
Audrey terdiam tanpa kata dengan jantungnya yang tiba-tiba berhenti berdetak setelah mendengar pertanyaan dari suaminya. Istri mana yang sanggup dimadu? Tidak ada seorang istri yang sanggup melihat suaminya menikahi wanita lain, walau itu saudarinya sekalipun. Meski menyakitkan Audrey harus tetap mengambil langkah ini.
Sejujurnya ini adalah pilihan yang paling sulit untuknya. Dia tidak ingin menjadi janda untuk yang kedua kalinya, lebih tepatnya ia tidak akan sanggup kehilangan pria yang sangat dia cintai. Maka dari itu dia harus menguatkan hatinya untuk melihat dan merestui Akandra untuk menikahi saudarinya. Hanya dengan cara ini Akandra bisa mempertanggungjawabkan atas perbuatannya, walau itu bukan kesalahannya.
"Melihat responmu seperti ini, aku sudah bisa menebak jawabannya. Tatap mataku, Sayang. Lihat dengan jelas, apa yang ada di kedua mataku ini." Akandra menggenggam kedua tangan Audrey yang masih membuang muka.
Perlahan Audrey melihat kedua mata Akandra. Tatapannya sendu, begitupun dengan Akandra. Dia menatap istri kecilnya dengan tatapan begitu menyayat hati. Pria itu ingin meyakinkan Audrey bahwa keputusannya bukanlah langkah yang tepat.
"Katakan, apa yang kamu lihat di kedua mataku? Apa kamu pikir dengan menikahi kakak iparku, pernikahan kita akan baik-baik saja, heum?" Akandra menangkup kedua pipi istri kecilnya.
Sekali lagi, Audrey diam membisu. Apa yang Akandra tanyakan itu memang benar. Dia tahu bahwa menikahi Alessa bukanlah langkah yang tepat. Namun, tidak ada cara lain selain menikahinya.
"Dengan diam seperti ini sudah membuktikan bahwa keputusanmu itu bukanlah langkah yang tepat. Maka dari itu, aku menolak permintaanmu untuk menikahi Alessa. Aku hanya akan bertanggungjawab bila wanita itu benar-benar mengandung anakku, itu pun tidak dengan menikahinya. Aku akan menafkahi anak itu saja. Aku berjanji, aku tidak akan pernah menikahi wanita manapun meski itu adalah perintahmu. Aku tidak akan menyakitimu untuk yang kedua kalinya. Maaf, aku tidak bisa menuruti permintaanmu, Sayang. Beristirahatlah dengan tenang. Aku akan datang lagi nanti malam," ucap Akandra sembari membalikkan badannya.
Setelah itu, Akandra berjalan meninggalkan Audrey. Sementara itu, Audrey hanya diam membisu dengan menatap kepergian suaminya. "Maafkan aku, Kak. Seharusnya aku tidak hadir di kehidupanmu. Akulah penyebab dari retaknya hubunganmu dengan Alessa," gumam Audrey pelan.
****
Kini Akandra telah sampai di kediamannya. Dia berjalan dengan gagahnya memasuki pintu utama. Begitu dia membuka pintu, seluruh pelayan memberikan tanda hormat dengan membungkukkan badannya.
"Daniel, temani aku ke ruang bawah tanah!" perintah Akandra pada Daniel yang sedang berdiri di antara para pelayan.
"Baik, Tuan. Mari," tutur Daniel sembari memandu tuannya menuju ruang bawah tanah, tempat penyekapan Alessa dan Devanka.
Mereka berdua berjalan menelusuri setiap ruangan sampai mereka sampai di salah satu lorong menuju ruang bawah tanah. Sebelum memasuki ruang bawah tanah tersebut, Akandra memasukkan kode rahasia untuk membuka pintu transparannya. Benar, setiap lorong menuju ruang bawah tanah memiliki pintu transparan yang terpasang kode rahasia dan hanya Akandra serta orang kepercayaannya saja yang mengetahui kode tersebut.
Setelah berjalan beberapa meter, kini mereka telah sampai di ruang penyekapan Alessa dan Devanka. Akandra membuka pintu dengan kasar membuat kedua orang yang disekap itu terkejut. Akandra yang semula terlihat tenang, santai, cool tiba-tiba berubah menyeramkan ketika berhadapan dengan kedua orang yang telah bermain-main dengannya termasuk berani menyakiti istrinya.
__ADS_1
Akandra mendekati Alessa terlebih dahulu. Saat ini Alessa tengah duduk dengan kedua tangan dan kaki terikat ke kursi, sama seperti mereka mengikat Audrey beberapa hari yang lalu. Melihat itu, Daniel dengan cepat mengambil kursi dan memberikan pada tuannya.
"Thanks, Daniel. Kamu bisa tunggu di luar," ujar Akandra dengan tatapan yang begitu tajam.
"Baik, Tuan." Daniel pun mengangguk sebelum akhirnya dia keluar dari ruangan tersebut.
Begitu melihat orang kepercayaannya sudah keluar, Akandra mencengkram leher Alessa disertai tatapan yang sangat menyeramkan. "Aa-apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku, uhuk! Uhuk!" ucap Alessa dengan napas yang tertahan karena cengkraman Akandra.
