Istri Reinkarnasi, CEO Kejam

Istri Reinkarnasi, CEO Kejam
Bab 75 : Membara


__ADS_3

Setelah makan malam, Triple R tidur bersama di ruangan lain yang sudah disediakan oleh Rafa. Sementara Rafa tidur di kursi di samping brankar Manda. Dia lebih awal tidur darinya. Sampai-sampai tidur dengan menggenggam kuat tangan kanan Manda. Cuma Manda yang belum tidur, dia susah tidur malam ini. Dia gelisah sekali.


Chup!


Manda mengecup kepala Rafa, membelai rambut hitam suaminya. Dia tersenyum kemudian diam-diam menangis.


"Aku tidak tahu, kenapa saat itu tiba-tiba aku kembali. Padahal aku tidak berharap untuk kembali, apa mungkin karena aku berhasil sudah mengumpulkan tiga anakku dengan ayahnya?" pikir Manda menyeka air matanya kemudian menghirup udara mencoba tenang.


"Bila kematian Nyonya Charlotte telah aku selesaikan, apa aku lagi-lagi akan meninggalkan mereka?" batin Manda sekali lagi menyeka air matanya. Dia menggenggam kuat tangan Rafa dan menunduk.


"Tidak, aku harus selesaikan demi anak-anakku di masa depan. Harta Nyonya Charlotte hanya untuk anak-anakku, bukan dua wanita iblis itu." Manda pun berbaring dan menatap wajah Rafa yang tidur bersadar di kursi.


"Good night, sayang."


Manda membelai pipi Rafa kemudian memejamkan mata. Dia sebenarnya takut tidur, takut kembali lagi. Tapi Manda yakin tidak akan pulang lagi, karena berlian itu telah diberikan ke Noah.


Sedangkan Noah, dia tidur di kamarnya. Dia ketakutan baru sadar telah hidup cukup lama di dunia lain. Hidup dengan orang-orang lain juga.


"Apa aku benar-benar sudah mati?" Noah ingin sekali curhat, tapi dia tidak tahu harus ke siapa. Ingin curhat ke Ibunya, tapi mungkin saja tidak percaya.


"Oh benar, dia pasti bisa menjadi pendengar setiaku. Besok aku akan datang mengunjunginya." Noah menatap kalung itu, dia pun memakainya terus. Noah berharap bisa saja kalung itu membawanya pulang suatu saat nanti. Noah pun memejamkan mata untuk tidur.


Sementara di rumah William, Delsi sedang sibuk mengemasi barang-barangnya, dia akan pergi pagi-pagi tanpa sepengetahuan ayahnya. Setelah memasukkan barangnya ke koper. Delsi pun menghubungi seseorang untuk mengurus tiket penerbangannya. Setelah semuanya beres, Delsi pun berbaring ke ranjang, dia tidak sabar untuk pergi ke luar negeri.


_____


Hari pun berganti, pagi ini di rumah William seperti biasa sangat berisik dengan pelayan yang sibuk dengan tugas mereka. Tiba-tiba Tuan Damian berteriak keras dari lantai atas. Nyonya Marina yang lagi bicara dengan Delsi di telepon cepat-cepat menyuruh Delsi mematikannya dan membuang ponselnya agar tidak dilacak oleh Tuan Damian. Delsi memang sedang berada di perjalanan untuk ke bandara.


"Maaaa!" panggil Tuan Damian menuruni anak tangga.


"Ada apa, Pah?" tanya Nyonya Marina menghampirinya.


"Ma, Delsi tidak ada di kamarnya. Anak itu kabur dan meninggalkan surat ini pada kita. Anak itu benar-benar tidak bisa diandalkan. Dia malah pergi meninggalkan kita," jawab Tuan Damian sedikit sesal.


"Apa, Delsi pergi? Pergi kemana Pah?" kaget Nyonya Marina pura-pura panik.


"Papa juga tidak tahu, sekarang Papa ingin segera melacaknya," ucap Tuan Damian ingin pergi tapi Nyonya Marina menahannya untuk mengulurkan waktu agar Delsi bisa terbang ke luar negeri secepatnya.


"Pah-pah," tahan Nyonya Marina gelagapan.


"Kenapa, Mah?" tanya Tuan Damian.

__ADS_1


"Papa mau kemana?"


"Papa mau cari Delsi, dia tidak boleh pergi dari rumah ini," ucap Tuan Damian menunjuk pintu rumahnya.


"Mama ikut, Pah!" mohon Nyonya Marina ingin mengecoh pencarian suaminya agar tidak mengejar Delsi bila berhasil dilacak.


"Baiklah, Mah. Kita cari sekarang anak tidak berbakti itu." Tuan Damian pun berjalan ke arah pintu bersama Istrinya. Namun setelah pintu dibuka keduanya kaget dengan kedatangan polisi.


"Pah, ini kenapa banyak polisi?" bisik Nyonya Marina takut dan sangat panik.


"Papa juga tidak tahu," ucap Tuan Damian menelan siliva tak dapat bergerak.


"Apa jangan-jangan mereka ingin menangkap kita?" tebak Nyonya Marina meremas lengan suaminya saking ketakutan dihampiri oleh lima polisi. Tuan Damian tidak menjawab, dia mematung di depan polisi.


"Se-selamat pagi, bapak datang kemari untuk apa?" tanya Tuan Damian gugup.


"Selamat pagi, Tuan. Kami datang ke sini untuk membawa putri anda yang bernama Delsi Theresia."


Dua orang tua itu terperanjat, rupanya Rafa bergerak cepat untuk menangkap Delsi pagi ini.


"Apa salah putri saya, Pak?" tanya Tuan Damian ingin tahu. Nyonya Marina hanya diam di belakang suaminya, dia tahu tujuan mereka.


