Istri Reinkarnasi, CEO Kejam

Istri Reinkarnasi, CEO Kejam
Bab 112 : Pergi


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Manda pun segera ditangani secepat mungkin. Operasi adalah jalan satu-satunya untuk menghentikan pendarahan. Rafa ketakutan di depan ruang operasi hanya bisa mondar mandir sendirian.


Braakkk!


Tembok yang tidak bersalah pun dipukul oleh Rafa, dia masih emosi pada Noah, mengira Noah lah penyebab istrinya terluka. Rafa memang tidak sempat melihat mayat Delsi hingga berpikir demikian.


"Brensek kau, Noah!"


"Aku sudah menduga pasti akan ada masalah, dan sekarang kau terluka gara-gara dia, harusnya kau dengarkan aku, Shei!"


Rafa duduk mengacak-acak rambutnya dan sesekali menatap pintu ruang operasi yang di dalamnya terdapat Manda yang belum diketahui kondisinya. Rafa menyeka air matanya, lalu dia pun menghubungi orang tuanya untuk mengurus tiga anaknya sementara. Rafa berdiri lalu berpindah tempat sedikit untuk mencari sinyal penuh.


"Halo, Mih," ucap Rafa sedikit terisak.


"Ra-rafa, kamu kenapa, Nak?" Nyonya Mira kaget mendengar suara putranya yang serak.


"Aku lagi di rumah sakit, Mi."


"Rumah sakit? Untuk apa kamu di sana? Bukannya hari ini kau harusnya ke rumah Kakekmu?"


"Aku habis ke sana, tapi sekarang Sheila lagi dioperasi di sini, Mi."


"Apa, Sheila di operasi? Kenapa bisa?"


"Sheila habis ditikam, dan sekarang aku tidak tahu apa yang harus aku katakan ke anak-anak soal Ibu mereka,"


"Mi, tolong jemput anak-anakku di rumah Kakek, dan tolong Mami rahasiakan ini dulu pada mereka," jelas Rafa mondar mandir lagi.


"Baiklah, Mami akan suruh Papimu jemput mereka, sekarang katakan, kau berada di rumah sakit mana, Nak?" tanya Nyonya Mira bergegas mengambil tas dan masih menghubungi Rafa. Wanita berusia lima puluh itu ingin menemani putranya di sana.

__ADS_1


"Nanti aku kirim alamatnya,"


"Baiklah. Mami akan cepat sampai ke situ."


Nyonya Mira pun mengakhiri panggilan itu, dia keluar dari kamar lalu menuruni anak tangga. Sontak suaminya yang lagi nonton TV segera mencegatnya.


"Berhenti, kau mau pergi ke mana, sayang?" tanya Tuan Raka.


"Duuh, aku lagi buru-buru, kau jemput cucu kita di rumah ayah," jawab Nyonya Mira memberi kunci mobil ke suaminya.


"Kenapa dengan Rafa, sampai aku yang harus jemput cucu kita?" tanya Tuan Raka lagi belum memberi jalan.


"Ishh, nanti setelah kau jemput, aku bakal jawab pertanyaan mu itu. Aku pergi dulu ya, sayang," desis Nyonya Mira menepuk bahu suaminya lalu menyuruh penjaga mengantarnya ke rumah sakit.


"Yahh, tumben pergi buru-buru gitu? Mau kemana sih? Main pergi gitu aja!" rutuk Tuan Raka kecewa karena tidak dicium dulu. Dia pun menghubungi seseorang di rumah ayahnya. Sontak Tuan Raka terdiam setelah menerima laporan dari pelayan di sana, jika semua cucu-cucunya sudah pulang, terutama Triple R juga. Tetapi, Tuan Raka bingung mendengar suara pelayan tampak gemetar. Panggilan pun berakhir.


