
Pagi harinya, Rafa bangun duluan. Keningnya mengerut, ia merasa perutnya dipeluk dari belakang. Terlihat Manda yang ketiduran malah memeluk Rafa tanpa dia sadari.
Perlahan Rafa ingin melepaskan tangan Manda. Tapi berhenti setelah Manda menggeliat makin memeluknya. Rafa menoleh sedikit melihatnya.
"Hm, apa dia sengaja memelukku?" pikir Rafa langsung merona kemudian tersenyum smirk.
"Hehehe, biarkan dia yang menyadarinya." Rafa kembali memejamkan mata. Ia nampak senang dipeluk oleh Manda.
Beda dengan Manda yang merasa ada yang aneh. Sontak Manda membuka mata lebar-lebar kemudian melihat ke depan. Ternyata ia memeluk seseorang. Kyaaaaa....
"Astaga, kenapa dia bisa ada di sini?" pikir Manda menutup mulutnya dengan kedua tangan. Takut membangunkan Rafa.
Manda segera berbalik, namun saat mau beranjak Rafa memeluknya hingga dia kembali jatuh ke kasur. "Jangan bergerak, biarkan aku memelukmu sebentar," bisik Rafa makin mengeratkan pelukannya.
"Ya ampun, nih orang kenapa semakin tidak sabaran, memangnya aku ini guling yang seenaknya dipeluk!" gerutu Manda dalam hati.
"Hei Tuan, anda harusnya bangun terus pergi ke perusahaan. Tidak usah memelukku seperti ini, tangan kamu berat tau!" Manda selalu mengomel dan berusaha melepaskan tangan Rafa dari perutnya.
"Iiih lepaskan aku!" kesal Manda, tapi Rafa makin menjadi-jadi. Bahkan terasa nafas Rafa di bagian lehernya. Seakan Rafa sedang mendengus aroma tubuhnya.
"Hei jangan lakukan apa-pun padaku, kita ini bukan siapa-siapa. Lepaskan aku atau tangan kamu aku gigit nih!" Rafa tak peduli omelan Manda, pria ini malah dengan cepat mengecup leher Manda.
"Kyaaaaa jangan macam-macam padaku!" teriak Manda memberontak. Tapi Rafa makin mengunci dirinya.
"Berisik bodoh, aku cuma ingin memeluk dirimu, bukan mau bergulat denganmu pagi ini. Tapi kalau kamu memberontak lagi, aku akan melakukan itu padamu sekarang!"
Deg! Manda langsung diam setelah diancam. Bukannya takut, Manda malah mengambil bantal lalu dengan kesal menepuk wajah Rafa berkali-kali.
Pak! Puk! Pak! Pik!
"Rasakan ini! Dasar psikopat!"
"Woi bodoh, sakit tahu!" murka Rafa akhirnya beranjak duduk, ia kesal ditepuk bagaikan lalat.
"Hmp, rasakan itu! Dasar pria tua jelek, wleek!" ejek Manda segera berdiri kabur ke kamar mandi.
"What? Pria tua? Ganteng-ganteng gini aku dibilang pria tua? Cih, berani juga nih cewek! Cantik-cantik tapi galak juga," desis Rafa menoleh sinis ke kamar mandi. Ia beranjak lalu mengetuk pintu kamar mandi dengan keras.
Tok Tok Tok
Manda terkejut, ia segera mengunci pintu kamar mandi.
"Kamu kenapa ketuk pintu?" tanya Manda yang sekarang berdiri di balik pintu.
__ADS_1
"Mau mandi lah!" jawab Rafa cetus. Manda melotot kemudian teriak.
"Kamu keluarlah cari kamar lain, jangan mandi di sini! Kamu tidak lihat, aku juga lagi pakai kamar ini!"
Astaga, bisakah kamu berhenti mengoceh!" balas Rafa teriak.
"Aku tidak peduli, sekarang kamu pergilah!" usir Manda belum membuka pintu. Rafa mengepal tangan kemudian memukul keras pintu di depannya hingga Manda tersentak kaget.
"Hei Sheila! Semua yang ada di sini adalah milikku. Tidak ada yang bisa memerintahku maupun dirimu! Sekarang kamu keluarlah, aku ingin mandi sekarang!"
Manda pun keluar lalu menatap sinis kedua mata Rafa kemudian membuang muka.
"Ck, silahkan Tuan muda yang tampan. Anda boleh mandi di sini!"
Senyum Manda sangat manis kemudian ia melewati Rafa dengan angkuh, tapi ditahan segera oleh Rafa. Manda mengerutkan dahi melihat tangannya ditahan.
"Mengapa menahanku?" tanya Manda masih kesal.
Meski dalam hatinya, ia ingin menjerit kesenangan. Berpikir, "Apa dia ingin mengajakku mandi bersama? Oh tidak-tidak, aku tidak boleh pikirkan itu. Aku dan dia belum menikah."
Tapi ternyata pikiran Manda salah, rupanya Rafa malah memojokkannya ke dinding.
Bugh!
"Kamu pikir, kamu bisa pergi begitu saja?" Rafa menyeringai tipis. Bulu kuduk Manda reflek berdiri semua, dari atas kepala sampai ujung kaki.
