Istri Reinkarnasi, CEO Kejam

Istri Reinkarnasi, CEO Kejam
Bab 95 : Pulang


__ADS_3

Dengan hilangnya Valen membuat ayahnya sang mafia di kota ini marah besar terhadap Rafa. Dia mengira Sheila yang menulis surat itu sedang mempermainkan putrinya. Rafa tentu tidak terima Sheila dituduh sebab hilangnya Valen. Rafa pun memblokir jalan menuju ke kota lain dan menyuruh polisi mencari Valen di semua wilayah kota hingga mereka menggeledah rumah warga. Tetapi tetap saja tidak ada hasil, Valen hilang tanpa jejak.


"Lihatlah, ini semua karena kalian! Jika terjadi sesuatu pada putriku, aku tidak akan mengampunimu, Presdir Rafandra!" Tunjuk Ayahnya Valen dengan geram kemudian beranjak ingin pergi dari perusahaan.


"Cih, aku tidak akan tinggal diam jika anda yakin untuk mengibarkan perang! Sama sekali anda telah mencemarkan nama baik istriku, ini bisa saja aku tuntut anda ke pengadilan! Ingat itu," decak Rafa tidak takut sama sekali. Di kota ini tentu bukan cuma Ayahnya Valen yang berkuasa sebagai mafia di sini, ada beberapa kelompok mafia yang juga berkuasa dan bersahabat dengan Rafa.


Mendengar Rafa sungguh-sungguh, Ayah Valen dengan angkuh tak peduli pergi bersama anak buahnya. Dia yang sudah capek membela putrinya malah kehilangan jejaknya. "Apa jangan-jangan seseorang menculiknya?" pikir Ayah Valen berhenti, tidak jadi masuk ke mobil.


"Ada apa, Big Bos?" tanya anak buahnya. Ayah Valen menunjuknya lalu menyuruh anak buahnya mengawasi kelompok mafia lain di kota ini, dia pikir bisa saja salah satu dari mereka telah menculik Valen. Anak buah itu mengerti untuk mematai-matai musuh Bosnya. Mereka pun melaju pergi dari perusahaan Rafa.


Rafa dari balik jendela ruangannya cuma mendesis saja. Dia pun berbalik dan menghampiri Daren.


"Daren,"


Daren berdiri. "Ada apa, Presdir?"


"Aku ingin kau mengurus semua ini karena sekarang aku tidak bisa mengurusnya dulu. Aku percaya kau dapat menyelesaikan, tolong kerjakan dengan baik," ucap Rafa pada Daren.


"Baik, akan saya kerjakan sekarang."


Daren mengambil setumpuk dokumen dan melihat Rafa keluar dari ruangan tanpa mimik ekspresi. Dia pun duduk kembali ke kursinya dan bekerja dengan teliti.


Sedangkan di sebuah rumah kumuh dan kecil, Delsi duduk di depan Valen yang sedang terikat oleh tali tembaga di kursi kayu. Dia menatap wanita yang sudah pingsan cukup lama.


"Sepertinya, dosis obat yang aku berikan ke dalam minumannya cukup banyak sampai dia pingsan selama empat hari ini. Dia benar-benar tidak berguna sama sekali."


Delsi bangkit dari kursinya ingin pergi ke dapur namun Valen menggeliat. Delsi menengok ke belakang, senyum piciknya diperlihatkan untuk Valen yang mulai membuka mata.


"Oh bagus, akhirnya kau sadar juga Nona Valen."


"Kau brensek, wanita jallang lepaskan aku!" caci Valen langsung meludah.


"Oh tenang, ini bukan karena aku dong. Ini ulah kamu sendiri yang terobsesi ingin di samping Rafa. Sudah sepatutnya kau terima nasibmu. Ini bukan salahku, hahaha," tawa Delsi puas Valen malah dipenjara.


"Kau, kau juga patut dipenjara! Lepaskan aku," pinta Valen memberontak, ingin lepas dari ikatan tali di kursi itu.

__ADS_1


"Ayolah Valen, aku mana mungkin akan lepaskan kamu semudah itu. Aku ke sini bukan untuk bertengkar, tapi kau masih saja bodoh," tutur Delsi mengangkat dagu Valen.


"Kau tau, akulah yang membebaskan kamu. Tulisan di surat itu, akulah yang menulisnya. Aku sangat tahu bagaimana tulisan Sheila, jadi harusnya kau berterima kasih padaku, Valen!"


"Cih, terima kasih padamu setelah aku merasakan dipenjara selama sebulan ini? Kau memang baji-ngan! Akan aku seret kau ke penjara bersamaku!" berang Valen meneriakinya. Dia amat marah dan kecewa pada Delsi.


"Valen! Apa kau tidak bisa melupakan masalah kita? Aku sudah jauh-jauh kembali ke sini hanya untuk bebaskan kau, bukan untuk berdebat! Sekarang aku punya rencana untuk balas dendam!" kata Delsi balas teriak.


"Cuih, aku muak kerjasama. Aku tidak akan balas dendam pada siapa pun!" timpal Valen menolak keras. Dia kapok tidak mau dipenjara lagi.


pak!


Valen tersentak bahunya ditepuk cukup keras, ditambah Delsi membisikkan ke telinganya.


