Istri Reinkarnasi, CEO Kejam

Istri Reinkarnasi, CEO Kejam
Bab 25 : Bocah jenius


__ADS_3

Manda dan Rara sudah selesai melihat sebagian sisi mansion Rafa. Kini keduanya duduk di sofa tamu menghilangkan rasa lelah dan jenuh. Sekatika, seorang pelayan datang membawa nampan berisi dua gelas, satu jus segar dan satu susu putih. Tak lupa pencuci mulut berupa kue brownies coklat yang lezat.


"Permisi, Nona. Ini diminum jus dan susunya," ucap pelayan itu sangat ramah sembari meletakkan isi nampannya.


"Ah iya, terima kasih." Manda tersenyum melihatnya pergi, ia kemudian mengambil gelas berisi susu lalu memberikan pada Rara.


"Mommy, kenapa Daddy lama? Apa Daddy tidak menjemput kak Rein?" tanya Rara sambil minum susu.


"Kita tunggu saja, sayang. Mungkin macet di jalanan," jawab Manda memberi alasan.


"Mana mungkin macet, Mommy. Jam segini tidak ada kemacetan," kata Rara melihat jam dinding sudah pukul 10.22 pagi menjelang siang. Rara tahu waktu seperti ini orang-orang sibuk bekerja di tempat mereka. Kecuali anak geng motor yang berkeliaran.


"Ahaha, baiklah. Rara selalu benar, Mommy mengaku salah tebakan." Manda dengan lembut mengacak-acak rambut Rara, kemudian ia termenung sejenak memikirkan Rein yang pastinya mengamuk tidak akan ikut. Namun dugaannya salah, tiba-tiba saja suara anak lelakinya terdengar berteriak ke arahnya.


"Mommy!" teriak Rein tak menyangka Ibunya dan adiknya ada di mansion Rafa.


"Wah, kak Rein sudah datang!" girang Rara mendekati Rein. Manda mengerutkan kening melihat cuma ada Rein dan anak buah Rafa.


"Loh Rein kamu ke sini sama siapa?" tanya Manda kini berdiri di dekat Rein dan Rara.


"Itu Nona, Presdir Rafa sedang memiliki urusan penting. Jadi mungkin niat untuk menikahi Nona hari ini ditundah sementara." Anak buah Rafa menjawabnya cepat.


"Oh begitu, ya sudah terima kasih sudah mengantar putraku." Manda merasa lega tak menghadapi Rafa dulu. Anak buah Rafa pergi begitu saja meski sebenarnya ia ingin tanya sesuatu soal Rein yang mirip dengan Rain. Tapi ia sadar ini bukan urusannya.


"Mommy," panggil Rein meraih tangan Manda sambil melihat Rara.


"Kenapa sayang?" tanya Manda melihatnya.


"Kenapa Rara bisa ada di sini dan bersama Mommy?" tanya Rein lagi. Rara pun tertawa kecil kemudian menjelaskan dari awal ia yang ceroboh malah masuk ke dalam sebuah bagasi mobil namun Rara tidak menyesal karena dari sinilah dapat bertemu dengan Daddy yang dia rindukan.


Tuk!


Rein tiba-tiba mengetuk kepala Rara.


"Loh, kok marah?" tanya Manda heran.


"Ini gara-gara Rara, kalau saja tidak hilang pasti Mommy tidak susah payah cari sana sini," jawab Rein melirik sinis ke Rara.


"Ih, aku kan sudah minta maaf. Lagian juga Rara kesasarnya di rumah Daddy, jadi jangan marah lagi sama Rara."

__ADS_1


Rara cemberut sambil mengelus kepalanya yang ditepuk oleh Rein. Manda geleng-geleng kepala lalu mengajak mereka duduk ke sofa.


"Jadi sekarang gimana rasanya setelah lihat dan tahu siapa Daddy kalian?" tanya Manda ingin tahu.


"Rara sangat senang, Mommy. Daddy itu orang yang tampan terus baik sama Rara," jawab Rara memuji Rafa.


"Iih, baik apanya. Paman tua itu kasar tau!" cetus Rein membuat Manda terkejut.


"Loh, kenapa malah bicara begitu?" tanya Rara dan Manda.


"Itu karena paman tua itu paksa Rein ke sini Mommy tanpa kasih tahu Bibi, dan sekarang Bibi pasti sedang mencariku."


