
Plak! Malam ini Valen benar-benar kecewa pada anak suruhannya. Valen merasa jengkel pada mereka yang kini berbaris di depannya. Satu persatu ia tamparkan anak suruhannya.
"Bodoh! Hanya karena anak kecil kalian mudah dikelabui, ha!" geram Valen. Teriakannya memenuhi isi ruangan. Hingga asistennya terperanjat kaget. Sungguh di saat Valen tampil, ia bagaikan bidadari. Tapi sekarang ia bagaikan iblis yang mengamuk.
"Maaf Nona, kami benar-benar tidak sangka anak itu pintar dan bahkan tidak takut pada kami," lirihnya menunduk takut.
"Apa, dia tidak takut?" Valen terkejut. "Mana mungkin anak itu tidak takut! Dia itu harusnya menuruti kalian, dia mana mungkin berani. Kalian ini beraninya berbohong padaku!" murka Valen nampak tidak percaya.
"Sumpah Nona, kami tidak berbohong. Bocah itu tidak memperlihatkan ketakutan sama sekali. Bahkan dia begitu cepat kabur." Lagi-lagi Valen terkejut mendengarnya.
Plak! Orang itu ditampar oleh Valen.
"Dasar tidak berguna! Bocah sekecil itu saja kalian tidak sanggup mengejarnya! Kalian benar-benar tidak becus!"
Cuihh...
Valen meludah, ia benar-benar marah besar hingga menodongkan pistolnya ke anak suruhan itu. Asisten segera menyadarkan Valen agar tidak gegabah.
"Sabar Nona, tenanglah. Nona jangan termakan emosi, jika Nona melakukan kesalahan dan menodai tangan Nona, ini akan berdampak pada reputasi Nona."
Valen pun menurunkan pistolnya. Kemudian menatap benci mereka. "Pergi! Kalian pergilah!" teriak Valen mengamuk. Mereka pun dengan ketakutan langsung pergi. Valen duduk di sofa, ia sedang mengatur nafasnya gara-gara emosi.
"Minumlah sedikit Nona," asisten memberinya segelas air. Namun dengan kekesalan tiada tara, Valen mengambilnya dan langsung melempar air itu sejauh mungkin.
"Apa kamu bodoh? Apa kamu tidak bisa lihat kalau aku lagi marah? Mana mungkin air segelas itu bisa mengurangi amarahku, ha!" bentak Valen sangat lantang.
"Ma-maaf, Nona." Asisten itu terbata-bata saking ketakutannya. Valen kini menggigit kuku-kuku jarinya. Ia greget pada bocah miliknya.
"Ck, bocah ini menyebalkan juga seperti Ibu dan ayahnya. Ingin sekali aku cabik-cabik wanita itu. Benar apa yang dikatakan Delsi, harusnya Sheila disingkirkan." Valen meremas kulit sofa. "Awas Sheila, apa yang kamu rebut dariku akan aku singkirkan satu persatu termasuk anak-anakmu." Valen berdiri kemudian pergi dari tempatnya. Asisten itu cuma mengikutinya.
Beda di mansion Rafa. Saat Manda dan dua anaknya ingin makan. Rafa dan Rein baru masuk ke dalam dapur. Manda berdiri, ia mendekati keduanya.
"Loh, Rain kenapa bersamamu?" tanya Manda melihat Rein.
"Pfft, apa matamu tidak bisa melihat dengan jelas?" tawa Rafa menunjuk mata Manda.
"Hm, jangan meledekku," celetuk Manda. Keduanya saling menatap dalam-dalam. Rara dan Rain yang duduk cuma tertawa dalam hati melihat kedua orang tua mereka selalu berdebat. Sedangkan Rein cuma geleng-geleng kepala. Ia pun pergi ke dua saudaranya.
"Hei, berhenti melihatku begitu. Kamu terlihat seperti nenek lampir yang mau menyihirku saja."
"Hmp!" cetus Manda jengkel mendengarnya. Tiba-tiba ia penasaran dengan kertas di tangan Rafa.
"Eh, apa yang kamu pegang?" Tunjuk Manda ke kertas itu.
"Oh ini, mau lihat?" Rafa mengulurkannya.
"Ya dong, sekarang berikan padaku," pinta Manda ingin merebutnya.
"Eits, bentar dulu. Coba kamu tebak apa ini?" tanya Rafa mau main tebak-tebakkan. Manda memutar bola mata malas. Sedangkan tiga bocah saling berbisik-bisik melihat tingkah dua orang tuanya.
"Hm, pasti surat tes DNA kan?" tebak Manda yakin. Tapi Rafa mengelaknya.
"Bukan,"
"Loh, terus apa?" tanya Manda kaget.
__ADS_1
"Ini itu-" Rafa mendekati wajah Manda dan tidak peduli dengan tiga anaknya.
"I-ini itu apa?"
"Ini... itu... surat cintaku padamu, istriku."
Deg!
"Pffft ... ahahaha...." Rafa tertawa puas melihat Manda yang terkejut. Detak jantungnya terdengar sampai ke telinga Rafa. Tiga bocah cuma senyum-senyum sendiri melihat Ibu mereka tersipu.
"Ish, apa sih! Basi tau! Gak lucu!" celetuk Manda merebutnya. Manda kembali terkejut setelah membaca isi kertas itu.
"Ini sungguhan asli?" tanya Manda menunjuknya. Rafa menganggukkan kepala. Tiba-tiba Manda kegirangan.
