
Setelah Rafa dan Manda keluar, ketiga bocah yang asik menonton baru sadar jika Ibu dan ayah mereka tidak ada.
"Kak Rein, apa kamu melihat Mommy?" tanya Rara menunjuk ke satu arah.
"Tidak, aku selalu melihat TV." Rara yang mendengar jawaban Rein, akhirnya naik ke lantai atas.
Cklek!
Rupanya tetap saja tak ada Ibu dan ayah mereka. Rara pun mencari pengurus rumah, Pak Toby. Rara menuruni tangga menuju ke ruang dapur. Rara melihat beberapa pelayan sedang melakukan tugas mereka. Rara pun menghampirinya.
"Bibi-bibi," panggil Rara tersenyum.
"Eh, Non Rara. Ada apa Nona datang kemari?" tanya salah satu pelayan.
"Itu... kenapa Bibi masih bekerja? Bukan kah ini sudah jam istirahat?" Rara balas tanya sambil melihat sapu, pel dan kemoceng di tangan mereka. Para pelayan pun menjawab bersama.
"Ini sudah tugas kami, Nona. Setelah semuanya selesai, kami akan menghentikan tugas kami," ucap pelayan tersenyum.
"Kalau begitu, Bibi-bibi jangan terlalu lelah dan paksakan diri. Rara tidak mau kalian sakit," kata Rara tersenyum dan perhatian pada mereka membuat para pelayan jadi tertegun.
"Ahaha, baik Nona. Terima kasih perhatiannya,"
"Sama-sama, Bibi!" girang Rara berbalik ingin pergi, namun terhenti lalu balik lagi. Ia hampir lupa tujuannya.
"Bibi," lanjut Rara bicara.
"Ya Non, ada apa lagi?"
"Itu... Bibi tahu di mana Mommy dan Daddy?" tanya Rara ingin tahu.
"Oh itu, Tuan muda tadi keluar bersama Ibu, Non. Katanya, mau keluar jalan-jalan." Pelayan itu menjawab jujur karena Pak Toby sendiri yang katakan pada pelayan.
"Wah, bagus nih!" riang Rara dalam hati.
"Oh, kalau begitu... terima kasih Bi, selamat malam." Rara tersenyum lalu pergi kembali ke Rein. Para pelayan geleng-geleng kepala melihat Rara melompat ria.
"Kak Reeeiiin!" pekik Rara memeluk Rein dari belakang.
Pluk!
__ADS_1
"Astaga, Rara. Kamu mencekik ku!" jerit Rein melepaskan tangan Rara yang merangkul lehernya. Rain cuma tertawa melihat tingkah dua bocah ini yang lucu.
"Hihi... Mommy sama Daddy keluar, Kak Rein," tawa Rara cekikikan. Sontak Rein hampir tersedak popcorn mendengarnya.
"Apa? Mommy keluar?" kaget Rein tak sangka Ibunya pergi tak bilang-bilang padanya.
"Iya, benar sekali. Daddy pasti bawa Mommy ke tempat indah, Daddy orangnya romantis. Rara suka banget," ucap Rara tersenyum lebar. Namun seketika senyumnya hilang setelah kepalanya diketuk pakai bungkusan popcorn.
Tuk! Aduuuh...!
"Kak Rein! Sakit tau!" kesal Rara mengusap kepalanya yang sedikit sakit.
"Iiih, Rara! Kamu kok malah senang, harusnya kita mencemaskan Mommy, bukannya riang begini," cetus Rein mulai ingin berdebat.
"Loh, kok harus cemasin Mommy?" tanya Rara garuk-garuk kepala.
"Itu karena Daddy sama Mommy baru dekat, aku takut Mommy kenapa-napa di luar sana. Siapa tau Daddy tidak bisa melindungi Mommy," jawab Rein sontak membuat Rara terkejut. Rara pun menyentuh kepalanya lalu mengguncang tubuh Rein.
"Aduh kalau gitu gimana dong, kita harus gimana dong, aku tidak mau Mommy sakit di luar sana," kata Rara makin mempercepat mengguncang Rein.
"Ish, Rara! Kepalaku pusing tau, sekarang kita telepon Mommy," desis Rein menyentuh kepalanya yang terasa berputar.
"Tunggu dulu, jangan mengganggu Daddy." Rain berdiri dari sofa, menahan tujuan Rara.
"Ha, kenapa?" tanya Rara mendekatinya.
"Kalian berdua tidak usah cemas, Daddy orang yang kuat, orang yang baik hati. Dia bahkan bisa pukul 40 orang cuma sendirian. Daddy itu jagoan," jawab Rain memuji ayahnya. Rara pun menghela nafas lega mendengarnya. Tapi tidak untuk Rein yang tiba-tiba tersenyum miring.
"Lalu kenapa kamu tidak cemas?" tanya Rein melipat tangan di depan dada.
