
Setelah Ny. Marina keracunan, tak sangka wanita tua ini masih bisa diselamatkan. Walau begitu, Ny. Marina masih dalam kondisi yang sangat lemah. Tuan Damian ingin pulang mengecek CCTV, namun Delsi mencegah ayahnya.
"Pah, biarkan aku yang pulang mengecek CCTV. Mungkin saja ada pelayan yang melakukan ini," ucap Delsi memberi alasan dengan menuduh pelayannya.
"Baiklah, Papa hanya bisa menghandalkanmu."
Delsi yang mendengarnya tersenyum, ia tak akan lagi kuatir dengan kedoknya terbongkar. Delsi pun melirik sebentar Ibunya kemudian keluar dengan amarah yang menggebu-gebu.
"Harusnya sup Mama tidak seperti ini, apa mungkin ada seseorang yang sudah mengubah isi sup Mama?" pikir Delsi mulai aneh dan curiga.
Tak makan waktu lama, Delsi turun dari taksi yang sudah sampai di rumahnya. Delsi berjalan cepat menerobos masuk ke dalam rumah. Namun saat ingin menaiki tangga, rasa iri dan jengkelnya makin tinggi setelah melihat keluarga kecil Manda sedang sarapan pagi bersama, dengan canda dan tawa mereka.
"Ck, mereka benar-benar membuat ku muak."
Delsi berdecak, ia pun ingin naik ke lantai atas, namun seseorang menghentikannya.
"Wah, aku tak sangka kakakku sudah pulang pagi-pagi ini dari rumah sakit. Apa ada sesuatu yang sangat penting dari pada menemani Ibumu?" Manda bertanya sambil mendekatinya. Wanita ini sudah selesai sarapan jadi keluar menghampiri Delsi.
Dari mata Delsi, ia ingin mencakar Manda yang sangat menyebalkan. Ditambah cara bicaranya benar sudah berbeda dari enam tahun lalu.
"Apa urusanmu denganku? Kamu tidak usah sok akrab padaku!" gertak Delsi menaiki tangga secepat mungkin untuk menuju ke ruang kerja ayahnya. Manda tersenyum miring, kemudian bergumam dalam hati.
"Percuma, aku sudah menghapus rekaman CCTV dan aku baru tahu di balik kejadian kemarin adalah dirimu Delsi, tapi untung saja putriku bisa membalikkan keadaanmu. Ku harap Ny. Marina lebih baik tinggal di rumah sakit selamanya, atau lebih baik MATI. Ahaha, ini sangat jahat tapi aku merasa ini menyenangkan."
Manda tertawa, ia tahu tujuan Delsi. Tapi Manda tetap tenang karena isi rekaman CCTV sudah dihapusnya. Sekarang tinggal menunggu Delsi mengamuk.
"Shei, aku pergi ke perusahaan. Kamu mau di sini atau ikut bersamaku?" tanya Rafa yang sudah siap untuk berangkat kerja. Manda mendekati Rafa, ia memperbaiki dasi suaminya sambil tersenyum.
"Kamu pergilah bersama anak-anak, setelah urusanku di sini selesai, aku akan pergi ke perusahaanmu," jawab Manda sangat manis di depan suami dan anak-anaknya.
"Baiklah, aku pergi dulu."
__ADS_1
Muaachh!
Manda terkejut, lagi-lagi Rafa mencium pipinya di depan tiga anak kembarnya.
"Hihihi, Mommy malu tuh Daddy." Rara tertawa cekikikan melihat Ibu mereka tersipu.
"Ekhm, anak-anak mari Daddy antar kalian ke sekolah," dehem Rafa mencairkan suasana.
"Baik Daddy," ucap Rara dan Rain kecuali Rein yang diam saja.
"Rein ada apa sayang?" tanya Manda pada putra sulungnya. Rein tiba-tiba memeluknya, ia nampak lemah.
"Mommy, Rein tidak bisa pergi sekolah. Rein kurang sehat, Mommy. Rein mau tinggal di rumah, besok saja ke sekolahnya," jawab Rein alasan.
Rain dan Rara saling pandang, mereka heran tiba-tiba Rein sakit.
"Ya sudah, Rein tinggal di sini. Nanti Mommy ajak Rein ke Dokter." Manda mengelus kepala Rein yang sedang memeluknya.
"Eh, Rein bohong ya sama Mommy?" tebak Manda mengernyit. Sangat jelas dan curiga dari ekspresi putranya. Rein pun menggelengkan kepala.
"Rein tidak bohong Mommy, Rein lagi sakit." Rein berakting batuk-batuk di depan Manda. Tapi Manda tak mudah untuk dibohongi, ini sangat lucu baginya.
"Kalau begitu, Rein ke kamar nanti Mommy nyusul jagain Rein," kata Manda mengelus kepala bocah lima tahun ini.
"Baik Mommy," Rein tersenyum kemudian menaiki anak tangga, bocah ini pun menuju ke kamarnya.
