
Dalam perjalanan pulang, suasana di dalam mobil sedikit canggung. Rein yang duduk di kursi belakang jadi agak aneh pada dua orang tuanya yang terdiam satu sama lain. Benar-benar tidak ada obrolan sama sekali. Itu karena keduanya sibuk dalam pikiran masing-masing. Rafa yang menyetir sedang memikirkan mantan Manda yaitu Rangga. Sedangkan Manda memikirkan ucapan Ny. Marina yang pastinya dalang dari kematian Ny. Charlotte.
Untuk mencairkan suasana ini, Rein pun mendehem.
"Ekhm, bagaimana kalau kita jemput Rara sama Rain sekarang, Mom?" usul Rein melihat Ibunya yang diam duduk di dekat Rafa.
Manda pun melihat jam di ponselnya yang sudah pukul 10.45 pagi. Ini masih jam pelajaran untuk adik-adik Rein.
"Adikmu masih belajar, nanti kita jemput. Lebih baik kita ke rumah sakit dulu," ucap Manda menoleh ke belakang untuk melihat Rein.
"Rumah sakit? Untuk apa kamu datang ke sana?" tanya Rafa melihatnya kemudian melihat ke depan.
"Untuk me-"
"Melihat Ibu tirimu?" tebak Rafa memutuskannya.
"Bukan,"
"Terus?" Rafa mengernyit heran.
"Mau cek Rein sebentar, siapa tahu Rein sakit beneran kan?" Manda menoleh lagi ke Rein.
"Tidak usah Mommy, Rein sudah benar-benar sehat." Rein bersikeras menolak pergi ke rumah sakit. Manda pun terpaksa menerima tolakan Rein. Sedangkan Rafa cuma bisa geleng-geleng kepala dengan Rein yang punya sifat keras kepala.
"Ya sudah, lebih baik-" ucap Rafa berhenti setelah suara notif pesan tiba-tiba masuk. Rafa pun segera mengeceknya, ternyata itu dari Rain.
"Daddy tolong jemput kami, penjaga yang mengawal kami sudah pulang, dia pergi melihat Ibunya yang sakit. Jadi kami cuma nunggu di depan sekolah. Hari ini kami pulang lebih awal. Daddy ke sini ya."
Itulah isi pesan Rafa dari putra bungsunya.
"Ada apa?" tanya Manda penasaran setelah melihat Rafa terdiam.
__ADS_1
"Rara dan Rain menyuruhku menjemput mereka, sekarang ini mereka sudah pulang. Jadi kita ke sana jemput anak-anak dulu," jawab Rafa sambil perlahan mengelus kepala Manda hingga wanita ini pun mengiyakan kemudian tersipu sedikit.
Rein yang melihat kelembutan ayahnya pada Manda cuma diam menonton dari kursi belakang. Mobil pun melaju ke sekolah si kembar sekarang juga.
Benar, setelah sampai di sekolah dua anaknya sudah berdiri menunggu kedatangan Rafa. Rara dan Rain berlomba membuka pintu lalu masuk ke dalam mobil kemudian duduk manis di dekat Rein membuat kakaknya jadi dihimpit. Tapi Rara dan Rain menjadi heran melihat Ibu dan Rein berada di dalam mobil.
"Mommy sama Kak Rein kenapa ada di sini juga, Daddy?" tanya Rara yang ingin tahu.
"Katanya Rein sakit, tapi kok keluar dari rumah?" lanjut Rain ikut bertanya juga. Saat ingin menjawab dua anaknya, Rein dengan cepat menjawab adiknya.
"Kita habis dari rumah sakit cek kesehatanku," ucap Rein datar dan memberi alasan. Manda dan Rafa terkejut bersama mendengar Rein membohongi adiknya. Tapi keduanya paham karena jika Rein berkata jujur habis dari kantor polisi nanti dua adiknya bertanya terus hingga tak kelar-kelar.
"Oooh, pantesan." Rara dan Rain sedikit jengkel dengan nada bicara Rein yang datar. Melihat ekspresi dua anaknya dari kaca spion, Rafa dan Manda cuma menahan tawa.
"Oh ya, kenapa bisa pulang lebih awal?" tanya Rein kembali mencairkan suasana.
"Katanya ada guru baru datang untuk mengajar besok jadi guru-guru pada rapat dan menyuruh kita pulang deh," jawab Rara mencoba ingat pengumuman di sekolah.
"Guru baru?" ucap Rein melihat Rara dan Rain.
"Wah, siapa namanya Rara?" sahut Manda bertanya karena saking penasaran juga.
"Namanya Nerin Beatrice, bu guru tadi kasih fotonya ke kita, Mom. Guru baru itu dari luar negeri dan mau mengajar di sekolah kita besok. Rara jadi pengen tahu bagaimana guru ini besok, Mom." Rara menjelaskan dengan ekspresi senang. Tidak seperti Rafa yang tidak asing dengan satu nama ini. Manda cuma bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Rara. Sedangkan dua putranya memainkan game di dekat Rara. Maklum, semenjak Rain dan Rein kumpul, kedua bocah lelaki ini sibuk bermain game bersama hingga Rara dicuekin gitu saja.
"Oh ya, kapan kamu akan mengajariku menyetir mobil?" tanya Manda pada Rafa yang dari tadi diam. Rafa belum menjawab karena isi kepalanya sekarang penuh dengan tanda tanya soal Nerin.
