
"Kak, pergilah. Urusan Daniel biat aku yang urus. Lagi pula adikmu akan segera ke mari 'kan," ujar Audrey sembari menatap Akandra yang terlihat cemas.
"Tidak, Audrey. Daniel sepertinya di serang seseorang. Tapi, siapa orang itu dan apa tujuannya dengan memukuli Daniel sampai seperti ini?" Akandra berpikir keras tentang pelaku yang menghajar orang kepercayaannya.
"Jangan su'udzon dulu, Kak. Kita tanyakan saja setelah Kak Daniel sadar. Sekarang kita bawa Kak Daniel ke rumah sakit. Takutnya ada luka serius," saran Audrey dengan penuh kelembutan.
"Baiklah, ayo kita bawa Daniel ke rumah sakit."
"Tapi, Kak ... bukankah Kakak harus pergi bekerja? Pesankan taksi saja, biar aku yang membawa Kak Daniel ke rumah sakit."
"Kamu yakin?"
"Iya, Kak. Aku yakin," jawab Audrey dengan senyuman di bibirnya.
"Ya sudah kalau begitu, ayo kita bawa dia." Akandra segera membopong tubuh Daniel menuju pintu unit.
"Audrey, tolong bantu aku bukakan pintunya," perintah Akandra.
"Iya, Kak." Audrey segera membuka pintunya.
Pada saat ia membuka pintunya, terlihat seorang pria tampan yang sekilas mirip dengan Akandra. Meski tidak setampan Akandra, Audrey tahu bahwa pria yang berada di luar ubitnya tidak lain dan tidak bukan adalah Affandra, sang adik Akandra. "Loh, loh ... kenapa dengan Kak Daniel?" tanya Affandra dengan keterkejutannya.
"Nanti saja bertanya-nya, sekarang bantu aku membawa Daniel ke mobil. Kita harus membawanya ke rumah sakit," timpal Akandra.
"Baiklah, ayo. Masukan mobilku saja." Dengan cepat Affandra pun membantu sang kakak.
Akandra dan Affandra berjalan lebih dulu menuju lift. Sedangkan Audrey menutup pintunya terlebih dahulu. Pada saat dia hendak menyusul ketiga pria itu, tiba-tiba sandalnya menginjak sesuatu.
Sontak, Audrey pun melihat benda yang telah ia injak. Untuk memastikannya, wanita ini pun berjongkok serta mengambil benda tersebut. Ternyata benda yang dia injak adalah sebuah kalung yang terdapat liontin love. Karena penasaran dengan pemilik kalung tersebut, Audrey pun membuka liontin love tersebut.
Plukk!
Pada saat Audrey membuka liontin love tersebut, alangkah terkejutnya ia pada saat melihat foto pasangan kekasih yang tersimpan di dalam liontin tersebut. Ia pun tak sengaja menjatuhkan kalungnya. Bagaimana tidak, foto yang ia lihat di dalam liontin tersebut adalah foto Akandra dan Alessa.
'Bagaimana bisa dia masih menyimpan foto saudariku sedangkan dia sudah memiliki hubungan bersamaku? Apakah dia masih mencintai Alessa? Jika benar begitu, kenapa dia harus repot-repot untuk menikahiku?' Kini benak dan batinnya dipenuhi dengan tanda tanya yang sama sekali ia tidak tahu jawabannya.
Di tengah pikirannya yang sedang berkecambuk itu, tiba-tiba ponselnya berdering. Audrey tersadar dari monolognya. Ia secara merogoh ponsel yang berada di sakunya dan melihat siapa yang telah menghubunginya. Audrey menautkan kedua alisnya pada saat melihat layar ponselnya. Ternyata yang menghubunginya adalah nomor yang dirahasiakan.
Mau tidak mau Audrey pun menjawab teleponnya karena penasaran. Dia menggeser tanda telepon berwarna hijau tersebut. Sebelum angkat bicara, ia menempelkan ponselnya terlebih dahulu.
Telepon terhubung!
"Hallo," ucap Audrey dengan nada yang ragu-ragu.
"Bagaimana kabarmu wanita gadaian? Apa kamu bahagia setelah merampas semua yang seharusnya menjadi milik Alessa?" terdengar suara seorang wanita yang begitu asing di telinganya.
"Maaf, anda siapa? Apa maksud perkataanmu?" tanya Audrey dengan nada yang masih santun.
