
Suasana makin berisik, Valen yang tampil di panggung disorak oleh penggemarnya. Mereka memuji dance dan suara indah Valen. Mereka terhibur dengan penampilan Valen. Setelah menyelesaikan lirik lagunya terakhir, Valen tersenyum tipis mendengar sorakan mereka. Ia sangat diidolakan oleh para anak remaja.
Valen turun dari panggung, ia lelah tapi ini sangat menyenangkan. Berkat popularitasnya yang makin naik, Valen perlahan terkenal di kota. Apalagi semuanya sudah tahu jika ia istri dari CEO Rafandra yang juga dikagumi oleh kaum wanita.
"Wah wah, tidak sangka Nona Valen makin populer. Semuanya masih bersorak meminta penampilan dari Nona," puji asistennya yang berdiri sambil mengipasi Valen yang duduk di sofa.
"Hm, tentu saja. Tak ada yang lebih hebat dariku. Mereka semua mengidolakan aku." Valen meminum salah satu boba di atas mejanya.
Valen sangat gerah, tapi tiba-tiba ia teringat untuk pulang ke mansion Tn. Alkazein. Valen ingin bertanya ke Rain ke mana bocah ini pergi kemarin.
"Ghe, kita pergi sekarang. Aku ingin menemui bocah ini di rumah Oma Liana. Sepertinya, aku harus membawanya pulang bersamaku," Valen berdiri mulai siap-siap.
"Maksud Nona, Tuan Rain ingin dibawa ke rumah ayah Nona?" tanya asistennya berjalan di samping Valen.
"Benar, Rain mulai hari ini tinggal bersamaku. Jika dia tinggal terus menerus di rumah Noah, aku takut mandapat resiko besar. Aku cemas pada anak ini yang bisa saja pergi dariku."
Valen masuk ke dalam mobil pribadinya, ia melewati jalan pintas agar penggemarnya tidak menemukannya. Asisten Ghe mengerti majikannya ini. Meski dia tahu satu hal tapi dia sangat setia pada Valen. Karena dia takut diancam oleh anak mafia ini bila membocorkan rahasia Valen.
Mobil Valen pun melaju ke Mansion Tn. Alkazein, namun di tengah jalan Valen tak sengaja melihat sekilas mobil Rafandra melewatinya hingga ia menengok ke belakang. Benar, plat mobil itu milik mobil Rafandra. Valen sangat ingat. Hatinya mulai resah dan segera meminta pada pak supir untuk memutar arah.
"Pak! Segera putar balik, ikuti mobil yang barusan lewat itu," titah Valen cemas, ia gelisah karena kaca mobil tertutup rapat-rapat.
"Baik Nona," Pak Supir paham segera mengikuti mobil Rafa.
"Arghh, beraninya dia melewatiku barusan! Apa dia sengaja tidak melihat mobilku ini, Rafa!" decak Valen marah sambil menepuk kaca mobil di dekatnya. Ini membuat asisten dan pak supir berkeringat dingin mendengar kemarahan Valen.
Benar mobil Rafa berhenti di gedung dinas pendudukan catatan sipil. Manda yang duduk di dekat Rafa mulai berdebar-debar. "Ya Tuhan, apa ini bagus untukku? Menikahinya akan membuat ku bahagia?" batin Manda takut dan was-was dalam keputusannya.
"Ada apa denganmu? Mengapa kamu ketakutan?" tanya Rafa melepaskan sabuk pengamannya.
"Itu, aku gugup masuk ke sana." Manda menunduk, hatinya masih berdebar-debar. Bahkan nafasnya sedikit sesak. Harusnya dia senang, tapi perasaannya sangat gelisah.
Rafa mendengus merasa Manda wanita yang aneh. Ia pun keluar dari mobil kemudian pergi ke sisi pintu mobil lainnya. Rafa membuka pintu lalu menyuruh Manda keluar dari mobil.
