberapa berjas hitam keluar dan menghalangi mereka.
"Maaf, anak-anak dilarang masuk!"
"Tapi di dalam ada Mommy kita," ucap Rara berani menyahut.
"Maaf, di dalam tidak ada siapa-siapa. Kalian kembali lah," perintah mereka.
"Nggak, kami mau ketemu Mommy! Ini kami punya bukti kalau Mommy kita ada di dalam!" ujar Rein maju menunjukkan pelacaknya.
"Siapa nama Ibu kalian?" tanya mereka lagi.
"Mommy Sheila, kita ini anak-anaknya CEO Rafandra!" jawab ketiganya serempak.
"Tunggu, apa ini punya Ibu kalian?" Triple R mengangguk ditanya mereka. Mereka pun mengambil tas Sheila yang memang tertinggal.
"Dan oh ya, apa ini juga punya Ibu kalian?" tanya mereka memperlihatkan liontin Manda. Awalnya Rein dan Rain menggelengkan kepala, kecuali Rara yang ingat berlian di liontin itu adalah miliknya.
"Ah itu, punya Mommy kita juga, Om," jawab Rara membuat dua saudaranya melongo. Rara pun keluar setelah berhasil membawa tas dan liontin Ibu mereka. Rara pun menjelaskan pada dua saudaranya jika berlian itu yang dia maksud tadi saat di rumah. Rain dan Rein pun paham, lalu mereka pun menyuruh penjaga untuk pulang ke rumah. Mereka ingin memberikan tas dan liontin itu ke Manda.
"Hihihi, pasti Mommy senang kita bawa pulang ini," tawa Rara cekikikan.
"Eh, tapi lihat ini, kenapa ada warna merah di tengahnya?" tanya Rain menunjuk bagian dalam berlian itu. Rein ikut serius mengamati.
"Eh iya, kenapa seperti darah ya?" ucap ketiganya keheranan. Rara tidak peduli, dia menyimpan liontin itu di sakunya. Mereka tidak sadar jika itu adalah darah milik Ibunya yang terserap ke dalam berlian itu. Mereka tidak tahu jika waktunya tidak akan lama lagi.
_____
Dokter! Dokter!
Suster keluar dari ruangan Manda, dia shock ketika tubuh Manda yang asli tiba-tiba mengalami kejang-kejang. Dia pun berlari memanggil segera Dokter untuk menanganinya. Sedangkan suster satunya berusaha menstabilkan kondisi jantung Manda. Awalnya mereka hanya memeriksa denyut nadi Manda, namun tiba-tiba tubuh Manda mengalami hal itu.
Orang tua Manda yang sedang keluar untuk menarik uang di BANK agar dapat menebus administrasi Manda, kini keduanya dipanggil kembali. Mereka berlari secepatnya untuk melihat Manda yang dinyatakan mengalami komplikasi jantung hingga kembali kritis.
Helena yang mendengar kabar itu dari suruhannya, malah tertawa di depan ruangan Rangga, tunangannya yang masih dalam keadaan koma selama lima bulan ini. Namun Helena sekilas tidak sengaja melihat ada air mata jatuh dari matanya, Helena segera menyuruh suruhannya itu memanggil Dokter.
__ADS_1
Udah mau tamat nih🤧dah setelah itu author bakal pamit🙏