Istri Yang Digadaikan

Istri Yang Digadaikan
Bab 57 > Permainan Akandra


__ADS_3

Di dalam mobil ...


Daniel terus menatap Tuan Akandra dari spionnya. Ia benar-benar ragu antara harus memberi tahunya mengenai pengantin yang tergantikan atau tidak. Akandra yang menyadari dirinya tengah diperhatikan oleh orang kepercayaannya pun mulai memasukkan ponselnya. Dia menatap Daniel.


"Ada apa? Semua baik-baik saja?" tanya Akandra dengan membenarkan posisi duduknya.


"Sebenarnya ada hal yang ingin saya beri tahukan padamu, Tuan."


"Apa itu? Katakan!" perintah Akandra.


"Saya tidak tahu harus mulai mengatakannya dari mana yang jelas, wanita yang selama ini bersama Tuan bukanlah Audrey yang asli," jelas Daniel dengan tatapan yang serius.


"Apa maksudmu? Bukan Audrey yang asli?" Akandra mengernyitkan kedua alisnya.


"Benar, Tuan. Wanita yang selama bersama Tuan adalah Nona Alessa. Dia yang tengah menggantikan Nona Audrey," jelas Daniel.


Mendengar hal itu, Akandra langsung keluar dari mobil. Dia berjalan mengitari mobilnya dan membuka pintu kemudi. "Keluar!" tegas Akandra pada Daniel dengan nada yang marah.


Daniel yang melihat kemarahan di mata Akandra hanya bisa pasrah. Dia keluar dari mobil dan ia yakin jika dirinya akan dihajar oleh tuannya. Dan benar saja, begitu Daniel keluar Akandra menarik kerah baju Daniel.


Bugh!


Akandra melayangkan satu pukulan keras di pipi Daniel. "Jika kamu tahu dia adalah Alessa, kenapa tidak memberi tahuku lebih awal sebelum pernikahan itu terjadi?" bentak Akandra dengan darahnya yang mendidih.


"Maafkan saya, Tuan. Saya dan Pak Arman juga berniat untuk memberi tahu Tuan beberapa hari yang lalu. Akan tetapi, kami ragu. Kami ingin memastikannya terlebih dahulu apakah dia Audrey atau Alessa. Setelah beberapa hari ini kami memergoki Nona Alessa, kami yakin jika itu benar-benar Nona Alessa dan bukan Nona Audrey. Maafkan saya, Tuan," jelas Daniel dengan kepala yang tertunduk.


"Bodoh! Jadi, selama ini aku telah bersama dengan wanita toxic itu! Si*l! Beraninya dia bermain-main denganku." Akandra berteriak karena frustasi. Kedua tangannya mengepal.


"Maafkan saya, Tuan."

__ADS_1


"Diam kamu! Kata maafmu itu tidak ada gunanya. Sekarang katakan, di mana Audrey sekarang? Aku ingin bertemu dengannya!" pekik Akandra dengan mata yang berubah merah pekat.


"Saya tidak tahu, Tuan. Sejak saat itu, Nona Audrey menghilang. Saya dan Pak Arman sudah mencari Nona Audrey akan tetapi tidak berhasil menemukannya. Sepertinya hanya Nona Alessa yang tahu keberadaan Nona Audrey."


Bugh!


Sekali lagi Akandra memukul Daniel. Kali ini ia memukul tepat di sudut bibirnya. Darah segar mengalir dari sudut bibit Daniel. Namun, ia tidak melakukan perlawanan sama sekali karena ia sadar jika ini adalah kesalahannya.


"Saya tidak mau, temukan Audrey! Ingat ... jika kamu tidak berhasil menemukan wanitaku maka aku akan mencongk*l kedua matamu! Paham!" bentak Akandra seraya mendorong tubuh Daniel.


"Saya paham, Tuan," jawab Daniel dengan mengusap darah di sudut bibirnya.


Kemudian Akandra kembali masuk ke kediamannya. Dia berjalan cepat menuju kamarnya. Sesampainya di depan kamar, ia berusaha menetralkan emosinya yang tengah memuncak. Selain itu, dia juga mengatur napasnya agar Alessa tidak merasa curiga jika dirinya sudah tahu yang sebenarnya.


Akandra bukanlah pria bodoh. Dia sudah berencana untuk memasang jebakan untuk Alessa. Maka dari itu, dia perlu menahan amarahnya agar semua berjalan dengan lancar. Ia tidak ingin Alessa mencurigainya sampai dia berhasil menemukan keberadaan Audrey.


Akandra perlahan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. "Ternyata kamu memang bodoh, Akandra! Semudah ini aku mendapatkanmu. Aku bahkan sudah mencicipi kejantanan mulai. Sungguh, kamu benar-benar pria idaman. Dan kamu Audrey ... kamu memang ditakdirkan untuk selalu menderita. Sekali wanita gadaian tetaplah wanita gadaian. Jangan harap bisa hidup bahagia dengan Akandraku! Haha," terdengar suara Alessa dari dalam kamar mandi.


