Istri Reinkarnasi, CEO Kejam

Istri Reinkarnasi, CEO Kejam
Bab 74 Gagal


__ADS_3

Tuan Damian dan Nyonya Marina kembali ke Kediaman William bersama Delsi. 


"Lihatlah, putri yang kamu lindungi malah ingin memenjarakaku. Kau harusnya lebih baik mengusir dia dari keluarga ini, Damian!"


Nyonya Marina menunjuk suaminya sembari duduk di sebelah Delsi yang ketakutan akan dipenjara jika Valen membuka mulut soal penculikan Rain. Inilah yang dia takutnya selama ini apabila penyelidikannya selesai.


Tuan Damian berdiri, dia bingung harus mengambil langkah apa. Bagi Tuan Damian, putri keduanya sangat berguna sekarang, terutama dia memiliki tiga anak kembar tahun ini.


"Papa capek, kalian berdua lebih baik bicarakan besok." Tuan Damian pergi ke kamarnya, dia ragu untuk ikut pada rencana istri dan anaknya yang ingin singkirkan Manda.


"Mah, sepertinya Papa sudah tidak peduli. Apa yang harus kita lakukan? Apa kita pergi ke luar negeri saja?" Delsi menunduk, dia sangat cemas.


"Bodoh! Kalau kita pergi dari rumah ini, yang ada Sheila dan anak-anaknya yang akan dapatkan kekayaaan harta Charlotte. Kita harus mencari cara lain untuk singkirkan wanita sialan itu," greget Nyonya Marina.


"Mah, aku takut," lirih Delsi memeluk lengan Ibunya.


"Takut apa?" tanya Nyonya Marina heran.


"Dua minggu lalu sebelum Mama sadar, aku mencekik Sheila," jawab Delsi berbisik.


"Terus kamu berhasil menyikirkan dia?" tanya Nyonya Marina serius.


"Maaf, Mah. Aku gagal, dia mungkin masih dirawat di rumah sakit," jawab Delsi menggigit bibir bawahnya saking tegang.


"Bodoh, kenapa sampai gagal?" 


"Mah aku takut, aku takut Rafa melaporkan tindakan aku, dia saat itu menangkapku yang sedang mencekik Sheila. Apa yang harus aku lakukan, Mah!" racau Delsi makin gemetar, dalam hatinya dia ingin menjerit.


"Ahhh, dasar tidak berguna! Mengapa kau bisa ceroboh! Besok lebih baik kau ke luar negeri, biarkan Mama yang akan mengurus mereka bila datang untuk menangkapmu," ucap Nyonya Marina tambah kesal malam ini.


"Baiklah, kita pergi dari sini saja, Mah!" ajak Delsi tidak mau meninggalkan Ibunya sendirian.


"Tidak, Mama akan tetap di sini. Mama tidak mau tinggalkan rumah besar ini, Mama harus mengusai semuanya," tolak Nyonya Marina bersikaras tinggal.


"Dasar Ibu serakah, dia malah lebih peduli pada harta dari pada hidupnya. Kalau kita pergi bersama dan menghilang beberapa tahun, mungkin masalah ini tidak akan muncul lagi, tapi Mama tetap saja ingin tinggal. Baiklah, ini kemauan Mama. Aku tidak mau terjerumus ke penjara bersamanya!" batin Delsi pergi menaiki tangga meninggalkan Ibunya sendirian di ruang tamu.


"Aku harus secepatnya membunuhnya, tapi kenapa dia bisa masuk rumah sakit?" pikir Nyonya Marina heran terhadap anak tirinya itu yang tiba-tiba dirawat di rumah sakit.


"Ck, aku harus memulainya." Nyonya Marina beranjak pergi dari ruang tamu.


Sementara di rumah sakit, Manda memohon kepada tiga anaknya untuk menemaninya jalan-jalan keluar. Dia bosan berada di ruang pengap itu. Manda sepertinya juga heran mengapa dia berada di rumah sakit. Ingin tanyakan ke Rafa, tapi suaminya sedang sibuk di perusahaan. Bila tanya ke Dokter, Manda tidak tahu siapa Dokter yang menanganinya.


"Mommy mau jalan-jalan?" tanya Rara yang berdiri di dekatnya.


"Benar, kalian mau kan temani Mommy?" mohon Manda dengan mata berkaca-kaca.


Tiga anak berkumpul, mereka berbisik-bisik membuat Manda mengerutkan kening.


"Kita temani Mommy saja," bisik Rara pada dua saudaranya.


