
"Tapi apa?" sela Akandra dengan mimik yang serius.
"Aku takut jika Alessa akan membuat onar lagi. Bagaimana jika saudariku berbuat hal nekat untuk membatalkan pernikahan kita? Apa kita langsungkan pernikahan sederhana saja yang hanya didatangi para kerabat saja?" saran Audrey sembari menatap lekat Akandra.
"Baiklah, jika kamu maunya seperti itu. Aku setuju, asalkan kamu aman dan pernikahan kita tetap terlaksana." Akandra mengelus kepala Audrey dengan penuh kelembutan.
Audrey yang mendengar itu hanya tersenyum sembari mengangguk meng-iyakan.
****
Hari demi hari silih berganti. Audrey lewati dengan penuh kebahagiaan sehingga tidak terasa masa iddahnya sudah selesai. Audrey tampak lebih bersemangat lagi menjalani hidup.
Bagaimana tidak, karena hari ini ia akan bertemu dengan Kakeknya Akandra. Audrey sudah tidak sabar lagi menanti hari bahagia itu. Dia tidak menyangka jika nasib buruk yang Audrey alami selama ini telah berakhir. Kini kehidupannya sudah dijungkirbalikkan menjadi penuh makna.
Sementara di sisi lain, Akandra tengah bersiap-siap untuk pergi menjemput Audrey. Ia turut bahagia karena tahu jika Audrey telah selesai masa iddahnya. Itu artinya, dia akan segera meminang Audrey dan memiliki wanita yang dia cintai seutuhnya.
Kali ini Akandra berpenampilan sangat berbeda dari biasanya. Dia tampak terlihat sangat tampan. Tak lama kemudian setelah selesai bersiap-siap, Akandra pun keluar dari kamarnya.
Pada saat dia keluar dari kamarnya, alangkah terkejutnya ia ketika mendapati semua pelayan berbaris di depan kamarnya. Semua pelayan itu tersenyum pada tuannya. Berbeda dengan dengan Akandra yang terlihat kebingungan. Pria itu tampak mengerutkan dahinya.
"Loh, ada apa kumpul ramai-ramai di sini?" tanya Akandra dengan wajah yang bingung. Karena dia sama sekali tidak memanggil satu pun pelayan.
"Kami hanya ingin memberikan semangat pada Tuan. Sebelum Tuan menjemput Nona Audrey, Tuan minum dulu susu telurnya," jawab Bi Lina selaku kepala pelayan.
"Astaga, Bi. Saya ini bukan anak kecil yang harus diperlakukan seperti ini. Tapi, baiklah. Saya akan menghargai usaha kalian ini. Terima kasih," kekeh Akandra seraya menerima segelas susu telurnya.
Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Akandra langsung meneguk habis susu telur yang dibawakan Bi Lina. Setelah itu, dia memberikan gelas kosong pada Bi Lina. Semua pelayan tersenyum melihat Tuannya.
"Kalau begitu, saya pergi dulu. Kalian jaga rumah baik-baik. Jangan sampai Alessa masuk lagi ke rumahku! Apa pun alasannya, jangan biarkan dia masuk, paham?"
"Paham, Tuan," jawab semua pelayan serentak.
"Bagus, bulan depan akan saya naikkan gaji kalian. Sekarang kembali bekerja," ujar Akandra.
Seketika bola mata para pelayan langsung membola. Semua bersorak kecil mendengar kabar gembira tersebut. "Terima kasih banyak, Tuan,' ucap para pelayan satu persatu.
"Ya, cepat kembali ke pekerjaan kalian. Saya sudah telat ini," timpal Akandra sembari mengunci pintu kamarnya.
Setelah itu, Akandra berlari menuju lift agar cepat sampai di basement. Sesampainya di basement, dia segera mengambil mobil Porchse berwarna putih. Dia tidak ingin terlihat tampan saja, melainkan dia harus menjemput Audrey dengan mobil andalannya.
__ADS_1
Akandra mengitari mobilnya dan segera masuk. Sebelum melajukan mobilnya, ia menghubungi Kakek Abirama. Telepon terus memanggil hingga akhirnya telepon pun tersambung.
Telepon terhubung!
"Hallo, Kakek," sapa Akandra dengan santun.
"Halo, cucuku. Akandra ... ada apa pagi-pagi seperti ini telepon? Tidak biasanya kamu telepon di jam seperti ini," terdengar suara Kakek Abirama di seberang telepon.
"Akandra ingin memberi tahu Kakek jika hari ini aku akan mempertemukan Kakek dengan Audrey. Audrey telah siap bertemu dengan Kakek, apakah Kakek ada di rumah?" tanya Akandra dengan senyuman di bibirnya.
"Datanglah dengan calon istrimu. Kakek sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Audrey. Kakek akan persiapkan dari sekarang. Kenapa tidak memberi tahu Kakek sebelumnya malah dadakan seperti ini?"
"Hehe, maafin Akandra, Kek," jawab Akandra sembari cengengesan.
