
Rafa menutup laptopnya, dia memopang dagu. Dia memikirkan kemana Delsi selama ini bersembunyi hingga polisi agak susah menemukannya. Delsi tampak tahu jika dirinya telah menjadi buronan namun selalu saja punya ide licik untuk menghindari tangkapan polisi.
"Tch, sialan. Wanita ini menyusahkan sekali, jika dibiarkan terus berkeliaran di luar sana, dia bisa saja mencelakai Sheila dan anakku."
Rafa bangkit dari kursinya, dia menghempaskan jasnya dengan elegan kemudian berjalan keluar dari kantornya. Daren si sekretaris hanya diam saja, dia tidak terlalu banyak bicara atau ikut mengurusi masalah Rafa, dia juga berhati-hati demi istri dan anaknya agar tidak terlibat.Tujuan Rafa sejarang kini menuju ke sekolah tiga anaknya untuk segera dijemput siang ini.
Setelah sampai di sekolah, Rafa menyuruh anak buahnya yang mengemudi tadi, menunggu di dalam mobil, Rafa sendiri yang akan masuk mencari keberadaan tiga anaknya.
"Tetaplah mengamati sekitar sini," ucap Rafa pada anak buahnya.
"Baik, Tuan."
Rafa pun melangkah melewati gerbang sekolah. Dia dengan coolnya berjalan terus ke depan hingga tiga anak yang melewatinya berhenti.
"Wah, siapa Om itu?" anak-anak perempuan lumayan histeris didatangi oleh Rafa yang berpenampilan pengusaha dan tampan.
Seketika dua matanya melirik tiga anaknya yang baru saja keluar dari kelas. Dia sedikit tersenyum melihat kekompakan Triple R hari ini. Dia pun berdiri dan menunggu mereka menyadari kehadirannnya. Benar, hanya sedetik dilirik, Triple R langsung mengenali Daddy mereka. Rara tersenyum sumringah amat senang.
"Daddy!"
Rara dan Rain berlari cepat, kecuali Rein yang jalan santai sambil menurunkan sedikit topinya. Dia agak malu dijemput oleh ayahnya. Nanti yang ada para anak perempuan akan berkerumunan. Tapi karena Rain yang mirip dengannya membuat teman-teman perempuannya histeris.
"Woaaahh... Om Daddy-nya Rara dan Rain ya?" tanya mereka mendekati Rara dan Rain yang berdiri di sebelah Rafa.
"Tch, jadi tambah populer deh," decak Rein tidak suka dikerumunin. Dia pun berdiri di belakang Rafa.
"Hmm... dia Daddy kami," jawab Rain tersenyum diikuti Rara.
"Wihh, lihat mobilnya keren, apa kita bisa naik ke sana juga?"
"Kita pulang sama yuk, Rara,"
"Om, kita boleh kan ikut naik?"
Tiga anak perempuan memohon. Rara dan Rain tentu akan bersedia, kecuali Rein langsung menolak. "Tidak! Rumah kalian tidak sama ke arah rumah kami, kalian pulang saja sana," usir Rein.
"Hiks... Daddy Rara kan orang kaya, pasti tidak akan kehabisan bensin. Kenapa kamu jahat sekali, Rein." Ketiga anak perempuan pura-pura menangis membuat Rara tertawa dalam hati. Sedangkan Rain memohon ke Rafa untuk izinkan mereka ikut naik mobil Lamborghini Eventador. Sementara Rein cemberut dibilang jahat.
"Daddy, boleh kan?" mohon Rain berimut-imut manja.
Karena semua anak terlihat menggemaskan, Rafa pun mengiyakan. "Baiklah, Daddy akan bawa teman-teman kalian keliling kota," ucap Rafa tersenyum pada mereka.
"Yes, asiik. Terima kasih Om," riang ketiganya segera lari ke mobil keren milik Rafa itu. Disusul juga oleh Rain dan Rara berlari di belakang mereka.
"Daddy, nanti Mommy nunggu kita kalau kelamaan," cetus Rein belum setuju. "Tidak masalah, setelah kita keliling sekali saja, Daddy akan bawa mereka pulang ke rumahnya masing-masing," ucap Rafa mengelus kepala Rein, putra sulungnya yang terlalu mempertimbangkan masalah kecil ini.
"Baik, Daddy."