"Tapi kata Daddy, kita tidak boleh buat Mommy capek. Kalau jalan-jalan nanti Mommy pingsan lagi," tambah Rain sedikit ragu kemudian melihat Rein yang berpikir.


"Sebenarnya ini tidak masalah kalau Mommy keluar. Lagian juga kita jalan-jalannya di dekat rumah sakit, kalau Mommy sampai pingsan kita bisa panggil Dokter, kan?" ucap Rein merasa tidak tega Ibunya seperti dikurung.


Triple R pun menengok Manda. Mereka melihat Ibunya serius.

__ADS_1


"Kita temani Mommy saja yuk, Rara jadi kasihan lihat Mommy," bisik Rara mulai setuju dengan Rein.


"Hm, baiklah." Rein dan Rain pun sepakat untuk temani Mommy mereka. Triple R pun dengan imutnya mendekati Manda.


"Wih kalian ini sedang bisik apa? Kok sampai jauh begitu?" tanya Manda pada ketiga anaknya.


"Mommy kami akan temani jalan-jalan sekarang!" seru Triple R jawab serempak. Manda kaget dengan kekompakan mereka. Dia pun ditarik keluar oleh mereka.


"Mommy senang bisa sama-sama kalian lagi," ucap Manda mencium kepala tiga anaknya.


"Eh, kenapa ucapan Mommy rasanya aneh?" pikir Rein sadar ada yang ganjil dengan ucapan Ibunya.


"Mommy lihat, bulannya besar sekali!" Tunjuk Rara ke atas langit. Manda dan dua bocah serempak mendongak ke atas. Benar, bulannya sangat cantik malam ini. Seperti sedang menyambut Manda kembali ke dunianya.


"Uuuhh, dingin. Kita masuk saja yuk Mommy," rintih Rain kedinginan segera memeluk Manda hingga wanita ini berhenti jalan bersama tiga anaknya.


"Dasar lemah, cuma jalan-jalan malam saja sudah kedinginan," ejek Rein ke adiknya. Rara menahan tawa melihat Rain cemberut. Padahal maksud Rain ingin membawa Ibunya kembali ke ruangan sebelum Daddy datang ke sini.


"Ishh, dasar menjengkelkan!" rutuk Rain memeluk Manda dan mengabaikan Rein.


"Mommy, Rein itu nakal. Rain kan memang kedinginan bukan lemah. Rain itu kuat!" ujar Rain merengek manja.


"Hahaha, kalian berdua selalu berdebat. Ayo damai jangan saling bermusuhan, tidak baik mengejek saudara sendiri," ucap Manda tertawa geli. Rara pun merangkul leher Rein kemudian berkata.


"Benar kata Mommy, Kak Rein jangan galak dan nakal, tidak boleh tau!" gemas Rara mencubit pipi Rein.


"Hm, iya deh Rein minta maaf." Sebagai yang tertua, Rein pun mengulurkan tangan. Rain berbalik, dia cemas kalau kakak tertuanya itu mau usil lagi.


"Ayo sayang dibalas, jangan ngambek gitu," ucap Manda membelai kepala Rain dengan lembut.


Tuk! Manda dan Rara membola melihat Rain disentil.


"Huaaa… Mommy, Rein nakal lagi, dia kakak yang usil!" tangis Rain manja memeluk Ibunya.


"Hahaha dasar adik cengeng, disentil saja sudah nangis," tawa Rein puas merasa asik mengusili adiknya sendiri.


"Kak Rein!" bentak Rara tidak terima adiknya nangis. Rein pun menoleh, dia nyengir tanpa dosa sambil meledek Rara. 


"Wleek, aku tidak takut hahaha… kaburrrrr!" pekik Rein lari ke ruangan Ibunya.


"Kaaaaak tidaaak boleh nakal tau!" teriak Rara mengejarnya.


"Wleeek… ayo sini tangkap aku kalau bisa, dasar adik bawel!" ejek Rein ke Rara. Rara berkacak pinggang, dia lanjut mengejar Rein, dan diikuti Rain juga mengejar dua saudaranya.


"Hei kalian, jangan lari-lari!" ujar Manda sedikit teriak. Tapi ketiganya asik main kejar-kejaran. Manda pun ingin menyusul tapi Rafa tiba-tiba mengagetkannya.


Pak! Manda melompat sedikit saat seseorang menepuk bahunya.


"Istriku, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Rafa berbisik ke telinganya.


