Istri Reinkarnasi, CEO Kejam

Istri Reinkarnasi, CEO Kejam
Bab 30 : Rain Pingsan


__ADS_3

Manda menarik Rafa keluar dari perusahaan. Ia kesal dengan Rafa yang datang secara tiba-tiba. Walau sedikit membantu, tapi ini terlalu berlebihan. Manda berhenti kemudian menatap Rafa yang berdiri di dekatnya.


"Kenapa kamu datang ke sini? Bukannya kamu punya urusan penting?!" tanya Manda berkacak pinggang. Rafa tak menjawab, ia malah menyentuh kepala Manda.


"Ada apa ini?" Manda mundur selangkah, takut dicium di tempat umum. Sekali lagi Rafa tak menjawab, melainkan menarik Manda ke arah mobilnya.


"Eh, ada apa denganmu?" Sekali lagi Manda bertanya sambil mengikuti Rafa yang masih menariknya. Sekretaris Jho yang melihat keduanya pergi menggunakan mobil Rafa, ia jadi penasaran pada Manda. Masih berpikir dan bertanya-tanya, "Apa ini beneran Nona Sheila?" gumam Sekretaris Jho melihat anak buahnya kemudian memberi isyarat untuk menyelidiki Manda diam-diam. Setelah mengurus ganti rugi di perusahaan SANG dan surat undur diri Manda, sekretaris Jho pun kembali ke perusahaan.


Sedangkan Manda dan Rafa kini berada di dalam mobil yang sedang melaju ke suatu tempat.


"Kenapa kamu diam terus? Dan kemana kamu mau membawaku?" tanya Manda memegang erat sabuk pengaman. Ia sedikit takut dengan Rafa yang melaju dengan kecepatan sedikit tinggi.


"Bisakah kamu membawa mobil dengan laju yang lambat, aku bisa jantungan nih!" Lagi-lagi Manda mengomel. Sontak mobil berhenti mendadak hingga kening Manda hampir menabrak kaca mobil di depannya. Untung ada sabuk pengaman.


"Iih, kenapa lama-lama kamu ngeselin sih! Jawab aku dong! Jangan cuma mendiami ku begini saja!" ujar Manda masih mengoceh. Rafa mendesis, ia sedikit kesal, ia yang terus mengemudi dari tadi selalu saja mendengar ocehan Manda. Tapi dia juga tak mau Manda jauh darinya, jadi ia terpaksa menahan emosinya.


Rafa sontak menoleh membuat Manda tersentak, ia pun memundurkan sedikit wajahnya.


"Ada apa dengan matamu itu?" tanya Manda dengan hati berdebar-debar.


"Kyaaa! Kamu mau apa?!" lanjutnya teriak sedikit saat Rafa tiba-tiba lebih mendekatinya, Manda takut Rafa ingin macam-macam dengannya di dalam mobil, apalagi oppainya hampir menyentuh tubuh Rafa.


Rafa yang mendengarnya kini tersenyum menyeringai, ini semakin membuat Manda merinding.


"Ka-kamu jangan macam-macam, kita itu tidak punya hubungan apa-pun," ucap Manda terbata-bata saking gugupnya. Kadang posisi ini sering membuat orang berpikir aneh. Rafa yang melihatnya ketakutan, ia langsung tertawa kecil.


"Pfft,"


"Eh, apa yang kamu tertawakan?" tanya Manda mengangkat alis. Rafa semakin mendekatinya lalu berkata : "Mulutmu ini seperti mesin cuci, selalu berputar tanpa henti sebelum waktunya habis. Sekarang keluarlah!" pinta Rafa membuka sabuk pengamannya lalu keluar dari mobil diikuti tatapan Manda melihat Rafa berjalan ke arah sisinya.


"Kenapa kita turun di sini?" Manda ikut turun dan berdiri di dekat Rafa sambil terheran-heran melihat toko besar di depannya.


"Tidak usah banyak tanya, sekarang ikutlah denganku," tarik Rafa masuk ke dalam pekarangan toko bersama Manda.


"Apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan di sini hingga mengajak aku juga?" tanya Manda lagi. Rafa berhenti, kemudian menatap sinis Manda.


