
"Mommy!"
Rara berteriak melihat Manda masuk ke dalam mansion. Dua bocah laki-lakinya yang duduk bersama Ny. Mira segera menoleh. Manda tertawa kecil disambut ceria oleh putrinya.
"Mommy kenapa baru datang ke sini? Apa Mommy sibuk?" tanya Rara menarik Manda duduk bersama.
"Itu-itu, Mommy capek, sayang."
Ny. Mira yang mendengarnya cuma menahan tawa. Ia tahu, pasti gara-gara perbuatan Rafa.
"Terus di mana Rafa? Apa kamu datang sendirian?" tanya Ny. Mira padanya.
"Ayah anak-anak sedang melakukan konferensi pers. Mungkin masih sibuk jadi aku datang sendirian di sini, Mi," jawab Manda gugup berhadapan dengan mertuanya.
"Pantas saja kemarin dia buru-buru ingin bertemu ayahnya, ternyata dia melakukannya khusus untuk kalian." Ny. Mira membelai rambut dua cucu kembarnya.
"Eh, jadi Rafa datang ke sini?" Manda terkejut. Rasanya, Rafa selalu di sampingnya.
"Hihi, Mommy seperti habis dari luar negeri sampai-sampai tidak tahu Daddy ke sini," tawa Rara cekikikan.
"Daddy kalian benaran datang ke sini?" tanya Manda memastikan.
"Itu benar Mommy." Dua bocah lelakinya menyahut bersamaan.
"Pfft, aku pasti terlalu lelah sampai tidak menyadarinya." Manda tertawa kecil, kemudian mengobrol bersama ibu mertua dan anak-anaknya sebentar.
"Jadi kamu mau ke rumah ayahmu?" tanya Ny. Mira pada Manda. Ia berdiri di depan pintu sambil melihat menantu dan cucu-cucunya.
"Benar, Mi. Anak-anak juga perlu mengunjungi kakek dan Neneknya. Kalian mau kan pergi sama Mommy?" Manda melihat ketiga anaknya.
"Hm, kami juga ingin bertemu Nenek Marina." Rain menjawab diikuti anggukan Rara. Sedangkan Rein sedang berpikir keras. "Apa dia baik, Mommy?" tanya Rein was-was pada satu nama ini.
"Kalian akan tahu setelah kalian bertemu dengannya," jawab Manda mengelus kepala Rein.
"Ya sudah, kalian hati-hati di jalan."
"Dadah, Oma!" lambai Rara diikuti Rain. Manda tersenyum segera naik ke mobil. Ny. Mira yang berdiri cuma geleng-geleng kepala melihat mereka pergi menggunakan mobil khusus mengawal menantu dan cucunya.
"Mommy, kenapa Nenek Marina tidak datang waktu itu?" Lagi-lagi Rein bertanya. Ia sangat penasaran dengan Ny. Marina.
"Apa dia tidak menyukai Mommy?" tebak Rain membuat Manda terkejut.
"Apa dia jahat pada Mommy?" kali ini Rara yang menebaknya.
"Ahaha, kalian penasaran sama dia?" tawa Manda merasa anak-anaknya seperti detektif yang sedang mengintrogasinya.
"Tentu saja Mommy, dia sangat mencurigakan. Harusnya, dia sebagai Ibunya Mommy datang melihat kita," ucap Rein sedikit kesal merasa Ny. Marina tidak peduli dengan Ibunya.
"Pfft... dia bukan Ibunya Mommy,"
"Apa?" ketiga anaknya tersentak kaget.
"Terus, dia siapa?" lagi-lagi bertanya bersamaan.
"Dia itu, ibu tiri Mommy. Dia sangat licik, dia jahat. Bahkan, dia ingin Mommy mati."
Deg! Ketiga anak kembarnya terkejut lagi.
__ADS_1
"Serius Mommy?" tanya ketiganya lagi.
"Ahaha, bercanda. Kalian jangan pikirkan, sekarang duduk baik-baik, jangan bertanya lagi!" ucap Manda menegaskan.
"Baik Mommy," ucap Rara paham. Namun ini membuat ketiga anak kembar tambah penasaran dengan Ny. Marina.
"Aku yakin, Mommy pasti ditindas olehnya. Kita harus bantu Mommy, dia tidak boleh menindas Mommy lagi!" Ketiga anak kembar Manda sepakat untuk memberi pelajaran pada Ny. Marina. Mereka yakin, Manda tidaklah bercanda.
