Istri Yang Digadaikan

Istri Yang Digadaikan
Bab 77 > Alessa Hamil?


__ADS_3

"Bagaimana bisa wanita berbisa itu mengetahui jika Tuan dan Nyonya sedang berada di sini dan siapa yang telah memberi tahunya?" Daniel bertanya dengan menunjukkan wajah yang bingung.


"Untuk masalah itu aku tidak tahu. Tapi, yang jelas ketika Mas Akandra menghilang, aku sedang berada di kamar mandi. Bahkan aku tidak tahu jika Mas Akandra hilang dan mengira jika yang masuk ke kamar adalah suamiku. Namun, bodohnya aku ternyata perkiraanku salah besar. Orang yang masuk itu lain dan tidak bukan adalah Devanka. Saat ini suamiku sedang disekap oleh beberapa orang." Audrey beranjak dari ranjangnya dan berjalan menuju lemari dengan tubuh yang diselimuti oleh selimut tebal.


"Apakah Nyonya mengenal orang-orang itu?" tanya Daniel dengan menoleh ke arah Audrey yang sedang mengambil pakaian.


"Aku tidak mengenali siapa mereka yang jelas, suamiku sedang dalam bahaya. Kita harus segera bertindak sebelum Alessa berbuat hal nekat," ujar Audrey sembari berbalik badan dan menatap serius Daniel.


"Nyonya, benar. Kita harus segera menyelamatkan Tuan Akandra. Kalau begitu, saya akan mencari Tuan. Nyonya tetap lah berada di kamar dan jangan membuka pintu untuk siapa pun. Saya akan menugaskan dua anak buah Tuan Fandra untuk menjaga Nyonya dari luar,"


"Itu tidak perlu, Kak Daniel. Karena aku akan ikut mencari suamiku. Tunggulah di luar, aku akan memakai pakaianku dulu!" perintah Audrey kepada orang kepercayaan suaminya.


"Tapi, Nyonya ... ini sangat berbahaya jika Nyonya ikut bersamaku,"


"Aku akan baik-baik saja. Jangan cemaskan aku, fokus pada suamiku. Saat ini aku tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang yang jelas aku tidak ingin suamiku terluka sedikitpun jadi ... biarkan aku ikut bersamamu, Kak." Audrey membujuk Daniel dengan tatapannya.


"Baiklah, aku akan menunggu di luar." Tanpa banyak bicara, Daniel pun setuju dan langsung keluar dari kamar Audrey.


Sementara itu, Audrey segera mengambil pakaiannya dan langsung mengenakannya. Setelah itu, dia mengambil tasnya yang berisi barang-barang penting yang mungkin akan berguna nanti. Tanpa membuang banyak waktu lagi, ia keluar dari kamarnya dan pergi bersama Daniel berserta anak buah Fandra.


****


Di sebuah gedung yang kosong, kotor dan cukup sesak terlihat seorang pria yang tengah terduduk tak sadarkan diri dengan kedua tangan dan kaki terikat. Tak lama kemudian, datang seorang wanita dengan beberapa pria bertubuh kekar dan berwajah sangar mendekati pria yang bernama Akandra. Benar, pria yang malang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Akandra Xaquille.

__ADS_1


Sementara wanita yang saat ini sedang duduk dan menatap lekat Akandra adalah Alessa yang merupakan sang mantan tunangannya dulu. Wanita itu mulai mengelus lembut wajah tampan Akandra sembari tersenyum tipis. Kemudian, Alessa meminta sesuatu kepada anak buahnya dan salah satu dari mereka memberikan segelas air pada bosnya.


Alessa mengambil segelas air tersebut dan langsung menyiramkan air itu tepat di wajah tampan Akandra. Sehingga si empunya wajah tersebut sadar. Alessa yang melihat pria malang itu tersenyum ketus.


"Akhirnyaa kamu sadar juga, kamu cukup membuatku menunggu lama." Alessa menangkup kedua pipi Akandra disertai tatapan yang cukup tajam.


"Jauhkan tangan kotormu itu, Alessa!" bentak Akandra dengan nada bicara yang marah.


"Tidak, Sayang. Selama ini kamu sudah terlalu jauh meninggalkanku. Sekarang, akan kubuat kamu menjadi milikku seutuhnya. Dalam beberapa jam ini kita akan menikah," timpal Alessa dengan tersenyum puas.