Mereka pun semua naik ke mobil, pak supir jadi gugup duduk di sebalah Rafa. Sedangkan anak-anak berdesak-desakkan di belakang sana membuat Rein terhimpit luar biasa. Ditambah lagi tiga anak perempuan histeris ketika mobil mulai melaju meninggalkan sekolah.
__ADS_1
"Astaga, ingin sekali aku cincang mulut mereka," desis Rein dalam hati segera menutup telinga dan juga matanya.
Sedangkan di waktu yang sama di dunia yang berbeda, seorang pria berjas putih memasuki ruangan Manda, dimana tubuh Manda yang asli masih dalam kondisi pingsan. Rafael yang merawatnya mulai cemas, dia menyentuh dagunya kemudian bergumam.
"Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus kembali ke Bandung dan menanyakan bagaimana caranya agar dia sadar, ini gara-gara si bodoh itu sudah hilangkan berlian kakek! Kenapa dia bisa ceroboh begini sih!" gerutu Rafael marah pada seseorang yang telah menyebabkan hilangnya berlian keramat itu. Rafael tersentak, dia mengangkat panggilan yang masuk ke dalam ponselnya. Rafael mengangguk paham telah diberitahu jadwal penerbangnya hari ini. Rafael pun menghela nafas, dia menatap wajah Manda. Serasa tidak asing, namun Rafael tidak peduli, dia harus menyelesaikan masalah ini.
"Baiklah, aku harus kembali ke Bandung segera. Cewek ini sudah dua hari pingsan, dan ini sudah cukup lama dia dijerat oleh berlian itu. Aku harus secepatnya sebelum nyawanya benar-benar hilang."
Rafael keluar meninggalkan Manda, dia menghubungi rekan kerjanya untuk cuti beberapa hari dan menyuruh rekannya menjaga dua pasien di rumah sakit ini. Setelah memberi laporan, dan mengunjungi paseinnya yang juga merupakan kerabatnya yang sudah lama dirawat di sini, Rafael pun berangkat ke bandara. Dia pun terbang ke Bandung asal kelahirannya.
Helena yang sedang keluar jalan-jalan di koridor, dia tidak sengaja tadi melihat Rafael buru-buru keluar dari ruang Manda. Dia pun berniat ingin melihat Manda sebelum seseorang masuk duluan.
"Ck, Rangga cukup lama koma, dan sekarang kau malah asik pingsan agar bisa menghindariku?" decak Helena membuka perlahan pintu ruangan. Helena masuk lalu menutup pintu kembali. Matanya menyala-nyala, begitu dalam dendam Helena pada Manda. Dia pun mengangkat dua tangannya ingin mencekik Manda.
"Ahhhh.... kau matilah!"
Helena pun mencekik leher Manda, tak ada respon apa pun, dan ini lebih mempermudah Helena menghabisinya.
"Kau b4j1ng4n! Kau telah merusak kebahagianku! Jika saja bukan karenamu, Rangga tidak akan kecelakaan!"
Helena semakin memperkuat mencekik Manda, namun dia tersentak kaget, ketika mendengar suara langkah kaki. Helena pun berhenti, dia pun panik sendiri. Helena secepatnya bersembunyi di balik pintu ketika knop pintu diputar, Helena langsung dihimpit oleh pintu ruangan, dan melihat seorang Dokter wanita shock melihat kondisi Manda berantakan. Rekan kerja Rafa itu segera memperbaikinya dan juga infus Manda yang terlepas. Helena pun bergegas keluar ketika Dokter itu membelakanginya. Dia segera kabur dan kembali ke ruangan Rangga.
"Sialan! Aku gagal!"
Bersamaan itu, Manda yang berada di dunia lain sedang kesakitan, dia merasa lehernya dicekik luar biasa dan merasa sesak nafas. Kedua matanya perih menahan sakit, dia terjatuh ke lantai anak tangga. Pelayan segera menghampirinya. Manda sontak memeluknya, dia sedang menahan kesakitan.
"Nyonya, anda kenapa?" tanya pelayan cemas.
"Nyonya, apa saya ambilkan air dulu?" tanya pelayan itu makin kuatir.
"Tidak perlu, sudah kau pergilah, aku tadi sepertinya kecapean," jawab Manda menyuruhnya pergi.
"Ba-baiklah, Nyonya." Pelayan itu masih belum tega, tapi karena diperintah, dia pun meninggalkan Manda yang terduduk di tangga.
