Istri Yang Digadaikan

Istri Yang Digadaikan
Bab 30 > Talak Tiga


__ADS_3

Devanka segera membuka amplop berwarna coklat tersebut. Begitu dia membukanya, dia dibuat terkejut dengan selembar kertas putih bertuliskan beberapa kalimat yang ditulis menggunakan tinta hitam. Karena penasaran dengan isi surat tersebut, ia pun segera membacanya.


{Saya akan memberikan berapa pun uang yang kamu minta asalkan kamu menceraikan Audrey. Dan setelah surat ini ditandatangani serta uang jatuh padamu, maka kamu tidak berhak menemui Audrey apalagi untuk mengambilnya lagi. Anggap saja ini sebuah jual beli. Namun, perbedaannya saya ingin membebaskan Audrey dari pria sepertimu! Tapi, jika kamu menolak tawaran saya, saya tidak akan menerima Audrey lagi sebagai wanita gadaian. Pikirkan baik-baik! Kamu pilih uang atau istrimu!}.


Setelah membaca surat itu, Devanka tersenyum licik. Tanpa banyak bicara, dia mengambil sebuah pulpen dan menandatangani surat itu di hadapan semua orang termasuk istrinya juga. Sementara itu, Akandra yang melihat itu merasa senang karena wanita yang dia sukai akan segera terbebas dari status pernikahannya.


"Apa kamu yakin dengan keputusanmu ini, Devan?" tanya Akandra untuk memastikannya.


"Tentu saja. Saya lebih memilih uang dari pada istri seperti Audrey! Saya sudah menandatangani ini, maka berikan aku uang satu setengah miliar!" pinta Devanka seraya memberikan selembar kertas yang sudah dia tandatangani.


"Apa? Apa maksudnya ini? Kenapa kamu meminta uang sebanyak itu, Mas?" Audrey terkejut dengannya permintaan suaminya. Dia berdiri dan menatap tajam Devanka.


"Baik, saya akan berikan itu! Tapi, sebelum saya memberikan uang itu ... saya ingin kamu membuktikan ucapanmu! Saya tidak ingin kamu merampas sesuatu yang sudah menjadi milik saya!" tegas Akandra seraya berdiri.


"Tunggu dulu!" pekik Audrey dengan wajah yang kebingungan. "Apa maksud pembicaraan kalian ini? Surat apa yang kamu tandatangani, Mas? Dan kamu, Kak Akandra! Apa maksud ucapanmu itu? Apa yang sedang kalian bahas ini?" Audrey bertanya-tanya secara bertubi-tubi pada Akandra dan juga suaminya.


"Lihat saja!" timpal Akandra sesingkat mungkin.


"Audrey!" Devanka berjalan mendekati Audrey.

__ADS_1


Kemudian dia memegang kedua tangan istrinya dan menatapnya dengan lekat beberapa saat. Setelah itu, dia mengutarakan apa yang ingin dia sampaikan. "Apa yang mau kamu katakan, Mas? Jangan membuatku takut, katakanlah!" Audrey membalas tatapan suaminya.


"Aku talak kamu, Audrey Elfrida! Aku jatuhkan talak 3 padamu! Mulai saat ini hubungan kita sudah berakhir! Kamu bukan istriku lagi, begitupun denganku. Aku bukan suamimu lagi, aku harap kamu akan bahagia dengan Tuan Akandra. Terima kasih untuk uang yang banyak ini, Sayang. Aku tidak akan pernah lupa akan kebaikanmu ini. Selamat tinggal." Devanka memeluk Audrey untuk yang terakhir kalinya.


Sementara itu, Akandra sudah menuliskan nominal sesuai yang Devanka minta pada selembar cek. Setelah itu dia memberikan cek tersebut pada Devanka. Dengan wajah yang sumringah, mantan suami Audrey ini mengambil ceknya dan segera pergi dari kediaman Xaquille.


Brugh!


Audrey langsung terjatuh lemas di lantai. Lututnya seketika lemas setelah mendengar ucapan suaminya. Lidahnya kelu, dia benar-benar shock karena malam ini dia dijatuhkan talak tiga. Itu artinya malam ini juga dia resmi menjadi seorang janda dan dia telah menjadi sosok wanita yang telah gagal dalam menjalin sebuah pernikahan.


Air mata Audrey terus menetes, hatinya sudah hancur berkeping-keping. Setega itu Devanka mentalak dirinya hanya karena uang. Itu sama saja dia telah dijual olehnya. Kini Audrey sadar jika tujuan Devanka menikahinya hanya karena uang.


