Istri Reinkarnasi, CEO Kejam

Istri Reinkarnasi, CEO Kejam
Bab 88 : Mulai Serius


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, hak waris kekayaan keluarga Wiliam resmi jatuh ke tangan Sheila Arestenty. Kini tiada lagi yang harus dia takutkan di masa mendatang soal kehidupan anak-anaknya. Tuan Damian dan Nyonya Marina dipenjara dalam satu sel tahanan. Keduanya menyesal telah meremehkan Manda.


Di rumah sakit, penyakit leukemia Manda mulai serius, dia berkali-kali mimisan dan tentunya muntah setiap hari. Berat badannya menurun cukup drastis. Kemoterapi yang dia lakukan tidaklah cukup untuknya sembuh. Karena tidak tega melihat istrinya semakin pucat, Rafa pun sendirian rela keluar kota untuk mencari pendonor sumsung tulang belakang yang cocok sebelum leukemia Manda semakin parah.


"Aaaaaargh! Kenapa tidak ada satupun pendonor yang cocok!" Rafa dengan marah dan kecewa memukul tembok di kantornya. Dia hampir putus asa harus kemana lagi mencari. Rafa amat sedih pada ketiga anak kembarnya, tidak ada satu pun yang cocok untuk didonorkan ke Manda. Triple R cuma bisa menemani ibunya, dan menunggu Rafa mendapat pendonor segera mungkin.


"Mommy pasti akan sembuh, kan?" tanya Rara dan Rain di samping Manda yang duduk bersandar di brankar. Mata keduanya sudah basah dari tadi.


"Tentu saja, Mommy ini kan Ibu kalian yang paling kuat," jawab Manda dengan wajah pucatnya masih sanggup tersenyum. Rara dan Rain naik memeluk Ibunya. Manda menghela nafas kemudian mengecup bergantian kepala anaknya, kecuali Rein yang berdiri menunduk dan menahan tangisnya.


"Putra sulung Mommy kenapa?" tanya Manda dengan lirih. Rein masih diam belum berani perlihatkan dua matanya yang basah.


"Sini sayang, Mommy mau peluk Rein juga. Sudah seminggu ini tidak peluk kalian bertiga," senyum Manda mengulurkan satu tangannya meminta Rein naik ke tempatnya. Tetapi Rein malah menggelengkan kepala sambil mengusap dua matanya. Dia tahu sakit Ibunya tidaklah biasa, dia juga tidak sengaja mendengar obrolan ayahnya dan Dokter kalau Ibunya bisa saja meninggal, Rein sangat takut jika itu terjadi.


"Kak Rein, ayo sini." Dua adiknya menyahut padanya. Tetap saja Rein menolak, dia berteriak sekeras mungkin dengan tangisnya membuat Manda tersentak. Begitupun dua adiknya kaget pada kakaknya itu yang menangis keras.


"Tidak mau! Rein tidak mau dipeluk!" Rein menolak karena takut ini bisa saja pelukan terakhirnya. Manda pun kembali tersenyum.


"Rein marah ya sama Mommy?" 


"Hiks, kenapa harus sakit? Kenapa Mommy harus sakit!?" isak Rein bertanya. Manda memejamkan dua matanya, dia juga tidak tahu kenapa harus menderita disaat semua masalahnya selesai. "Apa mungkin akan berakhir sedih?" pikir Manda kemudian menitikkan air mata. Dia dengan sedikit tenaga turun dari brankar lalu berlutut di depan Rein. 


Pluk!


Rein berhenti terisak setelah Ibunya turun sendiri memeluknya. "Maafkan Mommy ya sudah buat Rein khawatir." Rein balas memeluk, dia menumpahkan semua air matanya di pelukan sang Ibu. "Hiks, Rein sayang Mommy," isak Rein semakin erat memeluk Manda.

__ADS_1


"Cup… cup, jangan nangis. Nanti gantengnya hilang. Ayo dong senyum buat Mommy," ucap Manda mengusap dua pipi anaknya yang basah. Kemudian memeluk Rein lagi.