Ia sedikit kesal.


"Bisakah kamu berhenti bertanya padaku! Kamu diam saja, ada yang ingin aku beli di sini,"


"Lalu, apa hubungannya denganku?" Manda menunjuk dirinya.


"Diamlah, kamu perlu ikut aku, dan berhenti jadi mesin cuci!" pinta Rafa menarik Manda lagi. "Iiih, kenapa sih dia selalu bikin aku tambah kesal!" gerutu Manda dalam hati dan akhirnya nurut. Meski dalam hatinya, ia tersipu melihat tangannya digenggam oleh Rafa. "Kasihan juga sih aku marah terus sama dia, tapi kalau aku lembek nanti dia keenakan nindas aku." Pikir Manda terpaksa bersikap galak pada Rafa.

__ADS_1


Keduanya masuk ke toko kamera canggih. Manda bengong setelah masuk ke toko itu.


"Bagaimana? Apa kameranya sudah selesai diperbaiki?" tanya Rafa pada penjual.


"Sudah Pak, ini kamera kemarin lalu. Kacanya sudah diganti dan sudah bisa digunakan lagi," jelas si penjual menjawab Rafa dengan ramah.


"Loh, ini kan kameraku? Kenapa kamu perbaiki?" Tunjuk Manda pada kamera di tangan Rafa kemudian ingin mengambil tapi Rafa dengan cepat mundur.


"Eits, jangan diambil dulu," ucap Rafa tersenyum miring.


"Kenapa? Ini kan punyaku!" ujar Manda ingin merebutnya. Rafa tertawa kemudian membayar kredit kamera itu lalu berjalan pergi ingin ke mobilnya.


"Jika kamu mau ambil ini, maka kemarilah!" teriak Rafa mengangkat kamera Manda ke atas.


"Ish, dia maunya apa sih! Kan tinggal kasih ke aku saja, tapi kenapa dia memperbaikinya?" desis Manda berpikir dan segera mengikutinya.


Sekarang keduanya berada di dekat mobil. Rafa berdiri dengan dua kamera di tangannya. Manda yang berdiri di depannya jadi bingung.


"Sekarang, aku punya dua pilihan untukmu. Kamera di tangan kiri ku ini adalah kamera baru. Sedangkan di tangan kiri kamera milikmu. Kualitas dan efeknya tentu berbeda, jadi menurutmu... kamera mana yang ingin kamu ambil? Dan oh ya, ini cuma ku lakukan agar kamu tidak mengungkitnya di kemudian hari," jelas Rafa.


Manda melihat bergantian kamera itu, memang terlihat berbeda. Rafa yang melihat Manda kebingungan mulai berpikir Manda pasti akan memilih yang baru. Namun ternyata salah, Manda mengambil kameranya sendiri. Ini membuat Rafa tercengang.


"Aku pilih kameraku sendiri," ucap Manda tersenyum manis.


Rafa semakin tertegun, ia perlahan tersipu lalu mendaham, "Ekhm, mengapa kamu memilih ini?" tanya Rafa ingin tahu, apalagi ekspresi Manda sangat imut sekarang.


"Itu karena di dalam kamera ini ada memori pemotretan Rein dan Rara waktu kecil. Lihatlah, ini Rara dan ini Rain." Manda menunjuk sebuah foto di layar kamera itu setelah Manda menyalakannya. Rafa diam, foto Rein masa kecil benar-benar sangat mirip dengan Rain juga.



"Jika saja..." lirih Manda menunduk.


"Jika saja apa?" tanya Rafa terkejut Manda menangis.


"Sebenarnya, aku melahirkan tiga anak kembar. Jika saja dia tak meninggal, mungkin sekarang kamu punya tiga anak. Ini salahku, terlalu lemah hingga dia meninggal, hiks..." Isak Manda menyeka air matanya.


Sontak Rafa terkejut kemudian berkata : "Kamu dulu mengandung tiga bayi?" tanya Rafa serius. Manda mengangguk lalu menangis lagi.


"Itu benar, harusnya mungkin saat itu aku tak usah pergi dari rumah. Tapi ... aku takut saat kamu datang, aku akan dibawa olehmu dan membunuhku karena sudah tidur denganmu. Tolong maafkan aku sudah membuatmu terhina. Ku harap kamu tidak marah padaku."