"Dasar j*l*ng! Aku tidak akan pernah bersedia menikahi wanita sepertimu. Istriku hanyalah Audrey kamu tidak akan pernah bisa menggantikan posisinya di hatiku!"


"Oh iya? Tapi, sayangnya kamu harus tetap menikahiku. Kamu harus bertanggungjawab atas apa yang kamu lakukan malam itu!" Alessa memekik di depan wajah Akandra seraya tangannya tengah mengelus perutnya.


"Kalau tidak percaya, maka lihat ini dan ayo kita cek ke dokter kandungan." Alessa kini memojokkan Akandra dengan ucapannya.


Karena merasa tidak percaya, Akandra pun mau tidak mau harus melihat ke arah testpack yang sedang dipegang oleh Alessa. Betapa terkejutnya Akandra begitu melihat garis merah dua yang sangat jelas. Itu menandakan jika Alessa betul-betul sedang mengandung.


Jelas, kedua bola mata Akandra terbelalak dengan sempurna. Dia tidak percaya dengan apa yang sedang dia lihat. Bagaimana bisa Alessa hamil? Dan apakah itu benar-benar anak darinya?


"Kita lihat, beberapa jam ini kamu akan menjadi suamiku, Akandra! Dan kamu harus menceraikan Audrey demi anak kita ini!" tegas Alessa seraya mengelus perutnya yang terlihat sedikit membuncit.


"Jangan mimpi kamu Alessa! Sampai kapan pun aku tidak akan pernah mau menikahi wanita sepertimu. Dan kamu camkan ini baik-baik! Bahwa aku tidak akan pernah menceraikan wanita yang sangat aku cintai!" bentak Akandra dengan sorotan matanya yang sangat tajam.

__ADS_1


"Kamu tidak bisa setega ini, Mas! Kamu harus memikirkan anak ini. Anak ini adalah anakmu, kamu harus menerima anak ini dan merawatnya bersama-sama!" tegas Alessa.


"Mungkin aku akan menerima anak ini tapi, aku tidak akan pernah menerima bahkan menikahimu. Biar aku dan Audrey yang merawat bayi ini sama-sama. Sebaiknya kamu buang jauh-jauh keinginanmu untuk menikah denganku. Karena, sampai mati pun aku tidak akan pernah mau menikahimu." Akndea tetap bersikukuh dengan keputusannya.


"Kamu harus tanggungjawab, Mas! Nikahi wanita itu!" ucap seorang wanita yang tiba-tiba datang dengan beberapa pria yang mengawalnya di belakang.


Mendengar itu, tentu membuat Akandra dan juga Alessa langsung menoleh ke sumber suara. Alessa tersenyum ketus kepada kembarannya. Namun, berbeda dengan Akandra, dia terlihat sangat kejut begitu melihat kedatangan sang istri serta mendengar ucapan istrinya.


"Sayang, kamu di sini?" Akandra bertanya hal konyol karena merasa gugup dan merasa bersalah kepada istrinya.


"Kenapa, Mas? Apa kamu tidak senang jika aku datang menyelamatkanmu?" alih-alih menjawab, Audrey justru balik bertanya pada suaminya.


"Tentu saja aku senang saya, seharusnya kamu datang sejak tadi. Mungkin kamu tidak akan--"


"Justru aku beruntung datang terlambat karena aku bisa tahu tentang berita ini. Kalau tidak, mungkin kamu akan menyembunyikannya dariku. Sekarang aku tanya padamu, Mas ... apakah benar Alessa hamil?" Audrey bertanya sembari melangkahkan kakinya menghampiri sang suami yang masih dengan keadaan tangan dan kaki terikat di kursi.


"Kamu mau bukti, adikku?" tawar Alessa dengan nada yang mengejek.


"Diam kamu, Alessa! Aku tidak bicara padamu!" bentak Audrey dengan tatapan yang penuh dengan kemarahan.


Bagaimana tidak, dia datang untuk menyelamatkan suaminya. Namun, dia justru malah mendengar berita yang sangat menyesakkan hati. Istri mana yang tidak marah ketika mendengar berita bahwa suaminya telah menghamili wanita lain selain dirinya meski itu saudara kembarnya sendiri.


****

__ADS_1


END


__ADS_2