Istri Reinkarnasi, CEO Kejam

Istri Reinkarnasi, CEO Kejam
Bab 64 : Lucu banget deh


__ADS_3

Ucapan Manda terputus setelah gagang pintu dibuka. Manda dan Rafa cepat-cepat melepas pelukan mereka lalu duduk melihat siapa yang membuka pintu. Ternyata itu adalah tiga anaknya yang datang.


"Mommy, Daddy kita main game bersama yok," ajak Rara menunjuk dua saudaranya, Rein dan Rain.


Manda dan Rafa saling bertatapan lalu tersenyum dan setuju. "Baiklah, kita main bersama." Rafa turun dari ranjang kemudian keluar bersama Rain dan Rein. Sedangkan Rara berjalan bersama Manda.


"Mommy, semuanya baik-baik saja kan?" tanya Rara meraih tangan Manda.


"Baik-baik saja kok sayang," jawab Manda mengelus kepala putrinya. Manda kini sadar, tujuan anaknya agar bisa membuat ia dan Rafa baikan.


"Bagus deh, Mom. Oh ya, Rara punya sesuatu buat Mommy," girang Rara mengeluarkan sesuatu dari sakunya.


"Apa itu, Ra?" tanya Manda sambil menahan tawa melihat putrinya yang selalu ceria.


"Ini Mom, Rara punya berlian cantik."


Sontak Manda berhenti dan segera mengambil berlian itu. Mengamati saksama kilauan di dalam berlian itu.


"Rara dapat dari mana? Kenapa baru kasih tahu Mommy?" tanya Manda serius.


"Dapat dari mobil Daddy waktu itu, Mom. Berliannya cantik kan, Mom?" girang Rara bertanya balik.


"Benar, berliannya sangat cantik. Ini bisa menjadi induk kalung," jawab Manda.


"Wah, kalau begitu Mommy buat kalung terus jadikan induk kalung. Pasti cocok buat Mommy," usul Rara menujuk berlian itu.


"Hm, baiklah. Nanti Mommy minta ke Daddy kalian. Sekarang kita masuk main game, kita harus kalahin Daddy kamu dan suadara Rara," semangat Manda pada Rara.


"Siap, Mommy!" paham Rara memberi hormat. Keduanya pun masuk ke dalam kamar Rein untuk bermain game bersama. Game yang akan dimainkan oleh keluarga kecil ini adalah mobile_lagends. Dalam permainan yang kalah harus menuruti kemauan yang menang.


"Ayoo Mommy, kalahin lordnya. Jangan kasih ke Daddy!" sorak Rara mendukung Ibunya. Manda yang semangat segera memberi ulti tembakan ke lord.


"Cepat Daddy, hancurkan turretnya, biarkan Mommy ambil lord tapi Daddy harus cepat hancurkan turret Mommy!" sorak Rein dan Rain membela ayahnya.


"Tenang saja, Ibumu ini bodoh main game." Rafa memanas-manasi keadaan. Manda yang tak terima berhasil membunuh lord, ia langsung terjun melawan Rafa.


"Hadeh, bodoh? Okay kita buktikan siapa yang menang," ucap Manda melirik tajam ke Rafa. Begitupun Rafa tak mau kalah juga melirik sinis ke istrinya.


"Ayo Mom, Leslay pasti menang kalahin alucard!" seru Rara hingga melompat-lompat di atas ranjang Rein.


"We, Rara. Kamu mau ambrukin ranjangku!" Rein berdiri naik ke ranjang.


"Hei! Kalian jangan berisik dong!" seru Rain ikutan naik ke ranjang.

__ADS_1


"Ih, aku kan cuma lompat doang. Kalian jangan marah dong!" ketus Rara berkacak pinggang. Manda dan Rafa menepuk jidat, karena tak ada lagi yang mendukung mereka. Ketiga anaknya malah sibuk saling adu mulut di belakang mereka.


"Mommy yang menang!"


"Tidak, Daddy pasti menang!"


"Betul, laki-laki itu jago main game!"


"Iih, perempuan juga jago main game tau!" cetus Rara menjambak rambut dua saudaranya.


"Aduh aduh, rambutku mau copot nih. Kamu jangan tarik rambutku, Ra!" pekik Rein balas jambak. Rain di sana malah menghindar lalu menjadi wasit.


"Ayo, Rara kalahin Rein."


Manda bersorak girang, dia berhasil menembak Rafa hingga Manda dapat meruntuhkan turret Rafa.


"Yes, menang juga! Wleek, kalah nih ye, hihihi." Manda mengejek Rafa. Tapi Rafa tak sedih, ia malah tertawa lepas.


"Ahahaha,"


"Eh kamu kenapa?" tanya Manda heran.


"Ya aku tidak sangka tembakan dari istriku langsung kena sampai di hatiku," jawab Rafa menunjuk hatinya. Manda bersemu merona lalu memukul dada Rafa.


