Istri Reinkarnasi, CEO Kejam

Istri Reinkarnasi, CEO Kejam
Bab 110 : Matilah Kalian Berdua!!!


__ADS_3

⚠️⚠️warning!!


Setelah memasang liontin berlian itu ke lehernya. Manda menyentuhnya sebentar, dia tersenyum kecil lalu memegang dagunya. Dia mengamati wajahnya lalu bergumam.


"Noah telah mengembalikan liontin ini dan itu artinya dia benar-benar sudah move on dariku."


"Jika seumur hidup aku berada di sini, apa artinya aku dan Rangga akan selalu koma di sana?"


Manda mondar mandir, dia agak gelisah.


Ahhh, kenapa aku harus pikirkan ini sih, harusnya aku merasa beruntung bisa hidup dengan suami dan anak-anakku, tapi-


Manda bersandar ke tembok, hatinya semakin resah tidak karuan. Firasat buruk tiba-tiba mengisi hatinya. Setelah dia tenangkan pikiran, Manda pun menghela nafas. Saat dia mau membuka pintu toilet, tiba-tiba saja knop pintu diputar duluan dari luar. Manda tersentak kaget setelah pintu dibuka lebar-lebar, kemudian menampakkan seseorang yang memakai baju pelayan dan topi hitam. Dia menunduk dan menyembunyikan wajahnya.


"Permisi, saya mau keluar mbak, apa anda bisa beri saya jalan?" kata Manda ingin lewat namun orang itu berdiri di tengah-tengah pintu. Seolah-olah dia sengaja ingin menghalangi jalan Manda.


Manda mulai kesal tidak direspon. Dia pun dengan sabar berkata lagi. "Mbak, saya mau lewat, bisa tolong mbak menyingkir sedikit?"


Dengan diiringi senyum dari Manda, percuma saja! Orang itu masih diam berdiri dan menunduk terus.


"Mbak, ini saya buru-buru loh, mbak tolong jangan buat kesabaran saya habis. Tolong menyingkirlah sedikit," ucap Manda ingin menerobos tapi dengan satu tangan saja, Manda dicegat lagi.


"Mbak, ini maunya apa ya? Saya ini lagi buru-buru, mbak tolonglah segera menyingkir!" perintah Manda menepuk bahu orang itu, reflek tangan Manda dengan gesit menghindar ketika orang itu ingin mencengkramnya.


"Wah, mbak ini aneh loh, saya cuma ingin mbak berpindah, bukan ingin menyakiti mbak, jadi sebaiknya mbak segera beri saya jalan. Saya tidak mau menyulitkan, mbak!" kata Manda mundur selangkah untuk tetap waspada. Apalagi barusan tampak orang itu ingin mematahkan tangannya.


..."Ha...hahaha...hahaha,"...


Tiba-tiba orang itu tertawa, kemudian menutup pintu dan-


...Cklak!...


Manda terperanjat, dia mundur selangkah lagi ketika pintu malah dikunci olehnya. Pelayan itu maju sambil tertawa terbahak-bahak.


"Hahahaha, aneh? Kau ngatain aku aneh?" ucapnya membuka topi lalu nyengir kuda ke Manda.


"Del-delsi?" Manda tercengang orang yang selalu dia tegur tadi rupanya Delsi.


"Hooh, terkejut ya?" tanya Delsi maju kemudian mengeluarkan tangannya yang satu dari dalam saku celana. Dia tersenyum menyeringai sambil mendekati perlahan-lahan Manda dan disertai pisau yang tajam di tangan kanannya itu.


"Cih, bagaimana kau bisa masuk ke sini?"


"Hmm, rupanya kau tidak terlalu memperhatikan sekitarmu ya, adikku tersayang," kata Delsi berhenti jalan ketika Manda terpojok ke tembok.


"Cih, beraninya dia bawa pisau dan menakut-nakutiku di sini!" batin Manda menggertak. Jujur dia takut dengan sutuasi sekarang, ditambah cuma dia berdua saja. Manda bisa saja menerjang melewatinya, tapi itu juga bahaya, bisa-bisa Delsi menikamnya juga.


"Sheila... Sheila, aku pikir kamu akan ketakutan melihatku membawa pisau kemari, tapi rupanya kau masih tetap tenang dengan wajah datarmu itu. Aku muak, dengan wajah yang selama ini selalu terbayang-bayang di mimpiku. Wajahmu itu hampir mirip Ibumu, Nyonya Charlotte yang telah meninggal gara-gara aku," jelas Delsi sambil menyentuh ujung pisau yang berkilau itu, jelas sekali sangat tajam. Hanya sekali sayat, mungkin darah langsung menyembur kemana-mana.