"Baiklah, jadi sekarang aku ke mana dong?" pikir Tuan Raka menyentuh dagunya. Dia lagi mempertimbangkan tujuannya. "Cucuku kan bisa saja ke rumah Ibunya, dan bisa juga ke rumah ayahnya. Kalau aku ke rumah William terus mereka tidak ada, kan sia-sia aku ke sana. Kalau aku ke rumah Rafa, terus sama saja, itu juga membuang waktuku. Jadi aku kemana dulu nih?" gumam Tuan Raka malah mondar-mandir di tengah-tengah ruang tamunya.


"Heh, aku tahu apa pikiranmu, jangan tertawa di belakangku."


"Maaf, Tuan. Sepertinya Tuan lebih baik menghubungi salah satu nomor rumah, mungkin ini lebih mudah untuk Tuan."


"Ah benar juga, kenapa aku tidak kepikiran sampai ke situ ya?"


"Mungkin karena Tuan sudah tua, jadi sudah agak-"


"Agak apa? Agak bodoh gitu?" ujar Tuan Raka melototi pelayannya. Pelayan menggelengkan kepala, dia tidak berani meledek majikannya.


"Ya sudah, kamu hubungi seseorang di rumah Rafa," perintah Tuan Raka.

__ADS_1


"Baik, Tuan!"


Pelayan itu pun menghubungi ke rumah Rafa, sambil menatap majikannya yang duduk nonton TV lagi. Seketika dia terhubung dengan Pak Toby, dia mendapat laporan jika Triple R telah pulang dan kini menunggu kedua orang tuanya yang belum pulang dari tadi. Pelayan itu pun mengerti, dia pun mengakhiri panggilan.


"Tuan, cucu anda berada di rumah Tuan muda Rafandra, apa Tuan ingin ke sana?" tanya pelayan itu.


"Hmm... tidak, kau suruh orang di sana yang bawa mereka ke sini," jawab Tuan Raka sangat asik menonton sebuah pertandingan hingga tidak mau ketinggalan hasilnya.


"Tapi Tuan, bukannya tadi Tuan disuruh sama Nyonya?"


"Cih, kamu ini ganggu banget! Orang lagi asik nonton kau malah ingatkan! Sini kau ikut denganku," pinta Tuan Raka terpaksa bangkit dari sofa lagi.


"Mau kemana, Tuan?" tanya pelayan lagi. Tuan Raka greget, dia pun menunjuk telepon rumah.


"Ya ke rumah anakku lah, masa ke kebun binatang. Kamu ini ya lama-lama aku turunin gajimu bulan ini!"


"Ah, jangan Tuan!"


"Ya sudah, jangan tanya lagi. Ini kau ambil dan bawa mobilnya," ucap Tuan Raka melemparkan kunci mobil padanya. Tuan Raka pun pergi bersama pelayan itu ke mansion Rafa.


_____


Sementara di sisi lain dunia di waktu yang sama, Helena yang tadi meminta Dokter untuk memeriksa kondisi Noah malah diberitahu untuk lebih baik melepaskan Noah, yang artinya Dokter menyuruh Helena untuk menyerah menunggu Noah sadar, karena fungsi otaknya mulai rusak. Helena tentu tidak terima, dia mencegat suster yang mau mematikan mesin ventilator.


"Tidak, Dok! Saya masih yakin, dia masih bisa sadar!" ujar Helena merentangkan tangan. Dia berteriak mengusir semua suster. Dokter yang tidak mau cari masalah pun keluar dan membiarkan Helena.


"Hiks, nggak! Aku nggak akan biarkan kalian menyentuh calon suamiku. Aku pastikan, Rangga masih bisa bangun."


Helena menangis lalu mencium tangan Rangga.

__ADS_1


"Maaf Rangga, ini salahku, harusnya aku tidak menelpon malam itu."


Helena merasa menyesali keegoisannya. Meski orang tua Rangga telah ikhlas, tapi mereka masih ragu untuk menghentikan pengobatan Rangga, dan Helena masih yakin jika Rangga punya harapan untuk bertahan. Namun siapa sangka, Dokter menghubungi pihak keluarga Rangga untuk segera mengurus Helena agar berhenti mengharapkan Rangga sadar. Orang tua Rangga pun setuju untuk menghentikan pengobatan putra mereka.


__ADS_2