"Ya sudah, ya sudah ... tidak apa-apa. Kamu hati-hati di jalannya, sampai jumpa."
"Sampai jumpa, Kek. Tutt!" Akandra mengakhiri obrolannya.
Telepon terputus!
****
Terdengar suara bel rumah kediaman Abirama. Tanpa membuang waktu, sang pelayan rumah segera membukakan pintunya. Begitu pintu terbuka lebar, terlihat seorang wanita cantik tengah berdiri di depan rumah dengan pakaian yang cukup seksi.
"Nn-nona Alessa?" ucap pelayan yang membukakan pintu dengan suara yang gelagapan.
Kedua bola matanya membelalak dengan sempurna. Kemudian dia mengucek-ngucek matanya untuk memastikan wanita yang ada di hadapannya beneran nyata atau hanya halusinasi. Dan benar saja, setelah dia memastikannya, wanita itu benar-benar nyata.
Namun, pelayan itu kebingungan melihat Alessa. Bagaimana mungkin orang yang sudah mati bisa bangkit kembali. Berbeda dengan Alessa, dia hanya melipat kedua tangan di dada dengan wajah yang bete.
"Apa aku tidak akan dipersilakan masuk?" tanya Alessa dengan mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah pelayan itu.
"Euh ... iya, Nona. Silakan masuk." pelayan itu akhirnya mempersilakan Alessa untuk masuk.
"Nah gitu kek dari tadi. Malah mematung enggak jelas," celetuk Alessa dengan jalan berlenggok-lenggok.
"Maaf, Nona. Saya hanya kaget, karena setahu saya Nona sudah tewas," timpal pelayan.
"Sudah, jangan bicara lagi! Katakan, di mana Kakek Abirama?" tanya Alessa sambil menelisik mencari keberadaan Kakek Abirama.
__ADS_1
"Tuan masih berada di ruangannya," jawabnya dengan menolehkan tatapannya ke arah Alessa.
"Kalau begitu panggilkan Kakek Rama dan katakan aku sudah datang. Aku menunggunya di ruang tengah, cepat!" perintah Alessa seraya berjalan menuju ruang tengah.
'Dasar wanita menyebalkan, kenapa wanita seperti ini bisa hidup kembali. Kenapa tidak mati saja. Ini jika Tuan Muda Akandra tahu jika Nona Alessa ada, dia akan sangat marah. Secara dia sangat membenci wanita arrogant ini,' umpat sang pelayan dalam batinnya.
"Woiiyy! Malah bengong. Buruan panggil Kakek Rama!" bentak Alessa.
Pelayan tersebut seketika langsung terlonjak kaget. Mau tidak mau dia harus menuruti perintahnya. Ia segera menemui sang pemilik rumah untuk menyampaikannya.
Begitu sampai di ruangan Kakek Abirama, pelayan tersebut segera mengetuk pintu sebanyak tiga kali. "Masuklah!" terdengar suara Kakek Abirama dari dalam.
Setelah mendengar itu, sang pelayan segera masuk dan menghadap ke tuannya. Perlahan pelayan itu melangkahkan kakinya menuju sofa yang Kakek Abirama duduki. "Maafkan saya, Tuan. Begini--" pelayan itu benar-benar gugup, sehingga dia meremas jemarinya.
"Iya, katakan."
"Di bawah ada--"
"Cucuku sudah datang? Baiklah, saya akan turun," sela Kakek Abirama sembari bergegas keluar dari kamar.
"Haah? Aku bahkan belum mengatakan siapa yang datang." Pelayan itu hanya melongo melihat kepergian tuannya.
Sementara itu, Kakek Abirama begitu antusias. Langkahnya cukup cepat dengan senyuman di bibirnya. "Kenapa cepat sekali cucuku sampai? Bukankah baru saja dia menghubungiku kalau dia sedang menuju ke mari. Tapi, itu tidak penting. Yang terpenting, cucuku sudah datang dengan calon istrinya," gumam Kakek Abirama.
Namun, begitu dia sampai di tuang tengah. Kedua matanya membola dengan sempurna. Tubuhnya mematung melihat wanita yang tengah duduk dengan bertumpang kaki. Ternyata yang datang bukanlah cucunya melainkan Alessa. Sama halnya seperti pelayan tadi, Kakek Abirama pun turut terkejut atas apa yang dia lihat.
"Kakek," sapa Alessa dengan senyuman yang ceria.
"Alessa? Bukankah kamu sudah tewas, bagaimana bisa kamu masih hidup?" tanya Kakek Abirama dengan wajah yang heran.
"Itu tidak penting, Kek. Yang jelas, aku datang ke mari hanya ingin menyampaikan sesuatu mengenai calon istri Akandra." Alessa menyunggingkan senyuman penuh liciknya.
"Apa yang ingin kamu sampaikan mengenai Audrey?"
"Begini ...."
"Apa?" Seketika Kakek Abirama langsung tercengang.
****
__ADS_1
Stay tune :)