Istri Reinkarnasi, CEO Kejam

Istri Reinkarnasi, CEO Kejam
Bab 33 : Sudah Akrab


__ADS_3

Di gudang tua, sedikit jauh dari mansion Rafa. Seorang pelayan wanita mondar mandir di depan pintu gudang itu. Ia sesekali melihat pintu di dekatnya, ia cemas dengan bocah di dalam sana.


"Tuan muda Rain, apa di dalam baik-baik saja?" tanya Bibi pelayan itu bicara lewat lubang pintu gudang.


"Bibi, tetaplah tenang di luar sana, aku cuma ingin bermain dengan mereka."


Deg! Bibi pelayan itu diam mematung, ia sedikit takut karena Rain dikenal anak ceria namun dibalik sikapnya itu terdapat sikap lain yaitu suka melakukan hal aneh. Benar sekali, Rain sekarang duduk sila di depan dua bocah yang sedang terikat akibat ulah darinya. Terlihat Rein dan Rara belum sadar dari efek bius yang berasal dari susu yang diberikan oleh Bibi pelayan tadi. Semua itu disuruh oleh Rain sendiri ketika ia sadar disaat Rein dan Rara duduk menunggu Rafa dan Manda pulang. Dan karena, Rain yang tidak kenal Rara dan Rein, akhirnya Rain bersekongkol dengan Bibi pelayan untuk menjebak Rara dan Rein.


"Hm, siapa mereka berdua? Kenapa bocah satu ini sangat mirip denganku?" pikir Rain bertanya-tanya sambil menunggu Rein dan Rara sadar.


"Umhh...." Rara tiba-tiba perlahan bangun. Sontak Rain berdiri kemudian menatapnya serius.


"Eh, kenapa tanganku terikat?" gumam Rara mencoba lepas.


"Itu karena aku yang mengingkatmu," sahut Rain langsung ditatap oleh Rara.


"Ka-kamu sudah sadar?" kaget Rara, kini ia tahu kalau Rain yang mengikatnya sekarang.


"Ya, tentu saja aku sadar duluan sebelum kalian menyadarinya dan sekarang jawab aku, kenapa kalian berdua bisa ada di rumah Daddy-ku?" tanya Rain mulai mengintrogasi.


"Karena dia juga Daddy kami!" ujar Rara menjawabnya mantap.


"Ha? Mana mungkin Daddy aku punya anak seperti kalian. Penampilan kalian saja terlihat kumuh dan Daddy cuma punya anak satu dan istri Daddy tentunya cuma satu, yaitu Mamaku," jelas Rain mulai berdebat.


"Ish, aku pikir kamu lebih baik dari pada Kak Rein, tapi kamu lebih menyebalkan!" cetus Rara masih mencoba lepas.


"Rein? Jadi bocah di dekatmu namanya Rein?" ucap Rain bertanya sambil menunjuk Rein dengan lipatan koran.


"Ya, dia kakak kembarku. Kami anak-anaknya Daddy, dia ayah kami juga bukan cuma ayahmu saja." Rara sedikit mengamuk ingin lepas.


"Sekarang lepaskan aku, aku akan mengatakan pada Daddy di depanmu, kalau kami anak dia juga," lanjut Rara mulai memberontak di samping Rein yang belum sadar.


"Ahaha... dengar, aku ini anak satu-satunya Daddy ku. Mana mungkin kalian akan diakui olehnya, pasti Ibu kalian ini-"


Pak!


Rara terkejut melihat Rein sadar dan menerjang ke arah Rain. Mengambil lipatan koran dan memukul kepala Rain.


Tuk!


"Dasar bocah ngeselin! Kalau kamu tidak suka pada kami, jangan bawa-bawa Ibu kami dan jangan sekali kamu berniat mengejeknya," geram Rein mencengkram kerah leher Rain. Ia tahu apa yang ingin dilontarkan Rain untuk Manda.


Plak!

__ADS_1


Rain ikut geram segera menepis tangan Rein lalu berkata sinis : "Siapa juga yang mengejek Ibumu? Aku cuma mau bilang, Ibu kalian ini pasti tidak tahu kalau dua anaknya ada di sini lalu datang mengaku sebagai anak Daddy ku. Dan oh ya, bagaimana kamu bisa lepas?" tanya Rain heran melihat Rein dapat lepas dari talinya.


"Aku ogah memberitahumu! Dan dengar baik-baik, kami ini memang anak-anak Daddy, bukan cuma dirimu saja!" ujar Rein mulai ingin berdebat.


"Hei, memangnya kamu ini siapa! Kenapa kamu marah padaku soal Daddy!" balas Rain hingga membentak. Rein melirik sinis kemudian tersenyum miring.


"Aku dan adikku anak yang baik. Kami beruntung punya Ibu yang selalu perhatian pada kami. Dia bersikap lembut pada kami setiap harinya, Ibuku juga cinta pertama Daddy. Bukan Ibumu!" ujar Rein tak mau kalah. Rain diam sejenak, ia memikirkan Valen yang tiap hari begitu ketat mengawasinya dan tak sama sekali memberinya perhatian seorang ibu melainkan seperti iblis.


"Ibuku orang baik, dia baik padaku," ucap Rain berbohong.


"Ahaha, kalau begitu kenapa cuma kamu sendirian yang datang ke sini, ke mana ibumu?" tawa Rein sedikit meledeknya. Rain makin geram ingin mengamuk, tapi seketika Rara berhasil lepas dari tali dan langsung menjewer kuping bocah ini sama-sama.


"Aduh... aduh... Rara, sakit!" ringis Rein diikuti Rain juga.