"Hehhe, ternyata sudah pulang. Gimana kerjanya hari ini?" cengir Manda di depannya.


"Eh, sayang. Jangan alihkan pembicaraan, aku serius tanya nih." Rafa memencet gemas hidung Manda.


"Iih, cuma jalan-jalan tau," cetus Manda.

__ADS_1


"Sini, kamu jangan terlalu memaksakan diri. Penyakitmu tidaklah mudah," ucap Rafa langsung mengangkat Manda.


"Ahhh, astaga turunkan aku, ini di rumah sakit tau. Malu dilihat orang," ujar Manda meronta kecil.


"Tidak mau," tolak Rafa tidak peduli.


"Ish!" desis Manda malu jadinya ditatap kiri kanan.


"Oh ya, penyakit yang kamu katakan, itu apa?" tanya Manda ingin tahu. Rafa pun menjawab bila dia terkena leukemia, dan ini masih bisa untuk disingkirkan sebelum makin parah. Manda menelan ludah, dia benar-benar terkejut menderita penyakit itu.


"Pa-pantas saja aku selalu mimisan dan capek, rupanya aku punya penyakit," batin Manda menenggelamkan wajahnya ke dada Rafa.


"Di sini aku penyakit leukemia, di dunia sana aku menderita asma. Apa takdirku memang hidup sakit-sakitan?" pikir Manda merasa takdirnya sangat menyedihkan.


"Oh ya, sayang. Kenapa pagi itu kamu sangat berbeda?" tanya Rafa sambil menurunkan Manda di depan ruangannya, terlihat Triple R yang manis sudah duduk di kursi sambil menatap ayah dan Ibunya berdiri di luar.


"Berbeda? Maksudnya?" Kening Manda mengerut tidak paham.


"Sayang, sebelum pingsan, kamu itu ngamuk-ngamuk, bahkan kamu ingin membunuh Ibu tiri dan saudaramu. Kamu itu bahkan kasar pada anak-anak, apa kamu tidak ingat?" tanya Rafa lagi.


Manda menunduk, dia sedang berpikir, "Ngamuk? Membentak anakku sendiri? Aku tidak pernah begitu. Sebelum aku pindah, aku sepertinya tidur di samping Rafa. Apa jangan-jangan-" Manda berhenti. Dia pun mencerna sesuatu.


"Terus apa yang terjadi setelah itu?" tanya Manda sangat penasaran. 


"Kamu pingsan lalu aku membawamu ke sini, tapi-" jawab Rafa berhenti, dia hampir lupa dengan satu hal.


"Tapi apa?" tanya Manda lagi.


"Sialan, aku lupa melaporkan Delsi yang sudah mencekikmu habis-habisan hari itu. Besok aku akan menyeretnya ke kantor polisi," decak Rafa mengepal tinju sangat marah. Manda pun menunduk, dia tidak punya ingatan itu.


"Jika benar-benar aku pernah dicekik oleh Delsi, itu artinya-"


"Sheila masih hidup?" Manda shock berat.


"Oh ya sayang ini ponselmu sudah aku perbaiki, sepertinya saat Delsi masuk, kamu melemparnya ke lantai sampai pecah. Sekarang bila kamu butuh sesuatu, hubungi aku cepat," ucap Rafa memberikan ponsel itu kemudian mencium kening istrinya. Manda pun mengambil lalu masuk bersama Rafa dan makan malam bersama di ruangan itu. Triple R sangat senang dapat chiken lezat yang lagi trend bulan ini. 


Rafa tertawa melihat keluarga kecilnya kumpul bersama. Sementara Manda iseng membuka ponselnya. Dia pun mengotak-atik isi ponselnya untuk mencari sesuatu yang mungkin saja ada yang berubah.


Benar, Manda dapat satu hal yang asing. Kontak seseorang yang sebelumnya tidak ada dan sekaligus begitu banyak panggilan dan pesan dari nomor itu.


"Sahabatku Huan? Siapa dia? Kenapa ada orang baru lagi?" pikir Manda segera membuka pesannya. Rupanya isi pesan itu adalah kekesalan Huan yang sudah lama menunggu Sheila datang ke rumahnya.


"Apa tujuan Sheila ke sana?" pikir Manda kini berniat untuk ke rumah Huan besok.


Bersambung.


Like dan vote sangat penting untuk author.


Dukungan dari kalian membuatku semangat untuk lanjut.


Terima kasih atas kemurahan hati kalian yang


Sudah setia menemani Manda.


Thank and see you all

__ADS_1


__ADS_2