Istri Reinkarnasi, CEO Kejam

Istri Reinkarnasi, CEO Kejam
Bab 66 : Mommy Kenapa?


__ADS_3

Pagi telah tiba, matahari sudah mulai tampak di arah timur. Cahaya masuk perlahan ke celah-celah jendela. Samar-samar, wanita yang tidur di samping Rafa tampak menggeliat kecil. Tiba-tiba dia tersentak hingga sadar sepenuhnya. Pusing, dia merasa isi kepalanya serasa ingin meledak. Wanita itu mengerjap-ngerjapkan matanya berulang kali untuk merileks Indra penglihatannya.


"Uhh, badanku sakit semua. Ta-tapi kenapa aku di sini, bukannya aku di-"


Dia berhenti bicara ketika mengingat memori terakhirnya muncul di dalam kepalanya.


"Ah, gudang. Apa Papa yang membawaku?" gumamnya beranjak bangun, dia berjalan tanpa melihat sekitarnya, langkah kakinya hanya searah menuju ke pintu kamar, hingga dia tidak sadar ada seseorang yang tertidur di atas ranjang.


"Sialan, aku akan jebloskan kalian ke penjera! Kalian benar-benar membunuh Ibuku, ayah harus jujur!" geramnya keluar dari pintu dengan emosi bak ingin membunuh. Dia telah tahu semuanya, kematian Ibunya diakibatkan oleh Delsi serta Ibu tirinya itu, Marina.


Setelah dijebak tidur dengan pria asing waktu itu, dia menangkap obrolan keji Delsi dan Nyonya Marina, sehingga dia merekam suara mereka untuk menjadikan bukti nyata. Tetapi, rekaman yang dia rekam saat itu berada di rumah teman kenalannya saat dia habis dijebak, dia menyimpan rekaman itu ke suatu tempat di mana temannya juga tidak mengetahui. Dia takut untuk percaya pada seseorang dan sekarang dia akan ke sana mengambilnya.


"Kalian di mana, kepar4t!" Dia menyusuri rumahnya dengan sesal membara, namun seketika berhenti saat melihat miniatur dan benda-benda isi rumahnya tampak berubah.


"Loh kenapa agak berbeda?" batinnya mulai sadar ada yang aneh.


"Shht, kepalaku kenapa belum berhenti pusing." Dia mendesis kesakitan dan hampir jatuh dari anak tangga. Untung saja satu pelayan menahan lengannya.


"Hati-hati, Nona!" Pelayan itu hampir jantungan melihat putri majikannya jatuh di depan matanya. Dia menoleh kemudian alis kanannya terangkat sendiri.


"Te-terima makasih, tapi kamu siapa?" Dia bertanya belum pernah melihat pelayan itu. Pelayan itu terkejut anak majikannya tidak mengenalinya.


"Saya pelayan di sini, Nona. Apa anda sudah lupa, kemarin Anda dengan baik hati membantu kami di dapur." Pelayan itu tersenyum ramah.


"Ha, dapur? Bukannya kemarin aku ada di gudang?"


Pelayan itu kebingungan mendengar ucapan Sheila. Ya benar, dia Sheila yang asli. Jiwa yang tertidur dulu kembali bangun mengendalikan tubuhnya.


"Ah mungkin kamu pelayan baru, jadi aku tidak mengetahuinya," ucap Sheila tanpa ekspresi. Pelayan itu cuma diam saja menerima pernyataan wanita muda di depannya itu.


"Kebetulan, apa kamu tahu di mana ayahku?" tanya Sheila datar.


"Tuan besar barusaja keluar," jawab Pelayan itu.

__ADS_1


"Keluar ke perusahaan?" tanya Sheila lagi.


"Bukan, Tuan ke rumah sakit, Nona."


Sheila terkejut, dia terheran-heran. Sangat bingung mengapa ayahnya ke rumah sakit.


"Untuk apa ayahku ke sana?" Kali ini Pelayan yang terkejut.


"Mengunjungi Nyonya Marina, dia sedang dirawat akibat tidak sengaja keracunan kemarin, Nona."


Mendengar jawaban itu, Sheila diam keheranan.


"Keracunan? Tapi kemarin dia tampak sehat saat menindasku, apa sesuatu sudah terjadi?" batin Sheila menyentuh dagunya.


"Oh ya, bukannya hari ini ulang tahunku, apa ayah akan merayakannya malam ini?" tanya Sheila masih ingat ultahnya yang ke dua puluh tahun akan dirayakan atau tidak.


"Ulang tahun? Sepertinya hari ini bukan hari ulang tahun Nona," jawab pelayan wanita itu ingat obrolan temannya soal identitas Sheila saat menginjak kembali rumah ini.


"Maafkan saya, Nona. Sungguh perkataan Nona salah, hari ini adalah Senin bulan November tahun 2026," jawab pelayan itu langsung gemetar ketakutan habis dimarahi.


"Hah, tahun 2026? Apa kamu sedang bercanda?" tanya Sheila benar-benar shock.


"Tidak, saya tidak berani berbohong. Jika Nona tidak percaya, anda silahkan lihat sendiri."


Sheila tanpa ba-bi-bu lagi berlari menaiki ulang tangga di depannya. Dia mempercepat langkahnya meninggalkan pelayan itu menuju ke arah kamarnya. Tetapi, dia berhenti saat mendengar anak kecil memanggilnya.


"Mommy, kenapa lari-lari?" Anak kecil itu meraih tangannya, spontan Manda menepisnya saking terkejut ada anak kecil di rumahnya.


"Ahhh, jangan sentuh aku. Ka-kamu siapa?" tanya Sheila mundur selangkah sedikit takut pada anak perempuan di depannya.


"Mommy, aku ini Rara. Putri Mommy dong, apa Mommy lagi pura-pura lupa ingatan?" Rara tersenyum manis sambil memeluk Sheila.


"Ahhh, jangan memelukku, aku bukan Mommy kamu. Jangan ngaku-ngaku ya!" Sheila mendorong dirinya lepas.

__ADS_1


"Mommy kenapa marah? Rara kan cuma peluk," ucap Rara merasa heran Ibunya berubah galak.


"Aku bukan Mommy kamu, aku belum pernah menikah apalagi melahirkan anak!"


Deg...


Rara terperanjat kaget, dia pun menangis.


"Huaaa, Mommy jahat! Hiks... hiks..."


Sheila terkejut, dia pun berlutut di depan anak kecil itu.


"Aduh jangan nangis."


Tetap saja Rara menangis, bahkan lebih kencang. Ini pertama kalinya dia dibentak cukup keras oleh Ibunya.


"Huhuhu... Mommy jangan bentak Rara," tangis Rara masih berlanjut. Mendengar tangis Rara, kedua saudara lelakinya keluar dari kamar. Rein dan Rain bingung melihat Ibunya susah menenangkan Rara yang menangis.


"Selamat pagi, Mommy."


Kedua serempak bicara membuat Sheila menoleh cepat. Dua matanya membulat setelah dua anak laki-laki kembar muncul di hadapannya.


"Ahhhh, kalian ini sebenarnya siapa!" ujar Sheila mundur tersungkur saking kagetnya ada tiga anak hari ini memanggilnya Mommy.


"Hah, Mommy kenapa terkejut?" tanya Rein, si anak sulung maju mendekati Sheila. Sementara Rain menenangkan kakak keduanya, Rara.


"Berhenti panggil aku, Mommy. Aku ini tidak mengenal kalian!"


Degg...


Ketiga anak saling bertatapan, mereka yang kini terkejut.


...Jangan lupa like dan vote ya...

__ADS_1


__ADS_2