Istri Yang Digadaikan

Istri Yang Digadaikan
Bab 21 > Menikahlah Denganku!


__ADS_3

Brugh!


Devanka ambruk setelah dihantam oleh Akandra yang baru saja datang. Sontak Audrey yang saat ini tengah memejamkan matanya karena takut seketika langsung membelalakkan matanya dan menatap Akandra.


"Tuan Akandra?" Audrey keheranan karena bagaimana bisa tuannya berada di panti asuhan.


"Ayo, Nona Audrey. Kita tunggu di mobil," ajak Bi Lina dengan membantu wanita yang malang itu.


Audrey hanya mengangguk dan perlahan bangun. Tatapannya masih menatap pria tampan yang sudah menolongnya dua kali. Akandra tahu akan hal itu, akan tetapi dia memilih untuk pura-pura tidak tahu jika Audrey tengah memandanginya.


Akandra kembali memberi pelajaran pada Devanka. Memang pria br*ngs*k seperti Devanka sesekali harus dihajar agar jera dan menyesal atas semua perbuatannya. Tidak sepatutnya seorang suami menyiksa istrinya sendiri di tempat umum seperti ini.


Sementara itu, Audrey dan Bi Lina berjalan menghampiri Ibu panti sebelum kembali ke mobil. "Ibu, Audrey minta maaf. Audrey telah membuat keributan di sini. Maafin Audrey, karena sudah membuat Ibu ketakutan seperti ini." Audrey memegang kedua tangan sang Ibu panti.


"Tidak, Nak. Semua ini terjadi bukan karenamu. Justru Ibu yang harus meminta maaf, seharusnya Ibu tidak membiarkan suamimu memasuki panti." Ibu panti memeluk Audrey dengan penuh kehangatan.


"Ibu, sebenarnya Audrey masih ingin di sini tapi Audrey harus pergi sekarang. In Sya Allah, Audrey akan kembali ke panti lagi untuk menemui Ibu dan anak-anak. Sekarang aku pamit ya, Bu. Assalamu'alaikum." Audrey berpamitan sembari mencium punggung tangan Ibu Panti.


"Iya, Nak Audrey. Wa'alaikumsalam," jawab Ibu panti.


Setelah berpamitan, Bi Lina memapah Audrey menuju mobil tuannya. Audrey sesekali menoleh ke belakang, dan melihat Tuan Akandra masih memukul suaminya. Kali ini, Akandra terlihat marah sekali.

__ADS_1


'Haruskah dia semarah ini? Apa dia masih mengira jika aku ini Alessa?' Audrey bermonolog dalam lamunannya.


"Silakan masuk, Nona." Bi Lina membukakan pintu mobil belakang.


Audrey tersadar dari monolognya dan segera masuk mobil. Diikuti oleh Bi Lina yang sama-sama duduk di belakang. Sementara itu, Akandra baru merasa puas setelah membuat Devanka babak belur sampai tak sadarkan diri.


Tanpa membuang waktu lagi, Akandra pergi meninggalkan panti dan berjalan menuju mobil. Begitu sampai di depan mobilnya, dia masuk mobil dan duduk di kursi kemudi. Sebelum melajukan mobilnya, dia menatap Audrey dari pantulan cermin yang berada di mobilnya.


'Kenapa dia menatapku seperti ini? Apakah aku membuat kesalahan lagi?' batin Audrey bertanya-tanya melihat tuannya yang terus menatapnya begitu lekat.


"Bibi bisa pulang sendiri 'kan? Nanti saya kasih Bibi ongkos buat naik gojek saja ya. Saya mau bicara berdua sama Audrey," ujar Akandra.


"Baik, Tuan. Saya akan pulang pakai gojek saja."


"Nona pulang sama Tuan Akandra saja. Tuan mau bicara sama Non," ucap Bi Lina disertai senyumannya yang ramah.


Mau tidak mau, suka tidak suka Audrey pun harus membiarkan Bi Lina keluar dari mobil. Hingga tersisa dirinya bersama Akandra. 'Entah apa yang akan Tuan Akandra bicarakan denganku, melihat dari tatapannya sepertinya dia sangat marah,' ucap Audrey dalam monolognya.


"Kamu duduk di depan, cepat!" perintah Akandra pada Audrey.


Dengan rasa takut, Audrey pun pindah duduk ke kursi depan sebelah kursi kemudi. "Pakai seat belt!"

__ADS_1


"Iya, Tuan. Saya tahu," jawab Audrey seraya memasang seat belt.


"Kenapa kamu menipu Bi Lina? Apa kamu pikir kamu bisa pergi dariku?" tanya Akandra to the point.


Mendengar itu, reflek Audrey menatap tajam Akandra. "Menipu? Pergi? Itu semua tidak benar, Tuan. Saya tidak pernah berniat untuk menipu ataupun kabur dari Tuan Akandra. Saya hanya ingin memastikan tentang saudari kembar saya, ALESSA!" timpal Audrey dengan sengaja menegaskan nama Alessa.


"Saudari kembar? Jadi, kamu--"


"Ya, saya saudari kembar Alessa. Wanita yang menjadi mantan tunanganmu. Sekarang, aku ingin tahu di mana makam Alessa?" Audrey memotong pembicaraan Tuan Akandra.


Seketika bola mata Akandra langsung membulat dengan sempurna seakan mau melompat. "Wahai Tuan Akandra, saya sedang bertanya bukan menyuruhmu untuk memelototiku seperti itu," ucap Audrey.


"Okay, saya akan membawamu ke makam Alessa tapi dengan satu syarat." Akandra menaik-turunkan alisnya.


"Syarat? Katakan, apa syaratnya?"


"Menikahlah denganku!"


Deg!


****

__ADS_1


Stay tune :)


__ADS_2