
"Kak, aku mau bicara sesuatu," ujar Audrey sembari menoleh ke samping.
"Katakan, aku akan dengarkan itu," timpal Akandra tanpa menoleh sedikitpun.
"Besok aku akan pergi,"
Ckitt!
Seketika Akandra langsung menghentikan mobilnya saat itu juga. Kedua bola matanya membelalak dengan sempurna. Dia yang awalnya tetap fokus menatap ke depan dan memperhatikan jalanan, kini kedua matanya tertuju pada Audrey.
"Apa maksudmu? Kamu mau pergi ke mana?" tanya Akandra dengan mimik yang serius.
"Aku berencana untuk tinggal di kontrakan. Aku tidak mungkin terus-terusan tinggal satu atap denganmu, Kak. Kita belum menikah, tidak baik jika kita tinggal satu atap walaupun beda kamar. Aku harap Kakak tidak keberatan," jelas Audrey dengan tatapan yang teduh.
"Apa kamu tidak percaya padaku, Audrey? Apa kamu mengira aku akan menodaimu?"
"Bukan begitu, Kak. Kakak salah paham. Aku hanya akan tinggal satu atap dengan Kakak jika kita sudah menikah. Dan untuk sekarang, kita tinggal pisah dulu ya. Tapi, jika Kakak mau, Kakak bisa berkunjung ke kontrakanku kapan pun Kakak mau." Audrey tersenyum manis membuat gigi-giginya yang rapi terlihat.
"Baiklah, jika itu maumu. Aku tidak akan keberatan. Aku akan menyuruh Daniel untuk membeli apartemen untukmu. Aku tidak ingin kamu tinggal di kontrakan yang biasa. Aku juga akan menyewa dua bodyguard untuk berjaga di depan unit agar mantan suamimu tidak bisa menemuimu," jelas Akandra dengan bibir yang cemberut.
"Ya Allah, Kakak. Sampai segitunya, Kakak ini. Ingatlah, aku ini sudah dewasa, aku tidak butuh bodyguard. Aku bisa mengurus diriku dengan baik. Kakak tidak perlu cemas akan hal itu. Dan mengenai Devanka, dia tidak akan berani menemuiku. Percayalah padamu," bujuk Audrey sembari memegang tangan kekar Akandra.
"Bagaimana caranya? Sepertinya kamu lupa, seperti apa Devanka itu. Aku mengenal dia dengan sangat baik. Aku yakin dia akan mencarimu lagi pada saat uangnya sudah habis. Kita lihat nanti."
"Itu tidak mungkin. Dia sudah menandatangani surat itu."
"Kita lihat saja nanti." Akandra tersenyum kecut sembari melajukan mobilnya.
****
Panti asuhan Harapan Mama ....
Setelah beberapa menit kemudian, Akandra dan Audrey pun telah sampai di panti asuhan. Dia memarkirkan mobilnya diparkiran yang sudah disiapkan. Setelah itu, datang seorang security dan dengan sigap membantu Akandra menurunkan box berukuran besar yang berisi nasi kotak kebuli.
__ADS_1
"Bawa semua box ini masuk, Pak. Kami akan pergi menemui Ibu panti terlebih dahulu. Ayo, Audrey." Akandra mengajak Audrey.
"Baik, Tuan." Security itu pun menuruti perintah Akandra.
Sementara itu Akandra dan Audrey berjalan menuju ruangan Ibu panti. Sesampainya di depan pintu, Audrey mengetuk pintu sebanyak tiga kali. "Silakan masuk," ucap Ibu panti dari dalam.
Mereka pun segera masuk dengan mengucapkan salam secara bersamaan. "Nak Audrey, Nak Akandra?" panggil Ibu panti seraya beranjak dari meja kerjanya.
Kemudian Ibu panti menyambut kedatangan Akandra dan juga Audrey. "Ibu, bagaimana kabarnya?" tanya Audrey sambil mencium punggung tangan Ibu panti.
"Alhamdulillah, baik. Bagaimana dengan kalian?" Ibu panti balik bertanya pada Audrey dan juga Akandra.
"Alhamdulillah, kami baik." Audrey tersenyum ramah.
"Syukur alhamdulillah. Silakan duduk." Ibu panti mempersilakan Audrey dan Akandra duduk.
Audrey dan Akandra menanggapinya dengan senyuman sembari duduk berhadapan dengan sang pemilik panti. "Kalian mau minum apa?" tanya Ibu panti.
