
"Kebetualan sekali bertemu di jalan, kau mau ke mana?" Noah bertanya sambil melihat Manda dan Rein bergantian lalu kemudian menatap mobil taksi yang tidak jauh darinya.
"Itu, mau ke tempat ayah anak-anak," jawab Manda gugup lalu bertanya balik. "Kau ingin ke mana siang ini?"
"Mau bertemu denganmu," jawab Noah menunjuknya. Rein mengangkat alis tipisnya merasa heran pada Noah. "Bertemu Mommy buat apa?" selidik Rein curiga kalau Noah ingin PDKT ke Ibunya.
"Ingin bicara saja. Ayo sini naik, aku akan mengantar kalian berdua ke Rafa." Noah tersenyum ke Manda. "Kenapa ya aku merasa Sheila itu Manda? Dulu dia pernah bilang kalau namanya Manda Aresta, dia bahkan bilang lebih suka dipanggil Manda. Apa cuma firasatku saja?" pikir Noah tidak lepas menatap Manda.
"Hei jangan diam saja, ayo masuk ke mobil."
Manda pun dengan ragu-ragu masuk ke dalam mobil bersama Rein. Kini suasana menjadi canggung, Manda tidak enak harus diantar oleh Noah.
"Mommy, Rein ngantuk. Rein mau tidur sebentar ya," ucap Rein tidur di pangkuan Ibunya. Bocah itu agak capek dari rumah Huan. "Baik, sayang. Tidurnya jangan sampai ngigau ya." Manda mengecup kepala Rein dan mengelus rambut putranya.
Melihat Manda yang perhatian ke Rein merasa tidak salah lagi untuk curhat padanya. "Sepertinya Shei orang yang tepat mendengar masalahku." Noah berpikir kemudian melaju ke perusahaan Rafa.
Di tengah perjalanan ke sana, Noah pun mulai bicara.
"Manda,"
Manda tersentak, dia cepat mengalihkan matanya ke Noah.
"Eh, Manda? Kenapa kau memanggilku begitu?" tanya Manda heran. Dia sepertinya lupa dengan obrolannya saat itu bersama Noah.
"Ya, Manda. Bukannya kamu sendiri bilang ingin dipanggil begitu? Apa kamu lupa?" Noah menjawab sambil fokus mengemudi.
"Oh benar, dulu aku ingin dipanggil begitu. Tapi sekarang namaku Sheila. Kau bisa memanggilku, Sheila." Manda pun tidak enak dirinya dipanggil Manda oleh Noah.
"Hm, tapi apa aku boleh panggil kamu, Manda?" tanya Noah lagi.
"Loh kenapa?" Manda tanya balik merasa Noah agak aneh hari ini. Serasa Noah berbeda.
"Karena aku menyukai namamu itu,"
Degg
Manda sedikit terkejut, ucapan Noah pernah diucapkan Rangga.
"Kau mirip dengan kekasihku, Manda."
Degg
Lagi-lagi Manda terkejut mendengarnya.
"Mirip? Kekasihmu? Apa maksudmu?" tanya Manda sedikit cemas.
"Aku punya rahasia, apa kamu ingin mendengarnya, Manda?" Noah menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Dia menengok ke belakang menatap Manda. Benar, Noah merasa Sheila seperti Manda.
__ADS_1
"Ke-kenapa ke aku?" tanya Manda mulai penasaran.
"Karena aku percaya padamu," jawab Noah tersenyum.
"Manda, apa kamu percaya time travel itu ada?" tambah Noah bertanya lagi. Manda menelan ludah, ada yang aneh, benar-benar Noah aneh hari ini.
"Aku-aku tidak tahu," jawab Manda terbata-bata bingung menjawabnya. Dia takut salah nanti.
"Benar, mungkin orang lain tidak akan percaya. Tapi aku percaya, sangat percaya," tutur Noah menunduk merasa sedih.
"Kenapa kamu percaya? Apa kamu pernah bertemu orang yang sudah pernah time travel?" tanya Manda sangat penasaran. Raut wajah Noah itu mirip seperti Rangga yang sedang sedih.
"Bukan orang lain, tapi itu aku sendiri," jawab Noah memandangi Manda yang terdiam setelah dia mengaku.
"Ka-kamu?" Manda jadi gelagapan. Perasaannya mulai tidak enak, dia cemas bila pikirannya terhadap Noah bisa saja benar kalau Rangga mungkinlah pria di depannya ini.
"Ya, Manda. Aku bukanlah berasal dari dunia ini,"
Degg
Detak jantung Manda serasa ingin berhenti dan bersamaan dia tidak lagi mengelus kepala Rein. Manda diam membisu tak dapat berkata apa-apa.
"Haha, kamu pasti terkejut aku berkata begini. Tapi aku tidak lagi bercanda, aku serius bukan berasal dari dunia ini, Manda," ungkap Noah lalu mengeluarkan kalung dari dalam kerah lehernya. Manda sekali lagi terkejut, dia serius menatap kalung itu, serasa tidak asing di matanya.
"I-itu kalung siapa?" tanya Manda menunjuk kalung itu. Dia mulai gemetar di seluruh badan.