__ADS_1


"Ka-kau, sudah aku duga. Kau sama busuknya dengan Ibumu yang serakah itu!" seloroh Manda mencemohnya.


"Busuk? Hahaha.... aku pikir kaulah yang busuk! Wanita hina yang telah melahirkan anak-anak dari hasil terlarang. Apa kau bangga dengan itu, Sheila?"


"Jika demekian begitu, kau harusnya berterima kasih padaku, berkat aku kau diberi tiga anak haram sekaligus!"


"Hahahaha...."


"Sheila... Sheila, kau itu lebih busuk dariku," tawa Delsi lalu menusuk pintu di dekatnya hingga tembus. Manda menulan ludah, dia ingin melumpuhkan Delsi, namun Delsi tampak tidaklah main-main untuk membunuhnya hari ini juga.


"Apa kau ingin tahu kapan dan bagaimana Ibu meninggal?" Delsi tersenyum kecut dan memiringkan kepalanya sambil menodongkan pisau ke Manda. Manda terdiam, dia sudah tahu itu jika Ibunya dibunuh oleh Marina dan suaminya, tapi tiba-tiba Delsi berkata dengan fakta lain.


"Ibumu itu sebenarnya tidak dibunuh oleh Ibuku maupun ayah kita, Sheila. Ibumu meninggal di kedua tangan ini, akulah yang terakhir mencekiknya, hahahaha," tawa Delsi tiba-tiba maju lagi sambil memainkan pisaunya.


"Apa kau ingat saat itu, aku dan kau bermain petak umpat di taman belakang, aku yang bersembunyi dan kaulah yang jaga. Di waktu itu, adalah hari yang sama di mana kau temukan mayat Ibumu tergantung di atas tempat tidur dengan kondisi leher terikat, apa kau ingat? Di kala itu kau berteriak histeris? Dan aku menenangkanmu yang polos saat itu. Ibu yang kau sayangi dibunuh oleh kakak tirimu sendiri, Sheila. Dan kenapa aku lakukan itu? Karena aku iri padamu! Kau mendapat segalanya. Kau dianggap layaknya seorang putri sedangkan aku seperti anak pembantu, padahal akulah anak sulung ayah."


"Kau dibangga-banggakan! Sedangkan aku dihina oleh mereka."


"Ah iya, benar. Aku akan katakan padamu, ibuku dan ayah kita memang kerjasama untuk menghabisi Ibumu, ayah tidak mencintai Ibumu, dia lebih mencintai harta dari pada Ibumu. Lalu aku pernah berpikir, jika bukan karena cinta, lantas kenapa kau harus lahir? Hahaha,"


"Mungkin ini alasannya, aku yang akan menghabisi hidupmu,"


"Ayolah Sheila, teriaklah! Teriaklah seperti Ibumu yang di saat detik terakhirnya dia memohon padaku, tapi kamu pasti tahu, aku yang sangat membencimu tentu tidak akan melepaskannya, aku mengambil tali lalu melilit lehernya hingga dia mati,"


"Hahahaha..... bukankah itu menyenangkan, melihat dua bola matanya yang hampir terlepas. Sekarang aku tidak sabar untuk mencungkil dua matamu ini juga," kata Delsi mengatakan semuanya.


Manda menepis tangan Delsi, dia menghindar ke sebelah kanan.


"Iblis? Ha...hahaha," tawa Delsi lalu dengan cepat menerjang Manda. Bermaksud ingin menusuk wajah Manda. Namun Manda tentu tidak akan semudah itu ditikam. Dia mencoba menghindar sambil diam-diam ingin ke pintu utama toilet. Keduanya saling berkelahi, namun sayangnya gerakan Manda terbaca hingga Delsi pun segera memojokkan Manda ke sisi lain.


Bruakkk!


Manda terhempas ke dalam kamar-kamar kecil hingga dia terjatuh hampir terbentur ke wastefal toilet, sontak Delsi ingin menusuknya. Tetapi Manda sekuat tenaga menendang perutnya, ia berhasil memberi jarak untuk secepatnya menutup dan mengunci pintu kamar kecil itu.


"Sheila! Percuma kau sembunyi, kau tidak bisa lari dariku!" ujar Delsi menusuk dan menikam berkali-kali pintu kamar kecil itu hingga meninggalkan bekas tusukan lubang yang banyak. Manda duduk di wastefal, lengannya sakit sekali sampai uratnya ingin putus, dia menerima sakit itu ketika menahan benturan yang dia terima barusan.


