Istri Yang Digadaikan

Istri Yang Digadaikan
Bab 47 > Tujuan Alessa


__ADS_3

Malam hari ....


Saat ini Audrey tengah terduduk di tepi ranjang. Kepalanya tertunduk tak berani menatap pria yang kini tengah menatapnya dengan lekat. Jangan tanyakan bagaimana dengan jantungnya Audrey ketika dipandang seperti itu, karena sudah jelas jantungnya sedari tadi terus berdegup kencang.


Sementara itu Akandra sedang meraih sesuatu di laci sehingga membuat jarak antara dirinya dengan Audrey semakin dekat. Kedua mata Audrey seketika membola pada saat wajah Akandra berada tepat di sebelahnya. Dirinya semakin terpojok, wajahnya semakin merona bak kepiting rebus pada saat mata mereka bertemu dan saling menatap satu sama lain.


"Ekhem!" Audrey berdehem untuk menyadarkan Akandra yang larut dalam pandangannya.


Akandra tersenyum sembari mengambil kotak obat yang berada di di laci. Kemudian dia kembali membenarkan posisinya dan membuka P3K tersebut. Tanpa membuang waktu lagi, ia pun membalikkan tubuh Audrey.


Akandra menyibakkan rambut Audrey yang menutupi luka. Benar, luka bekas serangan Alessa berbekas di keningnya. Sementara itu, Audrey hanya mematung menatap pria yang sedang melihat lukanya.


"Tahan sedikit ya, mungkin akan terasa sedikit perih," tutur Akandra dengan penuh kelembutan.


Audrey mengangguk disertai senyuman. Setelah itu, barulah Akandra mulai mengobati luka yang ada di kening calon istrinya. Audrey menahan rasa perih ketika diobati. Baginya rasa perih itu sudah hilang setelah melihat ketulusan Akandra dalam mengobatinya.


Berbeda dengan Alessa yang saat ini sedang diseret keluar dari kediaman Xaquille. Wanita itu terus berontak sembari terus memanggil nama Akandra dan merutukki saudarinya. Meski begitu, Affandra dan Pak Arman tidak berhenti. Mereka terus menyeret tubuh Alessa dan mengusirnya dengan cara sedikit kasar.


Sebenarnya Affandra tidak pernah bersikap seperti ini akan terapi keadaan yang membuatnya melakukan kasar pada Alessa. Bagaimana tidak, sikap Alessa hari ini sudah sangat keterlaluan dengan menyerang calon Kakak iparnya. Sikap Alessa kali ini benar-benar tidak bisa ditoleransi lagi.


"Awas kau Audrey! Aku akan mengambil kembali hakku! Dan kau Akandra! Akan kubuat kau kembali bertekuk lutut padaku!" teriak Alessa dengan suara yang keras.


Brugh!


"Hentikan ancaman norakmu ini, Alessa! Kamu jadi wanita tidak punya harga dirinya sama sekali. Apakah kamu tidak malu bertindak seperti ini? Apa yang kamu dapatkan setelah melukai Kakak iparku, hah?" bentak Affandra seraya mendorong tubuh Alessa hingga terjungkal.


Mendengar semua ucapan yang dilontarkan Affandra membuat Alessa tertawa puas. "Haha, setelah apa yang kamu lihat selama ini kamu masih membicarakan soal harga diri? Bukankah kata-kata ini lebih cocok untuk Audrey, heum?" Alessa bangun dan tersenyum menyeringai.


Kemudian dia melangkahkan kakinya beberapa langkah ke arah Affandra. Dia mendekatkan bibirnya ke telinga mantan adik iparnya. "Dengarkan aku! Yang tidak punya harga diri itu Audrey bukan aku! Dia telah merampas hakku. Lagipula apa yang aku lakukan hari ini belum setimpal dengan apa yang telah Audrey lakukan padaku. Apa kau pikir, Audrey akan berhasil menikahi Kakakmu? Haha, jangan mimpi! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Lihat saja, apa yang akan aku lakukan padanya," bisik Alessa dengan penuh ancaman.


Affandra sekali lagi mendorong tubuh Alessa sejauh satu meter. Kali ini dorongannya tidak membuat wanita itu terjatuh. "Sebaiknya simpan saja ancaman norakmu ini, Nona! Karena selama ada aku, takkan kubiarkan wanita sepertimu bisa mendekati Kakakku! Seharusnya kamu mati saja. Dan asal kamu tahu, wanita sepertimu tidak pantas untuk mendapatkan kehidupan kembali!" tegas Affandra yang semakin naik pitam.

__ADS_1


Deg!


Seketika jantung Alessa langsung berhenti setelah mendengar ucapan dari mantan adik iparnya. Pria yang dulu dia anggap sebagai adik sendiri telah berubah menjadi pria kasar yang berani berbuat kasar padanya. Tidak pernah terbayangkan jika kehidupannya akan jungkir balik seperti ini.


Dulu, kebahagiaan yang tinggal sedikit lagi dia dapatkan seketika musnah dalam sekejap akibat kesalahan yang ia lakukan. Benar, kesalahan yang Alessa lakukan benar-benar fatal hingga membuat dirinya telah dinyatakan tewas. Bagaimana tidak, ia mengalami luka tembak akibat kemarahan Akandra saat itu.


