
Manda yang baru saja mengantar anak-anaknya sekarang singgah dulu ke supermarket. Ia tentu ingin membawa sesuatu bingkisan ke rumah Senja. Namun setelah turun dari mobil taksi, Manda berpapasan dengan seorang wanita muda saat mau masuk ke dalam. Parasnya lebih cantik, lebih good looking darinya. Manda belum sadar siapa wanita itu, namun setelah si kasir memanggilnya, Manda akhirnya mencerna satu hal.
"Tunggu Nyonya Ella!" Si kasir menahannya. Manda pun mengerjap-ngerjap kedua matanya, melihat saksama dari bawah ke atas. "Dia Nyonya Ella? Kenapa aku merasa tidak asing?" pikir Manda menyentuh dagunya di depan pintu masuk supermarket. Wanita itu pun mendekati si kasir.
"Maaf, Nyonya. Ini kartu anda jatuh," ucap si kasir memberikan black card. Wanita itu tertawa kecil lalu berkata : "Ahaha, astaga bisa-bisanya aku ceroboh lagi. Untung saja yang menemukan orang baik. Terima kasih ya," ucapnya tersenyum ramah. Si kasir cengengesan dipuji olehnya. Setelah si kasir kembali ke tempatnya, Manda masih bergeming di tempatnya. Belum bergerak sedikitpun, ia terkejut karena wanita ini memiliki black card tapi masih mau belanja di tempat seperti ini.
"Eh, kamu baik-baik saja?" Ia bertanya pada Manda. Sontak, Manda sadar langsung tersenyum. "Ba-baik, maaf sudah menghalangi jalan." Manda terbata-bata saking gugupnya.
"Pfft, sepertinya tadi aku berisik hingga kamu bengong di sini,"
"Eh, tidak kok. Saya cuma tadi terkejut bisa bertemu dengan anda. Ngomong-ngomong nama saya Manda, kalau anda?" tanya Manda ingin tahu sembari mengulurkan tangan meminta kenalan.
Wanita itu diam sejenak lalu membalas uluran tangan Manda kemudian berkata : "Aku Nyonya Aradella. Senang mengenalmu, Nona-" Manda segera menyambungnya : "Saya Manda Aresta, Nyonya Ella. Senang mengenal anda juga." Manda sangat senang. Ternyata dugaannya benar, ia adalah Ella yang sudah berumur 30 tahun, beda lima tahun dengannya.
Saking fokusnya, Manda tidak sadar seseorang datang langsung menarik tangannya.
"Auw-sakit!" ringis Manda segera melihatnya.
Deg! Manda tak sangka Rafa menemukannya. Rafa pun mendesis pada Manda lalu berkata : "Shei, akhirnya aku menemukanmu juga. Harusnya tadi kamu menungguku agar aku bisa mengantarmu dan anak-anak ke sekolah." Rafa berkata lalu melepaskan Manda. Ella yang berdiri di sana kini gilirannya yang bengong.
"Aduh, kenapa harus marah? Kita kan sama sekali tidak ada hubungan. Kamu juga bukan suamiku," desis Manda mengelus pergelangan tangannya.
"Tapi, aku ayah anak-anakmu. Aku wajib mengantar mereka ke sekolah!" Rafa menghembus nafas sedikit kesal.
"Ayah anak-anak? Kalian saling kenal, Raf?" tanya Ella akhirnya bicara. Rafa pun melihat Ella kemudian merangkul pinggang Manda.
"Ya, kami saling kenal dan dia adalah Sheila. Dia Ibu dari anak-anak yang dia lahirkan untukku. Sekarang karena kebetulan melihatmu di sini, apa di mansion ada Papi dan Mami?" jelas Rafa menjawab jujur.
"Ya, Papi dan Mami ada mansion. Tapi bukannya kamu dan Valen sudah punya hubungan? Kenapa tiba-tiba kalian berkata begitu? Apa kalian sedang bercanda?" tanya Ella belum paham.
__ADS_1
Rafa pun menghela nafas, saat mau menjawabnya, Manda langsung bicara.
"Ahaha, dia ini lagi bicara ngaco. Saya ini cuma asistennya, Nyonya," cengir Manda mencubit pinggang Rafa.
"Auw! Asisten apanya? Kamu kan istriku!" lanjut Rafa membenarkan. Ella di sana makin bengong. Ia sama sekali belum bisa mencernanya.
"Istri apanya, kita itu belum menikah tau!" kesal Manda berkacak pinggang. Rafa juga berkacak pinggang lalu berkata sinis.
"Baiklah, karena kamu masih ngotot bilang gitu, sekarang ikut denganku. Aku akan menikahi mu hari ini!" Rafa menarik paksa Manda ke mobilnya meninggalkan Ella yang garuk-garuk kepala.
