Istri Reinkarnasi, CEO Kejam

Istri Reinkarnasi, CEO Kejam
Bab 55 : Keracunan


__ADS_3

Dua bocah kembar di belakang Rafa dan Manda saling berbisik-bisik. Mereka was-was pada Rein yang belum kunjung terlihat.


"Rara, ke mana kak Rein sekarang? Kenapa belum muncul juga?" Akhirnya Rain bertanya.


"Aku juga tidak tahu, apa mungkin dia ditangkap sama nenek tua itu?" bisik Rara balas tanya.


Keduanya pun berhenti jalan merasa ada yang aneh. Rara dan Rain pun tidak jadi masuk ke dalam dapur. Keduanya naik ke lantai atas untuk mencari Rein. Sedangkan Manda dan Rafa tidak sadar kedua anak di belakangnya pergi begitu saja.


Rafa dan Manda berhenti sejenak lalu melihat seksama para pelayan. Mereka harus pastikan tak ada yang mencurigakan dari pelayan itu. Setelah yakin, mereka pun duduk berdekatan. Rafa meraih tangan Manda, ia tersenyum dapat makan malam bersama dengan istrinya.


Tak lama kemudian, Ny. Marina dan Delsi masuk ke dalam dapur. Keduanya tersenyum miring melihat Rafa dan Manda sudah duduk duluan di kursi bersama Tn. Damian yang dari tadi menunggu Istri dan anaknya turun. Namun keduanya mengernyit tak melihat tiga bocah di dekat Manda.


"Shei," panggil Delsi mendekati Manda lalu duduk di dekatnya. Sedangkan Ny. Marina duduk di dekat Tn. Damian.


"Ada apa?" tanya Manda bernada dingin.


"Ck, aku cuma mau tanya, di mana anak-anakmu?"


Manda dan Rafa pun saling pandang, keduanya baru sadar. Tapi Manda tak akan biarkan Delsi melihat reaksinya yang terkejut.


"Oh, anak-anakku masih ada di dalam kamar," jawab Manda terllihat tenang lalu meminum air gelasnya.


"Loh, kenapa tidak ikut turun?" tanya Delsi lagi. Manda meletakkan gelasnya ke meja cukup keras lalu menatap Delsi serius hingga Delsi menelan ludahnya sendiri. Saat mau menjawabnya, Rafa bicara duluan.


"Apa itu penting bagimu? Kami orang tuanya, kami tahu apa yang terbaik untuk mereka. Lebih baik jangan bertanya lagi pada istriku!" Rafa tahu, Delsi bertanya karena ia tak mau anak-anak Sheila lolos dari rencananya.


"Em, aku hanya bertanya tapi kalian malah menjawab begitu padaku, Ck." Delsi berdecak lalu berdiri dari kursi. Panci di atas kompor dia ambil kemudian dia tuangkan ke dalam empat mangkok, kemudian diam-diam mengambil mangkok milik Ny. Marina yang ada di dalam lemari lalu Delsi pun berjalan ke meja makan.


"Papah, ini punya Papa dan ini punya Mama. Terus yang dua ini punya kalian." Delsi memberikan sup itu sendiri ke Manda dan Rafa. Dua mangkuk itu ditatap serius oleh Rafa dan Manda kemudian melihat Delsi dan Ny. Marina yang duduk santai di kursinya lagi.


"Delsi, Papa tidak bisa makan sayur. Kamu harusnya tahu, Papa kurang suka makan sayur." Tn. Damian mendorong sup itu menjauh darinya. Benar sekali, Delsi memang tahu ayahnya tidak akan makan. Kini tinggal giliran Manda dan Rafa untuk makan sup itu.


"Kenapa kalian belum makan?" tanya Ny. Marina pada Rafa dan Manda.

__ADS_1


"Apa itu penting bagimu?" balas Manda dingin.


"Ck, tentu saja penting. Sup itu masih panas dan bagus untuk dimakan segera mungkin. Kalau dingin maka rasanya akan hilang gitu saja," jelas Ny. Marina jengkel.


"Huftt... sayang, sepertinya aku tidak bisa makan di sini. Bagaimana kalau kita makan di luar?" usul Rafa pada Manda. Senyum Manda merekah lalu melirik sinis ke Ny. Marina dan Delsi.


"Baiklah, kita makan di luar saja bareng anak-anak." Manda berdiri diikuti Rafa. Namun Delsi segera ikut berdiri.


"Tunggu dulu, kenapa kalian begitu? Papa kan baru saja sampai kantor dan ingin makan bersama kalian, harusnya kalian duduk bersama kami untuk makan malam bersama."


Rupanya Delsi mencoba menahan keduanya. Delsi pun melihat Tn. Damian lalu bertanya, "Pah, Papa pasti mau kan makan malam bereng menantu dan Sheila malam ini?" Delsi mencoba menjadikan Tn. Damian sebagai alat.


"Benar Shei, ini malam pertama kalian tinggal di rumah ini. Lebih baik kalian duduklah kembali."