Sontak Rafa memeluknya, ia menggelengkan kepala. Manda makin menenggelamkan wajahnya ke pelukan Rafa, menumpahkan kesedihannya. Tak peduli dengan pandangan orang yang berlalu lalang sekarang. Ia sungguh menangis tak berakting lagi.


"Tidak Shei, aku yang salah. Mungkin waktu itu aku terlihat kejam hingga kamu ketakutan. Sekarang jangan menangis, mungkin satu anak kita masih hidup di dunia ini,"

__ADS_1


Deg!


"Kenapa kamu berkata begitu?" tanya Manda terkejut. Inilah yang ingin diketahui oleh Manda.


"Sekarang kita pulang, kamu akan tahu setelah kita pulang." Rafa menghapus air mata Manda dengan tangannya sendiri kemudian mencium pipi Manda dengan lembut membuat orang pejalan kaki tertawa dengan pasangan yang mengubar keromantisan Rafa pada Manda. Rafa tak peduli, ia menarik Manda ke mobil. Membawa Manda pulang ke rumah.



Di mansion Rafandra. Sebuah mobil hitam memasuki pekarangan. Setelah berhenti, salah satu pintu mobil terbuka. Seorang bocah cilik dengan senyuman manis keluar lalu berdiri melihat pak supir.


"Makasih pak, sudah mengantar Rain," ucap Rain pada Pak supir.


"Ahaha... sama-sama, kalau begitu bapak pergi dulu." Pak supir pun melambai setelah keluar dari pekarangan, mobil hitam pun meninggalkan mansion.


"Yes, akhirnya aku bisa kabur dari pengawasan Mama. Jadi aku bisa ke sini, hehe. Sangat mudah menipu, Mama." Rain tertawa lepas, ia berjalan riang menuju ke pintu utama. Ia sangat senang mengelabui Ny. Valen.


Cklek!


Pintu perlahan terbuka, Rain mengintip sedikit lalu melihat beberapa pelayan yang sedang mengerjakan tugas mereka.


"Baiklah, pasti Daddy terkejut dan senang aku datang ke sini. Lalala... aku datang Daddy!" batin Rain masuk ke dalam.


"Selamat siang bibi, di mana Daddy ku berada?" tanya Rain menghampiri salah satu Bibi pelayan.


"Astaga, ini Tuan muda Rain? Ini sungguh Tuan muda Rain atau Tuan muda Rein?" kaget Bibi pelayan bertanya-tanya.


"Ha, Rein? Siapa dia, Bibi?" tanya Rain mengangkat alis. Saat Bibi pelayan ingin menjawab, tiba-tiba suara seorang anak menjawabnya duluan.


"Aku Rein," sahut Rein yang berdiri di belakang Rain.



Sontak, Rain berbalik. Keduanya matanya perlahan dan seketika melebar.


"Kyaaaaa! Haantuuu!!" pekik Rain langsung jatuh pingsan. Ia shock melihat dirinya yang lain. Sangat persis dari kepala sampai kaki.


"Astaga, Tuan muda Rain!" pekik Bibi pelayan ikut shock, untuk ia tidak pingsan. Bibi pelayan segera mengangkat Rain dan meletakkannya ke sofa. Sedangkan Rein, tiba-tiba menjerit. Ia dicubit oleh adiknya, Rara yang muncul dari belakangnya.


"Ish, kak Rein usil banget. Lihatlah, dia jadi pingsan gara-gara kak Rein!" cetus Rara menyun. Rein mendesis sakit kemudian melihat Rain.


"Ternyata, dia memang mirip denganku dan sedikit mirip denganmu, Ra. Sepertinya, mungkin saja dia anaknya Mommy, saudara kita." Kata Rein mendekati Rain dan Bibi, diikuti oleh Rara.


Deg! Pelayan yang mendengarnya kembali terkejut. Melihat seksama Rein dan Rain yang memiliki rupa yang sama. Sedangkan Rara tersenyum melihat Rain sudah datang, tapi penyambutannya malah sangat konyol, pingsan akibat ulah Rein.

__ADS_1


__ADS_2