"Ha, cemas untuk apa?" balas Rein tanya balik.
"Bukan kah tadi kamu bilang Ibumu adalah Mama Valen? Bagaimana kalau Mommy bukan Ibumu, kamu harusnya marah Daddy jalan dengan Mommy," ucap Rein ingin memanas-manasi Rain. Mendengar ucapan Rein membuat Rain seketika diam. Hatinya mulai gelisah. Rein semakin tersenyum picik, namun tiba-tiba Rara merebut tempat popcorn lalu mengetuk kepala Rein.
TUK!
"Auw, Rara!" pekik Rein marah. "Wleek, harusnya kak Rein jangan begini. Aku yakin, Rain adalah saudara kita. Jadi Rain jangan sedih, jangan dengarkan ucapan kantong kresek ini," ledek Rara pada Rein.
"Iiih, Rara! Aku kan tadi cuma bercanda! Nih rasakan!" pekik Rein melempari Rara popcorn.
__ADS_1
"Wleek, tidak kena! Ahahaha...." ledek Rara tertawa lepas. Ia lari sana sini dikejar oleh Rein yang masih kesal. Sedangkan Rain duduk dan menahan tawa melihat tingkah lucu mereka.
"Pfft, mereka begitu bahagia." Rain tertawa kecil.
Malam ini sangat indah, gugusan bintang di langit terlihat menawan, kerlap-kerlip seperti kunang-kunang. Kini mobil Rafa berhenti di sebuah toko baju di pinggir jalan. Rafa belum turun dari mobil, ia menengok ke Manda.
"Untuk apa kita ke sini?" tanya Rafa pada Manda yang langsung turun lalu pergi ke sisi Rafa. Manda membuka pintu kemudian menarik Rafa keluar dari mobil.
"Ada apa ini? Kenapa memaksaku turun, Shei?" Sekali lagi Rafa bertanya. Manda berdiri sambil berkacak pinggang, memberi senyuman yang sangat manis.
"Katanya mau kencan, nah kalau mau kencan itu harus pakai baju couple malam ini. Dan karena pacarku seorang CEO dan banyak uang, jadi kita harus beli baju couple. Sekarang kita masuk ke toko pilih baju," jelas Manda menarik tangan Rafa masuk ke dalam toko.
"Wow, banyak banget nih baju couplenya! Rafa... sekarang kita pilih satu di antara ini-" ucap Manda menunjuk tapi Rafa tiba-tiba hilang.
"Loh, Rafa! Kamu di mana?!" lanjut Manda mencari Rafa. Semuanya ditelusuri tapi Rafa tak ada sama sekali. "Apa jangan-jangan dia ninggalin aku?" pikir Manda segera keluar, takut Rafa meninggalkannya di toko. Namun dugaannya salah, mobil Rafa masih terparkir tak jauh dari tempatnya. Tapi hatinya masih gelisah, Manda mendekati mobil Rafa.
"Loh kosong? Terus kemana Rafa?" pikir Manda celingak-celinguk. Saat sibuk mencari Rafa, tiba-tiba tiga lelaki menghampirinya.
"Hei, Nona... sedang apa kamu sendirian di sini?" tanya salah satu dari mereka. Manda pun mejawab datar.
"Sedang menunggu pacarku, Om."
Deg!
Tiga preman itu terkejut mendengar Manda memanggil dengan sebutan Om.
"Hei Nona, dari pada menunggu kekasihmu, lebih baik ikut dengan Om. Om akan membawamu pulang," ucap salah satu dari mereka yang ingin menjebak Manda. Tapi Manda tahu kelicikan mereka. Manda mendengus berkacak pinggang.
"Hei Om, saya itu di sini menunggu pacarku, bukan kalian. Jadi pergilah, jangan menggangguku," usir Manda menggerakkan tangannya.
"Cuih," preman itu tiba-tiba membuang ludah. "HEI!" ia meneriaki Manda. Tapi Manda tidak takut sama sekali. [Padahal aslinya, penakut wkwk]
"Om mau apa? Mau kiko? Nih aku punya kiko Om," ucap Manda menebak kemarahannya. "Ck, sialan! Beraninya kamu meledek kami!" Preman itu marah, ia ingin menangkap Manda, namun dengan cepat Manda menampar wajah mereka pakai tasnya.
PLAK! PLAK! PLAK! PLAK! PLAK!
"Mam-mam, tuh kiko Om! Ahahaha!" tawa Manda melihat ketiganya kesakitan. Manda segera lari sebelum mereka menangkapnya. Namun tiba-tiba seseorang meraih tangannya. Manda sontak berbalik, matanya melebar melihat orang yang tadi pagi.
"Kamu?" ucap Manda terkejut orang itu adalah Noah yang kebetulan melihatnya dikepung oleh preman.
__ADS_1