
Setelah dari rumah sakit, mobil Rafa berhenti di kawasan kecil. Rafa turun dengan satu anak buahnya, sedangkan pak supir tetap di dalam mobil. Kali ini eksperesi Rafa sangat serius. Ia berjalan ke salah satu pintu rumah di kawasan itu. Semua mata, baik anak-anak maupun dewasa tertuju pada kehadiran Rafa, mereka heran melihat pria berjas yang sangat menawan datang ke kawasan mereka.
"Siapa orang itu?"
"Kenapa dia datang ke rumah Senja?"
"Jangan-jangan dia selingkuhan Senja?"
"Oh tidak, suaminya pasti akan marah padanya!"
Para ibu-ibu saling berbisik-bisik mulai menggosipkan Senja. Namun berhenti dan terdiam mematung setelah dilirik sinis oleh Rafa.
"Cih, dasar ibu-ibu kurang kerjaan!" cibir Rafa sedikit kesal mendengar suara mereka sampai ke telinganya. Para Ibu-ibu pergi dari sana, takut dilirik oleh Rafa meski tak kuasa juga karena harus meninggalkan pria tampan pagi ini.
"Presdir, apa saya dobrak langsung pintunya?" tanya anak buah Rafa.
"Jangan, aku sendiri yang akan mengetuk pintu ini. Kesan pertamaku menyambut putraku harus sebaik mungkin. Sekarang, berikan sapu tangan padaku," jawab Rafa meminta ke anak buahnya.
"Untuk apa sapu tangan, Presdir?" tanya anak buah itu tidak mengerti.
"Tentu saja aku tidak mau tanganku dinodai debu dan bakteri dari pintu ini." Anak buah Rafa tercengang melihat Presdirnya yang terlalu ketat pada kebersihan.
"Baiklah, ini sapu tangan anda, Presdir."
Setelah memakai sapu tangan, Rafa dengan hati deg-degan mulai mengetuk dengan pelan.
Tok Tok Tok!
Tak ada suara, Rafa kembali mengetuk pintu.
Tok!
Tok!
Tok!
Percuma! Meski diketuk keras, pintu masih belum terbuka. Rafa mulai kesal berdiri di depan pintu membuat anak buahnya yang berdiri di belakang Rafa mulai berkeringat dingin.
Tok Tok Tok!
Rein di dalam rumah sedang menonton TV, akhirnya berdiri. Ia sangat kesal mendengar ketukan dari luar.
[Reindra Welfino]
"Ish, siapa yang mengetuk pintu? Apa mungkin Mommy sudah pulang? Tapi kata Bibi, aku tidak boleh buka pintu kalau ada yang ketuk kecuali itu Mommy. Lebih baik aku harus hati-hati."
Rein meletakkan remote TV kemudian pelan-pelan mendekati pintu yang masih diketuk. Rein mengintip sedikit lewat jendela.
"Eh? Siapa mereka?" gumam Rein mengerutkan kening. Rein pun membuka laci meja, mengambil kertas lalu menulis sesuatu.
"Hei, apa ada orang di dalam!" Rein tersentak mendengar ujaran Rafa. Rein pun mendesis kesal, ia jongkok di depan pintu.
"Orang ini sepertinya galak, aku tidak boleh buka pintu sembarangan. Ini kata Mommy."
Rein bergumam dan tersenyum miring mendengar Rafa yang masih memanggil dari luar, ia punya akal untuk mengerjainya. Rafa sudah hilang kesabarannya, ia pun ingin mendobrak pintu di depannya. Namun saat ingin menyuruh anak buahnya, ia dikagetkan dengan surat keluar dari bawah pintu.
"Presdir, sepertinya pemilik rumah ini mungkin takut membuka pintu untuk kita," ucap anak buah itu ikut melihat ke bawah pintu.
__ADS_1
"Kalau begitu, ambil surat itu dan bacakan untukku," titah Rafa memerintah.
"Baik Presdir!" Anak buah itu membungkuk dan mengambil secarik surat. Seketika matanya langsung melebar melihat isi suratnya.
"Apa isi suratnya?" tanya Rafa heran.
"Pres-presdir, isinya adalah 'Di rumah ini tidak ada siapa-siapa, silahkan kalian pergi dari rumah kosong ini!"
Deg!
Rafa terkejut, isi suratnya malah berisi pengusiran untuknya. Rafa mengepal tangan langsung teriak.
"Hei, buka pintunya!"
"Tunggu Presdir, anda jangan marah dulu. Sepertinya di dalam sana adalah anak-anak," ucap anak buah itu menahan Rafa agar tidak emosi.
"Anak-anak?" kaget Rafa berhenti mengetuk pintu.
"Benar, Presdir. Isi surat ini ditulis oleh anak-anak. Karena itulah dia memberikan surat saja. Mungkin dia takut membuka pintu,"
Deg!
"Oh ya ampun, apa jangan-jangan yang tulis adalah Rein?" Rafa akhirnya sadar. Dia pun kembali bicara dengan lembut agar tidak membuat kesan buruk di depan anaknya.
"Permisi, kami datang kemari untuk bertemu dengan seseorang. Saya orang yang baik-baik, tujuan saya tidak bermaksud jahat datang kemari," ucap Rafa takut Rein membencinya.
Rein di balik pintu cuma menyilangkan tangan sembari mengikuti Rafa yang bicara. Sama sekali tidak ada rasa takut.
"Saya rasa mungkin kamu bisa membuka pintu, saya ini dekat dengan Rara."
Rein kaget dan berhenti mengikuti ucapan Rafa, setelah mendengar adiknya disebut. Rein pun curiga, kemudian dengan berani membuka pintu. Rafa sontak kaget melihat bocah yang sangat familiar.
