
"Mama, kita harus bagaimana? Dia membawa anaknya ke sini. Sekarang Papa makin menyukainya," panik Delsi mondar mandir di dalam kamarnya.
"Harusnya kamu membunuh dia saat dia masih tinggal di LN, Del." Ny. Marina berdiri. Ia kesal pada Delsi yang bodoh saat itu.
"Aduh, Mah! Aku waktu ingin membunuhnya, tapi Valen memberiku imbalan besar jadi dia berhasil menahanku. Ini semua gara-gara Valen! Sekarang dia sedang diselidiki oleh pilosi, aku takut dia menunjukku juga, Mah. Aku tidak mau ikut masuk penjara." Delsi makin panik, memikirkan Valen yang dinterogasi oleh polisi.
"Kamu memang bodoh, Delsi! Harusnya kamu bunuh saja anak ini! Bukannya malah bekerja sama, dasar bodoh!"
"Cukup, Mah! Kalau saja Valen tidak memberiku uang, aku pasti tidak akan sepuas ini berbelanja. Mama tahu sendiri kan, kalau Papa itu kikir banget. Dia sama sekali tidak memberiku uang, apalagi kredit,"
"Hais, ini semua salah mu sendiri. Kamu terlalu boros, hingga Papa tidak percaya padamu. Sekarang kita harus pikirkan, untuk mengusir Shei dan anak-anaknya itu,"
"Tapi dengan cara apa, Mah?" tanya Delsi duduk sambil menggigit kukunya.
"Ah benar, Presdir Rafa. Dia pasti tidak akan mengizinkan istri dan anak-anaknya tinggal di sini, apalagi dia sangat membenci kita."
"Benar, Mah! Presdir Rafa itu sangat ketat mengawasi orang-orangnya," Delsi setuju. Keduanya pun keluar ingin menemui Presdir Rafa agar lelaki ini mau membawa istri dan anaknya. Namun bodohnya, Rafa sudah berada di ruang dapur.
Deg!
"Sejak kapan dia di sini?" pikir Delsi terkejut bersamaan dengan Ny. Marina. Delsi pun geram melihat Rafa yang duduk di dekat Manda. Nampak begitu perhatian dengan satu wanita ini. Keduanya pun masuk untuk menyelidik.
"Ekhm, wah tidak bisa dipercaya, ternyata Presdir Rafa datang juga di sini. Apa Papa yang memanggilnya?" Ny. Marina duduk di dekat Tn. Damian, diikuti oleh Delsi duduk di dekat Rein.
"Bukan, dia datang sendiri ke sini," jawab Tn. Damian menguyah. Tentu Rafa bisa melacak istri dan anak-anaknya, jadi sangat mudah baginya menemukan mereka.
"Ahahaa, adik ipar terlalu bersemangat. Apa hari ini anda ingin membawa adikku dan keponakanku?" tanya Delsi ingin tahu tujuan Rafa. Rafa pun melihat Manda dan anak-anaknya. Rafa merasa begitu, ia tak mau tinggal di rumah ini. Tapi saat mau menjawab, Manda bergelayut manja di lengannya.
"Suamiku, baru-baru ini kita menikah. Bagaimana kalau kita tinggal di sini beberapa hari? Anak-anak kita juga pasti ingin tinggal lebih lama bersama kakeknya," bujuk Manda memohon. Ketiga anak kembar pun turun dari kursi, membantu Ibu mereka membujuk Rafa.
"Daddy, Rara mau tinggal di sini,"
"Rain juga mau tinggal di sini, Daddy izinkan kami ya,"
"Hm, benar. Rein juga ingin ikut tinggal. Rein tidak bisa meninggalkan kakek yang baik pada kita."
Delsi dan Ny. Marina makin greget dengan tingkah mereka. Rafa pun melihat sinis ke Delsi dan Ny. Marina.
__ADS_1
"Baiklah,"
Deg! Delsi dan Ny. Marina terperanjat. Rupanya Rafa mengizinkan Manda. Manda yang mendengarnya, segera mencium pipi Rafa. Ini membuat Rafa terkejut tiba-tiba Manda inisiatif menciumnya di depan semua orang.
"Terima kasih sayang," ucap Manda sangat manis.
"Sama-sama, istriku. Sekarang kalian duduk lagi, Daddy akan tinggal di sini bersama kalian." Tiga anak kembar begitu riang, membuat Tn. Damian tertawa kekeh melihat tingkah lucu mereka.
Sedangkan Ny. Marina dan Delsi kembali terkejut, ini sangat bahaya untuk mereka. "Mah, gawat. Presdir Rafa bisa-bisanya setuju. Kita harus berhati-hati padanya. Dia bisa saja membantu Shei," Delsi berbisik ke Ibunya. Ny. Marina mengangguk paham.
Rafa melirik mereka, ia curiga pada Delsi dan Ny. Marina.
"Apa yang mereka bisikkan?" pikir Rafa harus mengawasi kedua anak dan Ibu ini.
Setelah makan siang, Tn. Damian mengobrol sebentar pada Rafa, mencoba menjalin hubungan baik agar dapat dukungan dari menantunya ini, tapi Rafa sama sekali tidak merespon. Karena merasa diabaikan, Tn. Damian pun pergi ke perusahaannya. Sedangkan Rafa berbicara pada Manda tentang niatnya ingin tinggal di sini.