"Mak-maksudnya? Kamu mau apa sih!" desis Manda mulai meronta.
"Dengar Nona Shei, hari ini kita akan menikah. Setelah aku membawa saudara kembar Rara ke sini, maka kamu harus patuh apa yang aku inginkan dan ubah sikap pemarahmu itu! Jika tidak, kamu akan tinggal bersama dengan singaku di penjara bawah tanah!"
Deg! Manda segera mengangguk. Tangannya dilepaskan, Rafa menepuk-nepuk kepala Manda kemudian mencium kepala wanitanya dengan lembut.
"Jangan sekali-kali kamu kabur dariku lagi, tetap di sisiku bersama anak-anak kita." Rafa tersenyum membuat Manda tertegun. Ia pun masuk ke kamar mandi mengabaikan Manda yang mengepal tangan.
"Ish, sikapnya menyebalkan!"
"Untung saja aku bisa menahan diri untuk tidak menendang telornya!"
Manda tak henti-hantinya menggerutu dalam hati. Wanita ini pun keluar pergi ke kamar Rara.
_____
Rafa di dalam kamar mandi tak bisa berhenti berpikir tentang Sheila. Merasa wanitanya nampak berbeda dari rumor sebelumnya.
__ADS_1
"Aneh, kenapa lama-lama dia makin galak? Setahuku, Sheila wanita yang penakut. Tapi dia malah berani bicara padaku, bahkan tidak memperlihatkan ketakutan di matanya. Apa dia benar-benar Sheila?" pikir Rafa sembari menikmati guyuran air dari Shower.
"Sepertinya aku harus melakukan tes DNA pada mereka. Aku harus pastikan sebelum aku membuat kesalahan." Lanjut Rafa memukul tembok di depannya. Tujuannya kali ini akan ke rumah sakit untuk lakukan tes DNA pada dirinya dan Rara.
Setelah siap dengan jasnya yang menawan serta ketampanan tiada tara, Rafa hari ini tidak masuk ke kantor. Ia pergi ke alamat rumah Senja untuk membawa Rein. Sedangkan Manda dan Rara dikurung di mansionnya. Hingga Manda tak bisa ikut akibat dua penjaga berotot mengawasinya. Manda bagaikan tahanan di mansion Rafa.
"Argh, nih tokoh utama makin kejam! Aku ini Ibunya Rein juga, tapi malah disuruh diam di sini. Memangnya Rein bakal ikut dengan dirimu, dasar!" rutuk Manda kesal sembari duduk di sofa bersilang tangan bersama Rara.
"Mommy kenapa marah? Mommy tidak suka Deddy ya?" tanya Rara polos ingin tahu perasaan Ibunya ke Rafa.
"Mom-mommy," ucap Manda gelagapan, ia bingung untuk menjawabnya. Karena Manda baru dua hari dekat dengan Rafa. Mana mungkin rasa suka bisa muncul langsung. Sedangkan Manda selama ini hanya mengagumi Rafa sebagai tokoh utama.
"Apa ini termasuk rasa suka?" pikir Manda diam di dekat Rara.
"Mommy kenapa diam?" tanya Rara lagi.
"Apa Deddy jahat sama Mommy? Jadi Mommy tidak suka sama Deddy?"
Glug! Manda diam sembari menelan ludah kemudian tertawa bodoh.
"Ahahaha, Mommy sangat suka. Malah Mommy sangat cinta sama Deddy kalian." Rara sangat girang mendengarnya.
"Wah kalau begitu, tidak akan lama lagi Rara bakal punya adek!"
Huk huk huk!
"Adek?" kaget Manda terbatuk-batuk.
"Hihihi, itu kata Deddy kemarin, Mom," tawa Rara melihat Ibunya terkejut.
"Deddy Rafa bilang apa?" tanya Manda takut Rara pikir aneh-aneh.
"Kata Deddy, kalau Mommy tidur sama Deddy satu kamar... Rara nantinya punya adek, jadi Mommy nanti kasih adek perempuan ya sama Rara. Rara tidak mau adek cowok, Rara tidak suka nanti seperti Kak Rein. Mommy belikan adek baru untukku, Rara bosen sendirian bermain."
Deg! Manda sangat terkejut mendengar permohonan Rara.
"Ahahaha, nanti kita bicarakan sama Deddy Rafa. Lebih baik Rara sekarang temani Mommy jalan-jalan keliling mansion. Gimana, Rara mau?" tanya Manda tak mau bahas adek. Rara pun tersenyum senang mendengarnya.
"Hm, baiklah Mommy." Rara berdiri menarik tangan Manda. Pergi mengelilingi mansion bersama dua penjaga berotot suruhan Rafa. Di setiap langkah kaki Manda, ia sedang gundah.
"Kalau semuanya sudah bersatu, apa aku akan hilang dan meninggalkan mereka?" pikir Manda tak bisa hilangkan keresahannya. Keluarga kecilnya membuat Manda mulai nyaman dan tak mau meninggalkan Rara dan Rein terutama-
"CEO kejam itu."
__ADS_1