
Baru juga ingin melewati pintu utama, Noah dipanggil oleh Oma Liana. Langkah kakinya berhenti ketika Om Liana menghampiri putranya itu. Noah agak malas untuk berhadapan dengan wanita tua itu.
"Noah, kamu mau kemana?" tanya Oma Liana tersenyum.
"Biasa mau keluar. Kenapa Mami ke sini?" jawab Noah balas tanya.
"Itu buku apa yang kamu pegang?" Tunjuk Oma Liana ke Diary Manda yang ada di tangan Noah. Noah menyembunyikannya ke belekang kemudian menjawab dengan santai.
"Cuma buku cerita biasa kok, Mi."
Oma Liana menyipitkan mata, dia agak ragu dengan jawaban datar putranya yang sedikit mencurigakan.
"Ya sudah, Noah mau keluar." Baru juga pamit, Noah kembali ditahan.
"Bentar, Nak!"
"Duh, apa lagi sih Mih!" desis Noah menatapnya jengkel. Oma Liana sedikit terkejut dengan putranya yang tampak ada yang berbeda.
"Ini punya kamu?" tanya Oma Liana memperlihatkan berlian di telapak tangannya. Noah reflek mengambil, kemudian bertanya cepat.
"Kenapa berlian kalungku bisa ada di tangan Mami?"
Oma Liana pun menghela nafas, dia tersenyum dan lebih mendekati Noah.
"Mami tadi ke kamarmu, tidak sengaja lihat benda kilau itu di lantai. Itu sungguh berlian punya kamu?" jelas Oma Liana sambil menatap putranya sedang memasang kembali berlian itu ke induk kalung yang ada di leher Noah.
"Benar, ini punya Noah. Sekarang Noah pergi dulu," balas Noah berbalik. Tapi lagi-lagi dia ditahan oleh Ibunya.
"Noah Tunggu, Nak,"
"Hais, ada apa sih Mi tahan aku terus?" tanya Noah mulai emosi. Oma Liana kaget melihat ekspresi benci putranya.
"Noah," lirih Oma Liana menyentuh lengan putranya.
"Mami dan Papi berharap sekali padamu, Nak. Kau sudah dewasa, harusnya kau menikah dan memberi kami cucu, apa tidak ada rencana untuk menikah bulan ini, Nak?" tambah Oma Liana tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Noah terdiam, dia tahu kesedihan Ibunya.
"Mami ingin sekali punya cucu sendiri, bisa gendong anak darimu. Mami dan Papi sudah tua Noah, terutama Papimu yang mulai sakit-sakitan. Dia ingin cucu darimu, Nak."
Noah yang mendengarnya pun berbalik, dia menggenggam tangannya kuat-kuat. Noah menghela nafas, dia menjawab dengan angkuh.
__ADS_1
"Noah masih ingin bebas, belum mau menikah."
Braak!
Oma Liana terperanjat melihat putranya pergi begitu saja. Wanita itu menunduk sedang menahan air matanya. Dia bingung mengapa Noah tidak mau menikah di usianya yang sekarang ini. Dia pun pergi ke kamar suaminya untuk menenangkan diri. Sementara Noah tidak ke rumah sakit, dia malah ke club malam. Noah frustasi, dia ingin tahu kenapa dia dan Manda terjebak di sini.
"Apa ini jalan baik? Apa dunia ini tempat kita berdua dapat bersama atau berpisah, Manda?" Noah meneguk sebotol wine sampai habis dan duduk sendirian di sofa panjang.
"Arghhhh, bodoh!" racaunya merasa dunianya kacau. Melihat tampilan Noah yang cool, beberapa wanita penghibur pun mendekatinya. Mereka duduk di samping Noah dan menggodanya untuk dipuaskan. Pikiran Noah hampir terkecoh, dia berdiri segera lalu pergi meninggalkan club itu. Dia pergi dengan setengah mabuk, tujuan mobilnya tidak tahu arah.
