Istri Reinkarnasi, CEO Kejam

Istri Reinkarnasi, CEO Kejam
Bab 28 : Maafkan Rein


__ADS_3

Sementara di sisi lain, nampak Manda sedang duduk di dekat jendela seorang diri. Manda sedang merenung, sangat jelas terlihat dari raut wajahnya, ia lagi memikirkan anak ketiganya yang dikatakan sudah meninggal oleh Dokter.


"Apa mungkin Dokter saat itu berbohong padaku?" gumam Manda menunduk. Dalam ingatannya, suara bayi ketiganya masih tersimpan di dalam kepalanya.


Manda menyeka air mata yang tertahan di pelepuk matanya. Ia sedang sedih mengingat dirinya bertaruh nyawa saat melahirkan tiga bayi kembarnya. Meski dilakukan secara cesar, rasa ketakutan itu masih terngiang-ngiang. Namun Manda sedikit merasa lega karena dua bayi yang dia lahirkan sehat semua, kecuali bayi ketiganya yang dinyatakan meninggal.


"Huft, jika benar yang dikatakan Rein. Itu artinya bisa saja ada orang yang sudah lama mengawasiku di luar negeri hingga ia bersekongkol dengan Dokter saat itu," batin Manda menyentuh perutnya, mengelus bagian yang dicesar oleh Dokter.


"Tapi... siapa yang telah merencanakan ini?" lanjut Manda menyentuh dagunya. Karena aksi kaburnya malam itu, Manda cuma bisa bertahan dengan mengandalkan diri dan pikirannya. Ia sudah tak peduli lagi, bagaimana kelanjutan kisah ini. Yang jelas dapat bertahan bersama anak-anaknya.


"Saat aku kabur dari rumah, tidak ada siapa pun yang melihatku. Apa jangan-jangan Delsi? Apa mungkin dia pernah melihatku hingga selama ini diam-diam mengawasiku?" pikir Manda berdiri kemudian mondar-mandir menyentuh dagunya.


"Jika memang Rain ini benar-benar ada dan mirip dengan Rein, itu artinya Delsi sekarang Ibunya dari Rain. Apa jangan-jangan ia melakukan ini untuk menjadi istrinya Rafa?"


"Tapi aku juga tak bisa asal menebak sebelum memastikan anak yang bernama Rain, ini."


Manda duduk lagi kemudian berpikir keras, mencoba memecahkannya sendiri. Sedangkan Rein dan Rara saling melempar pandangan. Keduanya sedang mengintip dari balik pintu.


"Kak Rein, ada apa dengan Mommy? Kenapa tiba-tiba murung begitu?" tanya Rara berdiri normal mengehentikan aksi mengintipnya.


"Bentar, mungkin Mommy lagi memikirkan ucapanku tadi," tebak Rein berdiri sambil menyentuh dagunya.


"Aku jadi tidak sabar ingin tahu siapa Rain ini, pasti dia mirip sekali denganmu, Kak Rein." Rara ikut menyentuh dagunya. Tiba-tiba saja seseorang mendeham dari belakang mereka. Rein dan Rara terperanjat segera berbalik. Seketika Rara memeluknya.


"Mommy, ada apa denganmu?" tanya Rara dan Rain kompak. Manda tertawa kecil, ia pun mengelus kepala Rara dan Rein lalu menjawab : "Mommy harus keluar sebentar, perusahaan tempat Mommy kerja menghubungi Mommy. Kalian tidak masalah kan tinggal di sini?" balas Manda bertanya.


"Mommy tenang saja, di sini ada Paman Toby yang akan menemani kami."


Manda pun mencium kepala Rara dan Rein kemudian pergi dari mansion Rafa. Ia naik taksi menuju ke perusahaan GRUP SANG. Manda mendapatkan panggilan dari Direktur Song. Setelah kepergian Manda, tiba-tiba mobil Rafa sudah datang. Rafa turun segera berjalan masuk ke dalam mansion. Namun tak ada Manda yang dia temukan. Rafa pun mencarinya lewat pelayan.


"Di mana dia?" tanya Rafa pada pelayan.

__ADS_1


"Nona Shei baru saja keluar, Tuan," jawab pelayan itu.


"Apa? Shei keluar?" kaget Rafa.


"Benar, Tuan,"


"Lalu di mana anak-anak?" tanya Rafa mencari Rara dan Rein.


"Anak-anak ada di ruang belajar, Pak Toby membawa mereka ke sana."


Rafa pun berlari menaiki anak tangga, ingin berjumpa dengan Rein dan Rara dulu. Setelah masuk ke ruang belajar, terlihat si kembar sedang melihat-lihat rak lemari yang dipenuhi banyak buku. Rafa segera memanggil Rara.


"Rara!" Rara menoleh ke suara teriakan. Rara tersenyum lalu berlari. Tidak seperti Rein yang berjalan santai menghampiri Rafa diikuti Pak Toby.