Delsi tersenyum miring melihat Tn. Damian yang menyuruh Rafa dan Manda. Delsi pun maju lalu bicara : "Presdir Rafa, anda ini menantu di keluarga William. Harusnya anda tahu arti kesopanan itu, kan?" tanya Delsi melipat dada kemudian menunjuk Manda.


"Aku benar-benar kasihan padamu, tapi aku juga senang melihat kalian malam ini. Kalian ini pasangan yang sangat serasi."


Pak! Delsi tersentak tangannya diraih dan digenggam kuat oleh Manda yang menyorotinya tajam.


Auw!


Sakit Shei!


Delsi menarik tangannya yang dicengkram kuat oleh Manda. Rafa cuma menahan tawa dalam hati melihat perdebatan dua wanita di depannya.


"Kamu! Apa kamu bilang barusan, ha!" Delsi membentak, tak terima dipanggil Nenek.


"Kamu tuli ya? Apa aku harus teriak kalau kamu itu seperti Ne-nek!" ejek Manda tersenyum miring. Delsi pun maju ingin menjambak Manda namun Rafa menepisnya segera.


"Beraninya kamu ingin melukai istriku!" bentak Rafa mendorong Delsi jatuh ke lantai hingga tersungkur. Ny. Marina yang belum mencicipi supnya segera membantu Delsi bangun.


"Shei! Kamu ini susah keterlaluan!" bentak Ny. Marina tak mau kalah. Tn. Damian menggebrak meja sudah kesal mendengar perdebatan mereka.

__ADS_1


"Hentikan! Cukup! Kalian ini seperti anak-anak saja, kalian duduklah kembali!" titah Tn. Damian berdiri.


"Tidak, aku tidak mau makan di sini. Bisa saja, makanan kalian beracun," tolak Manda membuat Delsi dan Ny. Marina terkejut begitupun Tn. Damian yang hampir shock.


"Shei, beraninya kamu bilang begitu!" Tn. Damian menunjuk Manda. Rafa pun maju lalu berkata : "Istriku tidak salah, dia hanya waspada dengan kalian. Bisa saja anak dan Ibu ini memasukkan sesuatu ke dalam sup ini." Rafa menunjuk sup di mangkuknya.


"Ck, kalian jangan menuduh kami tanpa bukti! Ini namanya pencemaran nama baik!" timpal Delsi emosi ditunjuk oleh Rafa.


"Itu benar, jika kalian tidak mau dituduh. Maka coba kalian makan duluan sup ini," sambung Manda ikut menunjuk Delsi.


"Cukup, aku akan buktikan." Ny. Marina angkat suara. Ia pun duduk lalu memakan sup miliknya tanpa curiga sama sekali. Kemudian 2 menit tak ada apa-apa yang terjadi. Hingga akhirnya Delsi tertawa.


"Ahaha lihatlah, Ibuku baik-baik saja. Sekarang lebih baik kalian coba sup ini!" Delsi memberikan satu mangkuk sup ke Manda. Namun Manda langsung menepis mangkuk itu hingga terlempar jauh dan pecah.


Prang!


Semuanya terkejut ditambah Manda maju mendekati Delsi.


"Sup Ibumu pasti tidak diberi racun hingga ia baik-baik saja, lebih baik janganlah berbohong pada kami. Jujurlah, jika kalian bersekongkol untuk bersandiwara pada kami," ujar Manda marah besar.


BRAK!


"CUKUP! Kalian ini kekanak-kanakkan. Shei! Duduklah, mana mungkin Delsi melakukan itu." Tn. Damian berdiri membentak dua putrinya. Manda dan Delsi saling bertatap dingin. Namun seketika mereka dikejutkan oleh Rafa.


"Lihatlah, apa yang terjadi pada Ibumu,"


Delsi berbalik, kedua matanya ingin keluar dan sangat shock melihat Ny. Marina yang keracunan. Tn. Damian ikut shock segera memanggil ambulans sebelum terlambat.


"Shei, aku yakin kamu pasti meracuni Ibuku kan?"


Plak! Manda menggampar kepala Delsi cukup keras.


"Tanyakan sendiri pada dirimu, dasar sialan!" rutuk Manda keluar menarik Rafa pergi dari sana agar tidak terkena dampaknya. Makan malam ini sangat berantakan, Tn. Damian membawa cepat Ny. Marina ke rumah sakit bersama Delsi. Kini di rumah itu tinggal Rafa dan Manda.

__ADS_1


"Hufft, aku merasa ada yang aneh. Kenapa tiba-tiba Ny. Marina yang keracunan?" tanya Manda ke Rafa. Rafa tertawa kecil kemudian berkata : "Karma pasti berlaku, sayang." Rafa menarik Manda untuk naik ke lantai atas. Manda kini paham, inilah balasannya untuk mereka. Entah bagaimana nasib Ny. Marina yang keracunan.


"Oh ya, kemana anak-anakku sekarang?" pikir Manda baru ingat dengan tiga anak kembarnya yang belum kunjung terlihat dari tadi.


__ADS_2