Manda kini tinggal sendirian di lantai bawah sambil melihat para pelayan yang sedang bekerja. Pandangan kedua mata Manda sedang mencari titik aneh di rumahnya yang besar itu. Ia sedang mencari petunjuk untuknya. Manda pun menaiki tangga, lalu berdiri di tengah-tengah tangga di depannya.
Manda kembali mencari petunjuk, mencari CCTV yang mungkin saja tersembunyi. Namun dari belakang, Delsi diam-diam ingin mendorongnya, tapi Manda yang menyadarinya segera berbalik. Delsi diam mematung melihat wanita di depannya.
"Kamu ingin mendorong ku?" tebak Manda.
__ADS_1
"Kamu jangan asal nuduh ya! Mana mungkin aku akan melakukan kejahatan seperti itu!" elak Delsi geram sambil menunjuknya.
"Tapi, bukannya kamu sudah pernah melakukan kejahatan? Wajar dong kalau aku menaruh curiga padamu, Nona Delsi." Manda berjalan ke depan ingin memojokkan Delsi. Kedua tatapan mereka makin dalam saling menatap tajam.
"Ck, kamu jangan fitnah aku ya! Aku bisa melaporkan ini pada ayah kalau kamu ini tidak lagi menghormatiku sebagai kakakmu!" ujar Delsi menunjuknya lagi.
"Hormat? Menghormati orang jahat sepertimu? Ahahaha... apa gunanya aku harus hormat padamu? Aku bukan budakmu. Kita juga bukan saudara, dan kamu sama sekali bukan anggota dari keluarga William. Akulah putri sulung dari keluarga ini, bukan dirimu yang cuma anak dari wanita di luar sana." Manda balas menujuk Delsi, ia mulai ingin memprovokasikan Delsi. Ingin memanas-manasi wanita di depannya.
"Hei! Kurang ajar, akulah putri sulung di keluarga ini dan Ibumu itu seorang wanita penggoda. Dia itu adalah istri kedua yang sudah merebut ayahku dari Ibuku."
Manda mengepal tangan lalu mendorong Delsi hingga terpojok ke tembok, Manda berdesis kesal lalu menunjuk dada Delsi.
"Ibuku bukanlah wanita penggoda, dia tidak pernah merebut apapun dari Ibumu. Justru Ibumu yang sudah merebut semuanya dari Ibuku, bahkan nyawa Ibuku, dia juga yang rebut. Dengar Delsi, aku bisa saja memenjarakanmu. Rekaman CCTV ada di tanganku, semuanya yang kalian lakukan di rumah ini ada padaku. Jika kamu tidak mau hidup selamanya di penjara, lebih baik jangan membuatku marah. Ingat itu!" tegas Manda menyorotinya sinis lalu menepisnya kasar.
"Hei, kamu pikir aku takut, ha!" ujar Delsi menggertakkan rahangnya setelah diancam oleh Manda.
"Ahahahaha, aku tidak perlu ketakutan mu, aku cuma butuh waktu menunggumu membusuk ke penjara." Manda tertawa lalu pergi meninggalkan Delsi.
"Ck, sudah aku duga. Dia yang mengambil semua rekaman CCTV. Tapi sepertinya cuma dia di rumah ini, kalau begitu mumpung dia sendiri lebih baik aku menyingkirkannya segera mungkin." Delsi berjalan untuk menyusul Manda. Namun ia berhenti setelah mendapat pemberitahuan dari rumah sakit tentang kondisi Ny. Marina yang memburuk.
"Awas kamu Shei! Aku akan balas ini jika terjadi sesuatu pada Ibuku." Delsi berdecak, ia pun pergi ke rumah sakit. Terpaksa memendam amarahnya.
"Fiuhhh... dia sedikit menakutkan. Sekarang aku harus mencari petunjuk, dan sepertinya kalau aku asal tuduh tanpa bukti, ini percuma juga. CCTV yang ada padaku belum cukup kuat untuk menjadi bukti di pengadilan nanti." Manda membatin sambil berpikir keras.
Cklek!
Manda membuka pintu kamar putranya, ia kaget tak melihat Rein. Manda pun keluar untuk mencari putranya yang hilang. Ia bertanya pada pelayan, namun mereka tak menemukannya juga. Manda sedikit panik, ia teringat dengan lorong semalam. Karena takut pada Rein yang bisa saja celaka oleh Delsi, Manda pun mencari lorong itu. Ia menemukannya dan secepat mungkin masuk ke lorong gelap itu dengan modal senter di tangannya.
"Rein, Rein...."
Manda memanggilnya sambil berjalan makin dalam ke lorong itu. Perasaannya tiba-tiba berubah, ia sedikit takut bercampur merinding. "Eh buset, ini kenapa jadi seram gini?" pikir Manda kembali memanggil Rein. Tiba-tiba ia menemukan pintu kayu nampak tak terawat. Manda yang penasaran pun membuka pintu misterius. Perlahan-lahan ada cahaya kecil yang menerangi isi kamar itu. Manda terkejut melihat seseorang duduk di depan lilin itu sambil memegang sesuatu. Dengan senter di tangannya, Manda menyorotinya pakai senter itu. Keduanya makin terkejut setelah saling bertatap muka.
__ADS_1
"Mommy?"