
Setelah makan malam, Manda dan Rafa kembali ke kamarnya, begitu pun anak-anak juga masuk ke kamar mereka. Manda sekarang sedang duduk di meja riasnya sambil melihat berlian dari pemberian putrinya. Berkali-kali Manda mengedipkan mata untuk mengamati lebih dalam berlian di tangannya itu. Rafa yang bersiap untuk mandi sedang mencari handuk dan setelah menemukannya, Rafa menoleh ke Manda.
"Sayang, apa yang sedang kamu pikirkan?" Rafa menghampirinya kemudian menyentuh kepala Manda.
"Ah, tidak ada apa-apa kok," jawab Manda tersenyum dan cepat menyembunyikan berlian itu. Dia masih ragu untuk perlihatkan ke Rafa.
"Sungguh? Jangan sembunyikan apa-pun padaku, kalau ada masalah lain, ceritakan saja padaku, sayang." Rafa membelai lembut kepala istrinya. Manda tetap tersenyum lalu berdiri dengan raut wajah berseri-seri menatap suaminya.
"A-aku mencintaimu," ucap Manda malu-malu. Rafa mengangkat alis merasa heran tiba-tiba Manda bicara begitu.
"Kok diam saja? Dibalas dong," tambah Manda jadi cemberut. Rafa menahan tawa kemudian mencium kening Istrinya.
"Aku juga mencintaimu, sayang," balas Rafa mengacak-acak rambut Manda, dia sedikit gemas dengan istrinya.
"Hihihi, gitu dong," tawa Manda tersipu.
"Istriku senang dengarnya?" tanya Rafa mendekatkan wajahnya.
"Yap, senang sekali dong my darling." Manda merangkul leher Rafa kemudian mengecup pipi suaminya.
"Hm, apa ini? Kenapa tiba-tiba kamu manis malam ini?" tanya Rafa curiga.
"Jangan-jangan mau bergulat di ranjang?" tambah Rafa mengira Manda sedang mengkodenya.
"Ih bukan tau, sekarang sana pergi mandi, bau badanmu sampai tercium nih." Manda menjepit hidungnya dan mendorong Rafa ke arah kamar mandi.
"Ya, ini juga mau mandi kok sayang. Jangan dorong-dorong dong, nanti aku jatuh ke pelukanmu," goda Rafa menarik Manda ke dekapannya. Manda deg-degan merona habis.
"Hussh, jangan menggodaku!" cetus Manda mendorong dirinya lepas.
"Puft, sudah. Kamu jangan cemberut, aku masuk dulu ya." Rafa mencubit gemas pipi Manda lalu masuk menutup pintu kamar mandi. Manda tertawa geli, tapi baru saja mau kembali duduk, Rafa membuka pintu lagi.
"Istriku mau nggak ikut mandi?" tanya Rafa nongol hanya kepala saja.
"Nggak! Kamu saja duluan gih!" Manda berlari menjauh. Rafa jadi cemberut lalu menutup pintu kembali.
"Ish, ada-ada saja. Aku ini kan sudah mandi duluan, dasar cari kesempatan!" batin Manda geleng-geleng kepala kemudian memandangi berlian di tangannya lagi. Saat asik mengamati, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Manda cepat menoleh, rupanya tiga anak kembarnya yang datang masuk menghampirinya.
"Mommy, lagi sibuk?" tanya Rara berdiri di hadapan Manda, tidak lupa tersenyum manis ke Ibunya itu.
"Hm, tidak sayang. Mommy tidak ada kerjaan, jadi kalian ke sini mau ngapain?" Manda bertanya sambil mengelus kepala putrinya, serta Rein dan Rain.
__ADS_1
"Kita cuma mau lihat Mommy dan Daddy," jawab Rain tersenyum.
"Kalian tidak main sama kakek?" tanya Manda lagi.
"Kakek sudah tidur, mungkin capek main sama kita tadi," kali ini Rein yang menjawab sambil melihat sekeliling kamar.
"Ohh, kakek baik nggak sama kalian?" tanya Manda berdiri kemudian duduk di tepi ranjang. Ketiga anak kembarnya ikut duduk di samping Manda.
"Ya, kakek baik sekali. Sampai-sampai kami di kasih uang banyak, Mom."
Ketiga anak menjawab serempak sambil mengibaskan uang di tangan mereka. Manda mencium puncak kepala anaknya kemudian mengelus pipi ketiganya. Manda merasa lega, sepertinya Tuan Damian mencintai ketiga cucunya.
"Oh ya, Daddy mana, Mom?" tanya Rain, si adik bungsu yang dari tadi tidak melihat ayahnya.
"Hm, kemana Daddy? Kenapa cuma Mommy?" tambah Rein, si kakak sulung yang memang mencari keberadaan Rafa.
"Wah, Deddy lagi keluar ya Mommy?" tebak Rara ikutan bertanya, putri kedua Manda dan Rafa.
"Pfft, Daddy kalian lagi mandi tuh, coba dengarkan baik-baik." Manda menunjuk dengan sedikit tertawa. Ketiga anak serempak menoleh ke kamar mandi. Seketika tawa kecil mereka keluar setelah mendengar percikan air dan senandung dari dalam sana.
