Istri Reinkarnasi, CEO Kejam

Istri Reinkarnasi, CEO Kejam
Bab 59 : Ke Kantor Polisi


__ADS_3

Dari dulu, Manda merasa jika semua ini tidaklah nyata. Tapi sekarang Manda merasa dunia ini adalah hal yang sudah melekat pada dirinya setelah menemukan kenangan milik Sheila dan Ny. Charlotte. Kedua matanya mengeluarkan air mata, dia merindukan sosok Ibu itu. Foto-foto kecil Sheila bersama Ny. Charlotte yang sedang bermain bersama, berhasil membuatnya menangis. Rein memeluk Ibunya dan menenangkannya.


"Mommy, jangan menangis," lirih Rein tak tega mendengar Manda terisak.


Manda mengusap kasar kedua matanya, dia memeluk Rein. Perasaan aneh itu muncul, ia tidak tahu kenapa tiba-tiba ia menangis. Manda pun sadar, ini karena respon dari tubuh Sheila yang memunculkan rasa aneh itu.


"Dia pergi setelah Nyonya Marina datang ke rumah ini. Dia pasti menderita sudah tahu suaminya membohonginya. Tapi Mommy yakin, meninggalnya nenekmu pasti telah direncanakan, hiks." Manda terisak, ia sangat sedih, ia tahu perasaan Ny. Charlotte yang hancur saat itu.


Rein mengusap air mata Ibunya, kemudian dia melihat sebuah benda di tumpukan berkas dalam brankas itu.


"Mommy apa itu?" Tunjuk Rein. Manda pun mengambilnya, kesedihannya berubah drastis menjadi kemarahan. Sebuah bungkusan yang berisi dengan potret kemesraan Ny. Marina dan Tn. Damian sebelum Ny. Charlotte meninggal. Rupanya Ny. Charlotte pernah diam-diam memotret suaminya. Hati Manda tiba-tiba sakit luar biasa, dia membenci dua orang di dalam foto itu. Manda mengambil sebuah rekaman suara. Manda sontak tercengang setelah mendengar dua orang yang terdengar mengobrol.


"Apa kamu gila? Tidak mungkin aku membunuhnya, dia adalah istriku juga!"


"Dam, akulah istrimu. Dia itu bukanlah istrimu yang kamu cintai, akulah yang kamu cintai. Jika kamu mau aku selalu bersamamu, maka bunuh Charlotte. Kita bisa mengusai harta miliknya!"


"Tidak! Dia ibu dari anakku juga, Marina!"


"Dam, Delsi itu anakmu juga. Bukan gadis itu, mungkin saja putri yang kamu dukung itu adalah putri dari lelaki lain. Kamu bisa saja dibohongi olehnya, Dam! Singkirkan perasaanmu itu darinya! Rencana kita dari awal hanya untuk mengusai hartanya. Jika dia mati, maka hartanya akan jatuh padamu."


Ternyata itu perdebatan Ny. Marina yang menghasut Tn. Damian untuk membunuh Ny. Charlotte.


"Maaf Marina, tetap saja aku tak bisa. Dia istriku, dan sepertinya yang aku cintai bukanlah dirimu lagi, tapi Charlotte. Besok, aku akan mengatur surat perceraian kita,"


"Tidak! Kamu jangan lakukan itu, Dam! Kamu jangan hianati rencana kita, kamu jangan dihasut oleh cintanya. Kamu dengarkan aku, Dam! Jika kamu berani, aku sendiri yang akan membunuhnya dan putrimu, Sheila."


PLAK!


Rein kaget mendengar suara tamparan di dalam rekaman itu. Rein memeluk Ibunya, suara itu sangat menakutkan.


"Marina! Apa kamu sudah gila hingga mengancamku, apa kamu ingin aku jebloskan kamu ke rumah sakit jiwa! Lebih baik berkemaslah, jika tidak aku akan mengusir paksa dirimu. Serta Delsi akan tetap bersamaku,"


"No, aku tidak akan itu terjadi! Aku tidak akan pergi dari sini, Charlotte lah yang harus pergi, Dam! Jika saja bukan aku, kamu tidak akan menikah dengannya!"


BAM! Suara kamar ditutup sangat keras, teriakan Ny. Marina yang keras itu perlahan hilang. Namun seketika tertawa mengerikan.


"Aku tak akan pergi dari sini, aku sendiri yang akan menghabisi putrimu, Sheila," decak Ny. Marina keluar dari kamar.

__ADS_1


"Ya Tuhan, putriku dalam bahaya, aku harus mencari Sheila."


Ting!


Rekaman itu berakhir setelah Ny. Charlotte bicara. Manda jatuh ke lantai, dia terdiam sambil menggenggam rekaman itu. Rein mengguncang Manda yang gemeteran.


"Oh ya ampun, apa jangan-jangan karena Sheila jadi Ny. Charlotte meninggal? Apa karena ingin melindungi Sheila jadi Ny. Charlotte gantung diri? Tapi ini tidak masuk akal, kalau Ibuku meninggal sendiri, itu artinya banyak peluang untuk Ny. Marina membunuh Sheila. Argh, kenapa sangat susah untuk menemukan petunjuk mengapa Ny. Charlotte meninggal? Aku yakin, mungkin Ibu diancam oleh Ny. Marina hingga ia gantung diri. Kalau dibunuh, itu sangat mudah bagi Ny. Marina dan ini pastinya bisa memenjarakannya,"


"Argh, sial! Harusnya ingatan masa itu harus aku ingat, tapi kenapa sama sekali tak ada ingatan Sheila padaku!"