"Tidak perlu, Bu. Tujuan kami datang ke mari ingin memberikan nasi kebuli khusus untuk anak-anak panti. Selain itu, kami juga ingin bersilaturahmi," jelas Akandra.
"Benarkah? Kalau begitu, nasi kebulinya pasti enak sekali," puji Ibu panti.
"Itu tidak benar, Bu. Saya baru membuatnya dua kali, semoga saja rasanya tidak mengecewakan anak-anak," jawab Akandra dengan sedikit senyuman.
"Ya sudah, sekarang kita temui anak-anak dan makan bersama, mari." Ibu panti mengajak Audrey dan juga Akandra.
"Iya, Bu. Mari." Audrey beranjak dari duduknya.
Begitupun dengan Akandra. Dia beranjak dari duduknya dan mengikuti Audrey beserta Ibu panti. Mereka bertiga berjalan menuju salah satu ruangan. Ibu panti membuka pintunya dan mereka bertiga masuk.
Tak lama kemudian, security datang dengan membawa box yang berisi nasi kotak kebuli. "Pak, bantu Nak Audrey dan juga Nak Akandra. Saya akan panggilkan anak-anak dulu," ujar Ibu panti pada security.
"Baik, Bu."
__ADS_1
Ibu panti pun segera meninggalkan ruangan tersebut dan berjalan menuju kamar anak-anak. Sementara itu, Akandra dan juga Audrey menyusun makanan agar mudah ketika dibagikan kepada anak-anak nanti. Tak membutuhkan waktu lama, kini mereka mendengar suara anak-anak beserta langkah kakinya menuju ruangan itu.
Dan benar saja, tak lama kemudian Ibu panti datang bersama anak-anak. "Assalamu'alaikum," ucap Ibu panti bersamaan dengan anak-anak.
"Wa'alaikumsalam," jawab Akandra, Audrey dan security.
"Anak-anak, duduk dengan rapi di sebelah sana. Ibu akan sampaikan sesuatu," ujar Ibu panti.
Dengan cepat semua anak-anak pun duduk di tempat yang Ibu panti tunjukkan. Setelah itu, acara pun dimulai. "Anak-anak, apa kalian masih ingat dengan Kakak yang satu ini?" tanya Ibu panti kepada seluruh anak panti.
"Tentu saja, Kakak ini 'kan Kak Akandra, tunangannya Kak Alessa," jawab salah satu anak panti yang berjenis kelamin perempuan.
Deg!
Seketika pandangan Audrey langsung tertuju pada Akandra. Begitupun dengan Akandra. Dia menoleh ke arah Audrey.
Akandra dengan cepat berdiri dan menyapa seluruh anak panti, guna mengalihkan pembicaraan mengenai mendiang Alessa. "Assalamu'alaikum, anak-anak," ucap Akandra dengan senyuman yang ramah.
"Wa'alaikumsalam, Kak Akandra," jawab anak-anak serentak.
"Bagaimana kabar kalian? Kakak beryukur karena kalian masih mengingat Kakak sampai sekarang. Oh iya, Kakak mau memperkenalkan calon istri Kakak sekarang," jelas Akandra seraya menoleh ke arah Audrey.
"Alhamdulillah, Baik. Siapa calon istri Kakak? Apakah Kak Alessa? Di mana Kak Alessa? Kenapa Kak Alessa tidak pernah datang ke panti?" salah satu anak panti membanjiri Akandra dengan beberapa pertanyaan.
"Alessa sudah pulang beberapa tahun yang lalu. Sekarang calon istri Kakak adalah Kak Audrey. Dia adalah saudarinya Kak Alessa. Sayang, perkenalkan dirimu." Akandra mengulurkan tangannya pada Audrey.
Audrey pun berdiri. "Halo, anak-anak. Sepertinya kalian sudah tahu siapa Kakak. Meski begitu, Kakak akan memperkenalkan diri lagi kepada kalian. Perkenalkan Kakak, Audrey. Kakak adalah--"
"Calon istrinya Akandra," potong Akandra sembari tertawa kecil.
"Cieee!" Anak-anak bersorak melihat keusilan Akandra.
Audrey yang melihat serta mendengar itu hanya tersenyum kecil dengan wajah yang sedikit merona bak kepiting rebus. Dia benar-benar tersipu malu karena ulah Akandra. Ibu panti yang melihat anak-anak bersorak pun ikut tertawa kecil.
__ADS_1
****
Stay tune :)