
Beberapa jam merenung, tetap saja Manda belum berkata-kata. Pikirannya masih tidak dapat singkirkan Rafa dan ketiga anak kembarnya. Sehingga siang ini, dia sama sekali tidak menyentuh makanan di atas meja.
Ibu masuk menghampirinya, dia mengatakan kondisi Manda sudah sangat membaik, sesuatu yang amat mengejutkan. Bahkan Manda bisa pulang sore nanti.
Kesehatan Manda seratus persen membaik, tapi tidak untuk di dalam hatinya.
"Nak, ayo bereskan barangmu. Ibu keluar dulu cari ayahmu. Kalau ada apa-apa, panggil cepat Ibu."
Manda tidak menjawab, dia dengan tatapan kosong menatap jendela di depannya. Ibu menghela nafas tidak tahu bagaimana cara menghibur Manda yang lagi duduk di atas brankar sambil membelakanginya.
Ibu pun keluar meninggalkan Manda seorang diri.
"Lima bulan?" Manda memegang kepalanya.
"Ahhh, kenapa tidak mati sekalian!" Manda kembali meracau, dia sesal hidup di dunia yang tentunya bersama sang mantan dan ****** brensek itu.
"Huhuhuhu... dia pasti bahagia sekarang. Kenapa sih aku hidup lagi! Menyebalkan!" Saking kecewanya dia hampir gila. Ya mungkin Manda belum rela. Entah rela sama mantan atau dunia lain di sana.
Manda tidak peduli dengan ucapan Ibunya yang tadi menyuruh untuk membereskan barang. Dia malah tidur kembali, tapi saat kepalanya mendarat di atas bantal, sesuatu yang keras mengenai kepalanya. Manda beranjak duduk, dia membalikkan bantalnya. Begitu terkejutnya menemukan berlian milik Rara.
"Loh, ini kan berlian dari putriku?" Manda mengambilnya. Dia tersenyum lebar dan tertawa.
"Hahaha, sudah aku bilang. Dunia lain memang ada, pasti ada dunia pararel. Mereka pasti hidup!"
Tawa keras Manda yang kegirangan terasa mengganggu yang lewat di depan ruangan Manda. Seorang pria masuk dan menegurnya.
"Hei, mbak! Ini rumah sakit bukan stand up comedi. Kalau mau ketawa pergi dari sini. Mengganggu saja!" Pria itu membentak cukup keras. Manda berbalik dengan ekspresi datar. Dia turun dari brankarnya kemudian menunjukkan berlian itu.
"Pak lihatlah, berlian ini jalan keluarnya. Aku-aku pasti akan kembali pada suami dan anak-anakku!" ucap Manda tiba-tiba tersenyum merasa ada yang bisa mengembalikan dirinya ke dunia suaminya.
"Suami dan anak-anak? Kau sudah menikah?" tanya pria berumur kira-kira tiga puluh tahun itu.
Manda tanpa pikir panjang dia menjawab, "Benar Pak, saya ini sudah menikah." Manda menunduk masih mengamati berlian di tangannya sambil tersenyum.
Pria itu memandangi Manda dengan jahil, dia seketika penepuk bahunya hingga Manda terperanjat dan menatapnya. Tatapan Pria itu sangat aneh, dia seperti bernafsu pada Manda dan berlian itu.
"Berlian yang cantik, pasti mahal. Tapi kenapa mbak sendirian memegang benda berharga ini? Di mana suami dan anak-anak, mbak?" Pria itu sangat lembut bertanya.
Manda menepis tangan pria itu dan mundur perlahan.
"Su-suami saya tidak ada di sini, lebih baik bapak keluar," usir Manda sedikit was-was. Pria itu terkejut, dia pun menyeringai dan maju mendekati Manda.
"Tenanglah, saya ini orang baik-baik. Kamu tidak usah ketakutan, saya hanya ingin melihat berlian di tanganmu itu," ucap Pria itu tidak hentinya maju.
__ADS_1
"Keluar! Anda jangan mendekat!" Manda teriak, menunjuk ke arah pintu dan diam-diam menyimpan berlian itu ke saku celananya. Manda sudah tahu, pria itu ingin berbuat jahat. Mungkin ingin mencuri berlian atau ingin memperkosanya.
"Mbak, jangan takut. Saya di sini cuma ingin-"
Plak!
Manda yang ketakutan memberi tamparan cukup sakit di pipi pria itu. Berharap nyali pria itu menciut, tapi malah sebaliknya pria itu geram.
"Dasar ******, beraninya kamu memukul saya!"
"Ahhhhh!" jerit Manda dicengkram kuat.
"Lepaskan, saya tidak mengenal anda, begitupun anda! Pergilah, jangan mengganggu saya!" ujar Manda memberontak, dia kini menyesal memperlihatkan berlian itu ke orang lain.
"Hahaha, lepas? Setelah menampar saya, mbak langsung mengusir saya?" tawa pria itu mendorong Manda jatuh ke lantai.
Manda mengepal tangan, dia pun berdiri dengan nyalinya yang kecil.
"Itu salah anda yang memaksa mendekat, saya sudah mengusir anda lebih dulu, tapi anda masih berani mendekati saya!" ucap Manda membela diri.
