Istri Reinkarnasi, CEO Kejam

Istri Reinkarnasi, CEO Kejam
Bab 104 : Rafa Belum Puas


__ADS_3

Dentingan jarum jam tangan memecahkan keheningan kamar yang dipakai oleh Manda dan Rafa. Perlahan Manda beranjak bangun, dan melihat di sampingnya ada Rafa yang masih tertidur setelah bercinta mesra dengannya. Manda menyentuh kepalanya yang agak berdenyut sedikit. Dia pun menguap sebentar.


"Haaaahh badanku sakit semua."


Manda turun dari tempat tidur, dia mengambil jubah mandi di atas meja kemudian memakainya. Setelah itu, dia pun masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Satu jam kemudian, Manda telah usai mandi. Dia pun membuka lemari dan kemudian memakai dress yang lumayan cantik dan juga syall tipis untuk menutupi bekas merah yang ditinggal oleh Rafa di lehernya. Manda pun tak lupa berdandan kembali, dia harus terlihat elegan saat ke rumah Ibu mertuanya nanti.


Setelah semuanya siap, kini dia mengamati ruangan kamar di sekitarnya. Dia mengingat ucapan Rafa jika kamar ini adalah tempat di mana mereka melakukan kesalahan cinta satu malam. Manda mengigit bibir bawahnya, dia tidak punya ingatan itu sama sekali. Namun tiba-tiba air matanya turun.


Manda terhenyak, dia merasa sakit dan perih. Ini adalah respon alami dari tubuhnya yang mungkin saat itu memberontak dikala Rafa mencoba memperkosa Sheila saat itu. Manda duduk di kursi riasnya dan kemudian memejamkan mata, Manda merenung semuanya dari awal.


Lamunannya pun hancur setelah ponselnya berdering. Manda pun mengambilnya dan melihat sang pemanggil adalah putranya, Rein.


"Ada apa putraku tiba-tiba menelpon?" Manda segera mengangkatnya.


..."Halo, sayang. Kenapa hubungi Mommy?"...


..."Mommy dan Daddy kemana? Kenapa tidak sampai juga di rumah Oma?"...


..."Ah itu, Mommy dan Daddy mu lagi ada urusan, nanti juga ke sana, sayang."...


..."Cepatlah Mommy, ada yang ingin Rein perlihatkan ke Mommy,"...


..."Apa itu, sayang?"...


..."Ini tentang musuh Mommy, Bibi Valen."...


..."Baiklah, Rein tunggu sebentar, Mommy secepatnya ke sana."...


..."Baik Mommy!"...


Setelah dapat panggilan itu, Manda bergegas bangkit dari kursi, dia pun membangunkan Rafa.


"Raf, ayo bangun... anak-anak sudah menunggu di rumah Mami nih." Manda menggoyangkan tangan Rafa. Namun tetap saja Rafa menggeliat tidak mau.


"Ayolah bangun, jangan lanjut tidur dong, ini kita sudah terlambat." Manda naik ke tubuh Rafa, dia menindih suaminya itu.


"Ada apa? Kenapa kau mengganggu tidur soreku?" tanya Rafa setengah sadar. Manda mengelus dada tel4nj4ng suaminya. Dia mencubit gemas bagian dada kiri Rafa membuat suaminya itu meringis.


"Auhhh... ngapain sih main cubit?" ringis Rafa akhirnya sadar sepenuhnya. Manda yang cemberut dari tadi mulai mengoceh.


"Kamu ini sudah dikasih jatah langsung malas gini, ayo doong bangun! Kita cepat ke rumah Mami!"


Sontak karena tidak tahan, Rafa memeluk istrinya.

__ADS_1


"Aduh, jangan peluk aku, nanti penampilanku rusak. Lepaskin nggak!"


"Nggak mau sebelum aku dikasih cium dulu," tolak Rafa melototnya.


"Dihh, masih minta lagi? Bukannya tadi sudah aku puasin?"


"Belum, aku belum puas," ucap Rafa tersenyum tipis.


"Bahhh, banyak alasan. Ayo bangun!" pinta Manda tegas.


"Cium dulu dong," rengek Rafa.


Cup!


Manda pun langsung mengecupnya.


"Lagi,"


"Apa, lagi?" Manda kaget diminta ulang.


"Iya, lagi. Tadi itu tidak bagus,"


"Ishh, alasan!" cetus Manda dengan tatapan jengkel.


Terpaksa wanita beranak tiga itu pun nurut lalu mencium bibir Rafa dengan waktu cukup lama. Hingga Rafa balik *****4* bibir istrinya dengan lembut. Manda mendorong dada Rafa, dia menghentikan aksinya sebelum ter4ngs4ang kembali.


"Karena sudah aku cium, sekarang cepat bangun!" pinta Manda seperti Bos di mata Rafa.


"Pufft, gimana mau bangun kalau kau masih di atasku, sayang? Atau jangan-jangan kau masih mau nganu sama aku?" tawa Rafa memainkan ujung rambut Manda. Sontak Manda bangkit turun dari atas Rafa, dia agak tersipu merasa malu sendiri.