"Astaga, apa yang aku dengar ini? Rafa ingin menikahi wanita itu? Bukan kah ia harusnya menikahi Valen?" pikir Ella melihat Rafa membawa pergi Manda. Tiba-tiba, seseorang merangkul perutnya hingga Ella terperanjat.
"Ya ampun, honey. Kenapa baru datang?" tanya Ella cemberut pada lelaki yang berdiri di depannya.
"Maaf, tadi ada urusan di kantor. Sekarang karena aku tidak sibuk lagi, aku akan menemani mu ke Mall pagi ini." Kata lelaki itu sambil mengelus kepala istrinya, ia adalah Devandra. Presdir di kota ini sekaligus kakak kandung Rafandra.
Sedangkan Manda dan Rafa kembali berdebat di dalam mobil. Keduanya saling tunjuk menunjuk gara-gara hal kecil.
"Bisakah kamu lebih lembut padaku, tangan aku sakit nih gara-gara kamu barusan. Kalau begini, tanganku bisa lebam hitam sebelah tau!" Tunjuk Manda pada tangannya. Rafa masih diam, ia sudah capek bicara.
"Hm, memang pria yang menyebalkan!" cetus Manda kesal. Keinginan untuk ke rumah Senja harus dibatalkan. Sontak, Rafa berhenti lalu melirik Manda.
"Kenapa berhenti? Apa kamu melupakan sesuatu?" tanya Manda sedikit takut. Takut Rafa bakal seperti kemarin.
Rafa pun mengambil sebuah kotak lalu membukanya. Ternyata, itu kotak obat. Rafa pun mengambil hansaplast lalu menarik tangan Manda.
"Ka-kamu mau apa?" tanya Manda gelagapan. Rafa tak menjawab melainkan mencium pergelangan tangan Manda yang lebam sedikit. Manda sontak diam, perlahan tersipu dengan perhatian Rafa.
"Te-terima kasih, maaf sudah berisik." Manda menunduk menyembunyikan wajahnya yang merona lalu segera melihat ke luar jendela. Ia sedang senyum senyum sendiri. Rafa yang melihatnya malu, cuma tertawa dalam hati. Kemudian kembali mengemudi membawa Manda ke mansion Tuan Raka.
__ADS_1
"Em, kenapa dia barusan mengobati luka ku?"
"Kenapa tiba-tiba dia jadi baik lagi?"
Manda melirik Rafa lalu menunduk. "Apa dia akan membawaku ke rumah orang tuanya?" pikir Manda tak dapat berhenti senyum-senyum sendiri.
"Pfft, apa dia sedang memikirkan aku barusan?" gumam Rafa ikut melirik Manda dari kaca spion di depannya.
"Huft, baiklah. Aku harus membawanya ke rumah sakit dulu." Rafa menancap gas menuju ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA, agar dua orang tuanya bisa percaya jika Sheila pantas jadi istrinya dan Ibu dari anak-anak yang dia lahirkan.
____
Sesampainya di rumah sakit, keduanya segera turun. Manda sudah menebak jika Rafa mau melakukan tes DNA. Keduanya masuk untuk melakukan pencocokan DNA. Setelah memberikan simple ke Dokter. Manda dan Rafa pergi ke mansuion Tuan Raka. Keduanya tak bisa menunggu sampai malam. Hingga akhirnya, Dokter melakukan segera mungkin pencocokan pada dua simple itu hari ini. Agar dapat dibawa ke mansion nanti malam.
Kini tak menunggu lama, mobil Rafa sampai juga ke mansion ayahnya. Ia ingin membicarakan, soal pertunangan yang akan dia batalkan dan pernikahan untuk Manda.
Manda sangat gugup, mansion itu sangat luas dan sangat dua kali lipat dari mansion Rafa. Manda menelan ludah berjalan di samping Rafa. Untung saja, Rafa yang menyadarinya segera menggenggam tangan Manda.
"Tenanglah, Shei. Ibu dan ayahku tidak akan memakan wanita jelek sepertimu kok. Mereka bukan kanibal." Kata Rafa sedikit meledeknya. Tapi ini tidaklah lucu, Manda gugup takut ia tidak diterima oleh Tuan Raka dan Nyonya Mira, orang tua Rafandra.
Benar, Manda semakin berkeringat dingin sekarang. Ia dan Rafa bertemu dengan kedua orang tua yang lagi menuruni tangga. Terlihat Tn. Raka dan Ny. Mira mengernyit heran.
"Rafa, tumben kamu ke sini, Nak? Siapa wanita yang kamu bawa ini?" tanya Ny. Mira menghampiri mereka. Rafa dengan cepat pun menjawa dengan jelas.
"Dia Sheila, aku datang untuk menikahinya hari ini."
Deg! Tn. Raka dan Ny. Mira mendadak shock, keduanya saling bertatapan setelah mendengar ucapan anak ketiganya.
"Menikahi dia?"
__ADS_1