"Hahaha, ternyata Daddy yang nyanyi. Rein pikir musik orang yang diputar di luar sana," tawa Rein terpingkal-pingkal di atas ranjang.
"Sudah jangan berdebat, lebih baik kita kembali ke kamar. Kita jangan ganggu Daddy sama Mommy. Pasti Mommy capek, kan?" tanya Rain yang memang anak perhatian. Manda menyapu pinggar matanya, serasa ingin menangis. Ketiga anaknya terkejut lalu bertanya serempak.
"Mommy kenapa? Apa kita sudah buat Mommy sedih?"
Manda menggelengkan kepala, dan langsung memeluk ketiga anaknya.
"Tidak sedih sayang, Mommy nangis karena bahagia melihat kalian. Kalian kebahagian Mommy," tangis Manda terharu semakin mempererat pelukannya.
"Rara sayang Mommy,"
"Rein juga sayang,"
"Huaa, Rain sayang banget sama Mommy,"
Ketiga anak ikut menangis. Manda pun menghela nafas lalu menatap dengan senyuman.
"Terima kasih ya sayang, kalian sudah mengerti Mommy," ucap Manda membelai rambut mereka.
"Hm, Mommy." Ketiganya mengangguk.
__ADS_1
"Kita ke kamar ya Mommy, Mommy jangan nangis. Kalau Daddy jahat, Mommy kasih tau kami," ucap Rein, tidak akan membiarkan Mommy mereka ditindas.
"Sip, kalian jagoan Mommy!" Manda memberi anggukan. Ketiganya pun bergantian mengecup pipi Manda kemudian berkata.
"Good night, Mom!"
"Good night to, sayang!" balas Manda tersenyum melihat ketiga anaknya keluar dan menutup pintu kembali. Sekarang berlian di tangan Manda diletakkan di bawah bantalnya. Setelah itu, pintu kamar mandi terbuka. Rafa keluar dengan modal handuk saja, six pack estetisnya itu benar-benar menghipnotis Manda. Rafa pun mengernyit merasa heran.
"Kenapa diam? Apa ada sesuatu yang aneh?" tanya Manda masih duduk di atas ranjang dan mencoba menahan diri.
"Tadi sepertinya ada suara anak-anak, apa barusan aku salah dengar atau memang mereka tadi masuk, sayang?" Rafa bertanya sembari berjalan ke arah lemari dan cepat-cepat memakai piyama.
"Oh itu, memang tadi ada mereka. Tapi sudah kembali ke kamar," jawab Manda sedikit menahan tawa masih ingat ucapan Rein yang meledek suara Rafa.
"Hm, ada apa ini? Kenapa dengan ekspresimu itu? Apa yang kamu tertawakan?" selidik Rafa naik ke ranjang dan mendekati Manda.
"Tidak ada," ucap Manda bergegas tidur dengan posisi miring.
"Hm, istriku sangat mencurigakan, apa yang kamu sembunyikan?" tanya Rafa ikut berbaring di samping Manda dan menatap wajah istrinya. Manda membuka mata lalu menyentuh dada Rafa.
"Kata anak-anak, kamu ini tampan." Manda malah ngelantur.
"Haha, apa ini? Kamu sedang menggodaku?" gemas Rafa mentoel pipi Manda kemudian mendekap tubuh istrinya itu. Manda jadi tersipu lalu menenggelamkan wajahnya ke pelukan Rafa.
"Terima kasih, suamiku." Manda berbisik, dia sangat-sangat bahagia. Mendengarnya, Rafa mengecup kening Manda kemudian mencium bibirnya dengan lembut. Manda jadi diam, dan dengan senang hati balas mencium.
"Aku menyayangi, sayang," ungkap Rafa menatapnya penuh arti.
"Hm, aku bahagia hidup bersamamu," ucap Manda mengelus pipi Rafa.
"Mau bikin anak?"
Manda terperanjat kaget mendengarnya, dia pun memukul manja Rafa.
"Ish, aku capek mau tidur. Lain kali saja ya," ucap Manda menolak halus. Rafa pun menurut dan memejamkan mata, tidur sambil memeluk Manda. Sedangkan Manda, dia mengamati Rafa dulu. Dari mata, hidung, dan mulut. "Suamiku memang tampan, hehehe." Manda cengengesan kemudian memeluk erat Rafa, memejamkan mata mulai tertidur. Malam ini Manda merasa tentram tidak ada yang mengganggu pikirannya.
Tetapi satu jam kemudian, tiba-tiba berlian di bawah bantalnya memancarkan cahaya terang. Disaat itulah Manda meringis kesakitan paling dahsyat. Manda dengan setengah sadar menyentuh kepalanya kemudian secepat membuka mata ketika jantungnya terasa ditusuk. Manda tersentak memandangi sekitar yang bukanlah kamarnya melainkan bangsal rumah sakit.
"I-ini di mana?" Mulut Manda serasa tercekat tak dapat berkata-kata, dia sangat terkejut.
Hallo pembaca, maaf ya baru dilanjutkan, maklum author baru sembuh dan tentunya belum sepenuhnya sehat. Author harap kalian masih ingat sama alur cerita ini. Ayoo beri like dan komen supaya author semangat. Terima kasih♥
__ADS_1