"Sekarang keluarlah, kita harus secepatnya mengurus surat nikah kita."
__ADS_1
Tapi Manda gemeteran, tangannya mati rasa. Melihat Manda yang tidak bergerak sedikitpun, akhirnya Rafa menarik paksa Manda keluar.
"Jangan diam saja, sekarang kita masuk!" titah Rafa menarik Manda.
"Auh-"
"Bisakah kamu lembut sedikit, tanganku masih sakit." Manda meringis pada tangannya yang ditarik paksa.
"Jika aku lembut padamu, kamu akan selalu diam di dalam mobil. Sekarang diamlah, ikuti aku!" Manda tersentak, ia heran kenapa Rafa tiba-tiba marah. Itulah Rafa, dia pria yang tidak sabaran. Dia tidak akan membiarkan kesempatan ini hilang sekejab.
"Tapi aku bisa jalan sendiri! Kamu jangan menarik ku begini, sakit tau!" cetus Manda menahan sakitnya.
"Kamu ini sangat lambat! Bahkan lambat dari siput, jika aku tidak menarikmu, kita tidak akan sampai ke dalam sana!" balas Rafa sedikit membentak. Manda diam, sifat kejam Rafa benar-benar masih ada. Manda kesal diledek lebih lambat dari binatang. "Apa dia masih punya perasaan?" gumam Manda ingin menangis dalam hati.
Sesampainya di dalam, Rafa memberikan berkas untuk akta nikahnya. Keduanya pun berfoto, fotografer heran dengan ekspresi datar mereka.
"Tolong senyum sedikit Tuan dan Nona," suruh fotografer memberi isyarat tangan. Manda melihat Rafa yang cuma cuek saja. Manda pun yang masih kesal akhirnya tersenyum.
Cekrek!
"Kenapa belum tanda tangan? Kamu tidak mau menikah dengan ku?" tanya Rafa menatapnya serius. Manda pun melihat kertas di depannya.
"Baiklah, Manda. Demi anak-anak, kamu harus menikah dengannya." Manda membatin. Ia pun menelan ludah kemudian tanda tangan. Setelah keduanya selesai, tak menunggu lama Manda dan Rafa akhirnya sah menikah menurut hukum. Kini tinggal mengadakan pesta pernikahan mereka.
Manda dan Rafa sore ini keluar dari gedung itu. Setiap langkah kaki Manda cuma menunduk saja. "Sekarang aku benar-benar sudah menikah, harusnya aku senang tapi-" gumam Manda dalam hati melihat Rafa yang berjalan di sampingnya. "Tapi kenapa sama sekali aku tidak senang? Kenapa hatiku tiba-tiba sakit?" lanjutnya berpikir sambil melihat surat nikah di tangannya. Dua nama yang berbeda tertera di surat nikah itu.
"Sheila Arestenty, apa benar aku sudah menjadi dia?" gumam Manda resah dalam hati. Sontak ia terperanjat tiba-tiba tangan Rafa mengelus rambutnya. Manda berhenti segera melihat Rafa yang juga berhenti di dekatnya.
"Ada apa?" tanya Manda menatapnya. Rafa tersenyum, senyumnya aneh. "Kamu baik-baik saja?" lanjut Manda bertanya lagi. Ia deg-degan. Rafa mendekati Manda kemudian menjawab dengan suara kecil.
"Istriku, apa kamu senang menikah denganku?" tanya Rafa ingin tahu. Manda menelan ludah kemudian tersenyum manis. "Ya tentu saja, kamu kan ayah anak-anak. Jadi aku senang dapat menikah dengan mu." Tidak, bukan ini yang ingin di dengar Rafa.
"Auh-sakit!" ringis Manda ditarik lagi dan langsung dipojokkan ke mobil.
"Sheila, apa kamu cuma memikirkan anak-anak saja? Apa kamu tidak mencintaiku? Kenapa alasanmu cuma anak-anak? Kenapa bukan alasan lain yang kamu berikan?" Rafa melontarkan banyak pertanyaan.