Walau begitu, tak lama kemudian mobil Noah berhenti di depan rumah yang cukup besar. Dia berjalan sempoyongan masih setengah sadar dari efek alkohol. Noah membuka pintu lalu menuju ke kamarnya. Dia membuka pintu kamar dengan keras dan menatap geram ke seorang wanita yang terikat di atas ranjangnya. Dia adalah Nerin yang Noah sekap selama ini setelah dari permandian.
"Lepaskan aku, Noah..." rintih Nerin diikat dengan borgol hingga tangan dan kakinya tidak bisa dia gerakkan untuk melarikan diri selama ini.
Noah tidak menanggapinya, dia jalan terus ke arah ranjang dengan tatapan marah ingin menghabisi seseorang. Nerin meronta dan menangis histeris didekati oleh Noah.
"To-tolong jangan lakukan itu lagi padaku, hiks." Nerin sesugukan, dia ketakutan akan dilecehkan lagi seperti kemarin. Tapi Noah seakan tidak mendengar jeritan Nerin. Dia mencengkram rahang Nerin dengan kuat, dan menatap penuh kebencian ke Nerin.
"Haha, takut? Kenapa harus takut, Helena?" tanya Noah setengah mabuk dan mulai mengecup leher Nerin. Derai air matanya semakin bercucuran. Nerin tahu pasti dia akan lagi menjadi santapan pria gila di depannya. Nerin tidak tahu mengapa Noah selalu memanggil Helena, sedangkan dia bernama Nerin.
"Ampuni aku, Noah. Jangan lagi kau menyentuhku, hiks."
Nerin menjerit rahangnya di cengkram lagi. Noah dengan mata amarah menekannya lebih kuat. Dia tidak peduli dengan air mata wanita itu yang berderai membasahi dua pipinya.
"Menyentuhmu? Kau ini harusnya ngerti, kau adalah alat pemuas untukku. Jadi aku sesuka hati tentu dapat menyentuh tubuhmu, kau tidak ingat? Kita itu pernah tidur bersama, Helena. Kau sendiri naik ke ranjangku dan menawarkan sendiri tubuhmu padaku," jelas Noah melepaskan cengkramannya dengan kasar. Nerin menunduk, dia menangis histeris. Dia lelah menghadapi Noah yang menganggap dia adalah boneka pemuas nafsunya.
"Lihatlah, aku membeli pakaian untukmu, Helena. Sekarang biar aku gantikan baju compang-campingmu ini. Setelah itu puaskan aku dengan desa-hanmu, sayang."
Nerin sesugukan melihat dirinya sendiri ditelan-jangi oleh Noah. Dia melihat dengan jelas Noah yang mabuk mulai melepaskan semua pakaiannya dan melakukan itu padanya.
"Cu-cukup, hiks... aku bukan Helena. Aku Nerin, kenapa... hiks... kau terus memanggilku Helena! Aku bukan, Helena!" ronta Nerin, namun segera digampar oleh Noah. Wanita itu diam menunduk, serasa otaknya bergetar hebat hingga dia mimisan.
"Bukan Helena? Lalu kenapa kau punya wajah menjijikan ini!" kelakar Noah mengangkat dagu Nerin dengan murka. Sontak dua matanya melebar melihat cairan merah menetes keluar dari hidung Nerin. Dia pun mundur dan menghentikan aksinya dan memakai cepat celananya.
"Hiks... aku tidak tahu kenapa kau sebut Helena. Jelas-jelas aku ini Nerin bukan Helena," tangis Nerin serasa tidak sanggup untuk bernafas lagi. Dunianya hancur total, keperawanannya juga sudah hilang di tangan Noah. Noah duduk di tepi ranjang, dia menunduk sedang merenung.
"Arghhhh!" racau Noah menjambak rambutnya hingga berantakan lalu kemudian terisak membuat Nerin terkejut.
"Aku sangat mencintainya, tapi kenapa aku tetap tidak bisa mendapatkannya! Aku yang duluan mencintainya, dan aku sendiri yang mengkhiatinya. Ahhhh, sialan!" Noah menghempaskan barang yang ada di sampingnya. Nerin meneguk ludahnya. Dia melihat Noah tampak kacau sekarang.