"Sudah, sana gih pergi mandi, aku tunggu kau di mobil."


Manda keluar dari kamar sebelum Rafa bertingkah lagi.


"Lah, Sheila! Jangan main pergi gitu saja!" Rafa buru-buru masuk ke kamar mandi, dia tidak mau Sheila hilang dari jangkauannya.


Manda masuk ke dalam mobil, dia bersandar di sebelah kursi pengemudi. Saat mau memejamkan mata sejenak sambil memijit pinggangnya yang masih nyeri, tiba-tiba dia melihat Valen keluar dari sebuah cafe pinggiran jalan.


"Apa ini cuma kebetulan?"


Manda keluar dari mobil, dia berlari secepatnya mengejar Valen sebelum wanita itu hilang dari jalanan.


"Valen!"


Manda berhasil menahannya. Sontak Valen terperanjat, dia pun berbalik sedikit ragu-ragu.

__ADS_1


"Shei, kok bisa di jalan sini juga?" tanya Valen mulai coba tenang. Dia tampak mencurigakan di mata Manda.


"Ini kebetulan jalan-jalan sama Rafa," jawab Manda menunjuk mobilnya tak jauh dari sini. "Tepat sekali, sepertinya Rafa tidak bersama saat ini, ini bisa saja waktunya aku menculiknya, tapi-" batin Valen ragu-ragu lagi.


"Oh ya, kenapa kamu keluar? Bukannya kamu sedang sakit?" tanya Valen sambil tersenyum sedikit.


"Sakit? Aku sudah sembuh kok dari seminggu yang lalu," jawab Manda balas tersenyum.


"Apa? Sembuh? Apa Delsi sudah bohong padaku? Bukannya Sheila sedang sakit dan masih dirawat? Tapi kenapa sekarang Sheila bilang sebaliknya?"


Valen semakin ragu untuk niatnya pada Manda. Dia agak takut untuk mengulang kedua kalinya masuk penjara.


"Oh ya, kamu habis kemana?" tanya Manda memegang lengan Valen.


"Auhhh!" tepis Valen menjerit. Manda tersentak melihat Valen kesakitan.


"Maaf, apa aku tadi menyakitimu?" tanya Manda sedikit heran.


"Tidak, ini-ini cuma tanganku agak sakit," jawab Valen mundur selangkah. Manda pun membola, dia agak shock melihat lebam merah di lengan sebelah Valen.


"Ya Tuhan, apa dia habis dipukul oleh ayannya?" pikir Manda agak iba. Valen was-was Manda akan tanya tujuannya tadi di jalan ini. Tapi rupanya Manda malah mengajaknya ke rumah Tuan Raka.


"Emh... karena kebetulan kita bertemu, bagaimana kalau kau ikut dengan kami ke rumah Neneknya Rain? Di sana ada juga Rain, dia pasti senang melihatmu," ajak Manda tersenyum. Dia punya rencana untuk menyadarkan Valen dan mau jujur siapa yang telah bersekongkol dengannya. Dari awal Manda memang masih curiga hingga dia ingin membongkarnya dengan halus tanpa kekerasan. Sangat disayangkan, seorang artis yang dulu populer kini berakhir cukup menyedihkan sekarang.


"Tidak! Dia mana mungkin akan diterima oleh keluargaku!" sahut Rafa datang menghampirinya. Valen kaget diberi tatapan dingin.


"Jangan galak dong, Valen kan sudah jadi teman aku, sayang," ucap Manda mentoel pipi Rafa. Valen terhenyak mendengar dirinya diakui.


"Apa ini? Apa Sheila sungguh tidak lagi benci padaku? Apa dia sepenuhnya percaya padaku?"


Valen deg-degan, dia berharap lebih baik dia tidak ke rumah itu. Dia agak ngeri sama tatapan Tuan Raka, takut dintimidasi.


"Cih, sejak kapan kau berteman dengan penjahat sepertinya?" decak Rafa kecewa sama Manda.


"Sejak kemarin, jadi nggak apa-apa kan dia ikut? Kan lebih bagus juga dia bisa minta maaf sama Ibu dan ayahmu, sayang," ucap Manda memohon sedikit agar Rafa ngerti atas rencananya.


"Hahaha, tidak... sepertinya aku tidak usah ikut sama kalian," cengir Valen menolak.


"Jangan tolak dong, ini kan bagus buat kamu. Kamu bisa lagi dekat sama Rain kalau kamu datang minta maaf. Kamu sayangkan sama Rain, Val?"


Valen menelan ludah, dia terdesak sekarang. "Ba-baiklah, mungkin ini memang bagus juga. Hehehe," setuju Valen cengengesan. "Yes, bagus sekali!" riang Manda segera menarik Valen menuju ke mobil Rafa, dia duduk di bagian kursi tengah bersama Manda.


"Gila! Istriku kenapa tiba-tiba berubah begini?" batin Rafa melongo dengan sikap Manda ke Valen. Dia pun mendesis masuk ke mobil dan membawa mereka ke rumah ayahnya.


"Cih, lihat saja, kau pasti akan diusir mentah-mentah dari sana!"

__ADS_1


__ADS_2