"Sialan, kamu ini wanita keras juga. Karena tidak ada orang, sekalian saja aku memberimu pelajaran!" bentak pria itu membuka ikat pinggangnya.
"Dasar pria bejat, ingin sekali aku memukulnya!" rutuk Manda menggertakkan rahang mulai emosi.
"Haha, kenapa diam? Apa kamu ingin dipuaskan olehku? Dari pada menunggu suamimu datang, bagaimana jika bermain dengan-"
"******, nyalimu sungguh besar juga ya!" murka pria itu berdiri tidak terima. Manda buru-buru lari ke arah pintu sebelum dirinya diperkosa.
"Hei, jangan kabur!" teriak Pria itu mengejar Manda. Tapi karena suara berisik dari kamarnya itu, dua satpam mencegat Manda.
"Ada apa ini, kenapa mbak dikejar olehnya?" Salah satu satpam menunjuk pria itu yang berada tidak jauh dari belakang Manda.
"Pak, tolong! Pria ini jahat, dia ini pencuri, dan bahkan mau merampas semua milik saya!" ucap Manda merasa lega dapat menjumpai satpam.
"Kau, apa itu benar?" tanya satpam di sebalahnya.
"Jangan percaya padanya. Saya itu bukan pencuri, dia yang mencuri milik saya!" bantah pria itu mengelak.
"Bohong, anda ini jangan membalikkan fakta!" ujar Manda menunjuknya geram.
"Jika benar mbak ini pencuri, silahkan berikan bukti. Dan jika pria ini memang telah mencuri, silahkan beri bukti juga! Jika diantara kalian berbohong, maka kami akan membawa anda ke kantor polisi."
Pria itu terperanjat, dia pun gemetar di tempat. Tidak seperti Manda yang menyeringai tipis.
__ADS_1
"Saya punya bukti, Pak! Di saku celananya ada dompet saya!" sahut Manda menatap pria itu yang kaget kembali.
"Tunggu, mbak jangan fitnah saya!" Pria itu marah.
Tapi dua satpam itu segera menggeledahnya. Benar, di sakunya ada dompet milik Manda. Pria itu sangat kaget dan heran mana melihat dompet berwarna biru itu.
"Bapak ikut kami, anda harus jelaskan tindakan bapak!" Satpam memborgol tangan pria itu, sementara yang satunya mengembalikkan ke Manda.
"Mbak, tolong berhati-hatilah. Bila ada kejadian seperti ini, segera melaporkannya," ucap satpam itu.
Pria itu memberontak, dia maju ingin menyerang Manda. Tapi Manda bergegas lari meninggalkan pria itu diseret oleh dua satpam. Langkah kaki Manda begitu cepat, dia mencari keberadaan Ibunya. Dia masih takut hampir diperkosa oleh om-om bejat.
"Ahhhh," ringis Manda jatuh ke lantai. Dia menunduk, terisak diam-diam. Kakinya terkilir sehingga susah untuk berjalan. Tiba-tiba ada anak kecil perempuan mendekatinya.
"Tante, kenapa duduk di lantai?" tanya anak itu. Manda spontan menoleh, dia terkejut mendengar suara yang dia kenal. Benar, Manda makin terkejut melihatnya wajah anak itu.
"Vina? De-devina?" ucap Manda meraih tangan anak itu. Wajahnya persis sekali dengan keponakan Rafa, putri Devandra.
"Wah Tante hebat bisa tahu nama Vina, Tante indigo ya?" Anak itu kagum disebut namanya, padahal ini pertama kalinya dia bertemu Manda.
"Ini kamu kan, Vina?" tanya Manda lagi.
"Maaf, Vina tidak kenal Tante."
Manda yang mendengarnya cuma tersenyum. Dia agak bingung untuk percaya atau tidak.
"Ayo Tante bangun, nanti bajunya kotor," ucapnya tersenyum manis sambil mengulurkan tangan kecilnya ke Manda.
"Tidak, saya tidak bisa berdiri, cantik."
Manda menunduk, kakinya mulai bengkak.
"Wah sudah merah, ini bahaya. Tante tunggu sini, Vina mau panggil Om Vina dulu."
Baru saja mau Manda menghentikannya, anak kecil menggemaskan itu lari meninggalkan Manda.
"Aduh, jangan pergi." Manda takut jika pria yang tadi lepas dan mencarinya, itu bahaya bagi Manda. Manda pun berusaha berdiri, sesekali jatuh. Orang yang lewat cuma menertawainya. Mengira Manda mungkin lagi main tik tok.
"Aku harus pulang, di sini berbahaya bagiku."
Saat mencoba berdiri, kaki Manda tidak sanggup digerakkan. Dia pun goyah dan mulai jatuh kembali. Namun seseorang menahan punggungnya. Manda kaget segera menoleh, takut pria tadi yang datang. Tapi ternyata bukan.
Mata Manda tidak berkedip sedikitpun melihat orang yang membantunya adalah dia.
__ADS_1
Bersambung.
Hayooo siapa atuh?š¤£Apakah itu mantan saya ataukah pangeran berkuda?