"Yes, aku sudah menduga kalau Rain adalah putraku! Aku punya tiga anak! Yessss!" riang Manda mengguncang-guncang Rafa. Bahkan saking senangnya memeluk Rafa di depan tiga anaknya.
"Ekhm, sepertinya istriku tidak sabar ingin malam pertama," bisik Rafa ke telinga Manda.
"Astaga, mana ada!" bantah Manda.
"Ya terus, sampai kapan kamu melepaskan pelukanmu, sayang?" bisik Rafa menunduk, melihat belahan oppai Manda yang menempel ke tubuhnya.
"Ahhhh dasar mata genitan! Hmp!" cetus Manda pergi ke anak-anaknya. Sedangkan Rafa sedang membayangkan malam pertama untuk belah duren, hehehe...
Setelah makan malam, Manda sedang mondar-mandir di depan kamar anak sulungnya. Ia agak takut tidur bersama Rafa. Manda belum siap tidur berdua. Apalagi Rafa CEO yang ternyata mesum juga. Walau sama istri.
Cklek!
"Mommy, ada apa berdiri di sini?" tanya Rein membuka pintu kamar.
"Kenapa sama Rein? Kenapa Mommy tidak tidur saja sama Daddy?" tanya Rein masih berdiri di depan pintu.
"Itu, Daddy kamu itu tidurnya mendengkur. Telinga Mommy sakit semua. Terus Daddy kamu itu tidurnya gerak-gerak, jadi Mommy kadang ditendang. Tolongin Mommy ya," mohon Manda pada putra sulungnya.
"Mommy, kata Bu Guru... laki-laki sama perempuan tidak boleh tidur bersama kecuali sudah menikah. Jadi Mommy sama Daddy pasti sudah menikah? Jadi Mommy tidurnya sama Daddy!" kata Rein menegaskan.
"Memangnya Rein tahu apa itu MENIKAH?" tanya Manda ingin mengetes kepintaran Rein. Rein tertawa, ini pertanyaan mudah untuknya.
"Tentu saja Mommy, Rein itu anak yang pintar. Menikah itu artinya-" Rein berhenti, ia lupa sesuatu.
"Hayooo... pasti tidak tahu? Jadi sekarang biarkan Mommy tidur di sini," Manda ingin menerebos. Tapi Rein menghalangi.
"Eits, Mommy tidak boleh. Sekarang selamat malam, Mommy. Mimpi indah ya,"
Chup! Rein melompat lalu mengcup pipi Manda kemudian dengan cepat menutup pintu kamar.
"Hais, anak ini susah juga dibujuk. Rara dan Rain juga tidak mau. Sekarang apa aku harus tidur dengannya?" pikir Manda mendekati kamar Rafa. Manda mengintip isi kamar.
"Eh, kemana dia?" pikir Manda. Diam-diam ia pun masuk kemudian berjalan segera ke ranjang. Namun baru juga mau naik ke kasur, Rafa dari kamar mandi memergokinya.
"Wow, tanpa dipanggil ternyata istriku lebih nakal naik duluan ke ranjang. Apa sudah tidak sabar ingin bergulat?" tebak Rafa mendekatinya. Manda berbalik lalu tersenyum padanya.
"Wah suamiku dari toilet tambah ganteng saja. Bagaimana kalau kita tidur pisah saja, aku takut kegantengan kamu ini lepas dari wajahmu," puji Manda bicara manis.
Rafa merasa aneh, ia pun menatap Manda dengan serius.
__ADS_1
"Hei,"
Tuk! Lagi-lagi kening Manda dicentil.
"Ish, kenapa lama-lama kamu ngeselin sih!" desis Manda jengkel.
"Ngeselin? Bukannya istriku yang ngeselin tiba-tiba bicara begini?" ucap Rafa merasa Manda sedang meledeknya. Manda ingin tertawa melihat ekspresi Rafa. Manda pun kembali bicara manis.
"Loh kenapa marah? Ucapanku memang benar, kalau kamu ini gantengnya tiada tanding. Bahkan kegantenganmu mengalahkan-" Manda berhenti, ia ingat dengan mantannya, Rangga.
"Mengalahkan siapa?" tanya Rafa curiga.
"Em, itu. Mengalahkan Noah. Kamu ini CEO yang paling tampan di mataku dan di dunia ini," jawab Manda memujinya lagi. Padahal dalam hati, Manda ogah memujinya. Namun tak disadari pujian Manda membuatnya dalam bahaya.
"Hm, aku suka. Karena kamu pandai memuji, maka aku akan beri kamu hadiah," ucap Rafa tersenyum licik.
"Wow, hadiah apa tuh?" kaget Manda terkejut merasa senang.
"Hadiah itu adalah...."
"Apa sih?" desis Manda makin kepo.
"Yaitu...."
"Yaitu apa?" gemas Manda tak sabar.
"Belah duren," bisik Rafa membuat Manda melotot.
"Apa, belah duren?"
Sontak Rafa mengangkat Manda kemudian dijatuhkan ke kasur.
"Ahhhh.... kamu mau apa?" teriak Manda ditindih oleh Rafa.
"Tentu saja buat anak sayang,"
Chup!
Aahhhhhh ....
Keduanya bergulat hingga benar-benar membuat ranjang di dalam kamar bergetar-getar. Hihihi...
____
Wah belah duren gak tuh?😂
Jangan lupa ya Mommy😘
- Like
- Komen
- Hadiah
- Vote
__ADS_1
Terima kasih😍