Manda pun melihat Rein, kemudian menyimpan rekaman suara itu. Manda menghela nafas untuk tenang.


"Mommy baik-baik saja?" tanya Rein sedikit cemas.


"Baik sekali, sekarang kita keluar." Manda menarik Rein, namun Rein tak bergerak.


"Ada apa Rein?"


"Itu, kenapa Mommy bilang Nenek gantung diri? Apa nenek meninggal karena itu?" tanya Rein ingin tahu.


"Mommy tidak tahu, Rein. Tapi sepertinya kita harus membawa rekaman ini secepat mungkin sebagai bukti. Ini cukup kuat, untuk menjerumuskan Ny. Marina ke penjara. Sekarang Rein ikut dengan Mommy memberikan ini ke kantor polisi atas kasus percobaan pembunuhan, siapa tahu polisi bisa bantu menyelidikinya,"


Keduanya pun menutup brankas lalu keluar dari kamar itu. Rekaman yang ada pada Manda sepertinya sengaja di simpan oleh Ny. Charlotte sebelum dia meninggal.


Sementara di perusahaan, Rafa yang lagi memeriksa proposal di atas mejanya dikejutkan oleh kedatangan Noah. Suasana hatinya yang tenang langsung suram setelah melihat muka Noah yang menyebalkan.


"Untuk apa kamu datang ke sini?" tanya Rafa dingin.


"Eh, memangnya kenapa? Aku kan bisa sesuka hati, lagi pula aku ke sini bukan untuk mengunjungimu,"


"Lalu untuk apa ke sini!" ujar Rafa berdiri.


"Ck, aku ingin tahu. Di mana kamu sekolahkan Rain?" tanya Noah duduk di kursi depan Rafa. Noah bertanya karena Rain dipindah sekolah oleh Rafa.


"Rain sekolah sama saudaranya," jawab Rafa datar.


"Terus alamat sekolahnya di mana?" tanya Noah sambil mengunyah permen karet.

__ADS_1


"Untuk apa kamu harus tahu?" tatap Rafa sinis.


"Yaelah, aku kan kakeknya, dan aku adalah pamanmu. Harusnya kamu sopan sedikit padaku," celetuk Noah kesal dengan cara bicara Rafa yang ngeselin.


"Tidak usah ubah topik, sekarang jawab saja, untuk apa tujuanmu sebenarnya?" tanya Rafa sedikit geram.


"Huft, baiklah. Aku ke sini sedang mencari istrimu,"


Brak!


Rafa menggebrak meja, ia kaget dengan tujuan Noah.


"Untuk apa kamu mencarinya?" tanya Rafa penuh curiga.


"Oh tenang dulu, aku ke sini cuma mau tanya sesuatu padanya dan ini cuma aku dan dia saja. Sekarang jawab aku, di mana istrimu?"


"Pergi," usir Rafa dingin.


"What? Maksudnya?"


"Pergi gak! Gue bilang pergi!" usir Rafa.


"Anj*r, lo kok galak amat sih! Gue kan nanya baik-baik tapi malah dipelototin ke anak kecil aja! Dasar keponakan lucnut!" celetuk Noah keluar dengan kesal. Padahal Noah cuma mau tanya ke Manda soal Rain, karena Oma Liana mau Rain tinggal dengannya. Tapi Noah malah diusir oleh Rafa dan karena inilah Noah tidak mau kasih tahu tujuannya. Kalau Rafa tahu, yang ada Rafa tidak akan mengizinkan membawa Rain ke rumah Oma Liana.


"Huft, sungguh meresahkan."


Rafa memijit pelipisnya, dia pun melacak Manda. Rafa terkejut menemukan Manda berada di kantor polisi.


"Eh, kenapa dia ada di sini?" Rafa pun keluar ingin ke kantor polisi. Namun dia berpapasan dengan sekretaris Jho.


"Presdir, anda mau kemana?" tanya sekretaris Jho ingin tahu.


"Ke kantor polisi, Shei ada di sana. Jadi kamu yang urus perusahaan dulu, aku mau keluar sebentar." Rafa pergi begitu saja meninggalkan sekretaris Jho. Setelah kepergian Rafa, Sekretaris Jho menghubungi seseorang.


"Presdir Rafa sekarang ke kantor polisi, Nona. Sepertinya terjadi masalah. Jika Nona mau menemuinya, hari ini ditunda saja." Panggilan itu berakhir, sekretaris Jho pun pergi dari tempatnya.


"Hm, tapi aku tidak bisa menundanya sekretaris Jho, aku hari ini harus menemuinya langsung, Presdir Rafa."

__ADS_1


Wanita yang dihubungi tadi tersenyum picik, ia pun keluar dari bandara mencari taksi untuk ke arah kantor polisi yang diberitahukan oleh sekretaris Jho tadi.


"Rafa, entah bagaimana reaksimu nanti setelah melihatku."


__ADS_2