"Raf, kenapa diam saja?" tanya Manda lagi sambil menyentuh lengan Rafa membuat lelaki ini terkejut menerima sentuhan itu.
"Astaga, maaf. Tadi kamu tanya apa?" ucap Rafa tanya balik.
"Aduh, kamu lagi mikirin apa sampai diam begini?" tanya Manda lagi.
__ADS_1
"Itu, mikirin perusahaan," jawab Rafa akhirnya bohong.
"Oh begitu ya, kalau begini lebih baik kamu balik saja deh ke kantor, soal ajari aku nyetir mobil nanti aku nyuruh orang lain," ucap Manda sedikit kecewa. Rafa yang mendengarnya pun terkejut, pikirannya tertuju lagi pada Rangga.
"Eh jangan begitu, aku sendiri nanti yang akan mengajarimu, jadi tidak usah sedih," ucap Rafa menyentuh tangan Manda sambil tersenyum.
"Hm, kalau sudah bawa anak pulang ke rumah, kamu mau ajari aku?"
"Ya, kita nanti ke tempat pelabuhan supaya kamu bisa luas belajar menyetir di sana," setuju Rafa sambil tersenyum.
"Hm, terima kasih suamiku." Manda berkata manis dan diiringi senyumannya. Keduanya pun saling berpegang tangan bersama membuat mata ketiga anaknya jadi saling bertatapan melihat kerukunan orang tua mereka makin erat. Rara di sana cuma senyum-senyum sendiri.
Setelah mengantar ketiga anaknya pulang ke rumah Tuan Damian, rupanya Delsi dan Tuan Damian masih berada di rumah sakit untuk menjaga Ny. Marina. Padahal Tuan Damian ingin sekali pulang untuk mengecek CCTV tapi Delsi mencegatnya dan berkata kalau soal ini biar Delsi yang mengurusnya. Akhirnya Tuan Damian pun cuma bisa setia menemani istrinya ini. Dari raut wajah Delsi, ia sedang memendam kekesalan pada Manda. Kesal karena rekaman CCTV sudah dihapus, padahal Delsi ingin tau kenapa sup Delsi yang disimpan bisa meracuni Ny. Marina.
Sekarang di tempat luas dan terbuka dekat kawasan pelabuhan, mobil Rafa berhenti. Manda dan Rafa keluar untuk berganti tempat duduk. Manda duduk ke tempat penyetiran sedangkan Rafa duduk di dekatnya untuk mengawasi Manda.
Pertama Manda diajari untuk menyala mesin lalu mengontrol stir mobil dan akhirnya Manda perlahan bisa. Tawa dan jeritan Manda kadang membuat Rafa kesal, namun ini sangat menyenangkan bisa mengajari istri sendiri. Tapi Manda yang kurang fokus hampir menabrak seseorang yang ingin menyebrang, untung saja Rafa mengambil alih stir mobil hingga terhindar darinya. Manda pun ketakutan setelah orang itu jatuh ke jalan. Manda segera keluar untuk melihat orang itu dan diikuti Rafa yang menyusul keluar juga.
"Nona, anda baik-baik saja?" tanya Manda mengulurkan tangan pada wanita yang duduk di depannya. Wanita itu diam sejenak sambil melihat Manda seksama. Beberapa detik pun ia menerima uluran itu lalu berdiri tegak di depan Manda.
"Saya baik-baik saja Nona, maaf sudah membuat kalian panik," ucapnya sopan dan tersenyum dibalik maksernya. Manda sontak menarik tangannya, ia merasa tidak familiar dengan suara wanita di depannya.
"Maaf Nona, harusnya saya yang minta maaf. Tapi anda siapa ya? Nama anda siapa?" tanya Manda di dekat Rafa yang baru berdiri di sampingnya. Wanita itu pun menjawab sambil membuka maskernya di depan Manda dan Rafa.
"Saya Nerin Beartice, senang bertemu dengan anda, Nona Sheila dan Presdir Rafandra." Nerin tersenyum manis di depan keduanya. Setelah mendengarnya, Rafa dan Manda terkejut melihat wanita itu adalah orang yang sangat dikenalnya.
Manda terkejut karena Nerin mirip dengan wanita yang merebut mantannya di dunia nyata, sedangkan Rafa terkejut karena bertemu mantannya di waktu ia kuliah dulu sebelum mengenal Sheila. Itu artinya Nerin adalah Mantan suaminya yang mirip dengan wanita perebut pacarnya di dunia nyata.
Ketiganya yang sibuk saling bertatapan, tak sadar satu mobil lain lewat dan tiba-tiba berhenti lalu mundur sedikit mendekati mereka. Jendela mobil itu pun terbuka kemudian pemilik mobil membuka kacamatanya, ia terkejut menjumpai tiga orang yang dia kenal.
"Loh kok kalian kumpul di sini? Terus kenapa Nerin ada di sini juga?" Ia menunjuk Manda, Rafa dan Nerin. Manda menoleh, sontak Manda tercengang melihat Noah menampakan dirinya juga. Keempatnya saling bertatapan, tak seperti Manda yang mengerjap-ngerjapkan matanya berkali-kali, berpikir mungkin dia salah lihat, tapi inilah kenyataannya.
__ADS_1
____
Eaak ketemu mantan tuh wkwk