"Huft, sekarang apa lagi yang akan aku hadapi?" pikir Manda sedikit was-was bertemu Ny. Marina. Dia cemas, anak-anaknya disakiti oleh wanita ini, apalagi Delsi yang sangat membencinya.
Tak lama kemudian, mobil mereka berhenti juga. Manda menyuruh pak supir untuk pulang ke mansion. Setelah itu, ketiga anaknya dituntun masuk ke rumah besar di depannya.
"Mommy, apa Mommy lahir di rumah ini?" tanya Rara menunjuk ke pintu di depannya.
"Benar sayang, ini rumah nenek Charlotte, Ibu kandung Mommy," jawab Manda tersenyum.
"Terus, kemana Nenek itu?" sahut Rain penasaran.
"Itu, nenek kalian..." Manda menunduk, ia juga bingung menjelaskannya.
"Dia pasti sudah meninggal ya, Mom?" tebak Rein tahu dari ekspresi sedih Manda.
"Be-benar, sekarang kita masuk. Kalian pasti akan senang melihat isi rumah ini." Manda membuka pintu di depannya. Seketika, ia berpapasan dengan Delsi yang mau keluar.
"Kamu? Beraninya membawa tiga anakmu ke rumahku!" bentak Delsi merasa kesal berhadapan dengan Manda.
"Bibi tua, ini kan rumah Ibuku, kenapa kamu yang marah?" Rein maju menunjuknya. Dia tidak takut sama sekali.
"Eh, bocah ingusan! Rumah ini sudah jatuh ke tangan Ibuku. Ibu kalian ini bukan lagi bagian dari keluarga William. Kalian pergilah, jangan mengemis ke rumah ini," usir Delsi balas menunjuk mereka. Manda sontak meraih tangan Delsi, mencengkram tangan wanita di depannya.
"Auw, kamu ingin mematahkan tanganku, Shei!" ujar Delsi menghempaskan tangan itu.
"Bukan cuma tanganmu, tapi semua yang ada padamu akan aku patahkan sampai tidak ada yang tersisa. Sekarang menyingkirlah, aku ingin menemui ayahku!" Manda menyenggol Delsi. Tiga anaknya menertawai Delsi yang emosi.
"Pft, Bibi tua jangan marah ya, ahaha." Delsi makin emosi, ia cepat menghubungi Ny. Marina yang sedang keluar.
"Mama, cepatlah pulang. Anak sial itu datang membawa tiga anak bodohnya!"
"Apa? Kenapa kamu tidak mengusirnya!"
"Dia sangat berani padaku, Ma. Dia sudah benar-benar berbeda,"
"Ya sudah, awasi dia. Mama akan segera pulang."
Tuut!
Setelah panggilan berkahir, Delsi buru-buru menyusul Manda. Namun ia terkejut melihat Manda sudah berhadapan dengan Tuan Damian. Bahkan makin terkejut Tuan Damian memperbolehkan Manda dan anak-anaknya tinggal.
"Tunggu dulu, ada apa ini Pah? Kenapa mengizinkan Sheila tinggal? Bukannya ada mansion Rafa yang bisa dia tinggali?" Delsi maju mendekati mereka.
"Delsi, aku dan anak-anak tinggal di sini tidak ada masalah sama sekali dengan mu. Kenapa kamu begitu marah? Apa kamu tidak menyukai cucu-cucu Papa?" Manda maju menghadapinya.
"Ck, Pah! Aku tidak mau dia tinggal di sini! Anak-anaknya akan menyusahkan kita," ujar Delsi menunjuk geram pada tiga anak kembar. Rara terkejut dibentak-bentak, dia pun memeluk Tuan Damian.
"His, Kakek. Rara takut, Rara takut. Bibi ini menakuti, Rara."
Tuan Damian murka, ia tidak tega melihat cucu perempuannya menangis.
__ADS_1
"Delsi! Jaga sikapmu di rumah ini. Dia adalah keponakanmu, minta maaflah sekarang juga!" ujar Tuan Damian menunjuk Delsi.
"Untuk apa? Anak ini hanyalah anak har-"
Plak! Tuan Damian menampar Delsi di depan Manda dan cucu-cucunya. Tuan Damian emosi mendengar ucapan anak sulungnya yang mau menghina Rara.
"Pergilah ke kamarmu sekarang juga! Renungkan perbuatanmu!" ujar Tuan Damian menatap tajam. Delsi berdecak sambil menyentuh pipinya yang sakit. Dia pun mendekati Manda lalu berkata dengan dingin.