"Iiih, kalian ini jangan sok debat deh! Aku tidak suka melihat orang bertengkar di depanku. Sekarang kalian harus baikan!" cetus Rara melepaskan jewerannya. Kedua bocah lelaki saling pandang lalu membuang muka.


"Ogah! Aku tidak mau!" tolak Rein.


"Ya, aku juga!" tolak Rain ikutan.


"Iiih, kalian ini kenapa sih. Hanya karena soal Daddy kalian jadi musuhan. Harusnya kalian mikir, kalian berdua punya muka yang sama, mungkin saja kalian berdua saudara kembar," jelas Rara mencoba mencairkan suasana.


"Ha? Saudara kembar? Mana mungkin, aku dari lahir cuma sendirian. Dilahirkan sama Mama Valen," ucap Rain tak mau dengar lagi.


"Tenang dulu, ucapan Kakakku bisa saja benar," tahan Rara sependapat dengan Rein.


"Ha? Kenapa kalian berpikir begitu!" ujar Rain tambah kesal.


"Itu karena, Ibu kita dulu melahirkan tiga anak. Tapi dari tiga anak itu, cuma dua yang bertahan dan kata Dokter, yang satunya meninggal jadi tak bisa diselamatkan lagi. Siapa tahu, kemungkinan kamu saudara kita." Rein berkata panjang lebar. Rara memberi anggukan kepala sependapat.


Rain merenung, lalu melihat Rein dan Rara bergantian.


"Hm, kenapa aku merasa sedikit aneh ya. Dari dulu, Mama memang berada di sampingku, tapi dia cuek sekali. Apa aku benar-benar bukan anak kandung Mama?" pikir Rain mulai terintimidasi dari ucapan Rein.


"Nah, kamu pasti lagi mikir hubunganmu dengan ibumu kan?" tebak Rara tersenyum.


"Ya, ucapan kalian bisa juga benar." Kata Rain akhirnya sependapat. Rara senang dan segera meraih tangan Rain lalu melihat Rein.


"Kalau kamu berpikir sama seperti kita, bagaimana kalau kita kerja sama?" usul Rara tersenyum pada dua bocah ini.


"Kerja sama? Caranya?" tanya Rain kurang paham. Rein pun punya ide.


"Ahaa, bagaimana kalau kita tukar peran?" ucap Rein mengusulkan.

__ADS_1


"Ha? Buat apa?" tanya Rara kaget begitupun Rain.


"Buat mencari tahu. Kalau memang kita ini saudara, itu artinya pasti penyebab ada di sekitar Rain. Di sini, aku sangat ahli dan pasti cepat untuk mengetahuinya. Terus Rain akan menyamar sebagai aku, lalu Rara dan Rain bisa lakukan tes DNA seperti ini di rumah sakit." Rein mengeluarkan hasil tes DNA-nya dengan Rafa dari dalam saku celana.


"Eh, ini apa?" tanya Rain merebutnya paksa.


"Ck, ini itu keterangan kami dan Daddy punya hubungan," jawab Rein menunjuknya.


"Jadi kalian beneran anak dari Daddy ku?" tanya Rain memastikan.


"Ya benar sekali," jawab Rein dan Rara bersamaan.


"Bagaimana? Kamu mau kerja sama?" tanya Rara membujuknya. Rain pun menyetujuinya.


"Baiklah, aku setuju tukar peran," jawab Rain tersenyum tidak seperti Rein yang datar.


"Kalau begitu, namaku Rein dan ini Rara," ucap Rein memberi uluran tangan. "Namaku Rain," balas Rain menerima uluran tangan itu sambil tersenyum pada Rara dan Rein.


"Baiklah, kamu pakai topiku," lanjut Rein ingin memberi topinya.


"Untuk apa ini?" tanya Rain tidak mengerti.


"Aku selalu pakai topi kemana-mana, ini adalah kebiasaan ku. Kamu harus lakukan seperti yang aku lakukan juga, bersikap sepertiku juga." Rein memberikan topi itu lalu memberikan switer miliknya ke Rein.


"Baiklah, aku akan menyamar dengan baik."


"Yees, gini dong kan bagus melihat kalian akur begini." Rara sangat ringan melihat keduanya sudah akrab. Ketiganya pun sepakat untuk kerja sama. Mereka keluar dan melihat Bibi pelayan. Bibi pelayan bengong melihat ketiganya keluar.


"Tuan muda Rain yang mana ya?" tanya Bibi pelayan pada Rara. Seketika Rein dan Rain saling tunjuk.


"Dia, Bibi!"


Pak! Rara menepuk jidat melihat keduanya belum mengatur strategi tadi. Jadi Bibi pelayan pusing siapa Rain yang sebenarnya akibat memiliki muka yang sangat mirip.


"Eh, kenapa saling tunjuk? Siapa Tuan muda Rain di sini?" tanya Bibi pelayan lagi.


"Aku!" sahut Rein yang menyamar.


"Huft, kalau begitu kita harus kembali Tuan muda. Takutnya, ayah Tuan muda marah pada saya sudah membawa kalian jauh dari mansion," ucap Bibi pelayan takut dipecat.


"Ya sudah, kita pulang sekarang!" tegas Rein berjalan lebih depan menuju ke mansion.


"Pfft, lihatlah kakakku. Dia sangat bersemangat menjadi kamu." Rara tertawa kecil melihat Rein yang berjalan dengan cepat. Rain terdiam di samping Rara, ia mulai memperhatikan Rara.

__ADS_1


"Jika tes DNA aku dan dia sama. Itu artinya, gadis cantik ini saudariku? Terus... siapa yang lebih tua dari kami?" pikir Rein mulai sedikit paham. Rain senyum-senyum sendiri karena jalan bersama Rara.


__ADS_2