
Di mansion Alkazein.
Noah baru saja pulang dari perusahaan. Alisnya terangkat melihat bocah Rein duduk di sofa. Karena Noah merasa penasaran melihat bocah ini serius duduk sendirian, akhirnya Noah mendekatinya.
"Hei, Rain." Noah memanggil Rein yang lagi menyamar. Sontak Rein pun tersenyum layaknya jadi Rain yang ceria.
"Paman, ada apa memanggilku?"
Noah duduk di dekat Rein lalu menyandarkan punggungnya yang lelah ke sandaran sofa. Noah tak lupa memanggil pelayan untuk menyediakan minuman segar. Setelah pelayan membawa jus jeruk dan meletakkan di atas meja dan pergi, Noah baru menjawab Rein.
"Paman cuma ingin duduk bersamamu. Oh ya, tumben duduk sendirian? Di mana Oma?" Noah balik tanya. Rein pun langsung menjawab santai.
"Oma lagi di kamar urus Opa dan sekarang Rain lagi nunggu Mama Valen. Ngomong-ngomong, Mama Valen kemana ya Paman? Kenapa Rain tidak melihatnya dari tadi?" Rein bertanya, ia menunggu Valen
sejak pulang sekolah.
"Oh dia lagi sibuk di studionya, mungkin nanti malam pulang," jawab Noah meneguk jus jeruknya.
"Kalau begitu, menurut Paman ... apakah Mama Valen adalah Ibuku yang sebenarnya atau Bibi yang di rumah Daddy adalah Ibuku?" tanya Rein ingin mendengar pendapat Noah yang kemarin datang ke mansion Rafa.
Noah pun menyentuh dagunya. Ia ingat percakapan Valen dan Delsi di restoran. Yang ingin menyingkirkan Sheila. "Pasti karena Sheila adalah Ibunya Rain, jadi Valen dan Delsi ingin singkirkan Sheila." Noah berpikir.
"Paman, kenapa diam saja?" tanya Rein lagi sambil mengerutkan dahinya. Sedikit greget pada Noah yang kelamaan mikir.
Noah pun melihat Rein lalu menepuk dua bahu Rein kemudian berkata : "Kalau Rain sendiri? Misalnya, wanita di tempat Daddy itu adalah Ibu kandung Rain, apa Rain akan meninggalkan Mama Valen mu?" Noah serius bertanya.
Dengan cepat dan mudah, Rein segera menjawab mantap Noah.
"Tentu saja, Paman. Rain bakal tinggal sama Ibu kandung Rain. Lagian juga di rumah Daddy ada dua anak. Rain pasti betah tinggal bersama mereka dari pada Mama Valen yang tidak peduli sama sekali pada Rain." Rein menjelaskan semua isi hati Rain yang diberitahu tadi pagi oleh saudaranya itu.
"Baiklah, Paman rasa mungkin kalian bersaudara. Paman jadi iri ayahmu itu bisa mendapatkan tiga anak sekaligus," jelas Noah meneguk jusnya lagi.
"Ya kalau begitu, Paman nikah saja biar punya anak!"
Byursssss
Huk huk ...
"Nikah? Ahahaha... hai bocah! Kamu pikir nikah itu gampang?" Noah terkejut hingga terbatuk-batuk. Bisa-bisanya mendengar ucapan konyol dari bocah lima tahun lebih.
__ADS_1
"Ya Rain pikir gampang, kan tinggal nikah saja sama perempuan." Rein berkata datar.
"Astaga, nikah itu tidak sembarangan menikah dengan perempuan. Nikah itu harus menjalin rasa cinta yang dalam. Kamu yang kecil-kecil lebih baik fokus sekolah. Tidak usah bahas nikah-nikahan!" Tunjuk Noah pada kening Rein lalu berdiri menaiki anak tangga, ia menuju ke arah kamarnya.
"Pfft, bilang saja tidak ada perempuan yang menyukainya, ahaha," tawa Rein dalam hati. Seketika ponsel Rein di dalam saku bergetar. Rein segera mengangkat panggilan suara dari Rain. Keduanya membahas soal Valen.
Rain : Bagaimana, Rein?
Rein : Sepertinya dia belum pulang.
Rain : Mungkin dia sibuk, lebih baik kamu ke sini saja.
Rein : Tidak bisa, aku sangat ingin melihat wajahnya. Pasti wajahnya lebih tua dari Mommy kan?
Rain : Sepertinya 11/12 deh hehehe...
Rein : Hmp, Mommy lebih cantik tau!
Rain : Pfft, iya deh Mommy memang lebih cantik dari dia.
Rein : Oh ya, sekarang Mommy sama Daddy ada di mana?
Rein : Hm, sepertinya Mommy dan Daddy lagi sibuk bekerja.