"Mommy sayang kalian," batin Manda sangat sedih tidak tahu apa yang akan terjadi padanya nanti. Dia pun berdiri dan merasa lega telah berhasil menenangkan tiga anaknya. 


Saat mau naik ke tempatnya, tiba-tiba seseorang teriak dari arah pintu. Senyum Manda merekah dikunjungi oleh Senja.


"Maaandaaa!"


Pluk!


Senja memeluk Manda di depan tiga anaknya. Rain yang belum tahu soal Senja segera diberitahu oleh Rara dan Rein, jika Senja adalah saudara angkat Manda. Senja tidak datang sendirian, dia datang bersama anak dan suaminya.


"Manda, aku kangen sama kamu. Sudah lama kita tidak bertemu, sampai-sampai aku pikir kamu telah melupakanku," ucap Senja melepaskan Manda.


"Maaf ya, aku sibuk menyelesaikan masalahku. Terima kasih kau sudah mau datang kemari. Aku berterima kasih banget sama kamu, Senja." Manda ikut menangis haru.Dia ingat kebaikan Senja saat dia pertama kali terjebak di dunia ini.


"Mereka menggemaska sekali, tapi ada apa denganmu? Kenapa kamu pucat sekali?" tanya Senja duduk di brankar. Manda di sampingnya pun tersenyum dan menjawab lirih.


"Aku mengidap leukemia, dan sekarang belum ada pendonor yang cocok untukku. Hufft," hembus Manda menunduk dan kemudian terkejut cairan merah kembali turun dari hidungnya. Senja shock melihatnya, dia mengusap hidung Manda dengan tissu sebelum dilihat oleh Triple R dan suaminya.


"Harusnya dia di sini menjagamu, tapi kemana dia?" tanya Senja celingak-celinguk mencari Rafa.


"Dia sedang mencari pendonor untukku," jawab Manda kemudian bersandar ke bahu Senja. 


"Kau tidak lupa kan bawa Diary lamaku?" tambah Manda mendongak kepadanya.

__ADS_1


"Ah bentar, aku cari dulu di tas." 


Senja berdiri menuju ke suaminya. Manda duduk diam di brankarnya sambil melihat tiga anaknya bermain dengan anak Senja. Senyum kecil terukir di mulut Manda lalu menyentuh perutnya. Berpikir mungkin kah dia dapat hamil dan memberi adik bagi si kembar? Tapi keinginan itu tidak mungkin akan terwujud.


"Manda!" Manda tersadar langsung teralih ke Senja yang panik.


"Kenapa denganmu?" tanya Manda dihampiri olehnya.


"Man, Diary punyamu hilang. Sepertinya jatuh di jalan saat aku mau ke sini. Maafkan aku," jawab Senja memperlihatkan isi tas miliknya.


"Apa aku perlu mencarinya?" sahut suami Senja mendekati dua wanita ini.


"Ya sayang, itu buku Diary Manda. Dia menginginkannya," ucap Senja ke suaminya.


"Eh tidak perlu dicari," tahan Manda. 


"Kenapa?" tanya suami istri itu serempak. Manda menahan tawa, dia sebenarnya cuma ingin nostalgia awal dirinya ke sini.


"Itu tidaklah penting, buku itu cuma catatan lama kok, tidak perlu dicari." 


Senja menghela nafas mendengarnya lalu berbisik ke suaminya. Manda mengernyit melihat pasangan ini bisik-bisikan.


"Apa yang kalian bisikkan?" tanya Manda penasaran.


"Manda, kamu istirahat saja dulu di sini dan tolong jaga anak kami dulu ya," senyum Senja membantu Manda bersandar.

__ADS_1


"Eh, kalian mau kemana?" tanya Manda diselimuti oleh Senja.


"Kita mau keluar sebentar, dadah sayang!" lambai Senja ke anak-anak lalu menyeret suaminya keluar dari ruang rawat. Anak Senja bengong melihat dua orang tua mereka pergi, membuat Triple R tertawa lucu menatap ekspresinya itu.


__ADS_2