__ADS_1
"Apa yang ingin kamu dengar?" tanya Manda menatapnya. Rafa melihat bibir Manda kemudian menyentuhnya lalu berkata : "Jujurlah, apa kamu mencintaiku?" balas Rafa bertanya. Manda menghembus nafas, saat mau menjawab seseorang menyahutnya.
"Dia tidak mencintaimu Rafa! Aku lah yang mencintaimu!"
Deg! Manda terkejut, ia segera melihat ke sumber suara. Manda melihat wanita itu berjalan mendekat dengan ekspresi kesal dan marah. "Siapa dia?" pikir Manda tidak mengenalnya.
"Valen? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Rafa terkejut. Manda yang mendengarnya pun mengenali Valen.
Valen dan asistennya berdiri di depan mereka. Valen mengepal tangan lalu menunjuk Manda.
"Katakan apa hubunganmu dengannya? Kenapa kalian bisa ada di tempat ini, Rafa!" geram Valen, ia tahu Manda adalah Sheila. Rafa meraih tangan Manda lalu menjawab jujur tanpa takut apa-pun. "Dia Sheila, istriku yang sah!"
Asisten itu terkejut mengetahui Rafa menikahi wanita lain. Valen yang geram langsung membentak. "Rafa! Beraninya kamu menikahi dia! Aku yang harusnya kamu nikahi! Dia itu cuma anak sial!" Tunjuk Valen ke Manda.
Plak!
Rafa menepis tangan Valen membuat asisten makin terkejut. Walau tidak terlalu keras, tapi ini membuat Valen marah. Sementara Manda berdiri sedikit ngeri. Meski begitu, dalam hatinya ia kesal di sebut anak sial.
"Valen, beraninya kamu mengatai Sheila! Dia bukan anak sial, kamu benar-benar mengecewakan! Aku senang tidak menikahi wanita yang mulutnya gila sepertimu!" balas Rafa geram. Pertengkaran ini memicu pandangan orang ke arah mereka. Valen yang tak terima langsung menerjang menjambak rambut Manda.
"Dasar sialan! Harusnya aku bunuh kamu saja waktu itu!"
Plak! Manda melawan segera menepis tangan itu, ia balas menjambak rambut Valen.
"Kamulah sialan! Harusnya kamu tahu diri, Rafa tidak mencintaimu! Jangan malah melampiaskan padaku!" balas Manda membentak. Valen semakin kesal dan langsung menatap tajam pada Manda lalu Rafa.
"Aku Ibunya Rain, aku tidak akan biarkan dia tinggal denganmu! Dan kamu Rafa, siap-siaplah! Aku akan beri perhitungan dengan mu!" decak Valen segera pergi sebelum ada yang mengenalinya.
Manda diam di tempat, kepalanya pusing habis dijambak. Tapi mendengar ucapan Valen, ia segera memohon pada Rafa untuk mengambil hasil tes DNA. Manda takut jika Rain adalah putranya, itu artinya ia sangat susah bertemu dengan Rain.
"Rafa, kita harus jemput Rain. Aku takut anak ini jadi bahan pelampiasan wanita tadi."
Rafa memeluk Manda, menenangkannya. "Tenanglah, Oma Liana tidak akan biarkan Rain pergi dari mansionnya. Sekarang kita pulang lihat anak-anak, mereka pasti menunggu kita. Urusan Valen, aku sendiri yang akan datang kepada ayahnya, meminta pembatalan pertunangan ini."
Sekarang Rafa berubah baik lagi membuat Manda cuma menghela nafas, ia mencoba untuk tenang. Manda hanya bisa percaya pada Rafa. Keduanya pun pergi untuk pulang ke mansion. Sedangkan mobil Valen melaju ke rumahnya sendiri.
__ADS_1