"Kamu boleh puas tinggal di sini, tapi jangan harap anak-anakmu bisa bahagia tinggal di rumahku," bisik Delsi pergi menaiki tangga. "Pfft, bibi tua itu pantas mendapatkannya." Ketiga anak kembar Manda saling melempar senyuman picik.
"Huft, dia pasti akan melakukan cara untuk mengusirku. Tapi rumah ini pantas aku dapatkan untuk masa depan anak-anakku juga. Aku juga harus tahu, mengapa Ibu Sheila bisa meninggal. Apa dia diracuni oleh Ny. Marina atau Delsi?" pikir Manda harus berhati-hati menjaga anak-anaknya.
"Sekarang mari kita makan siang bersama. Kalian harus makan bersama Kakek," ajak Tn. Damian pada anak dan cucunya.
"Kalian makanlah dulu, aku masih kenyang makan di luar tadi." Akhirnya Tuan Damian cuma membawa tiga cucunya ke dapur. Sedangkan Manda melihat ke atas, melihat kamar Delsi. "Aku harus berhati-hati padannya," Manda pun berjalan duduk ke sofa. Baru juga beberapa menit duduk, seketika Ny. Marina datang dari luar.
"Anak sial, beraninya kamu datang ke sini lagi!" Ny. Marina meneriakinya. Manda memutar bola mata malas, "Satu kecoa muncul lagi," gumam Manda duduk di sofa, ia sangat santai di depan Ny. Marina yang sedang emosi.
"Ini rumahku juga, aku pantas datang ke sini, Mama," lanjut Manda tersenyum manis.
"Ck, kamu bukan anakku! Ibumu sudah lama meninggal, jangan berani ya kamu padaku!" murka Ny. Marina. Manda berdiri, lalu tertawa kecil.
"Kamu memang bukan Ibuku, Ny. Marina. Dan aku tahu, kamu ini dari dulu adalah wanita licik," kata Manda berdiri mendekatinya, lalu menghembus nafas berat.
"Huft, aku sangat kesihan pada Ibuku, dia pasti sangat menderita sudah dibohongi oleh kalian dulu. Demi merebut harta ibuku, anda rela membiarkan suami anda menikah dengan wanita lain. Apa di mata anda cuma ada uang hingga membunuh ibuku, Ny. Marina?" tebak Manda menyeringai. Ia tahu pasti, Ny. Marina yang membunuhnya. Tapi Manda harus mencari bukti untuk memenjarakan Ny. Marina.
"Ahaha, kamu berani menunduhku?" Ny. Marina yang tadi terkejut, malah tertawa lepas. Manda mengernyit heran.
"Ya tentu saja, anda itu wanita gila harta. Setelah anda masuk ke keluarga Ibuku, Ibuku malah meninggal karena kehadiran anda,"
"Ahahaha... aku? Gara-gara aku, Ibumu meninggal? Hei Shei, Ibumu meninggal karena bunuh diri. Dia kecewa hingga gantung diri karena ulahnya sendiri. Dia wanita yang menyedihkan, bodoh karena cinta."
Plak! Manda geram, bisa-bisanya Ny. Marina menghina bodoh Ny. Charlotte dan mengatakan gantung diri. Ny. Marina pun ikut geram tak sangka menerima tamparan dari Manda.
"Ck, aku pasti akan menjerumus anda ke penjara. Aku yakin, anda yang membunuhnya!" cekik Manda ke leher Ny. Marina.
"Argh, ka-kamu mau membunuhku, lepaskan aku!" ronta Ny. Marina kesakitan. Karena ada pelayan yang tiba-tiba datang, Manda pun melepaskan tangannya kemudian berbisik.
"Tunggu saja, aku akan membuat anda menderita di rumah ini hingga anda sendiri yang minta untuk mati, Nyonya Marina."
Pak! Manda menepuk bahu Ny. Marina. Ia pergi ke arah dapur. "Dia sangat berbeda, apa dia sungguh ingin membunuhku?" Ny. Marina segera naik untuk bicara pada putrinya. Ia sangat takut setelah diintimidasi oleh Manda.
___
Selesai baca, mohon tinggalkan :
+Like
+Komen
+Hadiah
+Vote
Terima kasih Mommy ^^
Oke guys, sebenarnya... judul aslinya ini Hello Baby CEO. Tapi author ubah karena tokoh utamanya adalah Manda. Hehehe... ku harap kalian menyukai cerita ini. Cerita ini cuma iseng-iseng aku buat, bukan cuma untuk menghibur kalian saja, tapi untuk menghiburku juga. Maaf ya bila ada kekurangan.
__ADS_1