
"Kamu?" ucap Manda terkejut orang itu adalah Noah yang kebetulan melihatnya dikepung oleh preman.
"Lepaskan aku!" lanjut Manda menarik tangannya.
"Hei!" teriak tiga preman itu mesih mengejar, sontak mereka berhenti di depan Noah dan Manda. Ketiganya mulai berlagak sombong sambil menunjuk Noah.
"Ahahaha... lihatlah bro, apa pria ini pacarnya?" tawa salah satu mereka membuat Manda terperanjat mendengarnya. Begitupun Noah terkejut, ia dibilang pacarnya Manda.
"Ahahah... pacarnya ternyata pria ini?" mereka lanjut tertawa, menghina Noah yang memiliki tubuh tak sebanding mereka yang memiliki otot besar.
"Ini sih sekali pukul oleh kita langsung terkapar, ahahaha...."
Manda melirik Noah, pria ini sudah bermuka masam mendengar tawa mereka yang sangat menjengkelkan. Seketika Noah maju kemudian berdiri di depan mereka, jaraknya terlalu dekat. Manda mengangkat alisnya melihat Noah menepuk bahu pria di depannya.
"Hei, Pak! Sepertinya anda belum merasakan dipukul olehku kan?" ucap Noah menyeringai membuat tiga preman jadi terheran-heran.
"Ahaha... apa dia sedang menggertak kita-"
Bugh!
Kedua mata Manda melebar melihat Noah memukul perut preman itu dengan keras hingga ia mundur kesakitan.
"Asw! Beraninya kamu memukul kawan kami!" murka kedua preman tak terima dan segera berkelahi. Noah yang jago bela diri tentunya dengan senang hati meladeni kita. Sekali lagi mata Manda cuma melebar melihat tiga preman itu ingin sekali memukul Noah. Tapi Noah selalu menghindar, kali ini giliran Noah yang membuat mereka babak belur.
Pak!
Bugh!
Pak!
Bagh!
"Terimalah ini dasar sampah meresahkan!" pekik Noah menendang perut mereka dengan keras membuat Manda menutup mata. Ini mengerikan untuk ditonton. Sontak keriganya terjatuh kesakitan di tanah. Manda terpelongo melihat mereka meminta ampun pada Noah.
"Maaf... maaf... kami mengaku salah," kata mereka ketakutan sudah babak belur.
"Ck, enyahlah dari hadapanku!" decak Noah menatap tajam mereka. Seketika ketiganya berdiri kabur kocar-kacir meninggalkan Noah dan Manda.
"Huft," Manda menghela nafas lega. Ia pun mendekati Noah.
__ADS_1
"Kamu tidak apa-apa?" Noah tersentak segera berbalik melihat Manda berdiri di depannya sekarang. Noah menatap Manda dari atas ke bawah sampai atas lalu tersenyum.
"Tentu saja baik-baik saja," jawab Noah sambil menunjuk dirinya.
"Mereka cuma serangga kecil bagiku, sedangkan kamu bagaimana? Apa mereka sempat menyakitimu?" lanjut Noah bertanya nampak perhatian. Manda pun menjawab dengan datar : "Itu, aku baik-baik kok. Untung saja kamu datang kemari. Tapi kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Manda melihat sekitarnya mencari Rafa.
"Kebetulan cuma lewat di sini. Sekarang aku yang tanya, mengapa kamu ada di sini sendirian?" jawab Noah lalu balik tanya.
"Oh itu, aku tidak sendirian, aku datang bersama Rafa,"
"Lalu di mana dia?" tanya Noah mengangkat alisnya.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Mungkin kah seseorang menculiknya?" tebak Manda sedikit takut dan kembali berjalan mencarinya. Namun Noah menahannya lagi.
"Tunggu dulu," tahan Noah berhasil menghentikan Manda. Sontak tangan itu segera ditepis oleh Manda. Ia takut pada Noah yang bisa membuatnya ingat dengan Rangga.
"Ada apa?" tanya Manda dengan datar.
"Itu, ngomong-ngomong kamu ini sungguh Sheila?"
Manda diam sejenak lalu tersenyum kecil, ia pun menjelaskannya.
"Itu benar, tapi dia sudah mati. Sekarang namaku Manda bukan Sheila," jawab Manda memberikan kartu identitasnya.
"Apa? Patut dicintai?" kaget Manda segera mundur.
"Ahaha, itu arti dari namamu. Aku tidak bermaksud lain mengatakan ini." Noah tertawa kekeh. Manda menghela nafas, tapi ini agak aneh baginya. Manda pun berbalik tak mau dekat-dekat dengan Noah. Tak mau rasa sakit yang dulu kembali ia rasakan.
"Baguslah, kalau begitu terima kasih bantuannya tadi. Sekarang aku ingin mencari Rafa. Permisi." Manda pergi kembali ke toko, meninggalkan Noah yang menyeringai tipis.
"Sheila, dia bilang Sheila sudah mati dan sekarang namanya adalah Manda. Dari rumor yang beredar, dia wanita yang bodoh. Tapi kenapa malam ini dia berbeda?" pikir Noah semakin tertarik untuk lebih tahu Manda. Ia pun tertawa kecil lalu mengikuti Manda tanpa sepengetahuan Manda.