"Apa? Jadi Bibi Senja tidak tahu kamu pergi dari rumah?" kaget Manda buru-buru mengambil ponsel di dalam sakunya. Ia tak peduli dengan julukan Rafa sebagai Paman tua dari putranya. Yang penting Rein senang.


"Ya Mommy, sekarang Mommy kasih tahu Bibi, biar dia tidak cemas."


Manda mengerti, dan ternyata benar. Senja memberinya pesan berisi Rein hilang. Ini membuat Senja panik di rumahnya. Manda pun menghubungi Senja, ia mengatakan segera kalau Rein ada padanya.


Senja : Astaga, jadi Rein sekarang ada padamu?


Manda : Ya, Sen. Sekarang aku sedang bersama anak-anakku.


Senja : Terus kalian bertiga ada di mana?


Rara : Kita ada di rumah Daddy, Bibi!


Senja : Apa? Benarkah itu Man?"


Manda : Ya, benar. Daddy anak-anak sebenarnya masih hidup. Maaf Sen, aku sudah berbohong padamu selama ini.


Senja : Ahaha tidak apa-apa kok, aku malah senang mendengarnya. Kalau begini, tidak akan ada lagi orang-orang yang menghinamu.


Manda : Semoga saja begitu, Sen. Sekarang aku tutup ya. Sepertinya kamu sibuk urus anakmu.


Senja : Hehehe oke deh, selamat ya... dan kalau ada waktu kalian ke sinilah. Aku penasaran siapa ayah dari anak-anakmu.


Manda : Oke, lain kali aku bawa adik iparmu. Pfft...


Tuuut...

__ADS_1


Manda menghela nafas ringan sudah menghubungi Senja. Namun tiba-tiba Rein mengejutkannya.


"Mommy, apa Rein dan Rara punya saudara lain?"


Deg!


"Saudara lain? Kenapa tanya itu?" tanya Manda agak gugup.


"Itu karena Paman tua bilang aku mirip dengan anak laki-laki yang bernama Rain, Mom." Jawaban Rein langsung membuat Manda diam terkejut diikuti oleh Rara yang susah mencerna ucapan Rein.


Tuk!


"Aduh, kenapa malah pukul kepalaku sih, Ra!" desis Rein dipukul kepalanya oleh Rara.


"Itu karena kamu sendiri, jangan panggil Daddy paman tua! Tapi panggil D-A-D-D-Y! Bukan paman tua! Dan juga, kita itu cuma bersaudara dua, mana mungkin punya saudara lain!" ketus Rara menasehati Rein sambil tak percaya pada ucapan Rein.


"Iiih, bisa saja kita punya saudara lain!" kesal Rein melipat tangannya. Manda yang melihat dua anaknya berdebat akhirnya angkat bicara.


"Benar, kalian ini memang punya saudara."


Rara dan Rein tersentak langsung melihat Manda dengan serius.


"Benarkah Mom? Mommy tidak lagi berbohong?" tanya Rara memastikannya.


"Mommy tidak bohong. Mommy dulu melahirkan tiga anak kembar, tapi yang satu dinyatakan meninggal oleh Dokter." Manda menunduk sembari menyapu air matanya. Tak kuasa ingat masa lalunya yang bejuang melahirkan ketiga anaknya.


"Wah, Mommy, mungkin saja belum meninggal."


Deg! Manda dan Rara terkejut mendengarnya.


"Kenapa bicara ngawur lagi! Ini bukan candaan tau!" cetus Rara memukul-mukul Rein.


"Iiih aku tidak bercanda, aku yakin pasti adik ketiga saat itu masih hidup. Cuma ada orang yang pasti mengambilnya dan sekarang, dia pasti ada di rumah Kakek. Namanya Rain, hampir sama namanya denganku, Mom."


Manda reflek berdiri, diikuti dua anaknya.


"Jadi mungkin kah begitu?" gumam Manda melihat dua anaknya yang sangat jenius dapat memberi pendapat sedetail itu.


"Baiklah, setelah Daddy kalian pulang. Mommy akan tanyakan langsung padanya. Sekarang, kalian harus bantu Mommy selidiki misteri ini."

__ADS_1


"Baik Mommy!"


Ketiganya pun saling menatap tak sabar menunggu Rafa kembali dari mansion Tuan Alkazen. Kakek dari Presdir Rafandra.


__ADS_2