Tenaga Delsi cukup besar darinya, hingga dia cuma dapat mengulur waktu agar seseorang datang ke toilet dan menghentikan Delsi sebelum pintu kamar di depannya itu rusak parah. Manda tak lupa mencari ponselnya. Namun rupanya, tas miliknya berada di tangan Delsi. Ternyata saat dia asik menghindar, tas miliknya terjatuh.


"Ya Tuhan, apa yang aku harus lakukan?" Manda memegang liontin di lehernya. Dia berpikir, jika dia kembali ke dunianya, bisa saja dia selamat, tapi bagi Sheila, Delsi pasti akan membunuhnya di sini.


Tringg... Tring....


Ponsel Manda berdering di dalam tas, bersamaan pintu toilet diketuk dari luar.


"Sheila, apa kau ada di dalam?" teriak Noah sampai juga di toilet setelah menelusuri toilet sekitarnya.


"Wah, ada pahlawan kondangan yang sukarela datang ingin dibunuh nih," kata Delsi menghempaskan tas Manda ke lantai.

__ADS_1


"Kau tahu Shei, jika kau tidak keluar, maka orang di luar sana akan aku bunuh dengan pisau ini!" ancam Delsi mulai jalan perlahan. Manda pun dengan secepatnya keluar disertai teriakannya, ia lalu mendorong Delsi sampai terhempaskan ke pintu kamar kecil di sebalahnya, dan juga pisaunya terpental cukup jauh.


"Bedebah! Kau beraninya mendorongku!" ujar Delsi teriak menerjang Manda. Manda pun memberi perlawanan. Dia menahan kedua tangan Delsi sambil teriak-teriak membuat Noah tersentak mendengar dari dalam ada suara perkelahian. Dia pun mencoba mendobrak pintu dan teriak memanggil Manda.


"Manda! Apa yang telah terjadi di dalam?"


Namun Manda tidak sempat menjawab akibat menahan Delsi yang ingin mencekiknya.


"Delsi! Kau telah melampaui batas! Bagaimana kau bisa lolos ke sini, ha!" ujar Manda mencengkram lengan Delsi dengan kuat.


"Kau ingin tahu? Nerin! Nerin, dialah yang telah meloloskan aku ke sini, dia meminta kepadaku untuk membunuhmu!" balas Delsi mencengkram dua lengan Manda.


"Fitnah! Kau jangan asal fitnah setan!" sahut Noah semakin keras mendobrak pintu yang masih saja belum terbuka.


"Hahaha, rupanya pengantin pria yang datang sebagai pahlawan, apa kalian ini bodoh? Ini adalah rencana Nerin, dia menyuruhku untuk membunuh kalian berdua! Nerinlah yang akan berkuasa, hahahaha!"


Ahhhhh....


Delsi histeris ditarik keras rambutnya oleh Manda.


"Kau pikir aku akan terhasut? Kau pikir kau akan berhasil mengadu dombakan aku dengannya?" ujar Noah sedikit lagi pintu itu terbuka.


"Benar! Aku tahu, kau ingin menjebak Nerin!" sambung Manda menendang perut Delsi dengan lututnya. Delsi menjerit, dia pun balas dengan membenturkan kepalanya ke Manda.


Bughh!


Ahhhhhh.....


Kali ini Manda yang jatuh tersungkur ke belakang. Kesempatan bagi Delsi mengambil pisau dan menikam Manda yang mencoba untuk berdiri.


"Kau layak mati di tanganku, Sheila!!!"


Manda reflek memalingkan wajahnya ke samping mencoba menghindari tindakan Delsi yang ingin menusuk kepalanya. Namun sedetik kemudian langsung dihentikan oleh Noah. Pisau itu terlepar hingga tertancap ke pintu kamar kecil yang sangat jauh darinya. Noah yang gesit menendang tangan Delsi barusan sebelum pisau itu tertancap di puncak kepala Manda.


"Bajingan kau!!!"


Bruaaak!


Ahhhh...


Delsi terhempas setelah menerima tendangan ke perutnya. Dia jatuh mencium lantai dan cukup terbentur hingga darah mengalir dari atas keningnya. Noah membantu Manda berdiri namun Delsi yang kecewa dengan hadirnya Noah langsung berlari mengambil pisau dan ingin menikamnya dari belakang.


"Matilah kalian berdua!!!" Delsi dengan ancang-ancang mengayungkan pisaunya dan seketika Manda berteriak histeris.


"Awaaaasss, Rangga!"


Jlebb!

__ADS_1


Manda membola hebat setelah menerima benda tajam itu menembus kulitnya.


"Mandaaa!"


__ADS_2