Akandra paham dengan keadaan Audrey pun segera memberi isyarat pada Affandra dan juga beberapa bodyguard-nya termasuk juga Daniel untuk pergi meninggalkan ruang utama. Tanpa berlama-lama, Affandra dan Daniel pun keluar dari ruang utama. Sementara itu, Akandra mendekati Audrey dan duduk di sebelahnya.


Akandra segera menarik lembut tubuh Audrey dan memeluk wanita itu ke dalam dekapannya. Tangisan Audrey pun semakin pecah. Akandra tidak mengatakan apa pun, ia hanya mengelus lembut punggung sang janda dadakan ini.


"Apa salahku sehingga dia setega itu dengan menjualku seperti ini! Aku tidak terima dengan semua penghinaan ini! Walau aku ini wanita, aku juga berhak untuk dihormati. Aku bersumpah ... aku akan membalaskan semua rasa sakitku selama ini!" teriak Audrey dengan suara yang menyakitkan.


"Lakukanlah! Aku tidak akan menghalangimu. Percayalah, aku akan selalu ada bersamamu! Aku akan membantumu dalam membalaskan dendammu ini." Akandra semakin erat memeluk Audrey.

__ADS_1


Jujur saja, hati Akandra sakit melihat keadaan wanita yang dia cintai ini. Terlebih lagi dengan ucapannya yang sangat menyakitkan. Sebrengsek apa pun dirinya, dia akan tetap memuliakan seorang wanita. Karena prinsipnya dia, dia tidak akan lahir tanpa adanya seorang wanita!


Mendengar ucapan pria yang memeluknya, Audrey melepaskan pelukan tersebut dan mendongak menatap kedua mata Akandra. "Kenapa Kakak lakukan ini? Kenapa Kakak mau membantuku? Kenapa Kakak rela mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk wanita gadaian seperti diriku? KENAPA?" tanya Audrey dengan menekankan kalimat terakhirnya.


"Kamu ingin tahu, kenapa aku melakukan semua ini? Kenapa aku rela berkorban banyak untukmu? Kamu ingin tahu semua yang aku lakukan untukmu?" alih-alih menjawab, Akandra balik bertanya pada Audrey.


"Ya, katakan!"


"Karena aku mencintaimu! Aku ingin mempersunting dirimu, Audrey Elfrida! Sejak kamu menginjakkan kaki di rumah ini, aku sudah jatuh cinta padamu! Bukan karena wajahmu yang mirip dengan Alessa, tapi, karena kesabaran dan ketangguhanmu yang membuat hatiku luluh dan membuat jantungku kembali berdetak karena cinta. Karena itulah, aku rela melakukan apa pun hanya untuk bersamamu!" tegas Akandra dengan memperlihatkan cinta yang tulus di matanya.


"Sadarlah, Kak Akandra! Status kita berbeda! Kita jauh berbeda. Kita bagaikan langit dan bumi yang sampai kapan pun kita tidak akan bersatu. Aku hanya wanita gadaian yang sekarang sudah menjadi seorang janda. Apa kata orang nanti jika seorang Akandra menikahi seorang janda gadaian yang dijual suaminya sendiri? Citra Kakak akan hancur nanti. Buang perasaan itu jauh-jauh, aku tidak akan bisa menikah denganmu, Kak!" Audrey menolak halus perasaan Akandra.


Bukan tanpa sebab dia menolaknya. Dia hanya tidak ingin dirinya dihina dan diperlakukan seperti Devanka memperlakukannya. Saat ini Audrey hanya ingin menenangkan dirinya, ia sama sekali belum kepikiran untuk menikah lagi, apa lagi masa iddahnya belum selesai.


"Aku tidak peduli dengan semua itu! Yang jelas aku mencintaimu tulus karena Allah SWT. Mencintaimu adalah sebuah anugerah. Perlu kamu ingat ini, Audrey! Bahwa aku tidak pernah memandang dirimu sebagai wanita yang hina apalagi wanita gadaian. Ketahuilah, yang aku lihat pada dirimu adalah kesucianmu, ketangguhanmu dan kesabaranmu yang secara tidak langsung sudah mengajarkanku. Jadi, aku mohon padamu, pertimbangkan lagi keputusanmu ini. Saya siap menunggumu sampai kamu benar-benar siap untuk menikah. Aku akan berusaha membuatmu jatuh cinta padaku, beri aku satu kesempatan untuk menunjukkan ketulusan cintaku ini, wahai wanita mulia." Akandra berlutut di hadapan Audrey.


Deg!


****

__ADS_1


Stay tune :)


__ADS_2