"Ini kalung kekasihku, dia bernama Manda. Dia bukanlah dari dunia ini, aku sangat mencintainya," jawab Noah menatap berlian di kalung itu lalu ke Manda. Manda mulai mengepal tangan, ucapan manis itu sangat menyakitkan hatinya.
"Aku Rangga,"
Manda menunduk, hatinya sangat sakit, serasa ingin berkecamuk. Antara nyesek dan emosi.
"Apa kamu percaya?" tanya Noah ingin tahu jawaban Manda. Manda cuma terdiam, dia sedang mengatur nafasnya. "Aku tidak tahu jawab apa, tapi jika benar Noah adalah Rangga, bagaimana dia pindah ke sini juga?" pikir Manda mulai kebingungan.
"Ah sepertinya kamu tetap tidak akan percaya. Seandainya saja aku punya ponsel, aku akan perlihatkan padamu wajah kekasihku, dia bernama Asti Amanda."
Degg
Sekali lagi Manda kaget, dia pun dalam hatinya percaya setelah Noah menyebut nama aslinya. Tapi rasanya dia ingin menangis karena Rangga masih mencintai dan menganggapnya kekasih.
"Lalu jika itu benar, bagaimana kamu ke sini?" tanya Manda mencoba menahan tangisnya. Dia tidak tahu, perasaan rindu itu tiba-tiba muncul.
"Kecelakaan," jawab Noah menggenggam kalung itu. Manda pun ingat Helena pernah berkata kalau Rangga sedang koma.
"Kenapa sampai kecelakaan?" tanya Manda lagi. Noah menutup mata, dia perlahan menangis membuat Manda terdiam.
"Aku yang salah tidak fokus mengemudi setelah dari rumah sakit mengunjungi kekasihku malam itu," jawab Noah mengusap matanya. Dia sedang mencoba tahan di depan Manda, tapi air mata penyesalannya itu timbul lagi.
__ADS_1
"Apa? Dia datang mengunjungiku?" batin Manda kaget dan mulai ingin ikut menangis. Dia terharu karena Rangga masih ingat padanya. "Pantas saja Helena bilang ini semua gara-gara aku, rupanya aku yang telah melibatkan dia ke dunia ini," lanjutnya benar-benar ingin menangis di dalam hatinya.
"Apa kamu ingin mendengar ceritaku dengannya?" tanya Noah kini mulai tenang. Manda menunduk, dia sebenarnya sudah tahu cerita hubungannya yang sudah hancur. Tapi ada satu hal yang belum dia ketahui adalah mengapa Rangga tega berkhianat?
"Kau tahu, aku dan dia sebenarnya sudah putus. Tapi bagiku, dia tetap kekasihku," lirih Noah menatap penuh ke Manda. Manda menatap dua mata Noah yang serius memang masih mencintainya.
"Ke-kenapa kalian bisa sampai putus?" tanya Manda sudah tidak tahan ingin teriak kalau dirinya adalah dia.
"Aku juga tidak tahu, aku sungguh tidak tahu, benar-benar tidak tahu. Aku menyesal telah menyakitinya," isak Noah menunduk dan meracau merasa bersalah. Manda bergetar, matanya mulai basah melihatnya bodoh. "Apa mungkin Rangga dipelet oleh Helena? Jika itu benar, mengapa harus ke Rangga?" batin Manda tidak tega, dia pun ikut menunduk menatap wajah Rein yang tertidur pulas.
"Tidak-tidak, aku tidak boleh begini. Tetap saja dia sudah berkhianat, aku tidak boleh sedih karenanya!" lanjutnya membatin membuang rasa ibanya terhadap Noah. Tiba-tiba Noah bicara lagi.
"Manda …." Kedua mata mereka bertemu, Manda serasa diam tak dapat bergerak ketika Noah menyentuh pipinya. Manda merasa tersengat dengan sentuhan itu yang tidak pernah lagi dia rasakan hingga tak dapat bergerak. Noah mendekati wajah Manda tampak ingin menciumnya. Seketika berlian di kalung itu mulai ingin bercahaya lagi.
"Manda… aku-"
Jangan lupa dilike dan favoritkan ya biar Manda semangat lanjut bercerita tentang dunia halunya😄. Tolong ya semangati Author biar Manda lanjut terus, thank and see you all😚.
Nama Tokoh di dalam Novel ini.
Sheila/Manda: Tokoh utama wanita.
Rafandra: Tokoh utama pria.
Triple R (Rein, Rara, Rain): Anak kembar Sheila.
Rangga: Mantan Manda (koma).
Noah: Reinkarnasi Rangga.
Valen: Antagonis pertama ( jahat).
Delsi: Saudara tiri Sheila (jahat).
Tuan Damian: Ayah kandung Sheila.
Nyonya Marina: Ibu tiri Sheila (jahat).
Nyonya Charlotte: Ibu kandung Sheila.
Sekretaris Jho: Bawahan Rafandra.
Nerin: Mantan Rafandra/Antagonis kedua.
Pak Toby: Asisten rumah/penjaga Triple R.
Helena: Tunangan Rangga/musuh Manda.
__ADS_1
Senja: Tokoh pendukung.
Terima kasih sudah setia baca sampai di sini♥