
Diary Manda? Siapa dia?" Rupanya itu catatan Manda yang selama ini dia tulis. Sheila pun membaca cepat Diary pertama. Dia kaget, membaca curhatannya. [Berisi episode 1 sampai 10]
"Hahaha, dia mengandung tiga anak? Padahal belum mantap mantap?" tawa Sheila merasa curhatan Manda sangat lucu. Kocak sekali.
Tawa Sheila berhenti saat Manda menulis jika ia adalah penulis cerita kehidupan Sheila. "Ah, kehidupanku? Apa dia sedang gila? Mana mungkin aku cuma tokoh, jelas-jelas aku bernafas begini. Pasti orang ini kurang waras. Tapi siapa itu Senja?"
Semakin dibaca, Sheila makin penasaran dan bingung. Serasa Manda adalah sosok misterius. Seperti dia yang mengendalikan hidupnya selama enam tahun ini. Benar, ada kontak bernama Senja. Saat itulah Sheila yang penasaran ingin menghubunginya, tapi seketika seseorang meneriakinya.
"Bang_sat! Rupanya memang kamu dirawat di rumah sakit ini juga, beraninya kamu meracuni Ibuku!" Delsi masuk menerjang Sheila hingga ponsel Manda terlempar ke lantai. Memang Delsi sekilas tadi melihat Rafa masuk ke salah satu ruangan sambil membawa Manda.
"Ahhhh," jerit Sheila dicekik ke tempat tidur. Padahal Sheila belum membaca semua curhatan Manda, dan sekarang dia harus berhadapan dengan kakak tirinya.
"Lep-lepaskan! Aku tidak tahu apa maksudmu," ronta Sheila.
__ADS_1
"Adik sialan, aku tahu ini pasti rencanamu. Jangan mengelaknya! Mulai hari ini aku akan membunuhmu! Tidak akan biarkan kamu membunuh Ibuku duluan! Pergilah menyusul Ibu kandungmu sana!" pekik Delsi geram.
"Brensek, dia kuat sekali." Sheila mendesis kesakitan dalam hati mulai sesak. Dia seperti kambing yang dicekik habis-habisan. Wajahnya mulai pucat, tetapi Sheila mencoba mendorong Delsi. Namun tiba-tiba seseorang datang menggampar wanita yang kerasukan itu.
PLAKKKK!
"Ahhhhhhhh!" ringis Delsi jatuh tersungkur ke lantai. Matanya melotot melihat Rafa menamparnya keras dan kejam hingga pipinya memerah sekali.
"Bedebah! Beraninya kamu menganiaya istriku!" geram Rafa dengan suara amat tinggi. Delsi ketakutan melihat kemarahan Rafa yang membara dan sekali lagi digampar oleh Rafa. Mana ada suami yang amat dicintai membiarkan istrinya disakiti.
"Sayang ayo minum dulu," ucap Rafa takut hingga tangannya bergetar melihat Sheila pucat. Saat tangan wanita itu ingin mengambil gelas di tangan Rafa, tiba-tiba dia jatuh ke pelukan Rafa bersamaan gelas itu jatuh pecah ke lantai. Rafa terperanjat Sheila menangis histeris. Apa ini sakitnya hampir dibunuh oleh saudaranya sendiri? Apa ini sakitnya yang dirasakan Ibu kandungnya dulu? Dicekik dengan tali tembaga? Kenapa Ibunya harus mati dengan menyedihkan?
Percakapan Delsi dan Nyonya Marina berputar dia dalam kepala Sheila. Tangisnya semakin pecah kehilangan Ibu yang selalu sayang dan mencintainya. Tapi sekarang kepada siapa lagi dia harus bergantung? Siapa lagi yang sayang dan mencintainya?
__ADS_1
"Sayang maaf, harusnya aku tidak meninggalkanmu," lirih Rafa mengecup berkali-kali kepala istrinya, dia sangat merasa bersalah. Sheila mendongak dengan deraian air mata. Dia menyentuh wajah Rafa dan berkata lirih dan lemah.
"Cin-cintai aku, tolong cintai aku." Sheila jatuh pingsan setelah pandangannya menghitam. Dia berharap ada seseorang yang sedia menjaga dan mencintainya.
"Sheilaaaaa!" teriak Rafa kaget, dia pun membaringkan Sheila ke brankar lalu teriak memanggil Dokter. Saat itulah ketiga anaknya berlari kembali ke kamar Ibunya.
Sementara Manda merasa sesak nafas, tapi dia berusaha tenang agar asmanya tidak kambuh. Tetapi lelaki di depannya membuat jantungnya sakit. Dia pun menangis histeris, lalu memeluknya.
"Ra-rafa, aku merindukanmu."
Lelaki itu kaget dengan tingkah Manda. Begitupun anak kecil di sampingnya.
"Wah, dia tahu nama Om."
__ADS_1
...Gimana lanjutannya?😳Beri like dan vote untuk crazy up...