"Daddy! Kenapa baru pulang?" tanya Rara memeluk ayahnya dan mendongak ke atas. Rafa pun berjongkok di depan Rara sambil mencubit pipi putrinya. Rafa percaya seratus persen Rara dan Rain adalah putranya. Hasil tes DNA sangat cepat keluar tanpa harus menunggu waktu lama. Kini di tangan Rafa ada secarik kertas kemudian memperlihatkannya ke Rein.


"Rain bisa baca?" tanya Rafa melihat putranya yang menatapnya dingin.


"Kalau begitu Rain bisa baca ini?" tanya Rafa memberinya hasil tes DNA. Rain melirik kertas itu kemudian berkata : "Untuk apa Rain harus baca? Memangnya ini penting?" tanya Rain sangat datar. Rara yang melihatnya jadi greget. Sedangkan Pak Toby yang sudah tahu identitas si kembar cuma geleng-geleng kepala dan ia merasa sikap Rein sangat beda dengan Rain. Namun yang membuatnya tanda tanya adalah mengapa wajah Rein dan Rain sama.


"Baca saja, setelah Rein baca pasti akan percaya." Rafa tersenyum sedikit mencoba ingin mengambil perhatian Rein.


"Baiklah," ucap Rein mengambil dan segera membacanya. Seketika keningnya mengerut kemudian mellihat Rara dan Rafa bergantian.


"Apa ini asli?" tanya Rein memastikan. Rafa pun mengangguk lalu berkata : "Itu 100% asli dari rumah sakit ternama di kota ini, mana mungkin Dokter melakukan kesalahan," jawab Rafa berdiri.


"Tapi bisa juga ini dipalsukan," lanjut Rein masih belum percaya. Rein agak takut karena Rafa nampak lelaki yang galak jadi Rein belum bisa menyakinkan dirinya.


"Ih kak Rein, Daddy itu ayah kita. Dia mana mungkin memalsukannya. Terus Mommy sudah beritahu pada kita." Rara merebut kertas itu lalu memberinya pada Rafa.


"Nih Daddy, Rara sangat percaya sama Daddy," kata Rara memeluk Rafa lagi. 

__ADS_1


"Haha, kamu memang mudah cepat mengerti." Rafa tertawa geli dengan tingkah Rara. Rafa melirik Rein kemudian mengulurkan dua tangannya, meminta Rain ikut memeluknya. Rein masih belum bergerak, dia sedikit gengsi.


"Rein...." panggil Rafa tersenyum. Melihat ekspresi Rafa yang serius padanya, Rein pun memeluk Rafa kemudian menyembunyikan wajahnya. Ia mulai menangis.


"Maaf, Daddy. Maafkan Rein sudah ejek Daddy tadi pagi. Rein sangat senang bisa ketemu sama Daddy. Berjanjilah, Daddy jangan pergi dari kita." Rein terisak, dia segera menghapus air matanya. Bocah cilik ini menunduk di depan Rafa. Melihatnya benar-benar menangis, Rafa berlutut di depan Rein kemudian memeluknya. Mencoba menenangkan Rein. Bocah dingin ini akhirnya luluh juga. Rara menyeka air matanya juga, dia terharu melihat ayah dan kakaknya baikkan.


"Daddy janji, sekarang jangan menangis," ucap Rafa berdiri. Rein mengangguk mengerti kemudian tersenyum sedikit.


"Hihi, kak Rein kalau nangis jelek." Rara tertawa meledeknya.


"Ish, apa kamu bilang!" kesal Rein berkacak pinggang sembari melototi Rara. Rara segera sembunyi di belakang Rafa dan masih meledek Rein.


"Ahaha, sudah... sudah jangan bertengkar. Sekarang-" ucap Rafa berhenti tertawa lalu menoleh ke pak Toby.


"Pak Toby," lanjut Rafa bicara pada asistennya.


"Ya Tuan, ada apa?" tanya pak Toby.


"Kamu bawa anak-anakku ke dapur. Berikan semua cemilan yang ada di dalam lemari dan siapkan untuk makan siang secepat mungkin! Tidak akan lama lagi, putraku Rain akan ke sini,"


"Baik Tuan, mari ikut saya,"


"Oh tunggu dulu," tahan Rafa.


"Ada apa Daddy?" tanya Rara dan Rein bersamaan.


"Di mana Mommy kalian pergi tadi?"


"Tadi Mommy keluar pergi kerja, Daddy," jawab Rara begitu bersemangat.


"Ahaha, baiklah. Kalian pergilah ke dapur bersama Pak Toby dan nanti kalian baik-baik bertemu sama Rain bila dia ke sini." Rara dan Rein mengerti, keduanya pun mengikuti Pak Toby. Dalam benak si kembar sudah tidak sabar untuk melihat Rain akan datang.

__ADS_1


"Huft," Rafa membuang nafas, ia sedikit lega sudah menyakinkan Rein. Sekarang, Rafa perlu tanya ke Manda soal anak. Rafa pun keluar lagi menuju ke perusahaan Group SANG. Mencari ibu dari anak-anaknya.


__ADS_2