Istri Yang Digadaikan

Istri Yang Digadaikan
Bab 36 > Sang Pembuat Onar


__ADS_3

Kini Akandra sudah selesai membuat sarapan. Ia pun menghidangkan sarapan tersebut di meja makan. "Audrey, Sayang. Sarapan sudah siap, ayo sini!" panggil Akandra dari meja makan.


Namun, ditunggu punya tunggu Audrey tidak menunjukkan batang hidungnya. Sehingga Akandra pun menghampiri Audrey yang masih di kamarnya. Sesampainya di depan pintu kamar, Akandra melihat pintunya tidak terkunci. Perlahan ia memasuki kamar Audrey dengan langkah yang pelan.


"Astaga, Audrey." Akandra menggelengkan kepalanya pada saat mendapati Audrey tengah tertidur di ranjangnya.


Akandra tersenyum tipis seraya mendekati wanita yang sedang tertidur. Dia pun duduk di sebelah Audrey dan mengelus wajahnya dengan sangat lembut. Karena tidak ingin mengganggu tidurnya, Audrey. Akandra memutuskan untuk merapikan pakaian Audrey dan menyimpannya di lemari pakaian yang sudah tersedia.


Akandra dengan senang hati menaruh satu persatu pakaian Audrey di dalam lemari. Dia sama sekali tidak merasa cape membantu meringankan beban Audrey. Padahal sebelumnya, Akandra adalah sosok pria yang acuh yang tidak mau membantu orang.


Meski begitu, Akandra lambat laun telah berubah setelah pertemuannya dengan Audrey. Atas kuasa Allah SWT, hati seorang Akandra yang keras bak batu telah luluh dan menjadi sosok pria yang penyayang dan bisa menghormati wanita.


Detik demi detik telah berlalu. Menit demi menit pun akandra lalui dengan merapikan pakaian Audrey. Sehingga ia telah merapikan pakaian serta beres-beres kamar Audrey selama 53 menit. Karena merasa lelah, dia pun keluar dari kamar Audrey dan beristirahat di sofa.


Dia merebahkan tubuhnya dan mencoba untuk tidur sekejap. Akan tetapi, baru saja dia hendak menutup matanya tiba-tiba ponselnya berdering. Akandra terpaksa bangun dan kembali duduk. Ia menyambar ponsel yang berada di meja serta melihat layar ponselnya.


"Daniel? Ada apa dia menghubungiku?" Akandra menautkan kedua alisnya pada saat melihat nama orang kepercayaannya menelepon.


Karena penasaran, Akandra pun menjawab teleponnya. Dia menggeser layar telepon berwarna hijau. Setelah itu, ia menempelkan ponsel di telinga kanan.


Telepon terhubung!


"Hallo, Daniel. Ada apa menghubungiku?" tanya Akandra to the point.


"Hallo, Tuan. Maaf mengganggu, saya mau memberi tahu bahwa Tuan harus segera ke hotel Xaquille," terdengar suara Daniel dari seberang telepon.


"Ada apa? Semua baik-baik saja?" tanya Akandra dengan mimik yang serius.


"Devanka kembali berulah di hotel Xaquille. Dia tengah mengamuk dengan menghancurkan barang-barang yang ada di hotel. Kami sudah menahannya akan tetapi dia terus mengamuk dan berteriak ingin bertemu dengan Tuan. Jika Tuan mengizinkan, saya akan memberinya pelajaran di sini," jelas Daniel.


"Tidak perlu! Biar saya yang tangani ini. Kamu datanglah ke apartemen Jhonson dan gantikan saya untuk menjaga Audrey di unit 403!" perintah Akandra.


"Baik, Tuan. Saya akan sampai dalam beberapa menit."

__ADS_1


"Ya, cepatlah! Tutt!" Akandra mengakhiri pembicaraannya.


Telepon terputus!


Setelah bicara di telepon, Akandra menghampiri Audrey sebelum dia pergi. Begitu sampai di kamar Audrey dia masih melihat wanita yang ia cintai masih terlelap tidur. Akandra berjalan mendekatinya dan membungkukkan badannya.


Cup!


Akandra mengecup lembut kening Audrey. "Sayang, aku harus pergi. Ada urusan yang harus aku selesaikan. Kamu tidurlah dengan nyenyak," tutur Akandra penuh dengan kelembutan.


Akandra memandang wajah Audrey sejenak. Setelah itu barulah dia pergi meninggalkan Audrey. Ia berlari menuju lift dan menekan tombol beberapa kali.


Ting!


Pintu lift terbuka. Dengan cepat Akandra memasuki lift. Dia menekan tombol agar sampai di basement. Tak lama kemudian, lift terbuka dan Akandra sudah sampai di basement.


Dia berlari menuju mobilnya. Sesampainya di depan mobilnya, dia berpapasan dengan Daniel yang baru saja sampai. "Tuan," sapa Daniel dengan kepala yang sedikit tertunduk.


"Baik, Tuan. Saya akan melakukannya sesuai perintah."


Akandra hanya menanggapinya dengan senyuman. Kemudian dia masuk mobil. Sementara itu Daniel hanya menundukkan kepalanya melihat kepergian Akandra dengan mobilnya. Tak membuang waktu lagi, Daniel segera pergi ke unit 403.