"Valen, pikirlah baik-baik. Ini semua terjadi akibat Sheila. Sekarang kondisi wanita ini tidaklah seperti dulu. Dia terkena leukemia dan ini pas sekali untuk menghabisinya dan juga anak-anaknya."


Deg


Valen terkejut dengan kalimat terakhir Delsi.


"Itu benar, jika mereka mati kau bisa kembali ke sisi Rafa. Aku akan mengatur rekayasa untukmu dan pembunuhan ini akan aku lemparkan ke Nerin, mantan kekasih Presdi Rafa. Bagaimana?" Delsi tersenyum miring sambil menunggu jawaban Valen.


Dari awal Valen telah menolak, tapi mendengar ada peluang untuknya, dia mulai ragu.


"Tunggu, dari mana kamu tahu Sheila sakit dan tahu soal Narin?" tanya Valen heran pada Delsi yang bisa-bisanya tahu itu.


"Astaga, apa kau sudah lupa? Aku ini pintar mengetahui orang, apalagi enam tahun yang lalu kita berhasil tahu posisi Sheila. Kau jangan meragukan kepintaranku, Nona Valen." Delsi menyombongkan dirinya dengan tawa.


"Cih, kau rubah yang sebenarnya! Tapi baiklah, aku bersedia kerjasama. Aku juga muak dengan Nerin yang dulu memprovokasiku setelah bertunangan dengan Rafa. Wanita ini harus diberi pelajaran juga!"


Valen pun bersedia untuk menghabisi Manda dan Triple R. Walau awalnya dia tidak tega, tapi Valen mengira tidak seharusnya dia memendam sebuah rasa penyesalan pada Rain yang telah dia culik dulu. Delsi pun melepaskan Valen. Mereka berjabak tangan disertai senyum menyeringai.


Tidak seperti Manda yang tersenyum kecut pada Rafa yang datang telat menjemputnya untuk pulang dari rumah sakit. Wanita ini mulai pulih total setelah habis operasi empat hari yang lalu. Walau begitu, dia masih duduk di kursi roda, belum bisa jalan dengan baik.


"Hmm, kenapa dengan ekspresimu itu?" tanya Rafa sambil bereskan barangnya yang ada di atas meja.

__ADS_1


"Aku marah!" jawab Manda ketus. Rafa mengerutkan kening setelah menengok istrinya yang berkacak pinggang di belakangnya.


"Marah? Kenapa marah?" tanya Rafa kembali beres barang.


"Kok malah tanya, harusnya kamu itu minta maaf sama aku!" cetus Manda mendengus.


"Pufft, cerewet amat sih. Baru juga telat sepuluh menit terlambat sudah marah gini. Kan tidak masalah juga?" Rafa kembali mengabaikannya.


"Ihhh, nyebelin. Harusnya itu kamu datang lebih cepat biar aku bisa pulang. Anak-anak kita pasti sudah menunggu Mommy-nya yang cantik ini," ujar Manda sambil memonyongkan mulutnya.


"Duhh, bawel sekali istriku ini. Sudah sembuh langsung mengocehi suaminya yang habis kerja. Harusnya kau paham kan, sayang?" kata Rafa membelai rambut Manda.


"Ya sudah, aku diam saja." Manda merajuk membelakangi Rafa. Rafa menepuk jidatnya harus tiap hari disalahkan. Tapi tiba-tiba Manda berbalik memeluknya. Rafa menatap Manda yang cengengesan.


"Heh, apa yang lucu?" tanya Rafa heran.


"Tidak ada kok," jawab Manda geleng-geleng kepala.


"Terus kenapa peluk aku sambil nyengir gitu?" tanya Rafa lagi.


"Habisnya aku senang hari ini," jawab Manda tersenyum lebar.


"Ohh senang karena mau pulang ya?" tebak Rafa tahu kegembiraan istrinya.


"Hm, salah!" 


"Loh, terus apa dong yang buat kamu senang?" tanya Rafa tambah heran. "Jangan-jangan istriku lagi kesurupan nih?" tambahnya mundur.


"Ihhh bukan kesurapan tau, aku senang karena kamu berbeda banget. Kamu dulu itu sombong, galak, cuek, pendendam, sensitif, pelit, pembangkang, mesum, terus tukang ledek! Tapi sekarang kamu sudah berubah, aku senang kamu seperti ini, sudah baik, penyayang, tanggung jawab, setia, sabar, humoris, berani, ceria dan perhatian sama aku," jelas Manda menunjuk-nunjuk perut Rafa dengan genit.


Rafa terdiam mendengar sifatnya dulu, dia tidak marah tapi tersipu malu dipuji-puji oleh Sheila. Dia pun meraih tangan Manda dan dengan cepat mencium bibirnya. Mata Manda langsung membola.


Chup!


"Terima kasih, sayang." Rafa membelai kepalanya dengan lembut. Manda menunduk merona tidak dapat berkata-kata. Rafa pun tertawa kecil lalu mendorong kursi roda Manda untuk meninggalkan ruangan sambil menghubungi anak buahnya untuk datang membawa barang mereka. Rafa dan Manda pun pulang ke mansion mereka.

__ADS_1


Sesampainya di rumah mereka, Rafa dan Manda saling bertatap muka tidak mendengar suara anak-anak mereka, bahkan tidak ada sama sekali penyambutan dari Triple R. "Kemana mereka?"


__ADS_2