__ADS_1
"Si-siapa yang kau maksud?" isak Nerin sedikit takut. Noah berbalik lalu mengangkat sedikit dagu Nerin.
"Kau harus tahu, aku mencintai Manda tapi gara-gara kau, gara-gara wajah ini aku terlena dan berselingkuh denganmu!" ujar Noah sedikit menyeringai. Nerin menggelengkan kepala, sungguh dia tidak mengerti sama sekali.
"Dulu aku tidak tahu alasan apa sampai aku harus selingkuh denganmu. Tapi kini aku tahu, aku kesepian." Noah menunduk dan meremas seprainya. Nerin mundur ke belakang, dia semakin takut ketika Noah mulai bicara soal hubungannya dengan Manda.
Noah tampak sadar mengapa dia kesepian, itu juga karena egonya Manda. Dia terlalu sibuk dengan dunia literasi hingga Noah merasa dilupakan dan terabaikan. Dengan adanya Helena di dalam hidupnya, Rangga merasa Helena sedikit dapat mengurangi kesepian itu hingga berani bermain di belakang Manda. Noah menangis, dia sungguh menangis tidak dapat dipungkiri hubungannya yang kacau balau karena rasa kesepiannya sendiri. Noah pun bingung siapa yang patut disalahkan. Apa itu karena dia? Atau Manda yang egois? Yang jelas, rasa penyesalannya masih ada di dalam hatinya.
Nerin melihatnya mulai merasa iba. Dia tidak paham apa yang diceritakan Noah barusan, tapi air mata yang ada di pipi Noah sangat menyentuh hatinya. Nerin merasa Noah seperti dirinya. Dia yang mencintai dan dia juga yang mengkhianatinya.
Pluk!
Noah terhenyak dipeluk oleh Nerin. Rasanya dia sudah salah menanggapi Nerin adalah Helena.
"Apa kau juga menyesal? Apa kau juga menderita?"
Noah semakin menunduk ditanya oleh Nerin.
"Ya, penyesalan ini membuatku menderita." Noah menatap Nerin. Dia menyentuh pipi Nerin dan mengamati wajah Nerin seksama. "Meski kau mirip dengannya, aku rasa kau tidak sepenuhnya seperti dia." Noah memeluk Nerin, dia berpikir sudah salah menilainya. Mata Nerin melebar pelukannya dibalas oleh Noah. Dia menangis kembali, pelukan ini sangat hangat dari pada sebelumnya. Dia merasa sangat tentram.
"Maafkan aku telah menyakitimu, Nerin."
Nerin tidak bersuara, dia sedang mebayangi Rafa.
"Benar, harusnya aku minta maaf ke Rafa. Akulah yang meninggalkannya, dan harusnya aku sadar untuk tidak mengusiknya lagi." Nerin berkata lirih, dia juga menyesal dan menderita.
"Nerin?" Noah terkejut tidak ada pergerakan dari Nerin. Dia segera lepaskan pelukannya dan sontak diam melihat wanita itu pingsan. Noah mengguncang tubuh Nerin, tapi tidak ada respon sama sekali. Noah pun melepaskan rantai di tangan dan kaki Nerin dan segera memakaikan pakaian lalu membawa Nerin ke rumah sakit.
Noah ketakutan saat merasakan tangan Nerin sangat dingin. Wanita itu telah menahan siksaan Noah selama ini hingga dia pingsan tidak sadarkan diri. Tetapi begitu mengejutkan setelah Nerin diperiksa oleh Dokter bahwa wanita itu sedang hamil.
"Dia sungguh hamil, Dok?"
"Benar, dia sedang hamil jadi tolong diperhatikan kondisi istri bapak!"
Dokter pergi meninggalkan Noah yang diam membisu tidak dapat berkata-kata lagi. Spontan dia berbalik saat seseorang memanggilnya. Seketika Noah kaget melihat Manda dan tiga anaknya yang datang menghampirinya. Mereka tidak sangka bertemu Noah. Terutama Manda sangat terkejut melihat Diary miliknya ada di tangan Noah. Keduanya saling bertatapan.
Bersambung...
Sisa Dua episode.
__ADS_1