Akandra yang mendengar itu hanya terdiam. Kedua tangannya mengepal seakan ingin meninju Alessa saat itu juga. Namun, dia mengurungkan niatnya karena jika saja dia emosi sedikitpun maka rencananya untuk menjebak Alessa akan gagal.


Yang Akandra rasakan saat ini adalah kemarahan, kekecewaan karena dia tidak bisa menjaga kejantanannya. Dia benar-benar merasa bersalah karena telah menodai pernikahannya dengan Audrey. Sehingga tanpa sadar, Akandra menitikkan air mata.


'Maafkan aku, Audrey. Aku pria yang kotor, aku pria br*ngs*k. Aku tidak menjaga kejantananku untukmu. Sungguh, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri. Aku akan membuat pelajaran pada saudarimu. Tunggu aku, Audrey. Aku akan segera menemukanmu,' batin Akandra menjerit.


Setelah beberapa menit dia mematung di depan pintu kamar mandi, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki Alessa. Dengan cepat Akandra menyeka air matanya sebelum pintu kamar mandi terbuka. Dan benar saja, pintu kamar mandi terbuka setelah beberapa detik Akandra menyeka air matanya.


Alessa keheranan ketika mendapati suami rampasannya berada di depan kamar mandi. Seketika wajah Alessa berubah pucat, dia tiba-tiba teringat jika tadi dirinya sempat mengatakan soal Audrey. 'Apakah dia mendengar ucapanku tadi?' Alessa bertanya-tanya dalam batinnya.


Sementara itu, Akandra sudah tahu jika Alessa akan bereaksi seperti ini. Sehingga dia pun tersenyum penuh misteri. 'Sepandai-pandainya tupai melompat, ujung"nya akan jatuh juga. Mau sampai kapan kamu menyembunyikan kebusukanmu, Alessa. Karena lambat laun aku akan menciumnya. Bersiaplah untuk mempertanggungjawabkan perbuatanmu!' batin Akandra berkata.

__ADS_1


"Loh, Sayang ... kenapa masih di sini? Bukankah tadi kamu bilang mau ke hotel? Apa ada barang yang tertinggal?" tanya Alessa tanpa berani menatap mata suami saudarinya.


"Ya, sepertinya aku melupakan sesuatu. Aku ingin menghukummu atas perbuatanmu padaku!" Akandra menyeringai menyeramkan.


Seketika Alessa terdiam. Dia menelan salivanya ketika mendengar ucapan yang dilontarkan Akandra. Jantungnya semakin berdegup kencang karena takut jika kejahatannya akan terbongkar.


"Menghukumku? Memangnya apa yang telah aku lakukan?" tanya Alessa dengan berpura-pura tidak tahu.


"Di mana Audreyku?" skak Akandra dengan ekspresi yang mempermainkan Alessa.


"Pertanyaan macam apa ini? Aku Audreymu, Sayang. Kenapa kamu menanyakan orang yang berada di hadapanmu, heum?" Alessa mulai panik. Untuk menyembunyikan kepanikannya itu, ia pun melingkarkan kedua tangan di leher Akandra.


"Benarkah? Tapi, kamu tidak biasanya mengabaikanku seperti ini. Biasanya kamu selalu bangun pagi dan menyiapkan segala keperluanku. Tapi, kali ini kamu mengabaikanku. Kamu bahkan melupakan kalimat yang biasa kami ucapkan padaku setiap pagi sebelum aku berangkat kerja," timpal Akandra dengan memancing wanita toxic tersebut.


'Mampus! Kalimat apa yang selalu diucapkan wanita gadaian itu? Enggak! Aku harus membuat Akandra percaya jika aku adalah Audrey. Ya, aku harus meyakinkannya,' umpat Alessa dalam batinnya.


"Ekhem!" Akandra berdehem.


"Hehe, maafkan aku, Sayang. Kamu 'kan tau sendiri kalau semalam kita main terlalu semangat. Kamu bahkan memintaku bermain sampai pagi. Karena itulah, pagi ini aku bangun terlambat. Maafkan aku ya, Akandra sayang." Alessa memandang kedua mata Akandra dengan tatapan yang membujuk dan meyakinkan.


"Baiklah, lain kali kamu tidak boleh mengabaikanku, okay?" Akandra berpura-pura percaya dengan ucapan Alessa.


Alessa mengangguk dan tersenyum. 'Bodoh! Mudah sekali mengelabuimu, Akandra,' Alessa bersorak dalam batinnya.


Dia tidak tahu jika Akandra sudah menyiapkan sesuatu yang akan membuat wanita toxic itu hancur sehancur-hancurnya.


****


Stay tune :)

__ADS_1


__ADS_2