Akandra pun melepaskan cengkraman tersebut. "Dengarkan aku, Alessa! Jika kamu masih berani mengganggu pernikahanku dengan Audrey, maka aku bisa melakukan lebih kejam dari ini. Jangan harap jika aku akan menikahimu, aku tidak akan pernah mengambil keputusan gila sekalipun kamu tengah mengandung anakku. Aku akan menikahkanmu dengan orang kepercayaanku agar kamu berhenti mengejarku!" tegas Akandra.
"Apa? Daniel maksudmu? Apa kamu sudah tidak waras, Akandra?" seketika kedua bola mata Alessa terbelalak dengan sempurna.
"Ya. Aku akan menikahkanmu agar kamu berhenti mengharapkan cintaku. Sadarlah, semakin keras kamu mengejarku maka kamu akan semakin sering merasakan patah hati. Tidak ada hukuman sebaik ini, Alessa. Daniel adalah pria yang baik, dia akan merawat dan menyayangimu,"
"Tidak! Sampai mati pun aku tidak akan mau menikahi pria rendahan sepertinya!" Alessa menolah tawaran Akandra secara mentah-mentah.
Sontak, Akandra langsung melayangkan sebuah tamparan cukup keras di pipi Alessa. "Jaga ucapanku, Alessa! Daniel bukan pria seperti kamu maksud. Di sini yang berhak membuat keputusan adalah aku! Jadi, kamu harus menerima perintah ini. Atau aku akan melukaimu." ancam Akandra.
"Oh iya? Coba saja kalau kamu bisa. Aku tidak akan pernah merasa takut padamu, sebab aku tau kamu masih memiliki perasaan untukku. Kamu ingat waktu kita melakukan malam pertama, kamu sangat bersemangat menggauliku. Kamu terus menggempurku sampai pagi. Apa kamu lupa itu, Sayang? Atau kamu mau kita melakukan itu lagi? Ayolah, jangan sok jual mahal seperti itu. Tidak masalah kamu tidak menikahiku, kamu bisa memakaiku kapan pun kamu mau, bagaimana?" Alessa berusaha menggoda Akandra dengan trik murahannya.
Cuih! Akandra meludah tepat di depan wajah Alessa. "Jangan mimpi! Aku tidak akan pernah mengkhianati istriku! Sungguh, aku sudah tidak tahan lagi dengan sikapmu. Akan kubuat kamu semenderita mungkin. Bersiaplah!" Akandra menyeringai dengan sangat menyeramkan.
Kemudian Akandra beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah meja. Pria itu terlihat mengambil sebuah alat setrum seraya berjalan mendekati Alessa. Melihat itu, Alessa mulai panik. Dia tahu betul bahwa alat yang Akandra bawa itu adalah alat setrum yang akan menyiksa tubuhnya.
Alessa mulai berkeringat dingin kala langkah Akandra semakin dekat, dia tahu, apa yang akan Akandra lakukan padanya. Pria itu terkadang kejam dan tidak pernah bermain-main dengan ucapannya. Maka dari itu, Alessa berusahalah memikirkan sesuatu agar bisa terbebas dari hukuman itu.
"Akandra, aku minta maaf. Jangan lakukan itu, sungguh alat itu akan membuatku benar-benar tersiksa. Ampuni aku, Akandra!" Alessa terus memohon pada adik iparnya.
__ADS_1
"Oh iya? Lalu, bagaimana dengan tawaranku?" tanya Akandra dengan melipat kedua tangannya di dada.
"Baiklah, aku setuju. Aku terima tawaranmu," akhirnya Alessa terpaksa menyetujui pernikahannya dengan Daniel.
"Bagus. Sekarang aku butuh segelmu agar kamu tidak mengingkari janjimu." Akandra mengeluarkan sebuah kertas berupa perjanjian yang sudah dia tulis beberapa hari lalu.
Kemudian dia mengambil sebuah cutter yang tak jauh dari tempat duduknya. "Berikan tanganmu!" pintar Akandra.
"Apa yang akan kamu lakukan, Akandra?" tanya Alessa sembari menyodorkan kedua tangannya.
Sreett!
Tanpa banyak basa-basi lagi, Akandra menggoreskan cutter tersebut ke jemarinya Alessa. Setelah darah keluar, Akandra menekankan jemarinya ke kertas perjanjian itu. "Aww! Gila kamu, Akandra!" pekik Alessa dengan raut wajah yang menunjukkan rasa sakit.
Akandra hanya menyunggingkan senyuman ke arah Alessa. Kemudian ponselnya tiba-tiba saja berdering tanda ada yang meneleponnya. Tanpa menunggu lama lagi, Akandra segera mengangkat teleponnya.
Telepon terhubung!
"Hallo, Kak. Gawat--"
"Gawat kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Akandra pada adiknya Affandra. Ternyata yang meneleponnya tidak lain dan tidak bukan adalah Affandra.
"...."
"Apa?"
****
__ADS_1
Stay tune :)