"Astaga, apa itu barusan?" batin Manda berdiri.
"Aneh sekali, aku seperti hampir mati, apa seseorang sedang melakukan ritual untuk membunuhku?" pikir Manda ini terasa menyeramkan. Manda pun bergegas keluar, dia ingin ke rumah Senja untuk menceritakan ini, namun ketiga orang tercintanya sudah datang. Manda pun tidak jadi pergi.
Anak-anak masuk berlarian ingin segera ganti baju mereka untuk ke rumah nenek mereka. Sedangkan Rafa merangkul pinggang Manda.
"Sayang, kamu tidak keluar kan tadi?" tanya Rafa penuh selidik.
"Emh, tidak kok," jawab Manda bohong. Dia tidak mau Rafa tau kalau dia habis ke toko Jhosua.
"Eh, kalau begitu kenapa matamu habis nangis gitu?" Tunjuk Rafa ke mata Manda.
"I-ini...." ucap Manda gelagapan.
"Ini apa? Kamu habis nangis barusan? Siapa yang buat kamu nangis?" Rafa bertubi-tubi melontarkan pertanyaan. Manda segera memeluk Rafa lalu menunjuk-nunjuk dada suaminya itu dengan genit.
__ADS_1
"Aku merindukanmu, jadi aku nangis. Kamu lama sekali pulangnya," ucap Manda cari alasan. Rafa menyipitkan mata, dia tidak percaya.
"Yakin karena itu?" tanya Rafa mengangkat dagu Manda.
"Iya dong, masa aku rindu suami orang, nggak mungkin kan?" jawab Manda memonyongkan mulutnya. Sontak bibirnya langsung dicium saking gemasnya Rafa melihat bibir istrinya.
Manda membola, dia mendorong Rafa.
"Ihhh, dasar main nyosor saja! Ini kita di luar tau!" cetus Manda berkacak pinggang.
"Hmm... siapa duluan yang bibirnya nakal?"
"Bibirku tidak nakal ih!" celetuk Manda.
"Terus kenapa bibirnya dimajuin gitu? Mau dicium lagi nih?" ucap Rafa nyengir kuda.
"Tidak mau!" tolak Manda. Melihatnya makin menggemaskan, Rafa jadi gregetan, dia pun mengangkat tubuh istrinya.
"Ahhh, kau mau bawa aku kemana?" jerit Manda hampir jantungan.
"Brak!
Manda dihempaskan ke dalam mobil, matanya membola dengan posisinya yang terlentang. Rafa memberi isyarat pada anak buahnya untuk keluar dari mobil.
"Ahhh, kamu ini ya! Aku mau keluar!"
"Tidak boleh!" Rafa masuk ke tengah mobil dan menutup pintu.
"Ka-kamu mau ngapain?" tanya Manda mundur sedikit. Rafa menyentuh dagu Manda lalu mencium bibirnya dengan lembut.
"Cinta, ayo bercinta sayang," ajak Rafa berbisik dan menjelajah tengkuk leher Istrinya.
"Ahhh, tidak mau! Ini kita di mobil, nanti ada anak-anak kita!" tolak Manda tegas. Dia tidak mau ditindas dulu.
"Baiklah, kalau begitu kita ke hotel, sayang. Setelah itu, kita berdua ke rumah Mami," ucap Rafa berpindah duduk ke kursi pengemudi.
"Eh bentar, anak-anak gimana?" tahan Manda.
"Nanti supir yang bawa ke sana, sekarang ini kau harus dihukum!"
"Dihukum? Salahku apa?" kaget Manda bukan main.
"Salahmu itu karena kau lupa hari ini adalah hari ulang tahunku! Bukannya disambut pakai kiss tadi pagi, kau malah lebih asik sama anak-anak. Sekarang hari ini kau harus 24 jam bersamaku!" kata Rafa marah.
"What?" Mata Manda membola kaget diberi waktu untuk hukumannya. Manda ingin keluar, tapi Rafa segera mengunci dan otomatis mengikat Manda dengan sabuk pengaman, serasa Rafa telah menangkap buronannya.
"Sekarang kita ke hotel!"
...Awokawok🤣terimalah hukumanmu Manda. Ingat awal jadinya Triple R tuh di Hotel, siapa tahu setelah ini hamil kembar tiga lagi😂...
__ADS_1
...Oeeek nostalgia dulu😂...