
"Pak kami sudah membersihkan rekaman itu, kami sudah menghapusnya tuntas," lapor asisten Tuan Damian kepada atasannya yang sedang duduk di kursi sambil menyentuh jidatnya.
Braaak!
"Cih, siapa yang sudah berani menyebarkannya!" murka Tuan Damian dengan mata menyala-nyala. "Pak, kami telah mendapati gangguan Virus dari situs Mr. R, tampaknya dia sudah lama mengintai anda hingga terang-terangan menyebarkan rekaman itu sekarang." Mendengar laporan asistennya, Tuan Damian melotot ke arahnya. Membuat asisten itu terkesiap langsung menunduk karena takut dipukul.
"Sekarang apa kau tahu di mana lokasi dia?" tanya Tuan Damian berdiri mendekatinya.
"Sa-saya sudah berusaha, Pak. Tapi sistem kami tidak dapat melacak lokasi yang sesungguhnya," jawab asisten itu semakin ketakutan.
Sreeek!
Tuan Damian menarik dasi asistennya lalu berkata sinis. "Aku memberimu gaji yang tinggi untuk menyelesaikan masalahku, tapi hanya karena si brensek itu kau tidak bisa melacaknya? Eyahlah dari hadapanku!"
Ahhhh…
__ADS_1
Gubrakk!
Asisten itu didorong hingga jatuh terhempas cukup jauh ke lemari, membuatnya kejatuhan dokumen berat. "Sialan, biar aku yang urus sendiri!" decak Tuan Damian keluar dari ruangannya ingin meninggalkan perusahaan William.
Namun tak sangka, dia dikepung oleh banyak media. Wartawan saling mendorong dan berebutan ingin meliput Tuan Damian atas kejahatannya yang sudah membantu Istri dan putri sulungnya yang telah membunuh Nyonya Charlotte, pemegang harta kekayaan keluarga William. Bukan cuma wartawan yang datang, ada banyak anggota polisi yang sudah mengamankan perusahaannya. Ketua polisi menunjuk Tuan Damian dengan senyuman puas.
"Tangkap dia dan bawa ke kantor polisi!" perintah ketua kepada rekan-rekannya.
"Baik, Pak!" patuh mereka bergegas masuk meghampiri Tuan Damian.
"Tuan Damian, anda terbukti telah melakukan kejahatan. Anda dengan tega membunuh istri kedua anda. Mari ikut kami ke kantor polisi!"
Hukum tetap berlaku bagi Tuan Damian, meski dia punya segalanya, dia tetap akan dihukum seadil-adilnya atas perbuatannya di masa lalu.
"Tidak, mana mungkin saya tega lakukan itu. Istri saya meninggal karena bunuh diri, bukan saya yang membunuhnya!" elak Tuan Damian bersikeras memberontak.
__ADS_1
"Anda tetap harus dibawa, bukti telah kami dapatkan!" cakap Ketua langsung menggamparnya saking kesal dengan pasangan keji ini.
"Tidak, saya tidak lakukan itu. Saya ini mencintai istriku, kalian lepaskan saya!" ronta Tuan Damian tidak mau masuk ke dalam mobil. Dia tidak peduli lagi dengan wartawan yang meliput untuk mengambil gambarnya yang terus mengelak.
"Dasar pembunuh, mana mungkin dia akan mengaku!" seru salah satu wartawan mencemooh Tuan Damian.
"Dia memang pantas menerimanya!" sahut seorang pria bertubuh besar, dia adalah Bos Mafia yang marah akibat ulah putrinya si Delsi yang menghasut Valen untuk menculik Rain enam tahun yang lalu.
"Kau, apa maksudmu datang kemari, ha!" geram Tuan Damian kepadanya.
"Cuih, anak dan ayah sama saja brenseknya. Kalian bertiga lebih menjijikkan dari bangkai. Kau tega membunuh istrimu yang mencintaimu dan rela menikahimu, tapi kau malah tidak menghargainya. Memang patut dihukum!" kelakar Bos Mafia menunjuknya.
"Penjarakan dia seumur hidup untuk menebus dosa-dosanya!"
Ketua polisi cuma memutar bola mata malas mendengar Bos Mafia itu memerintah. Tanpa disuruh sih, polisi pasti memenjarakan Tuan Damian. Ketua polisi tahu, Bos Mafia cuma ingin numpang tenar agar dapat simpati dari wartawan karena sudah membela mendiang Nyonya Charlotte. Tuan Damian pun diseret paksa masuk ke dalam mobil. Bos Mafia yang melihatnya pergi jadi greget, dia sebenarnya ingin menghabisi Tuan Damian. Akibat ulah Delsi yang bersekongkol dengan Valen, putrinya itu belum lepas dari penyelidikan.
__ADS_1
"Bang-sat!"