"Dasar wanita murahan! Setelah apa yang kamu lakukan, kamu bersikap seolah-olah tidak tahu. Dengarkan aku baik-baik! Jika kamu ingin hidupmu tenang maka lepaskan Akandra! Jauhi dia seperti kamu menjauhi Devan, mantan suamimu. Kamu harus sadar diri jika seorang janda gadaian sepertimu tidak pantas untuk mendapatkan pria seperti Akandra! Tutt!" Wanita misterius itu segera menutup teleponnya.
__ADS_1
Telepon terputus!
Seketika jantung Audrey terasa berhenti berdetak. Lelehan air matanya pun mulai menetes. Hatinya benar-benar sakit pada saat wanita yang tidak ia kenal telah menghinanya seperti itu.
'Sehina itulah aku di mata semua orang? Apakah aku tidak pantas melanjutkan hidupku dengan hidup bersama pria yang aku cintai saat ini?' batin Audrey menjerit.
"Audrey!" panggil seseorang dari belakang.
Sontak Audrey langsung menyambar kalung itu dan menaruh di sakunya. Ia tahu jika yang memanggilnya adalah Akandra. Maka dari itu, sebelum dia membalikkan badan, Audrey menyeka air matanya dan mengatur napasnya agar semuanya terlihat baik-baik saja.
"Iya, Kak." Audrey tersenyum setelah berhadapan dengan Akandra.
"Apa yang sedang kamu lakukan? Kenapa lama sekali?" tanya Akandra serata berjalan mendekati Audrey.
"Tidak ada, Kak. Tadi kepalaku mendadak terasa pusing. Makanya aku berjongkok sebentar di sini sampai rasa pusingku hilang. Maafkan aku, Kak. Aku telah membuatmu menunggu," jawab Audrey dengan jawaban yang bohong.
"Sayang, kamu sakit?" Akandra menangkup kedua pipi Audrey disertai tatapan yang panik.
Melihat itu, Audrey hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Enggak kok, Kak. Sekarang pusingnya sudah hilang. Ayo, kita bawa Kak Daniel ke rumah sakit," ajak Audrey dengan mengalihkan pembicaraan.
"Kamu yakin? Tidak ada yang sedang kamu sembunyikan dariku 'kan?" Akandra curiga setelah melihat tingkah Audrey yang tidak biasanya.
"Apa maksudmu, Kak? Memangnya apa yang harus aku sembunyikan darimu, hmm?" tanya Audrey dengan menaik-turunkan alisnya.
"Aku tidak tahu, yang jelas tadi aku melihatmu sedang memasukkan sesuatu ke dalam sakumu. Apa yang kamu sembunyikan?"
"Aku percaya padamu," jawab Akandra dengan senyuman tipis.
Dalam hati kecilnya, ia sangat yakin jika Audrey sedang berbohong. Dia yakin jika wanitanya itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Berbeda dengan Audrey, saat ini ia sangat bingung dengan suasana hatinya.
Di satu sisi dia tidak sanggup jika harus berbohong pada calon suaminya. Meski ia sangat ingin bertanya mengenai kalung tersebut, tapi ia tidak berani membuka luka lama yang selama ini telah bersarang di hati Akandra. Namun di sisi lain, Audrey sangat ingin bertanya untuk memastikan apakah Akandra masih mencintai Alessa atau tidak.
****
"Ayo, masuk." Akandra membukakan pintu mobilnya untuk Audrey.
Audrey hanya menanggapinya dengan senyuman seraya masuk ke mobil. Ia duduk di kursi depan tepat sebelah kursi kemudi. Sementara Akandra, ia mengitari mobilnya dan masuk melalui pintu kemudi.
"Kak, di mana Kak Daniel dan adikmu?" tanya Audrey sembari menoleh kursi belakang.
"Fandra sudah membawanya ke rumah sakit. Sekarang aku akan mengantarkanmu ke rumah sakit sebelum aku pergi menemui rekan bisnisku," jawab Akandra seraya melajukan mobilnya.
"Kenapa tidak memesankan taksi saja, Kak? Aku bisa pergi dengan taksi." Audrey menoleh ke arah Akandra.
"Tidak akan! Selama ada aku, tidak ada satupun taksi yang akan mengantarkanmu. Aku tidak ingin Devan menguntitmu nantinya," tegas Akandra disertai tatapan yang tajam.
"Astagfirullah, itu tidak mungkin, Kak. Kami telah berpisah, Devan tidak akan mengganggu ataupun menguntitku lagi," timpal Audrey.
"Itu menurutmu tidak denganku!"
__ADS_1
"Baiklah, terserah Kakak saja."
Drrtt! Drrtt!
Lagi-lagi ponsel Audrey kembali bergetar. Kali ini bukan telepon yang masuk melainkan sebuah pesan dari nomor yang tidak ia kenali. Karena penasaran, dia segera membaca pesannya.