Seketika Noah bersembunyi setelah Manda berpapasan dengan Rafandra. Keduanya nampak saling berdebat membuat Noah tertarik untuk mendengarnya.
"Auw-" ringis Manda ditarik paksa tangannya oleh Rafa.
"Dari mana saja kamu barusan?!" bentak Rafa emosi ditinggal sendirian. Manda pun menepis tangan itu lalu menatap sinis.
"Aku tadi mencarimu, ke mama kamu barusan? Mengapa tiba-tiba hilang?" tanya Manda memcoba tenang.
__ADS_1
"He, jangan omong kosong padaku! Jujurlah, saat aku ke toilet, pasti kamu habis bertemu pria lain kan?" tanya Rafa menebaknya.
"Apa sih, jangan fitnah dulu lah! Aku tuh dari tadi mencarimu, eh malah ada preman yang menggangguku, untung saja-" ucap Manda berhenti setelah melihat Rafa yang mencari preman tadi.
"Di mana Premannya? Beraninya mereka mengganggu wanitaku, mereka harus diberi pelajaran agar tahu siapa wanita yang mereka ganggu malam ini." Manda tertawa kecil mendengar Rafa yang langsung percaya. Nampak lelaki ini segera menghubungi anak buahnya untuk mengecek CCTV di sekitaran mereka. Manda hanya geleng-geleng kepala melihatnya yang serius menelpon. Namun tiba-tiba Rafa terkejut mendengar suara Noah.
"Tenanglah, mereka sudah pergi. Untung saja aku datang memberi mereka pelajaran," ucap Noah membuat Rafa menatap jengkel.
"Ck," Rafa berdecak segera menarik Manda pergi.
"Hei, apa ini caramu menghargaiku! Setidaknya berterima kasihlah!" teriak Noah kesal.
"Untuk apa? Lagian Sheila pasti tidak meminta bantuan darimu. Sekarang pergilah!" usir Rafa naik ke mobil bersama Manda yang ditarik begitu saja. "Mereka berdua kenapa selalu saja bertengkar sih, makin greget saja!" gumam Manda dalam hati, ia tak tega juga meninggalkan Noah yang berdiri di pinggir jalan.
"Sekarang kita mau ke mana?" tanya Manda. Rafa yang kesal tak menjawab, ia diam mengemudi.
"Jawab aku dong, kita mau ke mana sekarang?" lanjut Manda takut Rafa akan menyakitinya. Karena Manda tahu, psikopat itu sangat kejam bahkan wanitanya saja bisa dia sakiti.
"Ck, bisakah kamu menghindarinya! Kamu ini harus ingat, kalau sekarang kamu adalah wanitaku!" ujar Rafa membentak. Manda terperanjat lalu menggerutu dalam hati.
"Apa sih, baru juga aku jadi wanitanya dia sudah marah-marah begini. Padahal dia sama Noah adalah keluarga, tapi dia malah membencinya. Tapi apa dia begini karena-" batin Manda tersenyum tipis membuat Rafa yang mengemudi di dekatnya mengernyit heran.
"Ada apa dengan ekspresimu itu?" tanya Rafa meliriknya.
"Pfft, setiap hari kamu selalu saja marah-marah. Apa barusan kamu cemburu?" jawab Manda menebaknya. Rafa spontan melihat ke depan lalu berkata : "Ck, untuk apa aku harus cemburu. Kamu juga tidaklah cantik di mata orang lain. Kamu wanita yang sangat jelek!"
Manda makin jengkel mendengarnya.
"Ih, tadi di mansion dia bilang aku cantik, sekarang marah-marah ngatain aku jelek! Dasar, lelaki menyebalkan!" rutuk Manda melipat tangan cemberut. Rafa melirik Manda lalu diam-diam menertawainya.
"Aku harus mengawasinya, preman yang mengganggunya tidak akan aku lepaskan! Dan juga, Noah harus diperingatkan." Rafa membatin dalam hati.
Tak menunggu waktu lama, keduanya sudah pulang dari jalan-jalan. Manda sangat senang di samping Rafa. Ia membawa pulang banyak sesuatu, bahkan tiga tusuk permen kapas ada di tangannya. Manda tak henti-hentinya mengigit permen itu dengan pelan, menjilat lalu memainkannya dengan mulutnya. Rafa yang melihatnya cuma menelan ludah lalu segera menahan Manda.
"Tunggu," tahan Rafa menghentikannya. "Ada apa?" tanya Manda menatapnya sembari mengigit permen kapas terakhirnya. Kedua mata mereka saling bertatapan, sontak Rafa mengigit permen kapas itu di sisi lain. Mata Manda melebar melihat tindakan Rafa yang hampir menciumnya.
"Kyaaaa... dasar menyebalkan!" Manda tersipu segera lari ke dalam mansion meninggalkan Rafa yang mengunyah permen terakhirnya.
"Pfft, ahahaha...." Rafa tertawa lepas sembari menjilat bibir bawahnya. Menjilat sisa rasa dari permen kapas.
__ADS_1
"Hm, rasanya masih sama, manis seperti permen kapas."
Rafa pun segera menyusul Manda masuk ke dalam mansion.