****


Setelah beberapa menit kemudian, kini Akandra telah sampai di hotel Xaquille. Dia menghentikan mobilnya tepat di depan hotel tersebut. Ia keluar dari mobil dengan wajah yang merah padam.


Kemudian seluruh staf, manager, security, dll menyambut kedatangan Akandra dengan menundukkan kepalanya sebagai rasa hormat karena sekian lama Akandra baru mengunjungi hotelnya lagi. Akandra melemparkan kunci mobil pada salah satu security. Kemudian dia berjalan melewati para pengurus hotel dengan ekspresi yang dingin.


"Sepertinya Pak Akandra sedang marah besar. Aku tidak tahu bagaimana nasib pria yang mengamuk itu jika sampai kena amuk balik dari sang Akandra," bisik salah satu wanita yang bekerja sebagai staff kepada rekannya.


"Kamu benar, pria itu bisa mati jika sampai Pak Akandra mengamuk," bisik rekan staff yang tadi.


"Ekhem!" sang manager berdehem pada saat melihat para staff sedang membicarakan pemilik hotel tersebut.

__ADS_1


Seketika para staff langsung terdiam dan tertunduk. Kemudian sang manager menyuruh para pengurus hotel untuk kembali ke pekerjaannya. Sementara di sisi lain, Akandra tengah berjalan menghampiri kamar hotel yang dipesan Devanka.


Begitu sampai di kamar tersebut, Akandra tak membuang waktu lagi. Dia langsung mendobrak pintu. Tak peduli jika pintu itu rusak karena ulahnya.


Akandra mengepalkan kedua tangannya pada saat mendapati kamar hotelnya sudah sangat berantakan dan banyak barang yang rusak akibat Devanka yang mengamuk. Bukan hanya itu, di ranjangnya juga ada dua wanita yang tak sadarkan diri tanpa busana. Melihat itu tentu saja Akandra langsung naik pitam.


Sedangkan Devanka, dia sedang terduduk dengan tangan yang berdarah serta matanya yang merah akibat kebanyakan minum minuman beralkohol. Dengan cepat Akandra berjalan mendekati Devanka. Menyadari Akandra sudah berada di hadapannya, Devanka pun mengangkat wajahnya dan menatap pria yang ada di hadapannya dengan tatapan yang mengejek.


Bugh!


Dengan secepat kilat, tangan kekar Akandra telah berhasil melayangkan pukulannya tepat di sudut bibir Devanka. Sedangkan Devanka yang terkena tinju sang pria tampan nan kekar itu hanya bisa terjungkal tak berdaya. Dia tidak kuasa membalas serangan itu sebab kepalanya sudah sangat pusing.


"Berani sekali kamu membuat onar di hotelku!" pekik Akandra dengan emosi yang meningkat.


"Haha, sudah kuduga kalau kau akan datang, Wahai penikmat bini orang!" celetuk Devanka dengan tawa yang meledek.


Seketika semua orang yang berada di luar kamar itu langsung terkejut mendengar ucapan Devanka. "Jangan bilang jika Pak Akandra Pebinor?" pertanyaan demi pertanyaan mulai muncul di benak para pengurus hotel.


Meski Akandra tahu jika di luar kamar ada banyak orang yang sedang memperhatikannya, dia sama sekali tidak peduli. "Sekali lagi kau berani menyebutku seperti itu, akan kubunuh kau!" ancam Akandra dengan wajahnya yang merah padam serta urat-urat yang menonjol, menandakan jika amarahnya sudah diujung handuk.


"Kenapa? Apa kau malu, Tuan Akandra? Bukankah itu fakta jika Tuan sudah membeli istriku? Itu sama saja Tuan penikmat bini orang, haha." Akandra terus melontarkan kata-kata yang membuat Akandra semakin marah.


"Dengarkan aku baik-baik! Kau yang telah menyia-nyiakan istrimu dan aku ingin menolongnya dari pria bejat sepertimu. Harus kuakui, kau memang pria yang licik, Devanka! Tapi, yang harus kau ingat adalah ... kau tidak akan pernah bisa memerasku sampai kapanpun! Apa kau pikir dengan membuat keributan di hotelku, aku akan memberikan uang padamu lagi? Tidak, Devanka. Saya bukan orang bodoh yang akan terpengaruh dengan jebakanmu ini. Berkoarlah sesuka hatimu, karena saya tidak akan menanggapimu lagi. Bersiaplah, polisi akan segera datang! Cuih!" Akandra meludahi wajah Devanka.


Semua orang yang melihat itu hanya bisa melongo. Mereka tidak menduga jika Akandra hanya memberikan satu pukulan saja. Padahal, dari yang mereka tahu, sosok Akandra ini adalah sosok yang keras dan juga sedikit kejam. Tapi, dari yang mereka lihat sekarang. Ini bukanlah sosok Akandra, dari sinilah muncul kekaguman di hari para wanita yang melihat adegan tak biasa ini.


Berbeda dengan Akandra, dia justru pergi meninggalkan kamar tersebut dengan wajah yang dingin. Pada saat Akandra melewati orang-orang yang tengah berkumpul, semua mata tertuju pada Akandra sampai Akandra berjalan beberapa langkah. Namun, tiba-tiba sang pemilik hotel tersebut menghentikan langkahnya dan berbalik badan.


"Kembali bekerja! Ini bukan tontonan!" tegas Akandra sebelum dia pergi.


****


Stay tune :)

__ADS_1


__ADS_2