Yang paling membuat Alessa sakit hati adalah Akandra tidak melihat kondisinya saat itu. Dia memang memanggil ambulan akan tetapi dia tidak ikut ke rumah sakit. Bahkan Akandra mengira kalau tembakan yang ia lepaskan telah membuat Alessa tewas. Namun, keajaiban terjadi di mana Alessa dinyatakan selamat, walau keadaannya masih kritis.


Entah bagaimana ceritanya, ada seseorang yang membantu Alessa. Bukan hanya membantu, melainkan merawatnya hingga sembuh seperti sekarang. Dan ya, tujuannya saat ini ingin membalaskan dendam atas apa yang dilakukan Akandra padanya. Dia berjanji pada dirinya sendiri akan membuat sang Akandra bertekuk lutut padanya.


Kali ini bukan hanya Akandra yang menjadi targetnya. Melainkan ada dua target lagi yang akan dia hancurnya. Mereka adalah Audrey dan juga Affandra. Dengan begitu, dia bisa kembali mendapatkan haknya.


'Akan menarik jika aku hancurkan Audrey dan Affandra terlebih dahulu. Kau lihat, Akandra ... permaian akan segera dimulai,' batin Alessa berkata.


****


"Selesai, sekarang kamu tidur ya, Sayang. Tenanglah, Alessa tidak akan kembali lagi. Aku sudah memperketat keamanan rumah ini." Akandra mengelus wajah Audrey dengan penuh kelembutan.


"Sebentar, aku akan istirahat setelah aku mengobati lukamu ini." Audrey berdiri dan gantian mengobati Akandra.


Audrey menggeleng. "Biar aku yang merawatmu."


Dengan cepat dia mulai mengobati luka Akandra yang terdapat di lengan, bibir dan pelipisnya. Ketika tangan lembut Audrey mulai mengoleskan obat tersebut, reflek Akandra memejamkan matanya. Benar, Akandra merasa luka itu cukup perih.


"Apakah sakit?" tanya Audrey sembari menghentikan tangannya yang tengah mengoleskan obat.


Akandra membuka kedua matanya. "Tidak. Aku hanya sedang merasakan kasih sayang yang tulus melalui tanganmu yang lembut," timpal Akandra dengan tatapan yang teduh.


"Sweet kali," gumam Audrey pelan dengan senyuman kecil.


"Eoh? Kamu bilang apa?" tanya Akandra.

__ADS_1


"Eumm ... tidak, aku tidak mengatakan apa-apa," Audrey mengelak karena malu.


Akandra hanya tersenyum gemas melihat tingkah Audrey. Setelah beberapa menit, luka pria itu pun telah diobati. Audrey berdiri dan menaruh kembali P3K di laci.


"Sekarang kamu tidur ya. Besok kita besuk Daniel," ujar Akandra sembari menyuruh Audrey untuk berbaring di tidurnya.


"Lalu, siapa malam ini yang menemani Kak Daniel?" tanya Audrey.


"Fandra. Dia yang akan menemaninya,"


"Baiklah. Oh iya, Kak ... boleh aku tanyakan sesuatu?" Audrey menatap mata Akandra dengan tatapan yang serius.


"Ya, katakanlah."


"Apa benar, Kakak sudah memperkenalkanku pada Kakekmu?" tanya Audrey dengan wajah yang harap cemas.


"Benar. Bagaimana kamu tahu? Apa Adikku yang memberi tahumu?" tebak Akandra.


Audrey mengangguk membenarkan tebakan Akandra. "Iya, Kak. Aku tahu dari Affandra."


"Syukurlah kalau kamu sudah tahu. Aku rencana ingin mempertemukanmu dengan Kakek minggu depan. Tapi, sebelum itu kapan masa iddahmu selesai?"


"Heum ... minggu depan," jawab Audrey dengan senyuman kecil.


"Syukurlah, setelah penantian yang begitu panjang. Masa iddahmu akan segera selesai. Dengan begitu kita akan segera melangsungkan pernikahan. Kalau boleh aku tahu, pernikahan yang seperti apa yang kamu inginkan?" Akandra memegang kedua tangan Audrey.


"Biasa saja, Kak. Karena aku tidak ingin membuat pesta pernikahan. Kakak tahu sendiri 'kan kalau aku ini seorang janda, aku tidak ingin jadi bahan pembiayaan orang-orang," jawab Audrey.


"Kenapa bicara seperti itu? Mau janda atau gadis pun berhak untuk menggelar pesta pernikahan. Toh membuat pesta itu pakai uang bukan soal status janda ataupun perawan. Urusan pesta, biar aku yang mengaturnya. Kamu cukup duduk manis menunggu hari itu tiba, okay." Akandra meyakinkan Audrey.


"Baiklah, aku serahkan semuanya padamu. Akan tetapi--" Audrey menatap Akandra dengan tatapan yang sendu.

__ADS_1


****


Stay tune :)


__ADS_2