"Mommy, siapa yang menang?" tanya Rara tak sabar ingin tahu.


"Pasti Daddy ya?" tebak Rain diikuti Rein.


"Salah, yang menang itu Mommy dong," ucap Manda mencium pipi Rara yang terkejut.


"Yesss menang juga, kalau begitu Daddy harus turuti kata kita ya Mommy?" tanya Rara lagi sambil melirik dua saudaranya yang kalah mendukung Rafa.


"Ya, sekarang Rara mau minta apa?" tanya Rafa yang menjawabnya. Rara dengan senang hati berkata : "Rara mau beli adek baru, boleh kan Daddy?"


Gedubrak!


Rain dan Rein jatuh ke lantai mendengar permintaan konyol Rara. Bukannya minta uang jajan, malah minta adek baru. Sontak Rafa melirik jahil Manda, menaik-naikan kedua alisnya lalu melirik oppai Manda.


"Iih, Rafaaa!" cetus Manda kesal dengan tatapan Rafa. Ia segera menutupi oppainya menggunakan tangan. Sungguh jahil, bisa-bisanya dilirik begitu di depan tiga anaknya.


"Istriku, bagaimana kalau hari ini kita turuti permintaan anak kita?" usul Rafa mencolek Manda.


Ahhhhhhhh!

__ADS_1


Aku tidak mau!


Manda lari keluar dari kamar, Rafa buru-buru mengejarnya.


"Sayang, kamu kan yang menang. Jadi aku dengan senang hati mau menuruti keinginan putri kita." Rafa tetap menjahilinya.


"Ahhhh... aku menyesal menang darimu!" teriak Manda membuat tiga anaknya tersentak lalu tertawa bersama.


"Ahahaha, Mommy sama Daddy lucu banget deh."


____


Di rumah sakit, Delsi menggigit kuku jarinya. Ia sedang duduk sambil menunggu Ny. Marina sembuh. Sore ini ia belum bisa kembali ke rumahnya karena kondisi Ny. Marina belum stabil. Untung saja racun di tubuh Ibunya bisa dikeluarkan hingga dampak kematian bisa terhindar 70%. Namun Delsi tanpa sadar, ayahnya sudah tidak ada di ruang rawat itu.


Rupanya, Tuan Damian kembali ke rumahnya. Tiga anak kembar Rafa segera menyambut kakeknya yang lemas akibat biaya perobatan Ny. Marina yang tinggi. Satu nyawa begitu banyak memakan biaya. Hingga Tuan Damian kuatir pada kekayaannya yang bisa bangkrut.


"Papa, kenapa baru pulang?" tanya Manda sambil menuruni anak tangga dan bersikap manis. Walau begitu, cara berjalannya seperti habis digebukin oleh Rafa. Untung saja tanda cupan masih bisa bersembunyi dibalik syall Manda.


"Papa baru diizinkan untuk pulang dan sekarang Papa lagi pusing kenapa Mama kamu bisa sampai diracuni. Jadi sekarang Papa mau mengecek CCTV dulu," jawab Tuan Damian menaiki tangga. Tapi berhenti sejenak lalu melihat Manda dan tiga cucunya.


"Oh ya, di mana suamimu?" tanya Tuan Damian mencari Rafa.


"Daddy lagi tidur di kamar, Kakek." Rara cepat menjawabnya. Tuan Damian pun mangut-mangut lalu naik ke lantai atas, ia pergi ke arah ruang kerjanya.


"Mommy, apa kakek baik sama Mommy?" tanya Rain penasaran. Manda pun tersenyum kemudian mengelus kepala tiga anaknya.


"Itu tergantung sama mood kakek kalian. Sekarang lebih baik kalian bantu Mommy siapkan makan malam yang enak untuk Daddy, bagaimana? Kalian mau bantu Mommy?" tanya Manda melihat tiga anaknya.


"Wah, mau dong Mommy!" seru Rain dan Rara setuju.


"Kalau Rein?" tanya Manda pada putra sulungnya.


"Rein bantu makan saja, boleh?" ucap Rein nyengir kuda.


"Ahahaha, kak Rein mah gitu!" Tunjuk Rara tertawa diikuti Rain juga merasa geli dengan ucapan Rein.


"Wleek, suka-suka aku dong." Rein mengulurkan lidah lalu masuk ke ruang dapur duluan, Rara pun menyusulnya diikuti Rain yang juga mengejarnya sambil teriak.


"Aku bantu doa saja deh biar semua masakannya enak!" pekik Rain membuat Manda tertawa kecil.


"Pfft, mereka ada-ada saja." Manda pun membantu pelayan untuk menyiapkan makan malam. Sedangkan Rafa masih enak-enak memeluk guling di dalam kamar dari pada pergi bekerja lagi. Baginya, sekretaris Jho dapat dihandalkan mengurus perusahaannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2