"Kami dapat laporan dari Presdir Rafandra bahwa Nona Delsi telah melakukan kejahatan terhadap Nona Sheila yang hampir mati dicekik olehnya. Kami punya bukti dan surat perintah penangkapan ini, jadi Tuan serahkan Nona Delsi pada kami," jelas ketua polisi menjawab dengan tegas.


"Tuan, jika anda tidak percaya, anda bisa ikut dengan kami melihat rekaman itu. Sekarang berikan dia pada kami," ucap ketua polisi tetap ingin membawa Delsi.


"Tidak bisa," sahut Nyonya Marina.


"Apa, tidak bisa?" kaget lima polisi ditolak oleh wanita tua itu.


"Ya Pak, kami sedang mencarinya. Dia kabur dari rumah, putri kami pasti tidak bermaksud begitu," ucap Nyonya Marina membantah.


"Kalau begitu salah satu dari kalian harus kami bawa!" ujar ketua polisi dengan lantang. Dia bukan cuma polisi biasa, dia adalah ketua polisi terhebat yang ditunjuk oleh Rafa..


"Ha? Salah satu dari kami harus dibawa? Untuk apa kalian membawa kami?" tanya Tuan Damian mulai emosi.


"Karena putri anda kabur, maka harus ada yang ditahan sampai kami berhasil menangkap putri anda," jawab ketua polisi menunjuk Tuan Damian.


"Bagaimana kalau kami menolak?" sahut Nyonya Marina maju.


"Kalau begitu, kalian berdua akan kami seret ke penjara!"

__ADS_1


Degg


Tuan Damian tersentak, dia pun maju dan berkata.


"Kalian tidak bisa menahan saya, saya punya tugas untuk mencari putri saya. Jika kalian tetap ingin, maka bawa istri saya ini," ucap Tuan Damian menarik Nyonya Marina dan melemparnya kepada polisi.


"Pah! Apa-apaan ini? Kenapa Mama yang harus ditahan!" ujar Nyonya Marina meronta setelah kedua tangannya diborgol cepat.


"Maaf, Mama. Papa tidak bisa menggantikan Delsi, Papa harus mencarinya! Setelah Papa berhasil menemukannya, Mama bisa keluar dari sana. Silahkan kalian bawa dia sekarang." Tuan Damian menegaskan membawa Nyonya Marina untuk ditahan sementara.


"Baiklah, terima kasih kerja samanya. Kami akan tetap mencari putri anda, dan secepatnya melepaskan istri anda." Ketua polisi memberi isyarat membawa Nyonya Marina ke mobil.


"Tidak Pak, saya tidak mau! Kalian ini sudah salah, putri saya mana mungkin lakulan itu. Dia menyayangi adiknya!" ronta Nyonya Marina tidak mau ikut, tapi percuma, dia diseret paksa dan dibawa oleh kelima polisi itu. Rencananya untuk ke rumah sakit sudah hancur. Nyonya Marina yang baru saja sehat total harus berada d balik jeruji besi. Mungkin dia bisa saja katakan lokasi Delsi, tapi sebagai seorang Ibu, nyonya Marina tentu tidak akan biarkan putrinya menderita.


"Maaf Mah, Papa tidak mau reputasi Papa tercemar. Apalagi Papa harus mengurus perusahaan. Mama tidak usah cemas, Papa akan cari Delsi dan mengurus semua ini. Presdir Rafandra benar-benar tidak bisa disepelekan. Dia sungguh mendukung istrinya sekarang."


Tuan Damian pun pergi dari rumah mencari keberadaan Delsi dengan bantuan beberapa orang suruhannya. Sedangkan Rafa, dia duduk santai di perusahaan. Dia menyeringai tipis merasa senang dapat laporan jika Nyonya Marina yang ditangkap. 


"Cepat atau lambat, kalian akan bersama di dalam sel penjara, hahahaha…."


Sekretaris Jho cuma menunduk di kursinya. Tawa Rafa benar-benar terdengar puas sekali. Dia pun mengirim diam-diam pesan ke Nerin. "Nona, Presdir Rafa sedang berada di perusahaan, apa anda ingin menemuinya?" Pesan itu terkirim dan segera dapat balasan. "Bagus, kebetulan hari ini aku mengajar di sekolah anaknya. Aku akan ke sana bersama dua anaknya nanti." Nerin senang dapat kesempatan untuk bertemu dengan mantannya. Dia memang sengaja menjadi guru honor untuk mendekati anak-anak Rafa supaya dapat dihasut untuk singkirkan Manda.


Sungguh ada banyak musuh yang harus dihadapi Manda. Lalu siapa yang akan melindunginya? Mungkin dia akan selalu berada di situasi tidak aman.


"Mommy mau kemana?" tanya Rein, bocah itu memang sengaja tidak ke sekolah bersama dua adiknya. Dia yang memang punya otak dan perasaan peka tidak bisa tinggalkan Ibunya sendirian. Walau dia berwatak datar dan usil, dia sangat takut kehilangan Manda.


"Pergi ke rumah teman, Rein mau ikut?" Manda mengelus kepala Rein, dan sudah siap untuk ke rumah Huan sebentar.


"Hm, Rein ikut." Rein meraih tangan Manda. Mencium tangan Ibunya dengan lembut. Dia tidak bisa jauh-jauh lagi dengan Ibunya.


"Baiklah, let's goo baby!" 


Rein tertawa geli melihat semangat Manda yang membara. Keduanya pun pergi dari rumah sakit menggunakan taksi.


Bersambung.


Like dan vote sangat penting untuk author.


Dukungan dari kalian membuatku semangat untuk lanjut. 


Terima kasih atas kemurahan hati kalian yang

__ADS_1


Sudah setia menemani Manda. 


Thank and see you all


__ADS_2