"Ini kan Tuan muda Rain," gumam anak buah itu dalam hati.
Rein kesal melihat tampang Rafa, ia pun dengan sombong bicara dan tak lupa meledeknya.
"Rain? Namaku bukan Rain tapi Rein! Paman tua, kalian ini siapa?" tanya Rein bermuka datar sedatar tembok yang ada di dekatnya. Meski begitu ia masih tampan dengan topi khasnya.
Deg!
Rafa kegat dipanggil paman tua, tapi tatapannya masih fokus ke wajah Rein. Sontak dengan kesal langsung menjewer kuping Rein hingga Rein terkejut dan kesakitan.
"Dasar anak usil, bagaimana kamu bisa ada di sini, Rain!" kesal Rafa melepaskan jewerannya.
"Aduh, hei Paman tua! Sudah aku bilang, aku bukan Rain tapi Rein! Ish kalian menyebalkan!" kesal Rein ingin menutup pintu tapi Rafa dengan cepat menahannya.
"Sekarang kamu sudah berani ya membentak Daddy!"
"Deddy?" kaget Rein tak jadi menutup pintu.
"Ya, ini Daddy Rain! Sekarang kamu ikut Daddy pulang!" Rafa menarik tangan Rein. Anak buahnya cuma berdiri melihat perdebatan mereka. Ia takut ikut campur.
"Iiih, lepaskan aku! Aku tidak mengenalmu!" Rein memberontak.
"Jangan pura-pura amnesia, Rain! Sekarang Daddy akan membawamu ke mansion Kakek! Harusnya kamu sekolah hari ini, bukan malah keluar ke rumah orang!" ujar Rafa menarik Rein yang memberontak.
"Huaaaa aku sudah bilang aku bukan Rain tapi Rein!" ronta Rein akhirnya menangis.
Rafa berhenti, ia melepaskan Rein kemudian berjongkok menatap serius Rein yang lagi mengusap matanya.
__ADS_1
"Jadi kamu bukan Rain?" tanya Rafa.
"Hiks, namaku Rein. Paman tua jangan paksa Rein." Rein pura-pura menangis, berakting dan tak lupa meledek Rafa. Ingin sekali Rafa menjambak rambut Rein, rapi melihat Rein jujur akhirnya Rafa sedikit mencerna sesuatu.
"Siapa nama Ibumu?" tanya Rafa ingin tahu.
"Manda Aresta," jawab Rein singkat.
"Apa kamu punya adik bernama, Rara?" tanya Rafa lagi.
"Hiks, benar. Paman tua tahu nama adikku dari mana?"
Deg!
Rafa sontak berdiri kemudian menyentuh dagunya.
"Tunggu dulu, kenapa Rain mirip sama anakku dari Shei?" gumam Rafa memikirkan anaknya yang lain, yang tinggal di mansion Kakeknya.
"Paman, maaf sudah mengejekmu. Tapi apa paman tahu dimana adikku sekarang?" tanya Rein menarik-narik pinggir baju Rafa. Rafa pun jongkok kembali kemudian mengelus rambut Rein dengan lembut, ini membuat Rein jadi diam terpaku. Merasakan dirinya dielus oleh sosok ayah.
"Maaf sudah kasar padamu, Daddy minta maaf."
Deg!
"You, my Daddy?" tanya Rein kaget.
"Hm, benar. Ini Daddy yang datang menjemputmu."
Rein berbalik kemudian menepuk pipinya.
"Oh Mommy, apa Rein sedang bermimpi?"
Rafa tertawa kecil mendengarnya. Ia pun menepuk pelan kepala Rein.
"Sekarang, Rein mau ikut sama Daddy?" tanya Rafa tersenyum namun langsung tercengang dengan muka datar Rein terutama ucapan putra sulungnya.
"Maaf Paman, aku tidak bisa semudah itu percaya padamu. Kata Mommy, kita tidak boleh percaya sama orang lain! Sekarang Paman pulang, dan jangan mengaku sebagai ayahku. Paman tidak cocok dengan Mommyku yang cantik."
Rein berbalik ingin menutup pintu. Tapi langsung teriak setelah anak buah Rafa mengangkatnya seperti barang.
"Aaaaaa kenapa ini! Lepaskan aku!" ronta Rein mengamuk.
"Bawa dia ke mobil, tidak ada yang bisa lepas dariku meski itu anakku sendiri, tetap tak bisa dibiarkan!" pinta Rafa menunjuk ke mobilnya.
"Hei paman! Ini namanya penculikan! Paman jangan bawa aku pergi, aku tidak mengenalmu, aku bukan anakmu! Tolonggg ada penculikan!"
Brak!
Pintu mobil segera ditutup, Rein memberontak di dalam mobil. Tapi tenaga anak buah yang kuat berhasil membuat Rein akhirnya diam.
"Percuma kamu memberontak, sekarang Daddy akan bawa kamu pulang hari ini!"
"Hmp, dasar paman kejam!" kesal Rein membuang muka. Rafa sedikit greget dengan sikap Rein yang sama dengan Manda, sama-sama pemberontak tidak seperti Rara yang penurut. Mobil itu pun pergi meninggalkan rumah Senja. Sedangkan pemilik rumah sedang berada di pasar bersama anaknya. Ia tak tahu keponakannya dibawa pergi dari rumah.
...Yalah, Rein dan Manda kan punya ikatan, jadi maklum kalau sama sifatnya😁hihihi......
...Jangan lupa like dan komen ya Mommy...
...💙Favoritkan💙...
__ADS_1