Rain : Mungkin, ya sudah kamu hati-hati di sana.
Rein : Tenang saja. Aku tidak takut pada apa-pun.
Panggilan suara itu pun berakhir. Rein berdiri lalu mondar-mandir di ruang tamu. Kelakuannya dilihat oleh Oma Liana dan Opa Alkezein dari lantai atas. Terlihat Oma Liana mendorong perlahan suaminya yang duduk di kursi roda.
Terlihat kedua orang tua ini tersenyum melihat Rein yang mondar mandir. Berpikir anak ini sedang menunggu ayahnya. Namun tiba-tiba pelayan datang dari luar membuat Rein jadi terheran-heran melihatnya panik.
"Nyonya, Tuan! Di luar sana ada keributan!" lapor pelayan itu menaiki tangga menghampiri Oma Liana.
"Apa? Bagaimana bisa ada keributan?" tanya Oma Liana terkejut.
"Siapa yang ada di luar?" sambung Opa Alkazein bertanya.
"Itu mungkin suruhan dari Valen," sahut Noah tahu kedatangan mereka karena sekilas mereka terlihat anak buah dari ayah Valen. Pria berjas hitam yang perkasa layaknya gangster.
__ADS_1
"Mengapa melakukan keributan di sini?" tanya Oma Liana pada putranya.
"Mami lebih baik bawa Papi ke kamar. Biarkan aku yang mengurus mereka." Noah menuruni tangga. Sedangkan Oma Liana segera membawa suaminya ke kamar agar tidak memicu kesehatan pria yang berumur 77 tahun ini.
Brak!
Mereka menerobos masuk. Tatapan mereka fokus ke Rein. Melihat mereka sangat menakutkan, Rein mendekati Noah.
"Paman, mereka siapa?" Tunjuk Rein pada mereka.
"Mereka suruhan Valen. Sepertinya ingin membawa mu pergi," ucap Noah menatap serius mereka. Rein terkejut kemudian menatap tajam mereka.
"Kenapa bukan Mama Valen yang datang ke sini?" pikir Rein merasa curiga. "Pasti sudah terjadi sesuatu. Harusnya dia yang datang, bukan mereka." Rein bergumam dalam hati.
"Tuan Noah, kami diperintahkan oleh Nona Valen membawa Tuan muda Rain. Sekarang biarkan kami membawanya ke Nona Valen." Mereka mulai bicara sinis.
"Maaf, tapi sepertinya Rain tidak ingin ikut dengan kalian. Kalau kalian ingin membawanya maka suruh Valen yang datang jika dia memang Ibunya Rain." Noah berdiri menghalangi Rain. Noah tidak mau Rain yang dicintai oleh Ibunya dibawa paksa oleh mereka.
"Maaf Tuan, jika anda tidak mau menyerahkan mereka. Kami akan membawanya paksa sekarang juga!" gertak mereka sinis.
"Itu tidak akan aku biarkan!" bentak Noah.
"Kalau begitu kami tak akan segan-segan pada Tuan. Kalian rebut anak itu darinya!" Tunjuk salah satu dari mereka.
"Cih, kalian pikir aku takut, ha!" bentak Noah mulai siap berkelahi. Tapi baru juga mau menerjang. Rein angkat bicara.
"Paman, tidak usah main tangan. Aku akan ikut mereka." Noah melongo mendengarnya.
"Serius?" tanya Noah masih terkejut.
"Ya Paman, kata Mo ... eh maksud Rain, Bu guru melarang kita main tangan. Jadi Paman jangan pukul mereka. Rain bakal ikut mereka." Noah menepuk jidat. Bisa-bisanya anak ini sangat tenang.
"Dengar Rain, ayahnya Mama Valen kamu itu seorang ketua Mafia. Dia galak, dia itu sangar. Paman tidak mau kamu kenapa-napa di sana. Oma juga pasti akan mencemaskanmu dan juga Oma dan Opa kamu lainnya." Jelas Noah berjongkok di depan Rein. Tapi Rein masih santai saja.
"Paman, yang mau ikut itu kan aku bukan Paman. Jadi Paman diamlah! Paman itu berisik sekali tau!" Rein mencentil kening Noah. Sedikit kesal mendengar Noah mengoceh.
"Ck, baiklah terserah kamu." Noah berdiri sambil mengelus keningnya. Rein yang tidak kenal takut pun berhadapan dengan mereka.
"Bawa aku ke Mama Valen!" titah Rein berjalan melewati mereka dengan angkuh. Noah cuma geleng-geleng kepala melihat Rain tiba-tiba berani. Padahal bocah ini aslinya penakut. Mereka pun membawa Rein pergi dari mansion. Noah tak tinggal diam, ia segera menghubungi Rafandra.
__ADS_1