"Yakin mau tinggal di rumah ini, Shei?" tanya Rafa berdiri di balkon kamar Sheila sambil melihat tiga anaknya yang bermain bola di taman belakang. Manda pun mendekati Rafa, ia tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Tentu saja, aku merindukan Ibuku. Merindukan kenangan Ibuku, ku harap kamu tidak keberatan dengan niatku," lirih Manda masih memeluknya. Rafa berbalik lalu menyentuh dagu Manda.
Akhirnya, Rafa luluh juga. Ia memeluk Manda dan menenangkannya. Berpikir, istrinya sedang sedih karena sang Ibu, Ny. Charlotte.
"Baiklah, kali ini aku yang akan mematuhimu,"
Chup! Rafa mengecup puncak kepala Manda. Dalam hatinya, Manda sangat senang bisa mendapat dukungan dari Rafa. "Baiklah, sepertinya Rafa sudah benar-benar mencintaiku. Sekarang tinggal merebut harta Ibuku dan membongkar kematian Ibuku. Setelah ini-" Manda berhenti berpikir.
"Setelah ini, apa aku akan selalu bersamanya?" batin Manda melihat Rafa. Ia gelisah, takut jika tujuannya selesai maka ia bisa saja akan menghilang.
"Aku mencintaimu, Raf. Apa kamu sungguh mencintaiku?" lanjut Manda bertanya. Rafa dengan cepat menjawab : "Tentu saja dong, oh atau apa aku harus teriak agar kamu percaya padaku, sayang?" bisik Rafa ke telinganya.
"Tidak perlu, anak-anak akan marah. Kamu jangan berlebihan." Manda tersipu dan menepuk dada Rafa.
"Pfft, jika begitu percayalah padaku." Rafa mengelus kepala Manda. Keduanya saling memeluk.
"Hei, lihatlah. Bukannya itu Mommy sama Daddy?" Rain menunjuk ke balkon.
"Wow, Daddy sama Mommy saling peluk. Rara tidak mau main lagi, Rara mau ke sana," Rara membuang bolanya, ia berlari diikuti Rain juga, tapi Rein segera menahannya.
__ADS_1
"Jangan ke sana, Ra!"
"Kenapa?" tanya Rara dan Rain berhenti.
"Sekarang, lebih baik kita selidiki Nenek tua sama bibi tua. Aku yakin, mereka pasti jahat!" Rein berbisik-bisik pada dua adiknya.
"Kalau begitu, bagaimana agar kita buktikan mereka jahat sama Mommy?" Rain bertanya, ikut penasaran.
"Kita harus mengawasi mereka dan kita juga harus berhati-hati, mereka bisa saja melukai Mommy dan kita," Rara tak lupa memberi nasehat.
"Ah, dari pada berpikir. Lebih baik kita mencarinya, kita cari kesalahan mereka." Rein mengusulkan. Rara dan Rain mengangguk paham arahan Rein. Ketiganya pergi meninggalkan bola mereka ke tanah. Ketiganya diam-diam mencari balkon kamar Delsi.
"Hei, ini kamarnya, Kak Re!"
"Shht, Rara! Jangan berisik. Nanti kita ketahuan!" Rein mendekap mulut Rara.
"Ya maaf, aku tadi tidak sabar ingin melihat kamar bibi tua itu," cengir Rara garuk-garuk kepala.
"Tapi bagaimana kita ke atas sana?" tanya Rain menunjuk ke balkon kamar Delsi.
"Hm, bentar aku pikir dulu." Rein menyentuh dagunya, berpikir keras.
"Hais, sepertinya cuma bisa panjat pohon ini," lanjut Rein menunjuk pohon di dekatnya yang punya dahan ke arah balkon kamar.
"Kak Rein, ini terlalu tinggi. Bagaimana kita naiknya?" tanya Rara pusing memikirkannya. "Rain yang akan naik ke atas," jawab Rein menunjuk Rain.
"Loh, kenapa aku? Aku kan takut ketinggian," tolak Rain tidak mau. Rein mendekati adiknya lalu melihat Rain serius.
"Rain, kamu ini laki-laki jadi tidak boleh takut. Sekarang kita akan membantumu naik. Lalu dengarkan, apa yang ada di dalam sana," kata Rein sungguh-sungguh.
"Ah tidak, aku takut. Di kamar itu pasti banyak setannya." Rain tetap menolak. Rein pun kesal lalu berkata : "Rain, ini demi Mommy. Kita harus tahu, wanita ini pasti bakal punya rencana untuk Mommy nanti malam. Kamu mau Mommy kita sakit, bisa saja kan bibi tua itu mencelakai Mommy!"
"Sekarang kamu naik, terus kamu sembunyi. Kalau benar-benar tidak ada yang mencurigakan, kamu cepatlah keluar,"
"Ba-baiklah," ucap Rain mengalah pada kakaknya. Rein dan Rara pun memberi punggung mereka, memberi injakan kaki untuk Rain. Sedangkan Rain gemeteran takut naik. "Kamu harus berani Rain, demi Mommy!" Rain berhasil naik, ia pun perlahan melewati dahan pohon. Rain naik ke balkon, mengendap-endap di dekat pintu. Seketika, matanya membola mendengar suara Delsi dari dalam kamar.
"Malam ini aku harus meracuni Sheila, dia harus disingkirkan."
__ADS_1