{Ketahuilah wanita gadaian! Tunangan Akandra masih hidup! ALESSA MASIH HIDUP! ALESSA MASIH HIDUP!}
Seketika bola matanya langsung terbelalak dengan sempurna. Wajahnya berubah pucat pasi. Hatinya sudah tidak tenang lagi dengan terror yang ia alami saat ini.
"Kak, bagaimana jika Alessa masih hidup?" tanya Audrey secara mendadak.
Ckitt!
Akandra sontak menginjak rem dan membuat mobil pun berhenti secara mendadak. Audrey ikut terkejut dengan ulah Akandra yang tiba-tiba menghentikan mobilnya. Kedua pasang mata mereka pun saling bertemu. Mereka saling berpandangan satu sama lain tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Apa maksudmu? Alessa sudah lama tiada, bagaimana mungkin dia masih hidup!" tegas Akandra dengan mata yang memerah.
"Aku hanya bertanya, bagaimana jika Alessa masih hidup? Siapa yang akan Kakak pilih diantara kami?" Audrey terus bertanya untuk memastikan perasaan calon suaminya.
"Pertanyaan konyol! Kalian itu bukan barang! Untuk apa aku memilih salah satu dari kalian!" Akandra tidak menjawab pertanyaan Audrey.
Dia kembali melanjutkan perjalanan. Sementara Audrey, dia hanya bisa merasa bingung dengan perasaannya. Kedua bola matanya menatap ke luar jendela.
'Apakah dia masih mencintai Alessa? Apa karena itu dia tidak bisa memilih salah satu dari kami?' batin Audrey kembali bertanya-tanya.
Akandra yang melihat kebisuan Audrey pun segera menepikan mobilnya dan kembali menghentikan mobilnya. Dia membuka sabuk pengaman dan meraih kedua tangan Audrey. "Lihat aku, Audrey!"
Audrey melihat kedua mata Akandra. Mereka saling bertatapan selama beberapa menit. "Apa kamu sungguh ingin tahu jawaban? Kamu meragukan cinta dan kasih sayangku padamu?" tanya Akandra dengan suara yang lembut.
Kali ini ekspresi Akandra lebih tenang dari sebelumnya. Audrey yang melihat perubahan itu pun segera mengangguk. Sebelum menjawab semua pertanyaan wanitanya, Akandra menghembuskan napasnya cukup panjang.
"Jauh sebelum kamu hadir di kehidupanku, aku sangat menyayanginya Alessa. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, dia mulai menunjukkan sifat aslinya. Sampai di mana dia berani mengkhianati cinta tulusku dengan menodai dirinya sendiri dengan pria lain. Padahal selama aku berhubungan dengannya, aku tidak pernah menyentuhnya sekalipun. Aku selalu merawat dan menjaganya. Tapi, semua itu justru membuat Alessa berani bermain api hingga akhirnya ia tewas. Kamu tahu, Audrey? Setelah kehilangannya, aku sudah tidak mempercayai yang namanya wanita. Aku ingin sesekali merusak para wanita untuk menghilangkan penderitaanku selama ini. Akan tetapi, aku tidak bisa. Aku tidak bisa menodai wanita mana pun termasuk kamu. Darimu aku belajar bahwa tidak semua wanita itu buruk, kamu telah menunjukkan sifatmu yang begitu mulia. Itulah kenapa aku sangat menyayangimu. Cintaku padamu lebih besar dari rasa cintaku dulu pada Alessa. Aku harap, dengan semua penjelasan ini, kamu tahu bahwa kamu itu wanita mulia yang sangat aku cintai. Tolong, jangan ragukan cintaku lagi. Aku benar-benar tulus menyayangimu, aku mencintaimu karena Allah SWT," ujar Akandra dengan penuh kelembutan dan dibumbui dengan lelehan air mata.
"Sebesar itukah cintamu padaku, Kak. Maafkan aku, aku telah meragukan cintamu." Audrey turut menangis karena terharu.
"Iya, aku bahkan mencintaimu lebih dari diriku sendiri." Akandra mengelus lembut wajah Audrey.
"Terima kasih atas kasih sayangmu yang tulus ini. Jika boleh aku bertanya satu hal lagi, aku juga ingin menunjukkan sesuatu padamu."
"Apa itu?" Akandra tersenyum kecil.
Tak membuang waktu lagi, Audrey segera mengeluarkan kalung liontin love yang ia temukan di luar unitnya. "Apa ini milikmu?" Audrey memperlihatkan kalung tersebut tepat di depan wajahnya Akandra.
Deg!
****
Stay tune :)
__ADS_1